Lewati ke konten

Peristiwa

Madura dalam Mitos dan Gosip: Mendengar Pembicaraan Puisi Romzul Falah 

September 6, 2026 · M. S. Hadi

Apa yang terpikir ketika mendengar kata Madura? Mungkin karapan sapi, carok, keras, atau masyarakat yang sangat religius. Penanda-penanda ini begitu lekat sehingga kerap menjadi yang pertama terlintas ketika bicara soal Madura. Padahal, kehidupan masyarakatnya jauh lebih beragam dan berlapis, sebagian tersimpan dalam cerita-cerita yang tumbuh dari keseharian dan terus dituturkan dari satu generasi ke generasi setelahnya.

Cerita itu bisa berupa mitos, gosip yang beredar di antara warga, kisah kesaktian dan kekerasan, hingga tragedi. Sebagian mungkin terdengar ganjil atau bahkan tidak masuk akal, tetapi melalui cerita-cerita itulah kita dapat melihat lebih dekat kehidupan masyarakat Madura. Gagasan itulah yang mengemuka dalam diskusi buku Balai Desa dan Hantu-Hantu Nippon dalam rangkaian Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026, Minggu, 30 Agustus. Diskusi ini menghadirkan langsung penulisnya, Romzul Falah, yang dibersamai Khotibul Umam sebagai moderator.

Buku Balai Desa dan Hantu-Hantu Nippon merupakan kumpulan puisi naratif yang berusaha memotret kehidupan masyarakat Madura melalui mitos, gosip warga, dan cerita-cerita ganjil yang diteruskan turun-temurun. 

Umam membuka diskusi dengan menanyakan bagaimana cerita awal sehingga buku ini bisa lahir. Romzul bercerita bahwa beberapa puisinya mulai ditulis pada akhir 2019 hingga awal 2020, sebelum akhirnya dilanjutkan pada 2022 ketika ia sedang mengambil cuti kuliah. Saat kembali membuka berkas lama di laptop, ia teringat pada gagasannya dulu dan tertarik untuk menyelesaikannya.

Romzul mengatakan cerita yang ada di buku nyaris semua tidak dialaminya. Bahan dikumpulkan dari cerita neneknya, bergosip dengan orang-orang kampung, dan menemui orang-orang tertentu yang terkait dengan cerita.

“Saya hampir semuanya mendapatkan bahan dengan cara bergosip dengan orang-orang di kampung,” ujarnya.

Umam juga memperhatikan langgam Madura yang begitu kental dalam puisi-puisinya Romzul. Ia lantas menanyakan apakah puisinya ditulis dalam bahasa Madura terlebih dahulu kemudian mengalihkannya ke bahasa Indonesia.

Romzul mengatakan puisi-puisi tersebut langsung ditulis dalam bahasa Indonesia, tetapi struktur berpikir dan langgam bahasa Madura tetap terbawa ke dalam tulisannya. Ia menceritakan bahwa bahasa Indonesia pernah menjadi sesuatu yang asing baginya karena kesehariannya lebih banyak bersentuhan dengan bahasa Madura.

“Dan itu susah sekali mempelajari bahasa Indonesia. Kayaknya sampai sekarang itu masih menjadi pengaruh ketika saya ngomong. Misalkan ada struktur bahasa Madura yang saya gunakan,” ujar Romzul.

Struktur bahasa Madura yang telah terbentuk sejak lama itu akhirnya terbawa pula ketika ia menulis. Selain itu, sejumlah kosakata lokal juga dipertahankan ketika tidak memiliki padanan yang memadai dalam bahasa Indonesia, sementara istilah yang sulit ditemukan diberi penjelasan melalui glosarium.

Umam kemudian menyoroti pilihan bentuk puisi naratif dalam buku ini yang tidak bisa dilepaskan dari posisi Romzul terhadap tradisi perpuisian Madura. Romzul mengatakan penyair-penyair Madura, terutama dari Sumenep, kerap ditempatkan di bawah bayang-bayang penyair besar seperti D. Zawawi Imron atau Abdul Hadi W.M., dengan kecenderungan puisi liris dan pastoral. Di sini, ia menghadirkan bentuk yang berbeda untuk memperlihatkan kemungkinan lain dalam membicarakan Madura.

“Pada akhirnya, saya mencoba menampilkan bentuk yang memang jauh dari kecenderungan itu untuk menunjukkan bahwa Madura tidak hanya tentang Zawawi,” ujarnya.

Begitupun dengan tema, Romzul menghindari pengulangan gambaran Madura yang hanya berkutat pada karapan sapi, carok, atau sape sono’. Ia lebih memilih berbicara tentang Madura melalui kehidupan domestik masyarakat di kampungnya sendiri.

“Untuk ngomong tentang Madura, saya tidak harus mengucapkan kata ‘Madura’, tetapi saya tinggal ngomong tentang kampung saya, yang lain akan membaca itu sebagai Madura,” katanya.

