« Tatap dan Penamu Asah » : Menerjemahkan Urgensi dan Misteri dalam Puisi Chairil Anwar
February 10, 2025 · Isadora Fichou
Buku Kita Anjing Diburu adalah buku terjemahan puisi lengkap Chairil Anwar dari bahasa Indonesia ke bahasa Prancis. Saya menerjemahkan puisi-puisi Chairil dan saya juga menulis disertasi (S3) tentang dia, Sitor Situmorang dan René Char, tiga penyair yang sangat penting dalam perjuangan artistik dan politik di tengah abad 20 di Indonesia dan di Prancis. Ketika saya membaca puisi Chairil untuk pertama kali, saya sangat tersentuh oleh gaya tulisannya yang tajam dan bergelora. Dia melawan sikap yang pasif dan sistem pemikiran yang kaku melalui puisi yang sangat singkat dan magnetic, selalu terpisah antara kemenangan dan kekalahan, cahaya dan kegelapan, teriakan dan sunyi, instant dan eternity. Saya juga tersentuh oleh kecepatan yang muncul dari puisi ini, seperti panggilan, kilat yang bergema, seperti cermin dari zaman tahun empat puluhan, seruan masyarakat Indonesia yang berjuang untuk kemerdekaannya. Generasi muda memberontak terhadap hukum moral melalui teriakan dan kalimat yang dilontarkan Chairil seperti peluru: “Sekali berarti/sudah itu mati“; “Pena dan penyair keduanya mati/Berpalingan!”; “nasib adalah kesunyian masing-masing”; “Kita anjing diburu hanya melihat sebagian dari sandiwara sekarang” ;“Hancurkan lagi apa yang kau perbuat”. Baru setelah lulus S3, saya menerbitkan buku ini dengan editor yang independen di Prancis (Abordo).
Pendekatan saya bisa dianggap “kreatif” karena saya pilih judul yang sangat “terlibat”, yaitu Kita Anjing Diburu (dari sajak “Catetan tahun 1946”). Saya ambil kutipan-kutipan dari sajak-sajak Chairil sebagai judul bab-bab. Jika kita melihat kumpulan terjemahan karya Chairil yang sebelumnya (atau karya aslinya yang diterbitkan oleh berbagai penerbit di Indonesia dan di luar negeri), kita akan temukan kesan bahwa penerjemah, penerbit, dan penulis sering pilih urutan yang kronologis. Namun, saya pilih urutan yang bisa dikatakan « imersif » melalui kutipan yang menurut saya lebih mencerminkan semangat dan proses penciptaan Chairil Anwar. Karena karyanya tidak hanya terdiri dari klasifikasi tertentu (berdasarkan angkatan, peristiwa sejarah, atau golongan seni), saya berusaha untuk mendekati kebebasan artistik ini dengan beberapa kalimat yang dikutip dari sajak Chairil yang hari ini masih sangat bermakna karena kalimat-kalimat ini mengandung perasaan dan ciri-ciri yang universal (contohnya: “Di malam yang hilang batas”; “berujuk kembali dengan tujuan biru“; “Bersikeras mencari kehijauan laut yang lain”; “Darah kami panas selama; “Satu menista). Dengan menolak aspek kronologis itu, tujuan saya adalah juga menyoroti aktualitas karya Chairil Anwar yang masih sangat relevan hari ini dan juga dapat digunakan dalam praktik artistik atau pergerakan sosial.
Misalnya, sajak “Aku berkisar antara mereka” merujuk kepada zaman pasca-perang di Jakarta, tetapi sajak ini bisa juga menyentuh berbagai orang dari berbagai generasi, baik di Indonesia maupun di luar negeri hari ini. “Aku berkisar antara mereka” sangat relevan karena merujuk kepada keinginan Chairil untuk menjadi saksi sejarah tanpa meninggalkan posisinya sebagai penyair. Dalam sajak ini, Chairil Anwar mendekati/melihat penderitaan zamannya melalui kegelapan kota modern. Jadi, kegelapan kota terutama pada waktu malam bisa menjadi suatu medium untuk memahami apa yang mereka (generasi Chairil) harus hadapi. Ada suatu realitas yang tidak bisa ditunjukkan atau dipahami kalau kita tidak melihatnya dari sudut yang gelap, yaitu dari segi yang manusiawi menurut Chairil. Dalam puisinya, dia selalu ingin memasuki kegelapan ini karena menurutnya kegelapan bisa mengekspresikan kondisi kita. Dengan demikian, Chairil menyinari penderitaan-penderitaan yang dialami oleh generasinya. Kawan-kawannya yang digambarkan pasif, lemah, tidak punya harapan lagi (“negatip dalam janji”), sudah menyerah, tidak mampu bicara lagi, tunggu trem dari kota seperti mereka tunggu kematian tanpa memprotes lagi. Karena mereka tidak sadar dan tidak berkuasa, penyair harus beraksi, dan untuk itu dia “pakai mata mereka”.
