Nona Keris
February 26, 2025 · A. Warits Rovi
Malam itu, dalam suasana kamar yang gelap, ia belum bisa tidur. Hanya terpejam. Merentangkan lengan kanannya di dahi. Memikirkan proses akhir keris Manti, pesanan kepala desa Tabun—yang akan dipakai untuk menggerebek raja maling sapi empat hari lagi. Sebentar ia ingat; sore tadi, saat tangan kanannya menggosokkan kelopak bunga mawar ke punggung kodokan. Di bilah kanan dan kirinya yang tajam, ia bacakan kalimat basmalah. Tapi ia merasa tak cukup hanya dengan ritual tersebut. Itulah yang membuatnya tak langsung bisa tidur.
Ia tak tahu pukul berapa saat pintu kamarnya yang tak dikunci itu tiba-tiba ada yang membuka. Sontak ia duduk dengan jantung berdegup kencang. Ia tak tahu siapa yang sedang melangkah dan mendekat. Sepintas diamati dari bentuk tubuhnya, ia hanya tahu jika yang masuk ke kamarnya adalah seorang lelaki. Ingin ia berteriak, tapi sadar diri, bahwa sejak kecil mulutnya tak bisa mengeluarkan suara.
Tangan kanannya lekas meraba sakelar di dinding. Tapi lambat. Orang itu sudah lebih dulu memeluk dirinya. Menidurkannya kembali di kasur, sambil menyentuh bagian-bagian sensitifnya. Lalu lelaki itu menindih tubuhnya. Hingga malam itu ia merasakan sesuatu yang tak pernah dirasakan.
Sedikit beruntung, ketika lelaki yang telah mencuri keperawanannya itu keluar dari kamar, ia tak lupa mengintipnya dari jendela. Maka ketika lelaki itu melintas di bawah lampu, ia mengenal wajah lelaki itu.
“Astaga! Tidak mungkin. Sangat tidak mungkin. Tapi, yang namanya manusia, selalu dihadapkan pada seribu kemungkinan,” gumamnya di balik jendela. Sambil bersandar lunglai ke tembok. Mendongak ke langit-langit kamarnya yang gelap.
Saat itulah ada beragam kecamuk dalam dadanya yang membuatnya melinangkan air mata. Ia merasa; puluhan keris yang sudah ia buat, datang serentak malam itu. Menusuk-nusuk dadanya.
#
Di beranda, malam itu semua keluarga Ki Rahwi berkumpul, termasuk ia yang oleh orang-orang lebih dikenal dengan sebuatan Nona Keris. Sebutan yang membuat nama aslinya “Farida” jadi tertimbun dan nyaris hilang. Itu terjadi sejak dua tahun lalu—sejak dirinya dikenal sebagai satu-satunya cucu Ki Rahwi yang pandai membuat keris. Keris-keris yang dihasilkan tangannya selalu menarik minat konsumen. Selalu laris 6 banding 1 jika dibanding keris buatan keturunan Ki Rahwi yang lain.
Tak hanya itu, khasiat keris buatannya juga banyak yang membawa berkah. Ada yang hasil taninya melimpah. Ada yang dagangannya laris, bahkan ada yang suaminya selingkuh bisa harmonis lagi. Itulah yang membuat Ki Rahwi menyanjungnya dengan sebutan Nona Keris. Meski sejak kecil tak bisa bicara, tapi ia ulet dan cekatan, terutama dalam urusan membuat keris. Jika ada tamu istimewa datang untuk membeli keris, Ki Rahwi pasti menyodorkan keris buatannya.
Ia sendiri hanya bisa menunduk sebisu batu. Selain karena memang tak bisa bicara. Peristiwa tiga malam sebelumnya masih membuatnya shock. Kedua matanya sebatas bicara dengan sebatang keris pesanan kepala desa Tabun yang ada di depannya. Pandangannya fokus membidik lekuk ukiran warangka dari pangkal ke ujung, seolah menatap rute nasib hidupnya sendiri. Beberapa kali tangan kanannya meraba keris itu, ia merasa sudah tak ada lagi kekuatan ajaib pada dirinya—yang biasanya mengalir pada setiap keris buatannya. Ia menyelesaikan proses akhir keris itu dengan pikiran tak karuan.
“Aku mengumpulkan kalian semua ke sini hanya untuk bercerita satu hal. Ini sekadar mimpi. Tapi penting untuk kalian dengar baik-baik.” Setelah bercakap banyak hal, akhirnya Ki Rahwi masuk ke topik inti dengan raut berparam cemas.
