Inkubator
March 26, 2025 · Aldi Rijansah
Aku tak pernah pilih dilahirkan, tapi semasa dalam kandungan, siapa punya pilihan?
***
Kalau malam sedang bulan purnama, Ibu selalu berkata bahwa aku, di suatu waktu akan mengalami haus yang teramat sangat hingga tak mungkin ada air mana pun yang dapat memadamkan dahagaku yang bergejolak. “Kau akan mesti keluar untuk cari mata air yang bisa memuaskan hausmu,” ucapnya hangat dan penuh kasih sambil mengelus kepalaku pada pangkuannya. Tapi, bagaimana mengetahui mata air mana yang akan memuaskanku, tanyaku saat itu juga. “Kau akan tahu. Kau pasti akan tahu yang mana. Tahu sewajar bayi yang langsung menetek ke payudara ibunya tanpa perlu diajari.”
Selalu kupenasaran kenapa Ibu berkata begitu, sementara orang tua lain sering melarang anaknya keluar malam. Kini kumengerti alasannya.
Bahwa Ibu pun berbagi kemalangan yang sama. Turut tersiksa oleh kerak tandus yang minta badai es di tenggorokan ini. Yang membuatku berguling-guling bagai geliat cacing yang diletakkan di aspal di terik siang hari kalau sedang kambuh. Sayangnya, setiap kali kumenderita karena hal ini, Ibu sering kali tak ada di rumah, dan yang ada di rumah hanya Teddy.
Kendati ada Teddy, ia terlalu pendiam untuk dapat membuatku merasa mendingan. Ia memang selalu berada di samping dan menggenggam tanganku ketika sakit, tapi tak pernah lama karena ketika ibu datang, genggamannya akan melonggar dan tak lagi hangat. Teddy selalu menganggap gejala yang muncul hanya sekadar karena pengaruh datang bulan. Maka, setiap kali kemalangan ini datang, juga tak sanggup lagi kutahan, ditambah ia yang berkata demikian, dengan jengkel kuraih lengan Teddy dan kulempar ia ke dalam lemari guna berteman dengan Barbie, kuda poni, serta Hello Kitty, lalu aku secara sembunyi-sembunyi—seperti yang selalu dipesankan Ibu—menerobos keluar lewat jendela jadi perempuan malam. Membikin risih makhluk yang berteman kegelapan.
Selalu kuusahakan tidak terlalu mengganggu mereka dengan kehadiran diriku jika kami tanpa sengaja bertemu. Karena sering kali kuperhatikan mereka memandang dengan prasangka. Seolah aku akan merebut jatah makan malam mereka. Padahal, mereka sendiri tahu, aku tak pernah tertarik dengan segala yang bersumber dari gelap. Aku ini ibarat ngengat, hanya tertarik ke cahaya, ke bohlam lampu jalan 200 watt.
Yang kuingin cuma minum sepuas-puasnya guna mengakhiri rasa terbakar di tenggorokan ini.
Terbang melewati rerimbun daun pepohonan, menyeberangi sungai dalam, serta masuk ke perkampungan-perkampungan ketika setiap orang menutup mata dibuai mimpi. Mengunjungi satu rumah ke rumah satunya ke rumah satunya lagi, mengintip melalui celah lubang angin, terus-menerus melakukan hal ini hingga menemukan yang kucari.
Di sini aku bukanlah kawan maling karena aku tak ambil sesuatu yang menguntungkan diriku. Aku hanya ambil yang kubutuh. Walaupun yang kulakukan ini sering kali nantinya menimbulkan amuk seorang suami serta jerit kehilangan seorang ibu. Tapi, apa boleh buat, ini harus kulakukan karena, jika tidak, aku akan lepas kendali dan buat banyak orang terluka.
Ibu pernah bercerita bahwa neneknya dari neneknya dari neneknya dari neneknya dari neneknya—entah berapa garis keturunan ke belakang, aku sendiri lupa—pernah menolak lakukan apa yang harus dilakukan jenis kami agar gejolak bara api dalam dirinya padam, lalu apa yang terjadi kemudian adalah sebuah petaka!
