Lewati ke konten

Percikan Permenungan tentang Kita Anjing Diburu

February 10, 2025 · An Ismanto

1

Isadora Fischou sudah tepat memilih Kita Anjing Diburu sebagai judul bukunya.

Dengan pronomina persona orang pertama jamak “kita”, Chairil Anwar memasukkan interlokutor (lawan bicara atau orang yang membaca Catetan Th. 1946, dari mana frasa itu diambil) dalam rumusannya tentang tempat manusia di Indonesia pada suatu masa dan dunia yang gawat. Tempat bagi “kita” itu, bagi Chairil, sama dengan tempatnya “anjing diburu”.

Masa dan dunia yang gawat karena “diburu” itu tercium sangat pekat dalam seluruh kerja kepenyairan Chairil sejak ia berani menyiarkan puisi atas namanya sendiri, mulai dari “Nisan” hingga “Derai-Derai Cemara”. Ketika dibaca secara utuh, keseluruhan karya-karya puisinya, baik orisinal maupun terjemahan, memperlihatkan upaya untuk memetakan dan memahami kegawatan yang menimbulkan berbagai ancaman.

Sejak Islam menjadi agama dominan di Indonesia, “anjing” lebih sering diposisikan sebagai entitas inferior. Begitu inferiornya posisi anjing hingga pemerintah kolonial Hindia Belanda menggunakannya sebagai perbandingan untuk bumiputra, yang secara legal dianggap inferior dibanding ras Eropa, Indo, dan Timur Asing—melalui papan peringatan “anjing dan orang pribumi dilarang masuk”.

Inferioritas anjing itu membuatnya lebih sering berada di posisi yang terancam di Indonesia. Bahkan ketika diam pun, anjing tetap inferior. Apalagi ketika ia melakukan sesuatu yang membuat tak berkenan pihak yang dominan: kalau ia mengidap rabies atau menakut-nakuti orang, anjing akan diburu, dihukum, dan bahkan ditumpas!

Pembandingan antara anjing dan manusia itu tentu lahir dari pengamatan yang peka terhadap lingkungan sekeliling: ke mana pun Chairil memandang, ia melihat perang, kolonisasi, pendudukan, penyiksaan, dan sensor. Keadaannya sungguh genting dan pengap—mengancam semua orang.

Apesnya, pilihan bagi manusia pada zaman itu sama-sama tidak mengenakkan. Baik memilih untuk diam (pasrah dan menerima) maupun meronta hendak membebaskan diri dari keadaan, “anjing” itu tetap “diburu”.

Menariknya, “kita” adalah kata ganti orang yang mencakup kata ganti orang pertama (aku, saya) dan kata ganti orang kedua (kau, kamu, Anda, kalian) atau lawan bicara, tetapi tidak mencakup orang ketiga (dia, mereka). Ketika mencakup orang ketiga, pronomina yang digunakan adalah “kami”—tetapi, kata ini tidak mencakup orang kedua atau lawan bicara.

Akan sangat menarik untuk mengkaji lebih lanjut siapa orang ketiga, yang mungkin bisa tunggal bisa jamak, yang tidak dicakupkan oleh wacana Chairil dalam “kita” itu. Tentu, semua subjek selain “kita” dalam puisi itu: bedil, arti, anak lahir sempat. Namun, siapa atau apakah mereka itu sebenarnya?

2

Buku kumpulan puisi Chairil Anwar dalam bahasa Indonesia biasanya disusun secara kronologis dengan mendasarkan diri pada titimangsa di akhir tiap teks. Terjemahan puisi-puisi itu dalam bahasa asing juga menerapkan pola serupa. Namun, dalam buku terjemahannya, Isadora tidak menerapkan kebiasaan itu. Kita Anjing Diburu, menurut Isadora dalam pengantarnya, juga tidak disusun berdasarkan klasifikasi tema.