Selain estetika fragmen, dalam puisi Chairil, saya melihat bahwa ada juga semacam urgensi yang sangat unik dan urgensi ini justru merupakan kesulitan dan tantangan untuk penerjemah. Bagaimana kita bisa menerjemahkan urgensi ini yang membentuk kita sebagai manusia yang mengakui kontradiksi kita dan kontradiksi dunia kita? Urgensi ini bersifat historis dan ontologis. Historis karena urgensi ini terkait dengan krisis bahasa dan krisis nilai pasca perang yang diakibatkan oleh trauma perang, penjajahan, penemuan kamp konsentrasi, bom Hiroshima, dan penindasan yang diakibatkan oleh tradisi, agama, dan ideologi yang membatasi manusia. Urgensi ini juga ontologis karena bisa muncul di setiap zaman, dan dapat dialami oleh setiap manusia secara pribadi. Dengan kata lain, urgensi yang kita rasa ketika kita membaca puisi Chairil Anwar mempunyai dua muka karena dia merupakan akibat dari situasi kita sebagai manusia modern yang tidak bisa bicara lagi setelah tragedi-tragedi abad 20 dan akibat dari kondisi kita sebagai manusia yang selalu kecewa/tidak puas dengan alat komunikasi kita. Jadi, saya fokus pada aspek ini ketika saya menerjemahkan, dan ini berarti saya tidak hanya fokus pada melodi sajak yang tentunya penting dalam proses terjemahan, tetapi juga pada kata-kata yang mencerminkan kesadaran dan kejernihan ini. Dan biasanya ketika saya membaca terjemahan sajak Chairil dalam bahasa Prancis, saya sering menemukan aspek nostalgis, sepi, dan tragis yang langsung muncul, tetapi banyak penerjemah yang juga tidak berhasil menerjemahkan aspek lain dalam sajak-sajak Chairil Anwar, yaitu paradoks antara misteri dan kesadaran, antara yang kita, sebagai « anjing diburu », tidak bisa melihat, dan apa yang sudah mulai tumbuh dalam kepala kita, seperti biji kecil yang akan jadi pohon, seperti cahaya kecil yang akan jadi api. Dan saya pikir aspek ini sering dilupakan, secara sadar atau tidak, dalam proses penerjemahan karyanya.
Chairil sebenarnya tidak hanya individualis, tetapi juga sangat aware dan terlibat dan peduli walaupun marginal. Dengan Chairil Anwar, kita memasuki individualisme sastra dan politik. Penyair dan seniman tidak lagi merasa terkait dengan partai-partai, ideologi, dan semboyan. Tetapi, Chairil tidak masuk juga dalam golongan « seni untuk seni », menurut saya. Keterlibatan Chairil di dunia politik sebagai penyair bisa ditemukan melalui rahasia bahasanya yang melukiskan cita-cita seorang laki-laki yang sadar dan bebas, solider walaupun sendiri. Chairil Anwar mengajari kita untuk membaca tanda-tanda yang digelapkan oleh kekerasan dan penindasan dengan menggunakan kalimat-kalimat yang pendek dan kata-kata yang seperti ribuan orang yang berlari, tertekan oleh berbagai urgensi: hidup sebelum kematian datang, hidup sebelum mimpi-mimpi hilang, hidup sebelum cinta pudar, hidup sebelum waktu mencuri emosi dan sensasi kita. Karena memori selalu tidak lengkap, karena kita selalu gagal mengekspresikan fakta-fakta, puisi harus mengatasi kesaksian historis dan krisis bahasa dengan kekuatan imajinasi. Dengan demikian, kita bisa mengatakan bahwa sastra adalah seperti saudara kembar sekaligus musuh sejarah karena mereka saling melengkapi, tetapi juga saling melawan. Namun, tanpa puisi, sejarah tidak berhasil mengucapkan tragedi kita karena tidak mengandung unsur-unsur yang justru membebaskan kita dari waktu yang secara sistematis dan tragis mengikuti sebuah garis lulus dan dari penderitaan yang bukan hanya merujuk kepada arsip, kesaksian, tanggal, tempat, dan nama, tetapi juga kepada kenangan yang tidak sempurna, yang selalu bergerak antara lupa dan ingat. Tentu saja, imajinasi yang bisa lahir dari puisi tidak merupakan solusi, tetapi imajinasi ini punya kemampuan untuk menghasilkan penunjuk-penunjuk untuk masa depan. Sejarah hanya berdasarkan memori, kronologi, dan metodologi yang tidak bisa menceritakan sendiri apa yang kita alami sebagai manusia, masyarakat, bangsa, kelompok, minoritas, dan lain-lain. Maka, sejarah memerlukan sastra untuk keluar dari kegelapan fakta-fakta yang berat dan statis. Namun, dalam karya Chairil, selalu terlalu telat: kita selalu kalah di depan waktu, di depan kematian, dan « kita hanya menunda kekalahan » karena dari dulu kita tahu bahwa « racun berada di reguk pertama ». Dan justru karena hidup kita adalah perhitungan yang tak henti-hentinya, karena waktu cepat mengalir, kita harus menikmati setiap momen seolah-olah kita “kucup-minum” “satu senyum”.