Ibu tak pernah merinci apa sebenarnya petaka yang ia maksud. Ia hanya beri pengertian bahwa apa yang terjadi benar-benar sangat mengerikan untuk diceritakan secara terus terang. Sesuatu yang setiap kali kuungkit serta ingin dengar lebih lanjut setiap kali dininabobokan, selalu bikin ibu gelisah dan gigit bibir bawah dan mengelak lewat kalimat: “Nanti akan ibu beri tahu ketika kau telah cukup dewasa.” Sekarang umurku 17 tahun dan minggu depan hari ulang tahunku yang ke-18. Apakah kini aku masih belum cukup dewasa juga, wahai ibu yang selalu terlambat pulang?
Ya, pokoknya aku hanya perlu bersabar dan jadi anak berbakti. Apalagi cuma ibu seorang yang kumiliki. Soalnya, dalam hidupku tak ada ayah. Sepanjang hidup, aku tak pernah ketemu pria yang jadi suami Ibu sekaligus ayah buatku. Yang ada cuma Teddy yang kusuruh ambil peran sebagai kepala keluarga. Tapi, bukan berarti Ibu adalah Siti Maryam yang dapat mengandung tanpa seorang suami. Tentu saja tidak. Dalam ingatan samar-samar yang kadang muncul ketika aku bermimpi, kulihat seorang pria yang kulitnya cokelat hampir gelap serta bercambang lebat. Aku punya keyakinan bahwa pria ini pastilah ayahku. Ingatan tentang sosoknya ini pastilah semasa aku jadi bayi yang menyusu pada dada Ibu.
Sayangnya lagi, setiap kali kucoba ungkit hal ini juga, ibu selalu gunakan jurus pamungkasnya yang biasa: “Nanti akan ibu beri tahu ketika kau telah cukup dewasa.”
Kenapa yang kau beri hanya ketidakjelasan-ketidakjelasan, wahai Ibu!
Lambat-laun aku mulai tak peduli akan ketidakhadiran sosok ayah. Ayah ibarat kuda sembrani bersayap, yang selalu jadi impian, tapi tak pernah kenyataan.
Cerita mengenai Ayah sendiri datang secara tak terduga. Tidak keluar dari bibir Ibu, tapi lewat bibir saudari-saudarinya ketika kami semua kumpul keluarga di rumah nenek dan Ibu mesti keluar sebentar beli terigu yang habis untuk buat panganan dan aku ditinggalkan untuk bermain dengan para sepupu.
“Kasihan ya kakak kita, sudah ditinggal pergi laki, harus mewarisi itu juga.”
“Kebalik, karena kakak mewarisi itu, makanya ditinggal pergi lakinya. Tapi, memang sedih, sih.”
“Kakak kita sedang sial. Tapi, karena kesialannya ini salah satu dari kita jadi terhindar dari mewarisi itu.”
Itu? Apa itu? Ada apa dengan itu! Dan kenapa ayahku meninggalkan kami karena itu?
Bibi-bibiku bagai lupa bahwa terdapat anak delapan tahun yang dapat mendengar pembicaraan mereka.
***
Akhirnya kutemukan yang kucari. Di rumah salah seorang warga yang istrinya baru melahirkan seminggu yang lalu. Masih ada bau amis ketuban pecah menguar dari rahim, serta aroma manis lain dari makhluk mungil yang juga ikut keluar bersama semburan darah.
Si suami sedang tak di rumah, sementara si ibu muda sedang lelap di ranjang membawa sisa kelelahan dari perjuangan melewati hidup-mati yang belum pulih, dan si makhluk mungil sedang dibuai mimpi di keranjang bayi.
Sepertiku, sesekali makhluk mungil itu akan menangis karena haus, dan ibunya akan terbangun setengah sadar untuk menetekinya supaya diam sementara juga dengan cemas berharap lakinya segera pulang. Cup. Cup. Cup.
Dan aku ada di sana, memperhatikan semua ini terjadi dari balik tirai tanpa ketahuan.
Sisa manis dari selangkangan si ibu muda membuatku makin dahaga. Manis serupa kembang gula di pasar malam. Membikin ngiler ingin menyeruput sisa-sisa lengket yang tak berhasil disingkirkan air serta sabun itu. Sekalipun itu hanya berguna untuk menunda hausku untuk sementara waktu, sebelum si makhluk mungil kurebut jadi milikku.
Aku mesti bersabar hingga si perempuan kembali tidur. Walaupun gejolak yang tertahan ini membuatku sungguh ingin mengobrak-abrik seluruh isi rumah saking tak tahan menunggu ia kembali lelap.
