Lewati ke konten

Peristiwa

Kembali ke Ruang Kelas Bu Novi

August 30, 2026 · Muhamad Samsul Hadi

“Dalam Tuturanlah Sastra Lisan Itu Hidup dan Berkembang …”

Ada suasana yang terasa akrab saat mengikuti kuliah umum Sastra Lisan dalam rangkaian Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026 sore itu, Jumat, 28 Agustus 2026. Saya seperti dibawa kembali ke masa-masa kuliah dulu, duduk bersama peserta yang sebagian besar mahasiswa. Di depan, ada Bu Novi (Dr. Novi Siti Kussuji Indrastuti, M.Hum) memberikan kuliah soal sastra lisan. Bedanya, tidak ada Hasbi, Arya, Abror, Mbak Ji, dan teman-teman lainnya yang membuat kelas riuh dan hidup. Ah, masa-masa kuliah itu ternyata sudah menjadi kisah klasik yang akan dituturkan pada masa-masa mendatang.

Antusiasme peserta cukup tinggi. Beberapa kali panitia harus menambahkan kursi karena peserta terus berdatangan, bahkan ada yang akhirnya berdiri di bagian belakang ruangan. Untuk menghangatkan suasana, acara dibuka dengan pembacaan puisi oleh Arif Kurniawan yang bertindak sebagai moderator, sementara Bu Novi memilih berpantun.

“Burung merpati hinggap di dahan, terbang rendah ke dekat taman. Satra lisan warisan zaman, kita hidupkan lewat pertunjukan,”

Peserta pun riuh menanggapi pantun Bu Novi dengan kata “cakep” di setiap akhir lariknya.

Setelah itu kuliah pun dimulai. Pertanyaan pertama yang dilemparkan Bu Novi sederhana, “ketika mendengar kata sastra lisan, apa yang Anda bayangkan?”

Jawaban dari peserta pun tidak jauh dari apa yang selama ini kita kenal, seperti cerita rakyat, dongeng, puisi, mantra, pantun, syair, legenda, dan mitos.

Namun, apa sebenarnya yang membedakan sastra lisan dengan sastra tulis?

Bu Novi menjelaskan, sastra lisan tidak cukup dipahami sebagai kumpulan teks (ketika sastra lisan telah dituliskan) yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sastra lisan merupakan peristiwa tutur yang di dalamnya terdapat tindakan performatif, sehingga maknanya tidak hanya berada pada kata-kata, tetapi lebih dari pada itu pada bagaimana kata-kata dituturkan. Ada Suara, intonasi, tempo, ada tekanan, jeda, gestur, benda, ruang, waktu, komunitas, dan penutur atau performer itu sendiri yang memperkaya suguhan sastra lisan.

Di sini, sudah mulai terlihat jelas jauh beda antara sastra lisan dan tulis. Selama ini, ketika sebuah cerita telah ditranskripsikan, kita cenderung menganggap pekerjaan telah selesai karena teksnya sudah tersedia dan dapat dibaca kembali. Padahal, tegas Bu Novi, transkripsi hanya menangkap satu lapisan, sementara banyak aspek performatif dapat hilang ketika tuturan diubah menjadi tulisan. Saya lantas bertanya-tanya, apakah dunia tulis justru telah memiskinkan kekayaan rasa itu. Karena dengan adanya edisi cetak, orang jadi malas atau enggan hadir atau menampilkan sebuah pertunjukan lisan.

Performa menjadi kata kunci. Seorang penutur tidak sekadar menghafalkan cerita yang sudah tersedia, tetapi mengembangkan cerita dalam ruang formula atau pakem yang dimilikinya sesuai dengan konteks dan audiens. Cerita yang sama dapat mengalami perubahan ketika dibawakan oleh performer yang berbeda, di hadapan audiens yang berbeda, dan dalam situasi yang berbeda.

“Itulah kenapa The Iliad dan The Odyssey menggunakan bahasa yang merupakan campuran dari bahasa di berbagai wilayah Yunani ketika itu,” batinku.

