Lewati ke konten

Kritik Sastra yang Tidak Lahir dari Ruang Hampa

January 18, 2025 · Anis Mashlihatin

Judul : Berayun di Antara Keberpihakan dan Autokritik
Penulis : Dewi Anggraeni
Penerbit : Penerbit Anagram
Tahun terbit : 2023
Tebal : 123 halaman

Saya pertama kali membaca tulisan Dewi Anggraeni yang terbit di Tengara.id yang membahas novel Kokokan Mencari Arumbawangi. Saya merasa cocok dengan cara dan alur berpikirnya. Ternyata, tulisan itu juga muncul dalam Berayun di Antara Keberpihakan dan Autokritik yang diterbitkan Penerbit Anagram pada 2023 ini. Secara total, ada delapan esai kritik sastra dalam buku ini. Semuanya pernah terbit di berbagai media, namun telah dibongkar ulang agar lebih luwes.

Anggraeni membuka buku ini dengan mengungkapkan pandangannya tentang bagaimana semestinya kritik sastra ditulis. Ia menekankan bahwa kritik sastra harus dimulai dari telaah teks atau sering disebut sebagai pembacaan dekat. Saya pribadi sepakat dengan cara kerja ini. Konteks memang penting untuk memperkaya argumen, tetapi argumen perlu dibuktikan melalui isi teks itu sendiri. Dalam hal ini, teks dan konteks sama-sama mendapat tempat.

Di esainya yang pertama, yang berjudul sama dengan judul buku ini, ia mengomentari kecenderungan kritik karya sastra Indonesia yang menitikberatkan pada aktivisme. Model kritik yang demikian tentu tidak salah. Masalahnya, model kritik demikian sering kali malas menguliti karya melalui perangkat sastra yang digunakan (hlm. 4). Ia kembali menegaskan pandangannya bahwa kritik sastra semestinya tidak hanya memberikan perspektif atau metode pembahasan, tetapi juga argumentasi yang validasinya bersumber dari karya sastra itu sendiri.

Dalam pandangan Anggraeni, kritik sastra perlu berayun seperti pendulum, yaitu mendukung aktivisme (keberagaman) sekaligus melakukan refleksi kritis atas sikap itu sendiri. Yang tidak kalah penting, kritikus juga harus jeli melihat ada tidaknya pembaharuan di dalam cara mengangkat isu sosial serta memaknai ulang teknik yang dipilih pengarang dalam mengelola isu tersebut (hlm.6).

Posisi tersebut mengharuskan kritikus untuk menawarkan alternatif pembacaan melalui proses dialog terus-menerus dengan model pembacaan yang pernah ada (hlm. 6). Untuk itu, kritik sastra membutuhkan rujukan terhadap telaah terdahulu, entah disetujui entah dibantah, agar dapat mengisi celah yang ada. Telaah terdahulu membantu menghadirkan sudut pembacaan yang berbeda dari pembacaan dominan terhadap karya yang sama. Telaah semacam ini menunjukkan bahwa, seperti halnya karya sastra, kritik sastra tidak lahir dari ruang hampa. 

Tentu menarik apakah Anggraeni melaksanakan tawarannya tentang metode kritik yang ideal itu.

Anggraeni menelaah beberapa novel dan puisi Indonesia. Pertama, ia menelaah novel Kokokan Mencari Arumbawangi karya Cyntha Hariadi dengan judul “Di Bumi, Tiada Tempat untuk Anak Baik”. Judul ini berbeda dengan yang saya baca di Tengara.id. Hal pertama yang dilakukan Anggraeni adalah menguraikan cerita secara singkat sambil menunjukkan titik-titik lemah dalam struktur cerita. Misalnya, Anggraeni mempertanyakan mengapa penulis tidak menjelaskan apa itu burung kokokan dan apa alasan burung kokokan menerbangkan Arumbawangi dan menitipkannya kepada Nanamama. Identifikasi kausalitas peristiwa-peristiwa di dalam cerita menyibak maksud dan tujuan penulis sekaligus konteks sosial budaya yang melatarbelakangi isi cerita. Namun, dalam telaah pertama ini, Anggraeni belum menggunakan telaah-telaah terdahulu terhadap Kokokan Mencari Arumbawangi.

Anggraeni baru menggunakan telaah-telaah terdahulu ketika menguliti novel Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi karya Yusi Avianto Pareanom. Ia membuat simpulan yang menghentak di awal telaahnya: tidak ada kebaruan di dalam Raden Mandasia, baik dari cerita maupun strategi penceritaannya, sebab novel ini hanya melakukan pengulangan-pengulangan pada apa yang sudah ada sebelumnya. Puja-puji terhadap novel ini, yang dianggap menghadirkan kebaruan, menurutnya terlalu berlebihan.

Karena itulah ia menelaah Raden Mandasia bukan dari sisi kebaruannya, melainkan dari sisi “kelamaannya”. Ia mengisi celah interpretasi dengan memberikan sudut pembacaan yang berbeda sebab pembacaan atau telaah sebelumnya, dalam pandangan Anggraeni, tidak ada yang menyinggung aspek fundamental novel ini, yaitu tujuan Raden Mandasia sebagai genre anjak dewasa seperti yang dimaksudkan pengarangnya. Dengan tekun mengurai satu per satu jalinan cerita yang ditenun sang pengarang, Anggraeni membuktikan simpulannya di awal itu. 

