Lewati ke konten

Ingatan Ikan-Ikan Karya Sasti Gotama: Menggugat Lupa, Menyembuhkan Luka, dan Menemukan Makna

May 29, 2026 · Muhamad Samsul Hadi

Judul Buku: Ingatan Ikan-Ikan
Pengarang: Sasti Gotama
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun Terbit: 2026 (Edisi 2)
Halaman: 186

“Langkah pertama untuk menghancurkan
sebuah bangsa adalah dengan menghapus
ingatannya,” Milan Kundera.

Novel Ingatan Ikan-Ikan karya Sasti Gotama hadir sebagai salah satu karya sastra Indonesia yang berani menyentuh luka sejarah yang belum sepenuhnya sembuh, yakni tragedi kerusuhan Mei 1998. Seperti halnya peristiwa traumatis lain yang menggoreskan catatan merah dalam sejarah negeri ini, agar negeri ini “benar-benar sembuh”, kita harus membawa terang pada apa sebenarnya yang terjadi dalam peristiwa kelam tersebut. Novel ini hadir sebagai salah satu upaya ke arah itu, mengangkat suara yang selama ini cenderung dibungkam atau dilupakan.

Dengan bahasa yang ringan dan alur maju mundur dengan struktur multiplot, novel ini tidak membosankan untuk dibaca. Banyaknya istilah-istilah sains dalam novel ini sama sekali tidak mengganggu pembaca tetapi justru memperkaya pengalaman membaca. Pengalaman membaca itu semakin kaya dengan dengan penggunaan metafora-metafora. Saya suka bagaimana Gotama mengalirkan cerita dari peristiwa ke metafora yang mewakilinya. Misalnya dalam kutipan berikut:

Lian merasa dirinya serapuh ikan mas koki yang terinfeksi. Dengan brutal, tangan-tangan jahanam itu mengutip satu demi satu sisiknya dan melemparkannya ke sudut ruangan. Dia menggelepar-gelepar sebagaimana ikan mas koki yang mendamba air segar. Namun, yang dia dapat malah cengkeraman di sirip dorsal dan helai-helai ekornya. (Hal. 84-85)

Struktur penceritaan meniru cara kerja memori traumatis (intrusive memory), di mana masa lalu bukanlah sesuatu yang telah selesai, kapan saja korban bisa dibawa kembali ke peristiwa menyakitkan di masa lalu yang menghancurkan hidup mereka. Seperti itulah pembaca dibawa melompat dari masa kini menuju kepingan masa lalu di tahun 1998, lalu ditarik kembali ke realitas hari ini.

Cerita dalam novel dibangun lewat tiga plot atau sudut pandang karakter yang berbeda, yaitu Lian Wen, Ombak Samudera, dan karakter misterius bernama B. Di awal, kisah mereka berjalan masing-masing seperti anak sungai, hingga akhirnya bertemu di satu muara (titik singgung) yang sama. Namun sebenarnya cerita berpusat pada Lian dan Ombak, dan lebih difokuskan lagi pada Lian, sebagai salah satu korban pemerkosaan massal Mei 98.

Meskipun hanya 182 lembar (bisa Anda baca dalam sekali duduk), novel ini merangkum cukup banyak isu mulai dari trauma, identitas, memori, hingga politik sejarah dalam satu narasi utuh. Gotama yang terbiasa menuangkan banyak gagasan dalam ruang kecil (cerpen), sepertinya berusaha untuk tidak melewatkan satu pun aspek penting dalam karyanya ini. Itulah kenapa novel ini tidak boleh dilewatkan. Berikut beberapa hal yang menurut saya menarik untuk diperhatikan dari novel Ingatan Ikan-Ikan. Spoiler Alert!

