Peristiwa
Di Antara Bayang-Bayang Kolonialisme dan Identitas yang Cair
September 6, 2026 · M. S. Hadi
Kolonialiasme tak pernah usai, ia hanya berganti topeng. Boleh saja bendera dinaikkan, kemerdekaan diteriakkan, tapi itu hanyalah awal dari kolonialisme yang lain. Badan mungkin merdeka, tapi pikiran atau budaya tetap terjajah. Hegemoni Barat sudah sangat mendarah daging sehingga kita menganggapnya sebagai suatu hal yang wajar.
Kita secara tidak sadar telah sangat menjunjung tinggi Barat, jejaknya bisa muncul dalam sesuatu yang tampak sederhana, bahasa yang digunakan, gaya hidup yang dianggap modern, makanan yang dipilih, nama seseorang, hingga cara masyarakat memandang budaya yang datang dari luar. Persoalan inilah yang mengemuka dalam diskusi peluncuran buku Sastra dan Bayang-Bayang Kolonialisme karya Hendrik F. Yadi di Panggung Pasar Buku, Festival Sastra Yogyakarta, Sabtu, 28 Agustus.
Dalam buku ini, Hendrik melihat bagaimana pengaruh kolonialisme hadir dalam dua novel karya Ika Natassa yakni Critical Eleven dan The Architecture of Love. Dalam hal ini, Hendrik menggunakan teori Homi K. Bhabha sebagai pisau bedahnya. Diskusi menghadirkan Dhimas Bima Shofyanto sebagai narasumber dan Nvidia Rinjani sebagai moderator.
Diskusi dimulai dengan pembahasan mengenai istilah postkolonialisme dan poskolonialisme. Dhimas menjelaskan bahwa dalam buku Hendrik, istilah post dapat dipahami sebagai “sesudah” atau “setelah”. Dalam pengertian ini, postkolonialisme cenderung menunjuk pada kondisi setelah kolonialisme atau kolonisasi berakhir, sedangkan pos dipahami sebagai “melampaui”, sehingga persoalannya tidak berhenti pada berakhirnya kolonialisme secara fisik karena pengaruhnya mungkin masih hidup dalam kehidupan masyarakat yang pernah dijajah.
Di titik inilah teori Bhabha menjadi penting dalam pembacaan Hendrik. Menurut Dhimas, empat konsep Bhabha yakni mimikri, hibriditas, ambivalensi, dan stereotip, digunakan untuk membaca gejala-gejala poskolonial yang terdapat dalam dua novel Ika Natassa tersebut.
Mimikri, misalnya, terlihat dari peniruan terhadap budaya yang diasosiasikan dengan Barat. Bentuknya bisa berupa bahasa, pakaian, gaya hidup, makanan, hingga cara tokoh-tokoh dalam novel berkomunikasi.
Salah satu contoh yang dibahas adalah penggunaan bahasa Inggris dalam dialog meskipun tidak terdapat kebutuhan yang mendesak untuk menggunakannya. Bagi Dhimas, praktik semacam itu dapat dibaca sebagai bentuk mimikri, terutama ketika bahasa yang ditiru tidak sekadar menjadi alat komunikasi, tetapi juga membawa kesan bahwa sesuatu yang berasal dari Barat memiliki posisi lebih tinggi.
Namun, mimikri sendiri tidak selalu bermakna kepatuhan. Dhimas mengatakan bahwa Bhabha membedakan mimikri menjadi dua yakni loyal dan mockery. Mockery merupakan peniruan yang mengandung unsur ejekan atau perlawanan.
Selain mimikri, ada hibriditas atau percampuran dua identitas. Misalnya, bahasa yang mencampurkan bahasa Indonesia dan Inggris, seperti fenomena “bahasa anak Jaksel”. Tidak berhenti hanya pada bahasa, tetapi juga gaya hidup, pilihan makanan, kebiasaan berpesta, hingga kekaguman terhadap kota-kota Barat juga dapat menjadi bagian dari gambaran masyarakat yang dibicarakan dalam buku.
Pembicaraan kemudian bergerak ke pertanyaan bagaimana pengaruh kolonialisme dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dhimas menyebut istilah “penetrasi aparatus” yakni proses pengaruh itu dapat masuk ke struktur sosial dan budaya lewat berbagai jalur. Misalnya, tokoh-tokoh dalam novel memiliki latar belakang pendidikan, keluarga, lingkungan sosial, dan akses tertentu yang dapat membuat mereka akrab dengan budaya Barat.