Cara kerja yang sama juga digunakannya untuk menelaah puisi-puisi Chairil Anwar. Ia menyadari puisi-puisi Chairil sudah amat banyak dikaji sehingga wajar saja apabila ia membuka tulisannya dengan pertanyaan: masih adakah ruang yang tersisa dalam puisi-puisi Chairil Anwar untuk diberikan penafsiran baru? Namun, Anggraeni berupaya mengisi celah, betapa pun sempit celah itu. Ia kemudian mendaftar telaah-telaah terdahulu, bukan untuk dibantah, melainkan sebagai alat bantu membaca puisi-puisi Chairil, khususnya puisi yang bermotif laut.

Anggraeni masih setia melakukan pembacaan dekat sembari membandingkan puisi Chairil dengan puisi-puisi sezamannya—ia mengambil contoh puisi Rivai Apin—untuk membuktikan premis ketiadaan pengalaman ketubuhan aku-lirik selama di laut. Ia menarik simpulan bahwa Chairil tidak menggunakan laut untuk digali simbolisasinya, tetapi hanya untuk romantisasi. Laut tidak berperan sebagai metafora, tetapi latar semata.

Selanjutnya, novel-novel Papua, baik yang ditulis pengarang non-Papua maupun pengarang Papua, mendapat giliran untuk ditelaah. Anggraeni membaginya menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah pengantar panjang tentang isu-isu Papua dan relevansi pembahasan novel berlatar Papua di tengah novel berlatar kedaerahan yang lain. Bagian kedua berisi pembahasan tentang novel yang berlatar Papua, tetapi ditulis bukan oleh orang Papua. Bagian ketiga membahas novel yang ditulis oleh penulis Papua.

Pada bagian pertama, Anggraeni memantik dengan pertanyaan mendasar: sejak kapan orang Papua diasosiasikan dengan keterbelakangan, keganasan, dan segala ciri yang melekat pada masyarakat primitif? Ia menjawabnya dengan menelusuri literatur yang ditulis Alfred Russel Wallace dan konteks sosial politik pada masa Orde Baru.

Dalam pembahasannya tentang novel berlatar Papua oleh pengarang non-Papua, Anggraeni menggunakan novel Namaku Teweraut karya Ani Sekarningsih dan Tanah Tabu karya Anindita S. Thayf. Kembali ia menggunakan telaah terdahulu untuk memeriksa retak-retak yang terabaikan.

Berbeda dengan telaah sebelumnya yang dominan menempatkan kedua novel itu dalam perspektif feminisme, Anggraeni melihatnya dengan perspektif pascakolonial. Pembacaan itu memungkinkannya untuk melihat bahwa kedua novel justru memperkuat stereotipe orang Papua sebagai kaum marginal. Anggraeni menilai bahwa ketergelinciran kedua pengarang tersebut–sebagai orang luar yang berkepentingan menyuarakan tokoh subaltern–merupakan efek samping politik representasi kelompok termarginalkan yang sulit dihindari.

Novel berlatar Papua karya pengarang Papua yang ditelaah adalah Tambo Bunga Pala karya Aprila Wayar. Anggraeni ingin melihat bagaimana pengarang Papua merepresentasikan Papua dan bagaimana teknik yang digunakan pengarang dimaknai dalam kaitannya dengan konteks ke-Papua-an.

Mulanya, Anggraeni mempertanyakan perangkat literer yang tidak dioptimalkan oleh sang pengarang yang lebih condong menulis reportase jurnalistik daripada fiksi. Ia juga mempertanyakan mengapa reportase harus repot-repot dilabeli fiksi. Padahal, melalui penokohan, dalam kacamata Anggraeni, novel tersebut memiliki seperangkat bahan yang menarik untuk diramu guna memenuhi semesta fiksinya. Sebab, bersuara saja tidak akan cukup jika ingin terus menggunakan medium fiksi. Perlu ada eksperimen estetis yang serius agar karya sastra tidak sekadar menjadi kamuflase dari fakta (hlm. 97).

Di dalam telaahnya yang terakhir, Anggraeni masih menggunakan telaah terdahulu sebagai titik pijak guna melihat mitos inferioritas dalam sastra Indonesia kontemporer yang dilihat dari kacamata pascakolonial. Menggunakan cerpen dan novel Indonesia—cerpen “Kanal” karya Ratna Indraswari Ibrahim, cerpen “Bibir” karya Jamal T. Suryanata, novel Student Hidjo karya Mas Marco Kartodikromo, dan novel Negeri van Oranje karya Wahyuningrat dkk.—ia menawarkan argumen bahwa jangan-jangan gagasan superior-inferior telah menjelma menjadi mitos tersendiri setelah kolonialisme berakhir secara fisik.

Dari telaah-telaah yang dilakukannya tersebut, kita tahu Anggraeni telah melaksanakan dengan baik kata-katanya. Ia melakukan “dialog” dengan telaah-telaah terdahulu—kadang membantah, kadang menyetujui, kadang juga menegaskan—sehingga dapat menambal lubang-lubang yang ada. Ia juga menawarkan sudut pembacaan yang berbeda sehingga dapat membuka agenda riset baru.

Sebagai peneliti yang banyak berkecimpung dalam sastra Jepang, buku ini dikatakan menandai satu dekade perjalanan Anggraeni dalam menyelami sastra Indonesia. Saya berharap Anggraeni akan menyelam lebih dalam dan muncul lagi di permukaan dengan membawa telaah-telaahnya yang tajam tentang sastra Indonesia (dan sastra Jepang).***

A
Tentang Penulis

Anis Mashlihatin

Anis Mashlihatin suka membaca buku dan menonton film.

Baca Biografi Selengkapnya →
Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.