Lian dan Ombak

Lian dan Ombak mewakili dua kelompok yang terlibat dalam kekerasan Mei 98 yakni Tionghoa dan pribumi. Nama Lian sendiri berarti sesuatu yang asing atau berbeda dari masyarakat asli. Namun alih-alih mempertegas perbedaan, Gotama justru mencairkan batas identitas itu. Lian digambarkan sangat mencintai budaya Jawa dan merasa dirinya bagian dari masyarakat lokal. Sebaliknya, Ombak justru memiliki ketertarikan yang kuat terhadap budaya Tionghoa, ia begitu terobsesi dengan tokoh Bibi Lung (pendekar wanita dalam serial Pendekar Rajawali), yang nantinya mewujud menjadi Lian. Hal itu misalnya bisa dilihat dalam kutipan berikut:

“Aku lahir di sini. Papi sama almarhumah Mami juga lahir di sini. Ya aku orang sini, tho? Aku sama Papi di rumah juga pakai bahasa Jawa. Papi sama pelanggannya juga pakai bahasa Jawa. Taruhan aku lebih lancar nulis aksara Jawa dibanding kamu. Terus, menurutmu aku semacam pendatang, gitu? Bukan orang sini? Harus dideportasi?” (Hal. 59)

Melalui konstruksi ini, Gotama seolah ingin menegaskan bahwa identitas bukanlah sesuatu yang kaku, melainkan cair dan saling berkelindan. Kebencian berbasis etnis pada Mei 98 menjadi tampak tak lagi memiliki pijakan yang kuat. Pasalnya, keetnisan Tionghoa yang dibenci itu tidak lagi sepenuhnya Tionghoa tetapi telah bercampur dengan budaya setempat dan tak lagi bisa dibedakan (hibrid).

Selain itu, menarik bahwa trauma dalam novel ini tidak hanya dialami oleh korban langsung seperti Lian, tetapi juga oleh Ombak yang secara tidak langsung menjadi bagian dari peristiwa tersebut. Ombak kehilangan adiknya akibat kerusuhan, sebuah ironi yang menunjukkan bahwa kekerasan tidak hanya melukai korban, tetapi juga merembet ke berbagai pihak. Menurut saya, ini adalah cara Gotama mengilustrasikan sebuah kekerasan massal tidak hanya menyebabkan luka pada pihak korban, tetapi juga pada pihak pelaku, yang berujung menjadi sebuah trauma kolektif.

Ingatan dan Ikan

Menarik Gotama di sini menggunakan ingatan ikan mas koki sebagai metafora ingatan atau trauma Lian dan Ombak terkait peristiwa 98. Ikan mas koki yang dianggap kebanyakan orang memiliki ingatan yang sangat pendek (sekitar 3 detik), nyatanya memiliki daya ingat yang kuat bahkan bisa bertahan sampai bertahun-tahun. Anggapan kebanyakan orang ini menunjuk kepada masyarakat mayoritas yang sudah/memilih melupakan peristiwa kelam itu atau penguasa yang tidak ingin peristiwa itu ada dalam catatan sejarah. Sementara penegasan Gotama bahwa ikan mas koki memiliki ingatan yang sangat baik merupakan sebuah bentuk perlawanan menolak lupa.

Lebih jauh, Gotama menunjukkan ingatan traumatis itu tidak hanya tersimpan dalam pikiran, tetapi juga tubuh ikan mas koki. Sisik-sisiknya yang awalnya berwarna cerah perlahan menggelap setelah peristiwa tersebut. Bagian ini sangat penting dalam studi trauma dan memori. Ketika pikiran sadar seseorang lupa terhadap terhadap peristiwa traumatis yang dialaminya, tubuhnya tidak pernah lupa, the body keep the score, kata peneliti trauma terkemuka, Bessel van der Kolk. Untuk menegaskan hal ini, Gotama menghadirkan tokoh ibu yang tetap ke stasiun menunggu anaknya pulang meskipun ingatan tentang anaknya yang hilang sudah dihapus.

Trauma Itu Tawa

Setiap kali Lian mendengar suara tawa, ingatan tentang peristiwa biadab itu kembali menyiksanya. Poin selanjutnya adalah bagaimana Gotama menggunakan “tawa” sebagai pemicu (trigger) trauma. Tawa, yang secara umum identik dengan kebahagiaan, sesuatu yang sangat jauh dari rasa sakit. Pertanyaannya, siapa yang bahagia? Yang jelas bukan Lian, dan para korban lainnya, yang masih terperangkap dalam luka dan ingatan traumatis. Jadi siapa? Tidak lain mereka yang telah melupakan peristiwa biadab itu, orang-orang di sekitar Lian, masyarakat bangsa ini, yang melanjutkan hidup seolah-olah tidak pernah terjadi tragedi.