Ketika saya meneliti dan menerjemahkan karya Chairil, pertanyaan-pertanyaan lain langsung lahir: apa peran penyair dan seniman hari ini ? Bagaimana kalau dia berusaha untuk hidup bebas dan terlibat? Menurut Albert Camus, peran penulis di zaman modern adalah “memperjuangkan orang yang mengalami penderitaan dalam sejarah, bukan yang membuat sejarah” (« Pidato Stockholm »). Menurut dia, tugas penulis ada dua: mengatakan kebenaran yang digelapkan dan mencari kebebasan melalui proses kreatif. Camus mengatakan bahwa generasinya (yaitu generasi pasca perang, yang mengalami trauma perang dan penjajahan, naziisme, fasisme, kematian dewa-dewa, dll.) tidak bisa terpisah dari masalah-masalah yang diakibatkan oleh konteks zaman tertentu karena, katanya, « kita hidup di zaman yang menarik, jadi, kita tidak bisa bersikap seolah-olah zaman ini tidak menarik ». Dengan mengatakan itu, Albert Camus tidak bilang bahwa kita terpaksa untuk memilih suatu kelompok, suatu partai politik misalnya, tetapi dia mengatakan bahwa penulis dan seniman harus sadar dan pikirannya jernih. Dan nuansa itu (yang sering dianggap sebagai ambiguitas dalam karya Chairil atau kekurangan terhadap keterlibatannya), justru merupakan kebebasan penyair, sejarawan, seniman, sastrawan, kritikus, peneliti, dan jurnalis. Jadi, saya pikir jalan pemikiran Chairil sangat dekat dengan Camus karena mereka anggap bahwa penulis harus menjadi saksi sejarah yang juga berhak untuk melepaskan diri dari partai dan institusi, karena tugasnya lebih besar daripada ini, yaitu menyatukan orang-orang. Posisi ini ditemukan dalam puisi Chairil Anwar, seperti yang ditulis dalam esainya yang berjudul “Pidato 1943”: « Tiap seniman harus seorang perintis jalan, adik. Penuh keberanian, tenaga hidup. Tidak segan memasuki hutan rimba penuh binatang-binatang buas, mengarungi lautan lebar-tak bertepi, seniman adalah dari hidup yang melepas-bebas. ». Dalam puisinya, Chairil Anwar sering membandingkan dirinya dengan nelayan yang sendiri di tengah laut, yang mencari kata-kata baru terus-menerus. Yang menarik adalah Albert Camus pernah menulis bahwa dia merasa dia selalu “hidup di tengah laut”. Menurutnya, « Sungai dan kali berlalu. Laut berlalu dan tetap ada. Begitulah kita harus mencintai, setia dan selalu dalam pelarian » (L’Eté, « La mer au plus près »). Kesetiaan ini terhadap masyarakat dan marginalitas tersebut sangat mirip dengan posisi penyair yang dijelaskan oleh Chairil. Dan konsepsi ini bisa juga ditemukan dalam karya-karya sastra lain seperti puisi Sitor Situmorang atau Wiji Tukul misalnya.