Tradisi penuturan ternyata memungkinkan seorang performer mengembangkan dan menyesuaikannya dengan konteks audiens. Bentuk yang telah berkali-kali dikembangkan dan disempurnakan oleh berbagai performer dari berbagai wilayah itulah yang dituangkan Homer ke dalam tulisan The Iliad dan The Odyssey yang kita kenal sekarang.

Performa juga menjadi bagian dari estetika sastra lisan. Cara menyampaikan tuturan dapat menjadi sumber keindahan karena suara dan tubuh ikut menghidupkan kata-kata. Intonasi, tempo, tekanan, jeda, ekspresi wajah, gestur, tata busana, hingga penataan ruang dapat mengubah pengalaman audiens terhadap sebuah tuturan.

Bu Novi kemudian meminta temannya dari peserta, Safitri, yang berpengalaman dalam seni peran untuk memberikan contoh. Sebuah kalimat pendek, “Jangan ke sana malam-malam,” dapat terdengar sangat berbeda ketika diucapkan dengan intensi yang berbeda. Safitri bisa membuat sepenggal kalimat itu terdengar seperti peringatan seorang ibu, teguran seorang teman, atau bahkan sesuatu yang mengandung suasana horor.

Saya manggut-manggut pada contoh sederhana itu. Betapa banyak kemungkinan yang ternyata tersembunyi di dalam sebuah kalimat pendek. Kata-katanya boleh tetap sama, tetapi suara, jeda, tatapan, ekspresi, dan situasi dapat membuat maknanya bergerak ke arah yang berbeda.

Ada satu pernyataan menarik dari Bu Novi setelah penjelasannya soal sastra lisan bahwa puisi tidak cukup hanya dicetak atau dipublikasikan, tetapi harus dibacakan atau dipertunjukkan.

Di sini saya langsung teringat Umbu Landu Paranggi yang tak ingin puisinya dipublikasikan. Pernah suatu waktu, puisi-puisinya sudah siap diterbitkan oleh sebuah penerbit di Jakarta, ketika itu Umbu yang tiba-tiba berubah pikiran, berangkat bersama muridnya, Emha Ainun Nadjib, dari jogja ke Jakarta untuk mengambil kembali naskah puisinya. Jadi, puisi Umbu tidak masuk ke dalam sastra lisan sebelum dibacakan atau dipertunjukkan.

Lalu, bagaimana dengan dunia kita hari ini, ketika hampir semua hal dapat direkam dan disebarkan melalui perangkat digital?

Bu Novi tidak melihat teknologi sebagai lawan dari sastra lisan. Sebaliknya, media digital justru dapat menjadi panggung baru bagi kelisanan. Pantun yang dahulu hidup dalam ruang komunal dapat hadir melalui live streaming, sementara respons audiens yang sebelumnya berupa tatapan, tawa, atau tepuk tangan dapat berubah menjadi komentar, emoji, like, share, atau bentuk interaksi digital lainnya.

Podcast menjadi salah satu contoh yang menarik. Bu Novi mencontohkan podcast cerita misteri yang pada dasarnya menyampaikan kisah-kisah yang mungkin telah dikenal, tetapi dapat dikembangkan oleh pencerita sesuai dengan konteks dan audiensnya. Di dalamnya tetap ada suara dan narasi, tetapi medium baru memungkinkan tambahan musik, efek suara, penyuntingan, serta bentuk interaksi yang tidak sama dengan penuturan dalam ruang fisik.

Itulah kekayaan sastra lisan yang tidak akan kita temukan dalam sastra tulis. Pengalaman luar biasa yang saya alami dari malam-malam FSY sebelumnya, mulai dari pembacaan puisi, cerpen, hingga dramatic reading, ternyata tidak lain adalah khazanah sastra lisan itu sendiri.

 

Tentang Penulis

Muhamad Samsul Hadi

Lahir: Lombok, 12 Maret 1990

Lahir di Lombok, 12 Maret 1990. Saat ini tinggal di Yogyakarta. Menyelesaikan S1 Pendidikan Fisika di Universitas Hamzanwadi dan S2 Ilmu Sastra di UGM. Ia suka membaca buku-buku filsafat, novel, lari, dan nonton film. Komentar-komentarnya mengenai ragam hal bisa ditemukan di medium @Hadi Muhamad.

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.