Lewati ke konten

Peristiwa

Di JBS Itu, Kata Orang, Puisi Telah Jadi Asam Lambung

July 27, 2026 · Agusta Mario

Sebetulnya, kau baru saja mampir ke Kedai JBS tiga minggu lalu. Namun, suasana nyaman dan hangat di toko buku bermodel rumah panggung itu seperti tangan yang memanggil-manggilmu untuk selalu kembali. Maka, Jumat itu (24/07/26) kau bertandang lagi ke sana untuk menghadiri sebuah acara buku.

Di bawah teduh cuaca, di atas tikar-tikar yang terbentang, kali itu buku kumpulan puisi Agar Sinar Menembus Ke Dalam yang jadi bahan obrolan. Penulisnya, Ahmad Muzanni, hadir langsung sebagai pembicara, ditemani oleh Siti Aulia Nurhanifah sebagai pemandu.

Pukul empat acara dimulai. Termasuk kau, orang-orang yang hadir bisa dihitung jari. Mereka duduk membentuk setengah lingkaran dengan pemandu dan narasumber di tengah-tengah. Tak ada mic dan sound. Obrolan terasa intim, bahkan memungkinkan hadirin sesekali menyela dialog antara pemandu dan narasumber.

Aulia membuka obrolan dengan mengatakan bahwa beberapa puisi di buku tersebut terasa dekat dengan dirinya. Kedekatan itu membuatnya penasaran sehingga ia menanyakan lebih lanjut tentang proses terciptanya buku puisi itu.

Muzanni tidak langsung menjawab, melainkan beramah-tamah dahulu dengan berkata: “Salam hormat untuk para sesepuh sekalian.”

Mendengar itu, hadirin tertawa. Di antara sedikit yang hadir, memang ada beberapa sastrawan yang boleh dibilang sudah senior.

Muzanni membetulkan kopiahnya. Dengan lagak serius ia menjawab pertanyaan pemandu. Puisi-puisi tersebut lahir sewaktu kelas menulis di komunitas Akar Pohon selama dua tahun. Sebelumnya, naskah tersebut diseleksi dan setelah lolos diserahkan kepada Majelis Buku Tipis yang ditangani langsung oleh penyair Kiki Sulistyo.

Proses itu merupakan program tahunan, dilaksanakan sekali dalam setahun. Mereka yang tergabung dalam komunitas Akar Pohon dan memiliki naskah puisi, cerpen, esai atau naskah drama bisa langsung menyerahkan karya ke Majelis Buku Tipis untuk selanjutnya diterbitkan menjadi buku.

“Dalam berproses itu, pastinya kan selalu ada tantangan. Nah, apa struggle yang pernah Mas hadapi ketika masih dalam kelas menulis?” tanya Aulia.

Muzanni menyatakan bahwa acara JBS sore itu, yang juga dihadiri oleh para “sesepuh”, mengingatkannya tantangan di kelas menulis di komunitas Akar Pohon. Ketakutanlah yang ia maksud. Sebab, di kelas menulis itu, ia mesti berhadapan dengan Kiki Sulistyo yang kerap mengevaluasi puisi-puisinya. Katanya, “Saking rongsoknya puisiku, yang bila dibaca bisa bikin asam lambung itu, pernah Mas Kiki berkata ‘kalau dilihat dari puisi-puisimu, kamu ini calon penyair masa lalu…’”

Hadirin kembali tertawa.

Kau sibuk mencicipi segelas kopi dan sepiring telo.

Menimbang proses dan ketakutan si penyair, Aulia melihat benang merah yang perlu ditarik. Maka, ia menanyakan motivasi apa yang membuat Muzanni bertahan dalam menulis puisi. 

“Dari awal aku memang kepengen jadi penulis, makanya sering ikut acara-acara diskusi buku. Setelah masuk komunitas Akar Pohon, aku mulai belajar dengan intens. Dari yang ndak tahu apa-apa puisi berbahasa Indonesia sampai bisa nerbitin buku,” jawab Muzanni.

Muzanni sempat aktif teater di SMA. Dari pengalaman itu, ia berkenalan dengan puisi-puisi WS Rendra dan di beberapa kesempatan ia membacakan puisi-puisi Zamawi Imron di kanal Youtube.

Aulia perlahan masuk ke ranah teks puisi dan mempertanyakan pengaruh gaya dari penyair-penyair lain. Muzanni langsung menyebutkan beberapa nama seperti Irma Ardianti, Ilda Karwayu, Sindu Putra, dan beberapa nama lainnya. 

Indrian Koto menyela, “Andy SW, nggak?”

Muzanni menjawab sambil garuk-garuk kepala dan melihat ke arah Andy SW di sisi kirinya, “Saya belum bisa menikmati puisi Mas Andy. Mungkin karena banyak dialognya, jadi sulit dimengerti.”

Mahfud Ikhwan menimpali, “Ya, sama, di sini juga nggak ada penikmatnya.”

Tawa berderai cukup panjang, sampai-sampai kau mengira acara ini sudah mirip stand up comedy saja.

Rasa penasaran Aulia berlanjut pada tampilan cover buku: sebuah kelopak mata yang dikelilingi bulu burung dan beberapa lembar daun.

“Bisa Mas cerita sedikit nggak kenapa tampilan cover-nya kayak gitu?” tanyanya.

Muzanni mengatakan bahwa yang membuat cover itu adalah kakak kelasnya di komunitas Akar Pohon. Ia tidak pernah menanyakan maksud gambar itu. 

“Itu adalah hasil pembacaan Mbak Bunga atas puisi-puisiku dan aku pun merasakannya dari gambar itu,” terangnya.

Aulia ikut menambahkan bahwa cover buku puisi Muzanni adalah representasi nyata dari warna puisi-puisinya, di mana imaji-imaji alam begitu banyak dihadirkan.

Aulia melanjutkan dengan menggali lebih dalam tentang kesan Muzanni terhadap puisi-puisinya dan puisi mana yang menurutnya paling berkesan. 

Ketika ditanya puisi apa yang paling berkesan baginya, Muzanni menyebut satu judul, yakni “Mawar Puisi”. Ia membacakan puisi itu atas permintaan hadirin.

Puisi itu terasa berkesan karena mewakili perasaan takut penyairnya dalam berpuisi. Misalnya, perjalanan naik-turun “asam lambung”-nya ketika menulis puisi-puisi yang belum bisa dikatakan “puisi” oleh para mentornya di Akar Pohon. 

“Bahkan, ketika menulis Mawar Puisi itu, aku terkena asam lambung memikirkan kata-kata agar puisiku tidak jadi nasi basi,” pungkasnya.

Seorang yang hadir menyela, “Ada puisi tentang asam lambung, nggak?” 

Untuk kesekian kali hadirin dikocok perutnya, sementara kau sudah berpindah piring untuk menjajal kudapan lain. Hadirin seperti terlalu fokus tertawa, sehingga kudapan di piring-piring masih penuh, seolah tak teraba.

Sesi tanya jawab diisi dengan berbagai pertanyaan, baik tentang proses kreatif maupun tentang pilihan-pilihan tema dalam teks puisi.

Waktu bergulir begitu saja hingga azan magrib terdengar bersahut-sahutan. Di sela-selanya, Andy SW melakukan pertunjukan. Kau, anak kos yang tak pernah tepat makan, masih sibuk menikmati kudapan agar tak terkena asam lambung.

A
Tentang Penulis

Agusta Mario

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.