Dulu, pengaruh semacam itu dapat masuk lewat sekolah, perpustakaan, buku terjemahan, musik, dan berbagai produk budaya. Kini, internet membuat proses tersebut jauh lebih cepat karena hampir semua orang dapat mengakses dan mengonsumsi budaya dari berbagai penjuru dunia. Pengaruh ini bahkan tidak lagi terbatas pada hubungan Barat dan Timur. Jepang, Korea, dan berbagai wilayah lain juga dapat menjadi pusat produksi budaya yang memengaruhi masyarakat Indonesia.
Dalam hal ini, Dhimas mendorong untuk merawat identitas asli. Ketika masyarakat tidak lagi mengenali kebudayaannya sendiri, ada kemungkinan kebudayaan tersebut perlahan hilang ketika generasi yang menjalankannya tidak ada lagi yang meneruskan.
Menurut Dhimas, dalam hal ini, sastra memiliki peran signifikan karena karya yang dibaca seseorang dapat memengaruhi cara ia melihat dunia. Ia mencontohkan pengalamannya membaca Animal Farm dan 1984 dari George Orwell yang kemudian memengaruhi cara pandangnya terhadap kekuasaan, pengawasan, dan kehidupan sosial.
Itulah kurang lebih pemaparan narasumber terkait buku Sastra dan Bayang-Bayang Kolonialisme dari Hendrik F. Yadi. Ada pernyataan dari narasumber yang membuat saya terusik, ketika moderator menanyakan apakah ada contoh mimikri dari pihak penjajah, karena dalam buku disebut bahwa mimikri merupakan peniruan yang dilakukan kaum terjajah terhadap penjajah maupun sebaliknya. Dhimas mengatakan belum menemukan Barat meniru Timur.
Sepemahaman saya, dalam pemikiran Bhabha, hubungan Timur dan Barat tidak lagi sesederhana oposisi yang terdapat dalam pembacaan Edward Said. Saya pun mengangkat tangan untuk memberikan tanggapan.
Dalam The Location of Culture, kata saya, identitas justru telah bercampur atau hibrid. Timur telah masuk ke Barat, Barat telah masuk ke Timur, sehingga batas keduanya menjadi semakin cair. Jadi, seperti yang telah ditanyakan moderator sebelumnya, penulis juga seharusnya memperlihatkan bahwa tidak hanya Timur yang meniru Barat, tetapi juga Barat meniru Timur.
Saya juga mempertanyakan soal identitas asli yang sempat disinggung oleh narasumber. Karana ketika kita berbicara Bhabha, identitas itu cair atau hibrid. Artinya tidak ada yang namanya identitas otentik.
Hal ini juga didukung oleh peserta lain, Anis Mashlihatin, dosen Sastra Indonesia UNY. Ia mengatakan, “Kritik terhadap Said adalah bahwa ia terlalu mendikotomikan Timur dan Barat, seolah Timur tidak memiliki perlawanan dan tidak sanggup melawan.”
Ia lantas menanyakan apakah identitas otentik atau asli itu dari Dhimas sendiri, atau memang ada dalam bukunya? Menurutnya, kalau penulis konsisten menggunakan cara berpikir Bhabha, seharusnya ia juga menunjukkan bahwa identitas itu cair.
Menanggapi hal itu, Dhimas menegaskan bahwa ketika sebelumnya berbicara mengenai identitas asli atau autentik, hal itu bukan merupakan pernyataan Hendrik F. Yadi, melainkan pemahamannya sendiri setelah membaca buku tersebut. Adapun soal mimikri, Dhimas memang belum menemukan contoh ketika Barat meniru Timur, atau mungkin terlewatkan, karena contoh yang dibahas dalam buku lebih banyak menunjukkan Timur meniru Barat.
Sementara dari penulis sendiri, yang kebetulan sempat hadir ketika diskusi selesai, melihat kekurangan, celah, ataupun ada hal terlewat merupakan bagian dari kemungkinan yang selalu ada dalam sebuah buku. Menurutnya, apa yang lebih penting adalah karya tersebut hadir dan kemudian menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai gagasan.
Saya sendiri belum membaca bukunya, jadi saya juga tidak bisa berkomentar lebih dari apa yang saya dengar dari narasumber. Jadi cukup sekian dan terima kasih.

Lahir di Lombok, 12 Maret 1990. Saat ini tinggal di Yogyakarta. Menyelesaikan S1 Pendidikan Fisika di Universitas Hamzanwadi dan S2 Ilmu Sastra di UGM. Ia suka membaca buku-buku filsafat, novel, lari, dan nonton film. Komentar-komentarnya mengenai ragam hal bisa ditemukan di medium @Hadi Muhamad.