“Istri Sempurna” dan Ketidaksempurnaan Lelaki
January 31, 2025 · Abdillah Danny
Apakah selalu demikian pandangan dunia terhadap female? Aih-aih. Saya jadi ingat, dulu, sewaktu masih rajin ngaji, betapa saya dan teman-teman sangat antusias ketika menyaksikan ustaz berjalan menuju langgar sambil mendekap kitab Fath al-Izar. Di kepala kami, saat itu, mungkin juga sampai sekarang, pendidikan seks usia dini menjelma menjadi suatu yang tabu semacam porno. Kami ketawa-ketawa kecil, dan jelas, objeknya adalah perempuan—sekali pun itu cuma dalam kepala kami.
Didasari rasa penasaran, saya pernah bertanya kepada kawan santriwati, “Bagaimana reaksimu dan kawan-kawanmu tiap kali ngaji kitab itu?” Dan jawabannya biasa saja. Rata-rata, mereka lebih berfokus pada cara-cara menjalaninya kelak sebagai perempuan. Memang bisa saja mereka malu karena ditanyai begitu. Namun, saya menduga saat itu mereka sedang menjadi subjek sekaligus objek meskipun hal tersebut adalah buntut dari pandangan umum terhadap mereka. Ya, seperti kata Simone de Beauvoir, “She is the Other.”1
Ingatan tidak menyenangkan itu muncul suatu sore di ruang tamu yang sepi setelah beberapa kali membaca cerpen “Istri Sempurna” karya Aveus Har.2 Cerpen yang dimuat Kompas pada Agustus 2023 lalu itu berhasil meraih penghargaan sebagai cerpen terbaik pilihan Kompas 2023. Bahkan, Budi Suwarna selaku juri berkata, ”Yang menarik, juri mencapai suara bulat untuk memilih satu cerpen sebagai pemenang.” Seketika kopi campur gerusan buah pala di meja melihat urat di pelipis saya, lalu menyerah pada tugasnya.
Terlepas dari daya pukau cerita dan bagaimana cerita diceritakan, ada sesuatu yang mengganjal di kepala. Hal itulah yang menyebabkan saya terlempar ke masa lalu, ingatan tidak menyenangkan itu, dan tidak mendengar suara sapu lidi mengerik lantai semen, rutinitas ibu setiap jam 4 sore yang menjadi penanda karena pukul 4 sore adik perempuan saya pulang sekolah dan harus dijemput.
Untung Ibu datang memukulkan sapunya ke kaki saya. Saya pun berangkat dengan teror pertanyaan-pertanyaan, spekulasi-spekulasi, dan kewaspadaan supaya tidak njelungup ke sawah.
“Jangan-jangan,” kata saya entah kepada siapa, “Kalau cewek itu bukan gynoid pun, si cowok akan tetap selalu bilang ‘ya’, lalu uangnya tetap habis, lalu tetap mengajukan cerai. Astaghfirullah.”
Percayalah, saya benar-benar nyebut saat itu.
***
Tak dapat dimungkiri, “Istri Sempurna” adalah cerpen yang memukau. Ambil saja teknik penyajiannya. Perhatikan paragraf pembuka ini.
“Aku sedang mengurus perceraian sekarang dan merasa tidak baik-baik saja meskipun sudah mempertimbangkannya beberapa hari terakhir. Istriku pasti sudah mengetahui bahwa aku akan melakukan ini meskipun aku belum mengatakannya dan meskipun dia tidak menyatakannya—aku yakin akan hal ini. Dia sangat memahamiku bahkan hingga ke dalam pikiran dan perasaanku yang dibacanya dari setiap gelagat dan nada suaraku. Aku bisa menyatakan bahwa dia lebih memahami diriku dari pada aku; ini tidak berlebihan karena selama tiga tahun perkawinan ini dia telah menyerap banyak data diriku dalam seluruh memorinya.”3
Setelah kalimat yang merangsang penasaran itu, Aveus Har (AH) membawa pembaca kembali ke masa lalu. Dengan cerdik, AH mengalihkan perhatian dengan menonjolkan persamaan-persamaan antara perempuan dengan gynoid—misalnya, sudah tahu sebelum dikasih tahu. Perempuan dalam konvensi dan atau tekanan universal akan memiliki sifat tersebut, begitu pula kecerdasan buatan.
Dengan demikian, ketika AH mengembalikan masa kini ke hadapan pembaca, lalu memutuskan untuk mengakhiri cerita, paragraf penutup tentu menjadi semacam jurus pamungkas. Saya rasa jurus itu berhasil membuat KO pembacanya, seperti gambaran Hasif Amini dalam esainya.4 Perhatikan paragraf terakhir ini.