“Aku bermimpi almarhum guruku datang ke beranda ini. Tak tersenyum seperti biasanya. Ia murka. Wajahnya merah. Katanya, kini ada keturunanku yang sudah jadi musang.”
Ki Rahwi menunduk. Kedua matanya terlihat seperti nyaris menangis. Semua anak-anak dan cucu-cucunya masih terdiam. Sekadar saling pandang satu sama lain.
“Itu maksudnya apa, Yah?” tanya Saluki, anak kedua Ki Rahwi yang selama ini dikenal bijak.
“Itu artinya, ada sebagian di antara kalian yang sama seperti binatang. Padahal itu pantangan bagi orang yang punya pekerjaan membuat keris. Karena kutuk tetua akan datang berupa petaka.”
Saluki dan semua yang hadir terkejut. Wajah-wajah yang tertimpa cahaya lampu 9 watt jadi terlihat agak muram. Keadaan masih senyap.
“Semoga itu hanya mimpi, Yah. Tidak jadi kenyataan,” sambung Risun, anak Ki Rahwi yang paling muda.
“Mimpi itu datang tiga kali, selalu sama seperti itu. Aku yakin itu bukan hanya sekadar mimpi, tapi tanda-tanda akan terjadi sesuatu. Makanya malam ini aku mengumpulkan kalian semua di sini. Berharap ada yang mengaku secara jujur, sebelum kutukan itu datang.”
Tak ada suara apa pun selain desir angin, disela gemersik daun ketapang kering yang jatuh menimpa genting. Semua larut dalam pikirannya masing-masing. Hingga beberapa saat kemudian, kepala desa Tabun datang untuk mengambil keris pesanannya.
Ki Rahwi menyerahkannya sambil membaca beberapa mantra. Nona Keris memandangnya dengan getar jantung yang tak biasa. Pikirannya terseret ke tiga malam lalu.
“Jika besok saya sukses meringkus raja maling sapi itu, keris ini akan kita kirab keliling desa,” janji kepala desa Tabun sebelum pamit.
#
Di sisi api yang masih menjilat-jilat udara, yang sesekali memantikkan kembang bara halus ke sekitar, Saluki tampak kurang fokus menempa batang besi yang sudah dicampur pamor nikel dan baja. Pikirannya melayang pada keponakannya; Farida atau Si Nona Keris yang selalu disanjung-sanjung Ki Rahwi.
Dulu ketika Fadil—ayah Farida alias kakak kandung Saluki—baru saja meninggal, Saluki sangat menyayanginya. Ia menganggap Farida seperti anaknya sendiri. Kalau anaknya dibelikan kue atau mainan, Farida pasti dibelikan juga. Ia merasa keponakannya yang yatim itu adalah tanggung jawabnya.
Seiring berjalannya waktu, saat Farida sudah dewasa, ketika ia terampil membuat keris, kasih sayang Saluki mulai berkurang, terutama ketika keris-keris buatan Farida mengungguli keris karya dirinya.
Tak jauh dari Saluki, beberapa meter di belakangnya, Risun sedang merapikan ganja, tapi ia sama dengan Saluki. Pikirannya juga tak fokus, selalu teringat kepada Farida, yang kian hari kian disanjung dan keris buatannya jadi paling laris. Ia tak rela Farida yang menguasai produksi keris Empu Rahwi. Risun iri pada keponakannya itu.
Saat keduanya bekerja tanpa suara, tiba-tiba Ki Rahwi masuk ke tempat pembuatan keris itu. Membuat Saluki dan Risun terperanjat. Menyapa dengan tergesa, dengan wajah yang sedikit grogi.
“Gawat! Gawat!”
“Kenapa, Yah? Ada apa?”
“Keris yang dibeli kepala desa Tabun ternyata makan nyawa. Raja maling itu tewas oleh keris itu.”
“Berarti itu berhasil, Yah!”
“Itu bukan berhasil. Mestinya dengan keris itu, kepala desa Tabun hanya cukup menangkap, bukan membunuh. Jika diurus hingga rinci, tak menutup kemungkinan polisi akan tahu jika keris itu buatan kita. Kita juga akan berurusan dengan hukum,” Ki Rahwi menepuk jidatnya tiga kali.
#
Sudah hampir tiga minggu Nona Keris tak membuat keris. Halus jarinya sudah tak terhidu aroma besi. Jauh dari urusan mencampur pamor nikel, besi, dan baja pada api yang menyala. Kini ia selalu merasa mual, ada desak gerak seperti yang didorong-dorong dalam perutnya. Perut yang terus membuncit, membuat kancing bagian bawah bajunya tak lagi bisa dipasang. Di dalam kamar, bisanya cuma menangis.
