Lewati ke konten

Mengapa Namaku Karna?

February 14, 2025 · Muhammad Maulana Suryo Kusumo

Perempuan Cibiru (Acrylic on Canvas 60 x 80 cm) - Rohmat & Madno, 2018

berlayar teratai kembang hatiku.
kau ingat, Ibu Kunthi, dengan bunyi gemercik 
di tepi Bengawan Gangga—timur 
baluarti keraton Mandura—dan suci bayi 
yang kau hanyutkan?

mungkin, kau tak pernah tahu, Ibu.
senja yang paling indah adalah
ketika Adirata menemukanku 
pada keranjang emas 
yang disisipi daun lontar 
bertuliskan Karna Basusena. 

ya, namaku Karna Basusena!
kawula Ngawangga memanggilku Adipati Basukarna
dan Ibu Kunthi tetap memanggilku Suryatmaja—mengapa?
apa karena hangat rahimmu pernah 
menyatu dengan mani Dewa Surya?

mengapa namaku Karna, Ibu? 
celoteh rakyat Mandura mengatakan
aku lahir lewat telingamu: apakah itu nyata? 
atau hanya sebuah satir?
agar kenakalanmu tak terdengar 
oleh telinga manusia-manusia Mandura? 
o, Ibu! aku ini cucu raja

yang telah melewatkan masa-masa
bermain pedang kayu dan panah bambu
dengan adik-adikku yang lahir
setelah kau menikah dengan Pandhu.

aku tak pernah menyesali apa pun itu, Ibu.
sembah baktiku selalu kuhaturkan
dalam kidung malam dan nyala pandam.
salam sayangku akan selalu kusampaikan
dalam kalung legam dan terbang surat merpati. 

lalu, teruntuk adikku yang terkasih, Janaka: 
rinduku telah siaga berlaga
kangenku bagai tungku bara menyala 
menanti detik demi detik pertempuran!
biar mata anak panah kita yang 
merajut cerita di Bharatayudha (panahmu 
menembus leherku atau panahku 
menancap dadamu) bersama pula kita 
menarungkan taring Batara Kala—pada
bilah Kaladete dan Kalanadah:
sampai berjumpa di Pategalan Kurusetra! 

Yogyakarta, 2024

M
Tentang Penulis

Muhammad Maulana Suryo Kusumo

Lahir: Wonosobo, 13 Agustus 2005

Muhammad Maulana Suryo Kusumo, lahir di Wonosobo, 13 Agustus 2005. Saat ini tengah menikmati bangku perkuliahan Program Studi Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Sultan Agung, dan sempat mengenyam pendidikan di Program Studi Sastra Indonesia, FBSB, UNY.

Baca Biografi Selengkapnya →
Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.