Reviu Buku (Nonfiksi)
Melewat Selintas di Jalan Tengah Sastra Profetik
Melewat Selintas di Jalan Tengah Sastra Profetik
Belakangan ini, orang yang berbicara tentang agama mungkin mulai sering dipandang sinis. Penyebabnya boleh jadi polah tingkah kaum agamawan konservatif. Mereka gemar meliyankan orang lain atau menjadikan agama sebagai kurungan dengan dogma dan dalil. Di sisi lain, muncul “agama baru” yang mendakwahkan diri sebagai pembebas bagi para pengikutnya dari kungkungan ritual. Mereka mengibarkan klaim menjunjung tinggi “kemanusiaan”.
Hal-hal ini menimbulkan pertanyaan introspektif. Misalnya, apakah kita betul-betul memilih atas kehendak pribadi? Apakah kita masih betul-betul sadar? Benarkah bahwa apa yang kita yakini memang suatu bentuk kemajuan? Atau hal-hal semacam itu justru hanya narasi yang diciptakan untuk menjauhkan kita dari diri sendiri, ekspresi pribadi, dan budaya masyarakat? Adakah yang diuntungkan dari masyarakat yang “jauh” dari agama?
Terhadap pertanyaan-pertanyaan semacam itu, teks sastra punya jawaban tersendiri. Kuntowijoyo merumuskan jawaban itu sebagai Maklumat Sastra Profetik.
Profetik, yang termasuk dalam kelas kata adjektiva, melekat pada kata sastra sebagai sebentuk kesadaran. Ia merupakan saduran dari prophetic(al) dalam bahasa Inggris yang berarti kenabian. Sastra, ketika dilekatkan pada kata profetik, memiliki visi-misi atau tujuan yang “mulia”. Sastra harus “bertindak” atau sekurang-kurangnya “merespons” kenyataan. Maka, dalam maklumatnya, Kuntowijoyo menyatakan Sastra Profetik sebagai “sastra yang terlibat dalam sejarah kemanusiaan” (hlm. 2) dan sebagai “sastra dialektik, sastra yang berhadap-hadapan dengan realitas, melakukan penilaian dan kritik sosial-budaya secara beradab” (hlm. 2).
Ada tiga kaidah yang menjadi dasar kesadaran dalam Sastra Profetik. Pertama, epistemologi strukturalisme transendental. Sastra Profetik mestilah merujuk pada wahyu atau kitab suci. Bukan hanya karena kitab suci merupakan pedoman umat beragama, tetapi juga karena kitab suci bersifat transenden. Artinya, melampaui kesadaran manusia, melampaui zaman ketika ia diturunkan, dan dalam strukturnya pasti koheren (utuh) ke dalam dan konsisten ke luar.
Kedua, sastra sebagai ibadah. Ini melampaui apa yang biasa kita sebut sebagai ritual. Ibadah adalah memelihara hubungan yang baik secara vertikal dengan menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya. Juga secara horizontal dengan bersikap adil, bijak, bajik, dan seterusnya kepada sesama makhluk. Kesadaran ketuhanan, bagi Kuntowijoyo, belum berarti kaffah kalau tidak disertai kesadaran kemanusiaan.
Ketiga, keterkaitan antarkesadaran. Kesadaran ketuhanan dengan kesadaran kemanusiaan itu mestilah berimbang. Tak bisa salah satunya dimenangkan atau diunggulkan, sementara yang lain dikesampingkan apalagi dianggap tidak ada. Keduanya merupakan satu kesatuan utuh, saling terkait, dan tak bisa dipisahkan. Kesadaran kemanusiaan tak bisa menafikan kesadaran ketuhanan maupun sebaliknya.