Begitu juga ketika ia menghadirkan kekerasan, tragedi, kesaktian, dan keajaiban yang berulang kali muncul dalam buku ini. Kekerasan bukan dimaksudkan untuk memperkuat stereotip tentang Madura sebagai masyarakat yang keras, sebagaimana mitos dan keajaiban bukan sekadar tempelan untuk mengeksotiskan kehidupan kampung. Romzul justru ingin menjauh dari romantisasi dan memperlihatkan kehidupan kampung dengan berbagai kontradiksi di dalamnya. Ada kedamaian sekaligus kekerasan, kehidupan sehari-hari sekaligus kejadian-kejadian yang dipercaya berada di luar nalar.

“Ketika saya tetap menghadirkan tentang kekerasan, itu bukan untuk membenarkan ketika orang-orang bilang bahwa Madura keras. Bukan ke arah situ sebenarnya. Tetapi saya mencoba menghadirkan Madura yang kenyataan, bukan Madura yang ideal,” ujarnya.

Pembicaraan beralih ke mitos-mitos yang ada dalam Balai Desa dan Hantu-Hantu Nippon. Bagi Romzul, mitos tidak cukup dilihat dari persoalan benar atau salah, tetapi lebih ke cara masyarakat kampung memahami berbagai peristiwa dalam kehidupan mereka. Di balik sesuatu yang mungkin terdengar tidak masuk akal, kita bisa melihat cara masyarakat memberi makna pada alam, kehidupan, hingga kematian.

Misalnya mitos burung taras, burung yang dipercaya masyarakat di kampung Romzul sebagai pembawa pertanda kematian. Jika berbunyi sekali, masyarakat percaya akan ada seseorang yang meninggal, sedangkan bunyi yang berulang kali dipercaya menandakan datangnya bala atau penyakit. Waktu terdengarnya suara burung itu pun memiliki makna tersendiri, mulai dari pertanda kematian bayi, orang muda, hingga orang yang telah lanjut usia.

Jika dilogikakan, kita tidak akan menemukan hubungan sebab-akibat antara suara seekor burung dan kematian seseorang. Namun, menurut Romzul, nilai mitos tersebut justru terletak pada cara masyarakat memaknai ketidakpastian kematian.

“Saya melihatnya itu sebagai bagian dari cara orang-orang di kampung mempercayai bahwa kematian bisa datang kapan saja pada akhirnya. Hanya saja mereka menunjukkannya melalui kepercayaan pada burung itu,” jelas Romzul.

Di akhir diskusi, Romzul mengatakan bahwa ia menyadari kemungkinan munculnya berbagai respons terkait keganjilan-keganjilan dalam buku, baik bentuk, tema, dan lainnya. Salah satunya kata “Nippon” yang mungkin terasa ganjil karena buku ini tidak membicarakan kolonialisme Jepang.

Ia menjelaskan bahwa pemilihan kata itu berangkat dari kebiasaan orang-orang di kampungnya menyebut “Nippon” kepada seseorang yang hidup sesukanya atau tidak tahu berterima kasih. Romzul mencontohkan kebiasaan warga bergotong royong memindahkan kandang sapi. Jika pemiliknya tidak berterima kasih, warga akan berkata, “Orang itu tidak kalah dari Nippon.”

Ini mengusik dirinya, dari mana orang-orang tua di kampungnya, yang rata-rata tidak sekolah, mengenal istilah “Nippon”. Apalagi, tidak seperti kawasan kota tua Sumenep yang masih menyimpan berbagai peninggalan kolonial, di kampungnya tidak ada jejak semacam itu.

“Pada akhirnya saya pikir, cerita-cerita tentang pengibaratan Nippon, meskipun tidak mereka sadari, itu bagian dari upaya untuk menjaga sejarah kelam, sejarah kolektif dari dulu mereka sampai hari ini,” ujar Romzul.

Karena itu, menurut Romzul, cerita-cerita yang ia kumpulkan dari bergosip dengan warga kampung tidak lain adalah narasi-narasi alternatif dari sejarah.

“Jadi, gosip-gosip itu selain ada untuk pertahanan hidup, dia juga sebagai narasi alternatif daripada sejarah keseluruhan yang tidak adil. Kira-kira begitu,” tutupnya.

Demikian diskusi buku Balai Desa dan Hantu-Hantu Nippon. Di balik mitos yang terdengar ganjil atau cerita di sela gosip warga kampung, kita bisa melihat cara masyarakat memahami dunianya. Dan barangkali, dengan menuliskannya, Romzul Falah sedang memastikan cerita-cerita itu tidak berhenti pada generasinya.

Tentang Penulis

M. S. Hadi

Lahir: Lombok, 12 Maret 1990

Lahir di Lombok, 12 Maret 1990. Saat ini tinggal di Yogyakarta. Menyelesaikan S1 Pendidikan Fisika di Universitas Hamzanwadi dan S2 Ilmu Sastra di UGM. Ia suka membaca buku-buku filsafat, novel, lari, dan nonton film. Komentar-komentarnya mengenai ragam hal bisa ditemukan di medium @Hadi Muhamad.

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.