Yang menarik, Chairil tidak menggunakan semboyan politik, tetapi justru kalimat-kalimat yang pendek dan tajam serta penuh imajinasi sehingga pembaca bisa berpikir lebih jauh tanpa dibatasi oleh segala macam aturan, jalur, partai, institusi, atau ideologi. Dan kebebasan ini yang menurut saya mendorong beberapa penerjemah untuk meneliti karya Chairil karena di sini kita harus menghadapi dua tantangan: menerjemahkan bahasa Chairil yang sangat kompleks dan penuh misteri, dan menerjemahkan ekspresi dari semacam perjuangan sosial dan politik melalui kalimat yang sangat pendek; jadi, ekspresi dari semangat yang « solider » dan « sendiri » pada waktu yang bersamaan, yaitu dalam temporalitas kependekan dan kecepatan puisi. Dan keinginan Chairil untuk menulis secara ringkas muncul dari puisi Amir Hamzah, yang disebutkan dalam esainya « Hopplaa ! » : « Tetapi yang perlu diperhatikan bagi saya ialah, bahwa Amir dalam “Nyanyi Sunyi” dengan murninya menerakan sajak-sajak yang selain oleh “kemerdekaan penyair” memberi gaya baru pada bahasa Indonesia, kalimat-kalimat yang pedat dalam seruannya, tajam dalam kependekannya. Sehingga susunan kata-kata Amir bisa dikatakan destruktif terhadap bahasa lama, tetapi suatu sinar cemerlang untuk gerakan bahasa baru! ». Kependekan tersebut bisa juga dikaitkan dengan perasaan absurd dan ketidakmampuan manusia untuk bicara dalam kebenaran. Dengan demikian, pemberontakan melalui bahasa yang singkat dan padat ini juga dapat dipahami sebagai penolakan terhadap propaganda kolonial, imperialis, dan totaliter. Dan justru itu yang susah untuk diterjemahkan, yaitu aspek minimalis dan rahasia, terkait dengan teka-teki dalam puisi Chairil, yang mendorong kita untuk mencari simbol baru setelah perang dan tragedi-tragedi pertengahan abad 20 menghancurkan bahasa kita. Dan ini adalah bagian dari tugas saya sebagai penerjemah, yaitu menerjemahkan apa yang masih belum dikatakan secara lengkap dalam bahasa yang lain. Sekali lagi, penerjemah tidak hanya menerjemahkan secara sistematis kata-kata, tetapi juga menyampaikan, mempertimbangkan, dan mencari posisinya antara dua pola: « terlalu asing » dan « kurang asing » menurut filolog Barbara Cassin (Eloge de la traduction, Compliquer l’universel). Jika terjemahannya « terlalu asing », artinya bahwa penerjemahnya mau menjaga setiap ciri-ciri dari teks aslinya tanpa berusaha untuk menjelaskan realitas ini kepada pembaca-pembaca yang tidak paham bahasa aslinya. Kalau terjemahannya « kurang asing », artinya bahwa penerjemahnya memperhalus bahasa aslinya yang akhirnya berbunyi sama dengan bahasa aslinya dan tidak merujuk lagi kepada suatu budaya/bahasa/realitas yang asing. Dan tugas penerjemah adalah mencari jalan yang paling « adil » antara dua kekurangan ini. Namun, tidak ada yang selesai karena pekerjaan itu (penerjemahan) tidak akan pernah selesai!
Harapan saya untuk masa depan adalah penerjemah-penerjemah baru akan datang untuk mencari, seperti saya, bagaimana kita bisa “mengenali gurun” melalui proses penerjemahan karya Chairil Anwar dan bagaimana kita bisa mulai berkomunikasi lagi melalui simbol-simbol dan penunjuk-penunjuk yang dapat menjelmakan cita-cita masyarakat-masyarakat dari seluruh dunia tanpa mengikuti secara terpaksa ideologi-ideologi radikal yang membutakan, ketakutan yang membuat kita pasif, atau desilusi yang membuat kita putus asa. Mungkin kuncinya adalah melihat, seperti Sisifus melihat bagian atas dari gunung yang tidak akan pernah dicapai olehnya, “tujuan biru” Chairil sebagai keinginan yang tidak pernah akan kita tangkap atau melihat secara lengkap, melainkan secara kolektif dan tidak sempurna, karena tujuan ini dibentuk oleh seribu bahaya, seribu kontradiksi, dan kata-kata yang kita cari sampai mati. Risiko dan ketidakpuasan ini adalah titik awal dari puisi dan dari tugas penerjemah yang harus belajar hidup bahagia dengan “tujuan” ini yang tidak yakin dan tidak aman. Karena melalui bahasa, penyair tahu bahwa dia selalu mempertaruhkan nyawa:
“Sedang meradang
Segala kurenggut
Ikut bayang
Tapi kini
Hidupku terlalu tenang
Selama tidak antara badai
Kalah menang”
« Dans mon déchaînement
J’ai tout arraché,
Chassant les ombres
Mais désormais
Ma vie est trop paisible
Tant que je reste hors de la tempête,
Ni vaincu ni victorieux. »***
Terjemahan dalam bahasa Prancis oleh Isadora Fichou
Isadora Fichou
Penulis, peneliti, dan penerjemah dari Prancis yang menerjemahkan karya sastra Indonesia dan melakukan penelitian tentang komunitas sastra di Indonesia.
Baca Biografi Selengkapnya →