Sabarlah, nak, sabarlah, sebentar lagi kita berteman, sebentar lagi kita terbang ke langit malam, berteman bulan dan bintang. Akan kukirim kau kembali ke antara para suci bersayap putih. Biar selalu senang. Selalu tenang. Karena jika kau masih di Bumi, kau akan lebih banyak ketemu kesedihan serta kesedihan lagi. Orang-orang Bumi hanya pandai menyanyikan duka, tidak bahagia. Di sini sungguh tak menyenangkan dan lebih banyak membuat kesal. Sementara di langit kau akan bergembira. Akan kutulis surat selamat tinggal buat ibumu biar ia tak bingung. Saat pertama kali mungkin ia akan sedih ketika membacanya, tapi tenang, itu hanya akan berlangsung sebentar. Waktu selalu jadi obat terbaik untuk segala kepergian.
Wahai bunda belia yang tengah bermimpi indah, semoga bisikan lirih ini mencapai dirimu. Maaf harus kurebut hal berharga milikmu ini, bukan karena kusuka, tapi karena terpaksa. Apa boleh buat, sebagai seorang pendosa aku tak punya banyak pilihan lain tersisa.
Kuraih si bayi yang pulas menggemaskan, lalu kami terbang bersama ke kelam malam.
***
Bertahun-tahun kemudian aku bertemu seorang pria dan kami pun menikah. Satu permintaanku sebelum kami disatukan di hadapan Tuhan adalah agar ia tak mengungkit asal-usulku. “Baiklah, apa pun demi kau.” Di hadapan penghulu, kami berikrar untuk hidup semati dengan setia. Dengan maskawin seperangkat emas dan uang puluhan juta. Serta sebuah janji bahwa ia akan tetap di sisiku, baik dalam suka maupun duka.
Dibawanya aku ke pelaminan yang serba putih serta harmonis. Duduk bersama di singgasana di antara ratusan orang yang menyaksikan serta menyalami kami. Selamat atas pernikahannya! Selamat atas pernikahannya!
“Memangnya hal apa yang akan terjadi jika aku tahu asal-usulmu?”
“Terjadinya suatu kejadian hebat mirip ketika si bocah tahu ibunya adalah seekor ikan.”
Lalu kami tenggelam dari hiruk-pikuk haru setiap orang.
Tahun-tahun awal pernikahan kami berlangsung bahagia. Lebih banyak tertawa dibanding bersedih. Sementara itu, aku tetap keluar malam kalau purnama tiba biar tak liar dan jadi gila.
Satu hal yang jadi perhatian besar buatku adalah jika tiba saatnya menjadi seorang ibu. Apakah jabang bayi yang kulahirkan akan berbagi takdir yang sama dengan diriku kelak? Setiap malam bulan purnama jadi setan neraka jahanam yang mesti menyedot hidup makhluk lain guna bertahan hidup. Ketakutan itu berangsur-angsur makin membuatku tak tenang ketika di suatu pagi aku muntah di wastafel dan hasil test pack menunjukan dua garis.
“Kita sebentar lagi akan jadi ayah serta ibu,” kata suamiku riang, sementara aku menggigil ketakutan hanya membayangkan.
Kehidupan yang membuat derita ini tak boleh bersambung! Kuminum cairan obat nyamuk semprot ketika si janin masih tanpa tangan serta kaki. Dalam setengah jam, gumpalan daging yang belum jadi itu luruh, hancur, lalu terbunuh. Merah mengalir dari selangkanganku tanpa mampu kutahan. Suamiku yang pulang dari bekerja sangat panik melihatku dalam keadaan serba berdarah. “Bayi kita… bayi kita…” katanya hampir terdengar putus asa. Aku menggeleng, lalu pingsan. Aku sukses keguguran.
***
Delapan tahun pernikahan, tiga kali kelahiran, lima janin yang dikirim kembali ke kayangan. Kulakukan segala yang perlu untuk tak melahirkan seorang putri. Tapi, ternyata rahimku memang beracun, korosif, hanya tahu mengambil nyawa, serta memberi derita. Semua putra yang kucoba pertahankan, tak ada yang bertahan. Semuanya mati bagai capung yang hidup singkat, seolah sejak awal cuma mayat. Suamiku layak menyesal kawin denganku.
