Peristiwa
Ini Harus Dicatet: Catetan Rembuk Sastra Th.2025
February 25, 2025
Selasa malam, 11 Februari 2025, itu terasa sedikit gerah di Sabana Tak Bertepi. Apakah itu pertanda hujan akan turun? Entahlah. Semoga tidak, pikirku.
Akhir-akhir ini memang bikin waswas kalau ada orang menggelar acara. Jogja mulai kembali diguyur hujan, padahal baru hitungan minggu langitnya cerah. Sore itu saja, saat membelah jalanan Jogja, hujan sempat menyambutku.
Syukurlah, kecemasanku tak jadi kenyataan. Andai hujan datang, bisa-bisa acara itu sepi.
Tetap saja, acara di Sabana Tak Bertepi, sebuah kedai kopi bernuansa pencinta alam di bilangan Jakal, itu sedikit terlambat. Lagi-lagi perkataan itu terbukti: acara sastra selalu ngaret.
Kursi-kursi yang awalnya kosong satu persatu mulai terisi. MC membuka acara dengan celotehan nakal, mencoba meraih perhatian hadirin.
Acara malam itu dibuka dengan pembacaan puisi oleh dua punggawa Suku Sastra, yaitu Kikind dan kepala suku kami, Fairuzul Mumtaz, yang masyhur sebagai pemenang lomba-lomba baca puisi. Ia membawakan dua sajak Chairil yang banyak dikenal orang.
Dengan tawa ringan, ia menceritakan bagaimana dahulu puisi Chairil dibacakan. Katanya, dulu puisi Aku kerap dibacakan bersama dengan tangan kiri terkepal.
Saat itu, ia meminta kami mengikutinya membaca seperti apa yang diceritakannya. Namun, ini kali, tanpa kepalan tangan.
Puisi kedua yang dibacanya adalah Cerita Buat Dien Tamaela. Cocok betul dengan gaya pembacaannya yang berapi-api. Kata-kata Chairil hidup di udara, menyentak malam yang gerah.
Usai pembacaan puisi, MC memanggil para pembicara dan moderator. Malam itu, diskusi dimoderatori oleh Muhammad Qadhafi, ditemani dua pembicara: An Ismanto dan Isadora Fichou, sang penulis buku, “Kita Anjing Diburu”.
Satu hal yang paling membekas dari acara ini adalah cara Isadora mengucapkan nama Chairil Anwar. Dengan aksen Prancis yang kental, Isadora menyebut nama Chairil dengan nada yang terdengar seperti Shairil. Sedikit berbeda di telinga, namun itu bukan masalah.
Isadora kemudian mulai menjelaskan secara panjang lebar alasan di balik keputusannya menerjemahkan karya-karya Chairil Anwar, pengalaman yang diperolehnya sepanjang proses tersebut, dan bagaimana ia menghadapi tantangan dalam menerjemahkan puisi-puisi yang sarat makna itu.
Menurut Isadora, puisi-puisi Chairil Anwar memiliki karakter unik yang tidak secara spesifik merujuk pada tempat atau waktu tertentu. Justru dalam ketidakspesifikan itu, ia menemukan keuniversalan yang kuat.
“Puisi-puisi Chairil bersifat universal,” kata Isadora. “Siapa pun, di mana pun, dapat menikmatinya.”
Sebagai contoh, dalam esainya di Suku Sastra, Isadora menyebut sajak Aku Berkisar Antara Mereka yang, meski merujuk pada zaman pascaperang di Jakarta, tetap relevan dan menyentuh banyak orang dari berbagai generasi, di Indonesia maupun di luar negeri.
“Sajak ini menggambarkan keinginan Chairil untuk menjadi saksi sejarah tanpa meninggalkan posisinya sebagai penyair,” lanjut Isadora.
Isadora juga menjelaskan alasan di balik urutan yang digunakannya dalam menyusun terjemahan puisi Chairil di bukunya. Ia memilih menggunakan urutan berdasarkan kutipan yang menurutnya mencerminkan semangat dan proses penciptaan Chairil Anwar.
Anda bisa membaca esai Isadora di sini.
Setelah Isadora, giliran An Ismanto yang berbicara. Sebagai penerjemah kawakan, ia mengaku sangat tertarik dengan buku ini. Terutama pada pemilihan judulnya, Kita Anjing Diburu.
Dengan antusias, ia memaparkan analisisnya tentang kemungkinan alasan di balik pemilihan judul tersebut.
“Ada sesuatu yang menggugah dalam frasa itu,” katanya, “sesuatu yang mampu mencerminkan keresahan dan kegelisahan dalam puisi-puisi Chairil.”
An Ismanto juga menyampaikan beberapa kegelisahannya terkait penerjemahan buku ini, termasuk keputusan Isadora untuk memasukkan beberapa karya yang bukan karya orisinal Chairil Anwar.
“Ini keputusan berani,” ujarnya, “tapi, menimbulkan perdebatan tentang orisinalitas dan hak cipta.”
Selain itu, ia menggarisbawahi kerumitan-kerumitan bahasa yang menurutnya perlu diperbincangkan lebih jauh. Yang ingin mengetahui pandangannya secara lengkap, bisa membaca ulasannya di sini.
Kemudian masuklah pada sesi tanya-jawab. Sebetulnya banyak sekali pertanyaan-pertanyaan menarik yang muncul dalam diskusi ini. Namun, ada satu pertanyaan yang menurut saya menarik.
Bagaimana respons dari masyarakat prancis dalam memandang karya-karya yang berasal dari Indonesia?
Jika dipikir-pikir, ada beberapa karya sastra Indonesia yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Prancis seperti karya-karya Eka Kurniawan, Leila S. Chudori, dan Pram. Namun, menurut Isadora, karya-karya sastra asal Indonesia ini belum cukup menarik perhatian publik Prancis.
Tak terasa dskusi akhirnya usai. Karena asyik mengikuti diskusi, aku terkejut ketika menoleh ke belakang. Ternyata hadirin makin ramai tanpa kusadari. Bahkan, beberapa orang berdiri dan duduk di pinggir jalan karena ingin mengikuti diskusi.
Acara ditutup dengan penampilan Budisini. Ia membawakan beberapa musikalisasi puisi dari puisi-puisi Chairil Anwar, yang dibawakan dengan sangat apik.
Malam itu, di tengah kota yang gerah, kami merayakan Chairil. Kami merayakan Kita Anjing Diburu.