Mengutip surah Ali Imran ayat 110, Kuntowijoyo menyebut tiga etika sastra profetik, yakni humanisasi (amar ma’ruf), liberasi (nahi munkar), dan transendensi (tu’minu billah). Liberalisme condong pada humanisasi (nilai-nilai kemanusiaan), Marxisme pada liberasi (pembebasan dari belenggu), dan agama pada transendensi (kesadaran ketuhanan). Namun, Sastra Profetik menginginkan—juga menimbang, memperhatikan, mendorong—ketiganya sekaligus (hlm. 9).
Penjelasan di atas bisa saja disalahartikan. Misalnya, mengatakan bahwa sastra hanyalah alat dengan motif atau tujuan yang perlu dikedepankan melebihi nilai-nilai estetis. Hal ini diamini salah satunya oleh Lekra. Bagi Lekra, sastra harus tunduk pada manifesto seni untuk rakyat dan menjadikan politik sebagai panglima.
Di titik ini, Sastra Profetik merupakan sastra yang berada di jalan tengah. Ia merupakan manifestasi langsung dari hadist: khoirul umuri ausatuha (sebaik-baiknya perkara adalah yang di tengah-tengah). Tidak di ekstrem kanan yang bersikukuh bahwa seni untuk seni dan tidak pula di ekstrem kiri yang mendogmakan seni untuk rakyat. Sebab, sastra adalah sastra, tegas Kuntowijoyo.
Sastra—dengan segenap bentuk dan gaya, dengan tarik-menarik antara kebakuan dan kebaruan, dengan sifatnya yang menunda pemahaman dan mengizinkan ambivalensi—adalah dunia sendiri. Ia bukan teks khutbah, bukan kitab undang-undang, bukan pula tulisan ilmiah. Ia tidak analitis. Realitas sastra adalah realitas simbolis bukan realitas aktual dan realitas historis. Sastra harus dan selalu menggugah kesadaran dalam tataran deskriptif-naratif dengan memperhatikan pula unsur-unsur estetis.
Oleh karena itu, tujuan tidak bisa mendahului teks. Begitu pula sebaliknya. Keduanya mesti berjalan berdampingan, berada di titik tengah antara dua bandul—bentuk dan isi, teks dan tujuan, estetika dan fungsi.
Namun, persis karena itu juga, kandungan sastra harus tetap adiluhung dan tidak boleh terjebak pada budaya massa. Kandungan sastra harus tetap ditingkatkan meskipun tidak dimengerti oleh orang awam. Ini bukan berarti sah-sah saja jika pengarang menulis dengan rumit atau terlalu tinggi dan mengawang sehingga tidak menapak realitas. Sastra harus tetap menjadi pengingat untuk menjauh atau bahkan meninggalkan sama sekali kecenderungan “sastra” populer. Sebab, “sastra” populer biasanya mereduksi, mempersempit, menggampangkan, memberi stereotipe, atau mendangkalkan realitas.
Ada dua hal yang jadi siasat Kuntowijoyo dalam menjaga keseimbangan dua bandul ini dalam karya-karya sastranya. Pertama, ia menulis dari dalam dan kedua, menulis dari bawah. Yang pertama berarti bahwa peristiwa yang dihadirkan dalam karya sastra dipahami sebagaimana tokoh-tokohnya memahami dunianya. Yang kedua berarti menjaga kesadaran Sastra Profetik dalam tataran intuitif dan tidak menulis dengan berangkat dari teori dan konsep. Sebab, dalam sastra, terutama fiksi, yang dituntut adalah konsistensi dan koherensi dalam tema dan plotnya.
Dengan penuh kesadaran dan kerendahhatian, sejak awal Kuntowijoyo menegaskan bahwa Sastra Profetik, atau juga sastra secara umum, tidak bisa memberi arah serta melakukan kritik terhadap realitas sendirian saja. Sastra harus menjadi bagian dari collective intelligence (hlm. 2). Dengan menulis Maklumat Sastra Profetik, Kuntowijoyo sebetulnya menginginkan agar “sastra Indonesia lebih cendekia dalam ekspresinya, sehingga sastra mendapat pengakuan yang sejajar dengan ilmu dan teknologi” (hlm. 27)