“Aku menerakan tanda tangan. Segala selesai. Aku akan berlibur setelah ini. Petugas akan ke rumah dan membawa istriku kembali ke pabrik dan aku tidak ingin menyaksikan penjemputannya. Mungkin kelak aku akan menikah lagi, tetapi kali itu dengan manusia, bukan gynoid yang mengumpulkan semua dataku dan mengirimkannya ke vendor dan membengkakkan kartu kreditku ke titik bangkrut dalam tiga tahun saja.”
Di antara banyaknya bekas luka yang dipukulkan cerpen ini, peran perempuan menjadi semacam borok kecil, tetapi letaknya di siku atau lutut. Dalam cerpen, kita mendapati tokoh aku, yang sekaligus menjadi narator, adalah pribadi yang membutuhkan perempuan. Ini dapat dibuktikan dengan perkataannya soal malam pertama.
Ketidakberdayaannya sebagai lelaki itu mengingatkan saya kepada wanita-wanita tegar dari Macondo dalam Seratus Tahun Kesunyian. Konvensi universal yang patriarkis, di samping menyebabkan menjadi “nomor dua”-nya kaum perempuan, juga berimbas kepada tanggung jawab yang besar di mata para lelaki. Maka. tokoh aku sangat bergantung kepada peran istri, sebagaimana dinasti Buendía membutuhkan Úrsula, atau bahkan Pilar Ternera.
“Selepas kawin dengannya, sejak itu segala hidupku berubah lebih dari sekadar angka-angka dan minuman keras.”
Persoalannya adalah gynoid. Mulanya saya coba membacanya lagi, kali ini dengan membayangkan bahwa istri itu manusia biasa. Dengan suami yang “tidak berdaya” menghadapi hegemoni maskulinitas, lalu setuju dengan apa pun yang dilakukan istri—dan belum mempunyai anak—akhir cerita akan tetap saja pada tanda tangan cerai.
Uangnya lama-lama akan habis demi “kenyamanan suami” karena hal itulah satu-satunya yang dapat diupayakan istri. Sebab, konstruksi sosial mengidealkan sosok yang demikian. Sama seperti ketika mendengar petikan lagu Mendung Tanpo Udan, Kukuh Kudamai: awak dewe tahu nduwe bayangan/ mbesok yen wes wayah omah-omahan/ aku moco koran sarungan/ kowe belonjo dasteran. Sebuah lirik yang menggetarkan kuburan Simone de Beauvoir!
Maka, dengan mengganti identitas “manusia perempuan” menjadi “robot perempuan”, saya kira AH, disadari atau tidak, telah sampai pada suatu titik yang serius. Sederhananya begini: jika tanggung jawab lelaki dapat dialihtujukan kepada robot perempuan, perempuan akan terbebas dari belenggu sistem yang patriarkis. Ibaratnya, robot perempuan itu adalah pelacur dalam dunia nyata kita saat ini, tetapi level dua.
Apa yang disampaikan cerpen ini, dalam konteks gender, adalah bahwa patriarki merupakan suatu gagasan, tidak memiliki jenis kelamin, dan dapat menguntungkan dan merugikan siapa pun, tak peduli ia masuk toilet mana saat sedang di musala. Lebih lanjut, bersama para kapitalis, produsen robot-robot itu, para perempuan akan merayakan kemenangan mereka. Barangkali dunia tetap patriarkis, tetapi risiko kini hanya ditanggung lelaki.***
1 de Beauvoir, S. (2019). Second Sex: Kehidupan Perempuan (T. B. Febriantoro & N. Juliastuti, Penerjemah; T. Setiawan & N. Juliastuti, Penyunting). Narasi. (Karya asli diterbitkan 1949)
2 https://www.kompas.id/baca/sastra/2023/08/26/istri-sempurna diakses 10-01-2025
3 https://www.kompas.id/artikel/istri-sempurna-karya-aveus-har-jadi-cerpen-terbaik-kompas-2023 diakses 10-01-2025
4 Bertandang dalam Proses. Buku Kedua Komunitas Utan Kayu, (Yayasan Kalam. 1999).
Abdillah Danny
Berasal dari Mojokerto, tergabung dalam komunitas Susastra KMSI UNY dan LFC Van Java. Bisa dihubungi di pos-el (email): abdillahdanny2@gmail.com.
Baca Biografi Selengkapnya →