Isadora menyusun struktur sendiri berdasarkan kutipan dari puisi sehingga diharapkan pembaca dapat “segera terserap ke dalam imajinasi Chairil Anwar”. Tentu saja penataan demikian memberikan kesegaran dalam membaca karya Chairil secara utuh.

Namun, Isadora tampak cukup longgar dalam mengajukan dasar bagi penyusunannya. Agar pembaca “dapat segera terserap ke dalam imajinasi Chairil Anwar”—sejauh yang tertangkap dalam pengantarnya—sebenarnya bisa dimulai dari puisi Chairil yang mana pun—terutama dari puisi-puisinya yang sudah termasyhur.

Selain itu, walaupun menyatakan tidak menyajikan hasil terjemahannya berdasarkan tema, dan menciptakan struktur penyajian sendiri dengan menjadikan kutipan dari puisi sebagai subjudul, tiap subjudul mau tak mau membayangkan sebuah tema umum yang mengikat puisi-puisi yang termasuk di dalam subjudul itu.

“Berujuk kembali dengan tujuan biru” mengikat semua puisi di dalam subjudul itu dengan tema “tujuan” (tujuan hidup?). “Cinta adalah bahaya yang lekas jadi pudar” bertema “cinta” (dengan segala variasinya). “Di malam yang hilang batas” jelas bertema “malam”—semua puisi di dalamnya menjadikan tema malam sebagai pusat pencitraan/imagery. “Bersikeras mencari kehijauan lain” bertema pencarian suatu dunia alternatif (“kehijauan lain” yang menyaran pada kehijauan yang ada di sini dan kini). “Darah kami panas selama” bertema semangat yang menggelora. “Mendadak matiku hendak berbekas di jari” jelas mengangkat tema kematian. “Satu menista lain gila” bertema religiositas.

Sayangnya, pembagian itu, lagi-lagi, sepertinya masih bisa dipertegas. Laut dalam puisi Chairil tidak mengemban peran simbolis melainkan peran sebagai latar yang diromantisasi sehingga yang menyatukan puisi-puisi dalam “Berujuk kembali dengan tujuan biru” sepertinya lebih merupakan pencitraan, yaitu citraan laut. Puisi-puisi dalam “Cinta adalah bahaya yang lekas jadi pudar” memang menggunakan citraan terkait cinta. Namun, sementara Tuti Arctic mungkin memang pekat kadar citraan cinta amor-nya, citraan cinta dalam Sia-sia adalah citraan cinta dari jenis yang lain, bukan amor. Yang menyatukan “Di malam yang hilang batas” adalah citraan malam. Namun, tidak semua puisi dalam “Bersikeras mencari kehijauan laut lain” menyajikan citraan “laut”, sedangkan citraan-citraan dalam “Darah kami panas selama” tidak seragam dan yang lebih menonjol adalah kesamaan tema terkait semangat. “Satu menista lain gila” disatukan oleh tema, tetapi bukan oleh citraan.

Tawaran struktur penyajian yang diciptakan oleh Isadora akan menawarkan kesegaran yang lebih mantap dan meyakinkan untuk menikmati dan menghayati perpuisian Chairil Anwar secara keseluruhan jika Isadora mengungkapkan lebih jelas lagi—dan lebih konsisten—dasar penyusunannya itu.

Akan makin mantap lagi jika Isadora bisa menjelaskan beberapa keganjilan teknis terkait klaim dalam pengantarnya bahwa ia hanya menerjemahkan puisi orisinal Chairil dan tidak menyajikan puisi yang diterjemahkan oleh Chairil. Sejauh yang tertangkap dalam pengantarnya, Isadora menyatakan “tujuh puluh puisi” dan beberapa teks prosa serta surat-menyurat Chairil dengan H.B. Jassin. Namun, sementara esai dan surat-surat itu tak bermasalah, jika dihitung, ada total tujuh puluh tiga judul puisi!