Tawa ini tidak hanya menunjukkan betapa biadabnya kejahatan masa lalu itu, tetapi juga sebagai bentuk sindirin tajam Gotama terhadap kondisi hari ini, di mana kebahagiaan berdiri di atas penderitaan yang dilupakan. Ketika korban masih bergulat dengan luka, masyarakat justru telah melangkah jauh tanpa menoleh ke belakang.

Memori dan Penulisan Sejarah

“Memori bukanlah sesuatu yang ajek, melainkan akan terus berubah dan terbarukan.” (Hal. 43)

Penelitian telah banyak menunjukkan bahwa memori tidak sepenuhnya berisi peristiwa yang kita alami di masa lalu, tetapi lebih banyak bentukan atau konstruksi ulang yang dipengaruhi banyak hal seperti imajinasi, keyakinan saat ini, konteks sosial, dan informasi baru. Artinya memori bisa diubah dan diarahkan. Celah ini dimanfaatkan penguasa untuk mengubah memori kolektif masyarakat agar sesuai dengan keinginannya melalui penulisan ulang sejarah dan pembungkaman penyintas. Kejahatan di masa lalu dihapus atau dimodifikasi sedemikian rupa hingga mendukung posisi penguasa saat ini. Jika fiksi atau narasi palsu itu dipercaya ratusan juta orang dalam rentang waktu yang lama, maka fiksi itu (narasi bahwa kekerasan di masa lalu tidak pernah terjadi) akan bergeser menjadi fakta sejarah dalam memori kolektif masyarakat.

Dusta-dusta disepakati menjadi bagian sejarah baru, sementara ikan-ikan mas koki belia akan melahapnya dengan sukacita tanpa sadar nasib buruk yang menunggu di kemudian hari. (Hal. 180)

Dalam novel ini, usaha penulisan ulang sejarah tersebut diperlihatkan dengan hadirnya divisi rahasia yang bertugas menghapus ingatan buruk dari para penyintas melalui buah yang telah direkayasa bernama alara (berarti tidak ada lagi duka). Buah ini mampu menghilangkan ingatan traumatis, menawarkan kehidupan yang tampak lebih bahagia bagi para penyintas. Bagian ini diceritakan melalui sudut pandang karakter B, yang merupakan ilmuwan perekayasa buah tersebut.

Buah alara tidak menghapus semua ingatan, tetapi hanya ingatan buruk. Jika ingatan diibaratkan sebagai sejarah, maka apa yang dilakukan divisi rahasia ini adalah menghapus catatan buruk dari sejarah. Tapi apa salahnya menghapus ingatan traumatis? Bukankah itu akan membuat hidup korban menjadi bahagia? Itulah pemikiran B, pada awalnya.

Namun persoalannya tidak sesederhana itu, perkara ingatan (entah itu baik ataupun buruk) adalah perkara eksistensial bagi individu atau secara sosiopolitik bagi sebuah bangsa. Tanpa sepenuhnya mengetahui apa yang telah terjadi di masa lalu, kita kehilangan kompas untuk menavigasi masa depan. Benarlah kata Milan Kundera dalam bukunya The Book of Laughter and Forgetting bahwa “The first step in liquidating a people is to erase its memory”.

Selain itu, dalam psikologi trauma, ingatan buruk yang ditekan (repressed memory) tidak hilang, tetapi muncul atau termanifestasi dalam bentuk neurosis pada individu atau konflik sosial yang meledak tiba-tiba pada sebuah bangsa. Hal ini digambarkan Gotama melalui tokoh ibu pembawa payung hitam. Telah dihapus semua ingatan buruk dari si ibu dan hanya tertinggal ingatan bahagia, namun begitu tingkah lakunya tidak normal (sakit), bahkan memperihatinkan.

Perempuan itu diam sejenak. “Entahlah, Nak, saya hanya merasa  … saya harus pergi ke stasiun. Saya harus menunggu seseorang.” Mendengar itu, telapak tangan dan tengkuk Lian mendingin. (Hal. 179)

Cinta Menolak Lupa

Kekuatan buah alara penghapus ingatan dikalahkan oleh kekuatan cinta antara Lian dan Ombak. Meskipun terkesan agak melodramatis, ini mejadi poin penting yang ditawarkan Gotama dalam novelnya ini. Gotama, menurut saya, sudah cukup gamblang melogikan bagaimana hal itu bisa terjadi secara ilmiah (atau setidaknya terkesan ilmiah). Bagian saya di sini adalah melihatnya secara lebih filosofis.

