Saya sering menemukan aspek nostalgis, sepi, dan tragis yang langsung muncul, tetapi banyak penerjemah yang juga tidak berhasil menerjemahkan aspek lain dalam sajak-sajak Chairil Anwar, yaitu paradoks antara misteri dan kesadaran, antara yang kita, sebagai « anjing diburu », tidak bisa melihat, dan apa yang sudah mulai tumbuh dalam kepala kita, seperti biji kecil yang akan jadi pohon, seperti cahaya kecil yang akan jadi api.