Kematian berturut-turut anak-anak kami membuat suamiku lebih banyak keluar masuk rumah ibadah. Selalu berdoa supaya mendiang anak-anak kami ditempatkan di samping Tuhan Yang Maha Esa. Juga agar kami segera diberi kesempatan memiliki momongan. Sementara itu, kelelahan akibat keguguran makin membuatku sering keluar malam merampok orok. Aku mulai khawatir suamiku suatu saat akan tahu tentang diriku yang sebenarnya serta hal yang kulakukan pada putri-putri tak lahir kami, yang suatu saat akan membuat aku dan ia jadi seteru.
Darah! Darah! Darah! Oh, aku sungguh kehausan.
Suatu malam suamiku pulang bawa dua kawan. Di ruang tamu, kami ngobrol berempat dengan teh serta sepiring biskuit bahas segala hal. Sedikit yang buatku risih adalah seorang kawannya yang gondrong terus menatapku, membuatku tak nyaman.
“Ada yang salah?”
“Ah, tidak, hanya…, nyonya terasa familier.”
“Familier? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”
“Tidak pernah. Barangkali hanya perasaan saya saja.”
Lalu ia izin ke kamar mandi. Lalu kembali. Sambil ditatapnya aku lekat-lekat lagi.
Di ambang pintu waktu pulang, si gondrong menyalami suamiku kuat-kuat, “Jaga diri baik-baik, jangan sering terlambat pulang malam,” katanya, lalu berpaling padaku. “Selamat malam, nyonya.” Lalu ia mengangguk pada suamiku. Entah kenapa eskpresi suamiku menandakan ia kebingungan, tapi tetap mengangguk juga.
Sejak kepulangan kedua tamu kami itu suamiku jadi lebih pendiam serta sering berada di rumah. Mengamati segala gerak-gerik yang kulakukan dengan pandangan yang… minta kepastian? Ini menyulitkanku ketika ingin keluar malam. Tersiksa oleh perasaan haus terbakar, aku mulai sering mengerang dalam diam.
Suatu petang ada kesempatan. Saat itu suamiku mengatakan akan menginap di luar kota untuk tiga malam karena alasan pekerjaan. “Kunci semua pintu dan jendela rapat-rapat kalau malam,” katanya sebelum berangkat naik bus di halte jalan. Kubebas untuk sementara.
Sayangnya, itulah awal dari sebuah malapetaka.
***
Malapetaka itu datang tanpa kusangka-sangka, ketika sehabis pulang menuntaskan dahaga, tak kutemukan tubuh fana yang kutinggalkan di meja makan.
“Kukira mereka mengada-ada,” ucap suatu suara, yang ternyata suamiku yang muncul tiba-tiba, “tapi ternyata kau memang jelmaan setan!” sambil keluar dari bilik kamar.
“Jangan lihat…” kataku lari sembunyi di balik tirai. “Aku tidak…” aku berhenti di sana. Sudah terlambat. Suamiku telah melihat segalanya. Kuputuskan untuk bisu.
“Dulu ketika kau suruh ‘Jangan mencari asal-usulmu,’ aku harusnya mengabaikan perkataanmu dan menelusuri riwayat hidupmu. Karena tentunya kau bukan yatim piatu yang keluar dari batu. Serta punya ayah juga ibu.”
Kutetap bisu. Segala tanya dan benci bercampur dalam diriku.
“Sepanjang pernikahan kita tak pernah kupertanyakan dirimu barang sekejap pun akan kematian anak-anak kita. Kuanggap bahwa kita memang belum diberi tanggung jawab untuk menjadi orang tua,” nada kata-katanya penuh kekecewaan. “Hingga ketika Hendra datang dan ia menyelipkan pesan ke genggamanku ketika pulang.”
Hendra? Si gondrong itu? Ada apa dengan dia?
“Dialah yang memberitahuku kau adalah setan!” pekiknya. “Dia yang memberitahuku bahwa aku telah menikahi setan yang memangsa bayi serta membunuh anak-anakku. Yang terbang ketika malam, lalu kembali ketika fajar untuk memerankan peran seorang istri dari seorang lelaki dungu. Terkutuklah aku yang beristri setan yang pandai menipu! Yang hanya memberi kemalangan! Tapi kebodohan itu berhenti di sini! Sudah kusuruh kedua kawanku untuk membuang tubuh sialanmu ke sungai, biar hanyut dibawa air dan kau tak sempat bersatu sementara matahari sebentar lagi terbit di timur.”
Mataram-KSB, 2023-2024
Aldi Rijansah
Menyukai menulis untuk sementara waktu ini. Tulisannya telah dimuat di berbagai media cetak maupun digital.
Baca Biografi Selengkapnya →