Lewati ke konten

Jembatan Setubanda

February 14, 2025 · Muhammad Maulana Suryo Kusumo

"Sailing Alone" (Acrylic on Canvas) - Madno, 2020

/wanodyayu kuru aking 
gelung rusak wor lan kisma
kang iga-iga kaeksi/

(tampak susut tirus pipi sang dara,
gelung yang rapuh dengan rambut terjuntai runtuh
sedang iganya memadat: tulang bersarung kulit)

Nimas, pengakuanku untuk mencintaimu
bukan percik hujan di pancaroba
dan bukan pekik kera di Pancawati. 
o, Sinta, sesantiku!
kususuri bengawan panjang berkilauan
yang muaranya di Samudra Hindi. 

“Rahwana, jahanam namamu akan diterkam seribu wanara!”
jalanku dan sejuta kera dipalang samudra 
melintang luas sepanjang pandang. 
ombak yang tenang tak berkejaran 
nyiur yang tegak tak bermesraan 
dengan angin darat. 

di Samudra Hindi kugaungkan cinta
menuju Alengka, Nimas manisku:
semoga sampai tujuan.
kususun batu tambak bersama kunyuk dan beruk
semoga sampai cintaku: 
menjadi Jembatan Setubanda.

kujemput raga serta hatimu 
dalam sekuntum kembang 
menur kesayanganmu,
Kekasih.

Yogyakarta, 2024

M
Tentang Penulis

Muhammad Maulana Suryo Kusumo

Lahir: Wonosobo, 13 Agustus 2005

Muhammad Maulana Suryo Kusumo, lahir di Wonosobo, 13 Agustus 2005. Saat ini tengah menikmati bangku perkuliahan Program Studi Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Sultan Agung, dan sempat mengenyam pendidikan di Program Studi Sastra Indonesia, FBSB, UNY.

Baca Biografi Selengkapnya →
Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.