Ki Rahwi hanya tahu cucunya itu sudah tak lagi mau membuat keris. Ia tidak tahu alasan yang sebenarnya. Beberapa hari terakhir, pesanan keris juga mulai berkurang, bahkan sebaliknya; yang ada hanyalah komplain dari beberapa pembeli karena keris yang telah dibelinya tiba-tiba patah. Ki Rahwi didera rasa gelisah. Kegelisahan itu semakin dahsyat karena mimpi yang pernah dikabarkan di beranda, kini terjadi lagi setiap malam.
Pada suatu sore yang senyap, Ki Rahwi mencoba masuk ke kamar cucunya. Begitu ia melihat Nona Keris duduk di dekat jendela, sejenak kegelisahannya memudar. Lalu Ki Rahwi duduk bersisian dengannya. Ia membelai lembut rambut cucunya itu. Tapi Nona Keris malah menangis. Merebahkan kepalanya ke dada Ki Rahwi.
Hati Ki Rahwi kembali tak karuan. Ia tidak tahu pada sebab tangis cucu kesayangannya itu.
“Mengapa kau menangis? Dan kenapa kamu tak membuat keris lagi?” tanya Ki Rahwi pelan.
Nona Keris langsung berdiri dan memperlihatkan perut buncitnya. Ki Rahwi terkejut. Hatinya semakin tidak karuan. “Kenapa kamu? Apa kamu hamil?”
Nona Keris mengangguk—tangisnya kian pecah. Ki Rahwi seperti tak punya tenaga. Ia gemetar. “Siapa yang telah menghamilimu?”
Nona Keris sebentar diam. Hanya terisak. Bimbang, antara mau jujur atau tidak. “Ayo katakan! Jangan takut! Kau akan kujaga dan tetap kakek sayangi,” ucap Ki Rahwi sembari menggenggam tangan cucunya.
Nona Keris beranjak ke meja. Mengambil kertas dan sebentar menulis beberapa baris kalimat. Lalu kertas itu dilipat, kemudian diserahkan kepada kakeknya. Ki Rahwi menerimanya dengan jantung berdebar dan tangan gemetar. Ia membukanya pelan-pelan.
Paman Saluki yang menghamiliku. Mungkin dia ingin agar kelihaianku membuat keris jadi pudar. Agar keris buatannya jadi lebih laku. Sejak aku mendapat julukan Nona Keris, diam-diam kasih sayangnya padaku berubah jadi rasa benci.
“Ha? Apa ini benar? Kamu jangan memfitnah pamanmu ya! Sejak ayahmu meninggal, dialah yang menyayangimu. Tidak mungkin melakukan itu. Apa buktinya?” bentak Ki Rahwi dengan suara tinggi. Seluruh tubuhnya gemetar. Nona keris terdiam sambil terus menangis. Ia tidak punya bukti yang bisa ditunjukkan saat itu, tapi ia ingat betul wajah lelaki yang lewat di bawah lampu, setelah ia keluar dari kamarnya, sesudah merobek keperawanannya.
“Ayo tunjukkan! Ayo…!! Ki Rahwi mengguncang-guncang bahu Nona Keris Amarahnya memuncak. “Dasar anak…”
“Yah!” tiba-tiba Saluki berdiri di pintu.
“Ada apa?”
“Di luar ada sekawanan polisi. Mereka datang ke sini membawa keris Manti yang digunakan kepala desa Tabun untuk membunuh maling.”
Ki Rahwi puyeng mendengar kabar itu. Bumi seperti berputar cepat. Penglihatannya jadi hitam pekat. Lalu ambruk ke lantai. Ia memasuki dunia mimpi lagi dan bertemu lagi dengan gurunya. Gurunya memberi kertas yang tulisannya sama persis dengan yang ditulis Nona Keris.***
Gapura, 2024
Lahir di Sumenep Madura 20 Juli 1988. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai dan artikel memenangi beberapa sayembara dan dimuat di berbagai media. Buku Cerpennya yang telah terbit “Dukun Carok & Tongkat Kayu” (Basabasi, 2018). Buku puisinya adalah “Kesunyian Melahirkanku Sebagai Lelaki” (Basabasi, 2020), “Bertetangga Bulan” (Hyang Pustaka, 2022). Ia mengabdi di MTs Al-Huda II Gapura dan berkesenian di Sanggar 7 Kejora, juga di Komunitas Damar Korong.
Baca Biografi Selengkapnya →