3

Predikat “lengkap” sepertinya memang kurang pas. Setidaknya ada dua puisi orisinal yang tidak dijumpai: Penghidupan dan Jangan Kita di Sini Berhenti. Penghidupan, jika dipandang secara kronologis, adalah puisi yang penting untuk membandingkan pencapaian literer Chairil pada tahun yang sama dengan saat ia menulis puisi pertamanya, yaitu Nisan.

Sementara itu, memang ide puisi Jangan Kita di Sini Berhenti terasa sangat individualistis dan tidak akan terasa salah tempatseandainya ditulis oleh seorang penyair eksistensialis Prancis atau Eropa lainnya. Namun, Chairil bukan orang awam dalam eksistensialisme (walaupun ia sendiri tidak pernah menggunakan istilah itu), terutama yang berkaitan dengan gagasan tentang vitalisme yang erat kaitannya dengan eksistensialisme.

Mungkinkah ada pertimbangan sendiri dari Isadora sehingga tidak memasukkan puisi itu dalam terjemahannya? Bisa jadi, misalnya, karena isi-nya yang “melanggengkan” patriarki (“ke ruang di mana botol tuak banyak berbaris/pelayannya kita dilayani gadis-gadis”)? Atau, Isadora bisa menjelaskan dengan percaya diri bahwa puisi itu sebenarnya memang bukan puisi orisinal, melainkan terjemahan dari suatu puisi berbahasa asing?

Puisi tanpa judul yang kemudian diberi judul Biar Malam Kini Lalu juga bukan merupakan puisi orisinal Chairil, melainkan terjemahan dari puisi berbahasa asing, yaitu Dear, Though the Night Is Gone karya W.H. Auden, yang bisa dijumpai di tautan ini: https://hellopoetry.com/poem/759/dear-though-the-night-is-gone/. Teks Auden terbit pertama kali pada 1936 dalam buku Look, Stranger! yang kemudian diubah judulnya menjadi On This Island.

Padahal, Isadora sendiri tahu bahwa puisi itu bukan puisi orisinal Chairil, sebagaimana yang tertulis dalam catatan kaki 3 dalam pengantarnya. Namun, mengapa ia masih memasukkannya dalam buku ini, yang dimaksudkan untuk berisi terjemahan puisi dan teks orisinal lainnya (nesai, naskah pidato, dan surat-surat dengan H.B. Jassin)?

Tidak mengejutkan jika Isadora “khilaf” soal puisi terjemahan yang sering dikaitkan dengan Chairil itu. H.B. Jassin pun pernah “tertipu” sehingga mengira Datang Dara Hilang Dara adalah puisi asli Chairil. Padahal, puisi itu adalah terjemahan dari The Song of the Sea karya Hsu Chih Mo. Tentang hal ini, diceritakan dalam tautan ini https://www.tempo.co/arsip/si-binatang-jalang-dan-paus-sastra-907081.

Selain itu, kekhilafan pembaca Chairil terkait puisi terjemahannya memang bisa dimaklumi: hasil terjemahannya memang begitu halus dan sudah menjadi sangat “Indonesia”.

4

Kita Anjing Diburu membuka sebuah kemungkinan untuk melakukan perbandingan antara puisi Chairil Anwar dalam bahasa Indonesia dan dalam terjemahan bahasa Prancis yang dilakukan oleh Isadora Fichou dengan perspektif ekopoetika (ecopoetics). Tentu saja perspektif lain pun dimungkinkan.

Perspektif ekopoetika ini penting untuk memeriksa kembali teks-teks “kanon” lama dan meneguhkan relevansinya sebagai karya sastra dengan masalah yang mendesak dan lebih “menapak tanah” pada tahun-tahun belakangan ini, yaitu lingkungan. Secara sederhana, ekopoetika memeriksa bagaimana seorang pengarang mere-presentasikan (menyajikan ulang) lingkungan non-manusia atau alam di dalam teksnya.