Ingatan Lian dan Ombak perlahan pulih ketika cinta kembali menyambangi keduanya. Intervensi penguasa menggunakan teknologi modern (rekayasa zat kimia) dikalahkan oleh kekuatan instingtual purba yakni cinta/birahi. Hal ini mengingatkan kita bahwa penguasa dengan teknologinya, sedahsyat apa pun penampakannya, tetaplah sebuah konstruksi buatan (artifisial). Sebaliknya, cinta adalah adalah kondisi esensial, sesuatu yang sudah tertanam dalam cetak biru (blueprint) makhluk hidup.

Dalam psikoanalisis, kita mengenal istilah alam sadar (conciousness) dan alam bawah sadar (unconciousness). Penghapusan ingatan itu hanya menyentuh alam sadar, tetapi sama sekali tidak menyentuh alam bawah sadar. Alam bawah sadar itulah yang membawa Lian dan Ombak kembali bersama meskipun tak saling mengingat. Itulah juga yang mengusik pikiran B dan menggerakkan si ibu tetap ke stasiun untuk menunggu anaknya meskipun ingatan tentang anaknya telah terhapus.

From Return to Departure

Novel ini kemudian ditutup dengan proses penyembuhan yang tidak berhenti pada pemulihan individu, tetapi berlanjut pada tanggung jawab sosial dan sejarah. Lian memutuskan untuk bersuara dan mengungkap kekerasan seksual yang dialaminya. Ini menjadi poin yang tidak kalah penting karena salah satu esensi dari penyembuhan trauma adalah pencarian makna (search for meaning).

Lian tidak ingin peristiwa kelam itu dialami oleh generasi berikutnya. Lian merasa memiliki tanggung jawab moral untuk mencegah itu terjadi lagi di masa depan. Atau meminjam istilahnya Cathy Caruth, Lian bergerak dari Return (terus menerus ditarik kembali ke peristiwa menyakitkan di masa lalu/trauma) ke Departure (menatap/menentukan arah masa depan).

Sejenak kemudian, terbersit dalam benaknya, bukankah ini demi ikan-ikan mas koki yang akan menetas kelak? Jika Lian, atau ikan-ikan mas koki yang dikutuk untuk terus mengingat, tak bersuara, bukankah ikan-ikan mas koki di masa depan akan dikutuk dengan kemalangan? Dusta-dusta disepakati menjadi bagian sejarah baru, sementara ikan-ikan mas koki belia akan melahapnya dengan sukacita tanpa sadar nasib buruk yang menunggu di kemudian hari. Sejarah bisa jadi berulang: kehilangan dan kematian sia-sia. (Hal. 180)

Lian menyadari bahwa apa yang dialaminya bukanlah sekadar pengalaman individu tetapi bagian dari fragmen besar yang ikut menentukan pergerakan sejarah. Lian jelas tidak menginginkan takdir ini, tetapi hidup telah menentukan jalan ini untuknya. Di sini, kata Caruth, mereka yang mengalami peristiwa traumatis bersejarah akan merasa telah dipilih (being chosen for) untuk mengemban misi yang menentukan masa depan sebuah bangsa. Dan, itulah yang dilakukan Lian.

Itulah beberapa hal yang menurut saya menarik untuk diperhatikan dalam novel Ingatan Ikan-Ikan. Novel ini sangat penting dibaca oleh mereka yang peduli pada kemanusiaan, tertarik pada sejarah, studi trauma dan memori. Tapi juga tidak kalah penting untuk dibaca kalangan umum sebagai bagian upaya menolak lupa. Selamat membaca!

 

M
Tentang Penulis

Muhamad Samsul Hadi

Lahir: Lombok, 12 Maret 1990

Lahir di Lombok, 12 Maret 1990. Saat ini tinggal di Yogyakarta. Menyelesaikan S1 Pendidikan Fisika di Universitas Hamzanwadi dan S2 Ilmu Sastra di UGM. Ia suka membaca buku-buku filsafat, novel, lari, dan nonton film. Komentar-komentarnya mengenai ragam hal bisa ditemukan di medium @Hadi Muhamad.

Baca Biografi Selengkapnya →
Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.