Untuk Kita Anjing Diburu, rumusan pertanyaannya boleh jadi demikian: 1) bagaimana Chairil mere-presentasikan ulang lingkungan non-manusia di dalam puisi-puisinya dalam bahasa Indonesia, dan 2) bagaimana Isadora mere-presentasikan re-presentasi lingkungan non-human oleh Chairil itu melalui bahasa Prancis?

Citraan non-manusia atau alam bisa ditemukan dengan mudah dalam teks-teks Chairil. Laut dan matahari bisa dijadikan sampel awal karena sudah sangat jelas dengan sendirinya sebagai citraan alam.

Chairil menggunakan tanda bahasa “laut” yang sepertinya tidak merujuk pada konsep laut yang tertentu. Padahal, geografi membedakan laut berdasarkan jenis terjadinya, berdasarkan letaknya, dan berdasarkan kedalamannya. Pada tahun 1940-an itu, tampaknya sudah dibedakan konsep “laut” dan “lautan”. Bahkan hingga sekarang, lumrah kalau orang menggunakan “Laut Jawa” (orang pesisir utara malah menyebutnya secara bergurau sebagai “kolam”), tetapi salah tempat kalau mengatakan “Laut Pasifik”—biasanya “Lautan Pasifik” atau “Samudra Pasifik”.

Apakah Isadora juga, seperti Chairil, pukul rata dengan menerjemahkan “laut” sebagai “laut” dalam bahasa Prancis, tanpa mempertimbangkan apakah ada kemungkinan lain untuk “lautan” atau “samudra” dalam bahasa Prancis? Tentu, terlebih dahulu harus dikuatkan dulu penafsiran “laut” dalam versi Indonesia-nya.

Juga untuk konsep “matahari”, Chairil memiliki banyak pilihan dalam bahasa Indonesia, yaitu “syamsu” (arkais), “surya”, dan “matari”. “Matahari” yang lebih banyak dipakai pada zaman sekarang sepertinya kurang banyak digunakan pada tahun ketika Chairil masih menulis. Apakah Isadora memiliki pilihan sebanyak Chairil untuk mere-presentasikan “matahari” itu di dalam bahasa Prancis? Ya maupun tidak, apakah ada konsekuensinya bagi, misalnya, persajakan dalam terjemahan Prancis-nya?

Pembicaraan semacam ini tidak hanya memperkaya pemahaman kita tentang karya Chairil, tetapi juga menegaskan pentingnya pendekatan lintas budaya dan lintas bahasa dalam kajian sastra.

5

Tentu saja, Kita Anjing Diburu tidak akan menjadi buku terjemahan puisi karya penyair Indonesia terakhir yang layak diketahui masyarakat Prancis. Mudah-mudahan penelitian Isadora Fichou selanjutnya akan mampu menemukan buku para penyair lain itu—karya-karya yang mampu memberikan pengaruh besar dalam perkembangan kebudayaan modern di Indonesia.

Selain itu, penerjemahan lintas budaya seperti ini juga memberikan peluang besar untuk memperluas pemahaman dunia internasional tentang kekayaan sastra Indonesia. Setiap bahasa membawa nuansa dan konteks budaya yang unik, dan melalui penerjemahan, kita tidak hanya mentransfer kata-kata, tetapi juga makna dan emosi yang mendalam. Hal ini penting untuk membangun jembatan kebudayaan dan menggalakkan apresiasi terhadap keberagaman ekspresi sastra di berbagai belahan dunia.***

A
Tentang Penulis

An Ismanto

Lahir: Bantul, 1980

An Ismanto lahir pada 1980 di Bantul. Saat masih kuliah di Sastra Inggris FBS UNY, ia giat di Komunitas Koreo, Komunitas Tanpo Aran, dan Komunitas Sarkem. Kini ia bekerja sebagai penulis, penyunting, dan penerjemah lepas serta giat di komunitas Suku Sastra.

Baca Biografi Selengkapnya →
Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.