Reviu Buku (Novel)
Kumpulan Pengecut dalam Keluarga dan Silsilah Suka Duka
Kumpulan Pengecut dalam Keluarga dan Silsilah Suka Duka
SUKUSASTRA- Kita hanya membutuhkan beberapa jam saja untuk menyelesaikan buku ini. Namun, dalam waktu yang tak seberapa itu, emosi kita akan terkuras oleh rasa haru, marah, dan sedih. Boleh jadi juga kita akan merasa lelah setelah kalimat terakhir lantaran pergolakan emosi yang begitu intensif. Namun, niscaya terselip juga rasa bangga ketika menyaksikan gerak tokoh-tokohnya.
Sebagaimana tersirat dari judulnya, seluruh cerita dalam Keluarga dan Silsilah Suka Duka (KSSD) ini berkisah tentang keluarga. Namun, alih-alih mengisahkan cerita keluarga yang klise, Ismail Basbeth menggunakan cerita-dalam-keluarga untuk lebih jauh membongkar siapa saja pihak yang layak disebut sebagai pengecut ketika dihadapkan pada suatu masalah yang berdimensi sosial.
Bagi Basbeth, para pengecut itu telah menjadi satu kesatuan dalam struktur sosial yang sulit dibongkar. Sehingga, dengan mengidentifikasi dan mengisahkan para pengecut itu, cerita-cerita dalam KSSD menjadi kritik sosial atas pembangunan di desa, klenik, patriarki, cinta segitiga, industri modern hingga pembukaan lahan sawit yang mengorbankan masyarakat adat.
Dalam KSSD, daftar para pengecut itu cukup panjang. Misalnya, mereka yang gemetar menghadapi korporasi yang merenggut tanah di desa, laki-laki yang tak berani menikahi perempuan yang dihamilinya, atau laki-laki yang takut membicarakan utang dengan istrinya.
Dalam “Pulang Kampung” (h. 1), Paijo memendam kekecewaan terhadap pembangunan di desanya oleh industri modern. Paijo, yang dulu pergi ke Malaysia dengan menjual tanah milik keluarganya, ingin menebus kembali tanah itu. Akan tetapi, usaha itu jelas tak mungkin karena tanahnya sudah dipagari oleh sebuah perusahaan. Paijo menyerah dan kembali merantau.
Pengecutnya, Paijo bahkan belum mendatangi perusahaan itu untuk negosiasi. Lagi pula, mengapa Paijo tidak membeli tanah lain yang setara? Apakah karena tanah itu menyimpan rahasia atau kenangan untuknya yang tak tergantikan dengan tanah lain? Toh fungsi tanah itu sama saja sebagai investasi.
Ada juga yang sepertinya ahli agama, tetapi pengecut. Dalam “Poligami” (h. 67), Ahmad tak berani meminta izin kepada istri pertama untuk menikah lagi. Padahal, itu syarat untuk poligami. Betapa naif alasan Ahmad yang menganggap istri pertamanya belum cukup ilmu untuk memahami poligami.
Darto dalam “Televisi” (h. 29) lebih memilih pinjam uang kepada rentenir daripada lebih dulu membicarakan dengan istrinya. Padahal, bukan untuk kebutuhan primer. Pada akhirnya, Darto terjebak dalam bunga utang yang tinggi dan membuatnya putus asa. Akhirnya lagi, Darto yang pengecut menindas orang-orang yang mungkin pengecut.
Dalam “Kuku” (h. 132), seorang tentara selingkuh dengan perempuan lain ketika bertugas di Timor. Dari situ lahir seorang putri, yang kemudian dibawa pulang ke Indonesia. Namun, istri sahnya, yang tidak bisa hamil, membenci putri tiri itu. Si tentara sendiri kemudian tidak lagi memberikan kasih sayang seorang ayah kepada putrinya.
Walaupun penerbitnya mengategorikan cerita-cerita dalam KSSD sebagai cerita pendek, Ismael Basbeth menyebut cerita-ceritanya sebagai “cerita”. Dalam pengantarnya, pengarang memang tampak ragu untuk menyebut karyanya sebagai cerpen.
Saya menerka ada beberapa alasannya. Pertama, cerita-cerita ini mulanya tak diniatkan sebagai cerpen, melainkan sebagai cerita dasar, sinopsis, atau mungkin juga skenario film yang kemudian ditulis ulang. Kedua, setiap cerita panjangnya tidak sama. Ketiga, meski merupakan keputusan terbesar kelima dalam hidup pengarang, tampaknya ia tak siap disebut prosais, cerpenis, atau mungkin sastrawan.
Akan tetapi, pengantar itu, yang menurut pengarangnya “bukan sebenar-benarnya sebuah pengantar”, sungguh mengusik dan mengganggu. Sebab, membaca pengantarnya, saya kira akan menemukan autobiografi yang membosankan, tetapi ternyata banyak cerita yang menarik.
Terganggu lagi ketika membaca judul setiap cerita. Selalu ada judul kecil dari mana cerita itu ditulis ulang. Sebagai pembaca, siapa peduli cerita itu bersumber dari mana selagi bukan hasil kerja plagiat? Atau pengarang ingin menunjukkan bahwa ia adalah sineas, sutradara, dan pembuat film yang, meski memasuki dunia lain, tetaplah sineas, sutradara, dan pembuat film?
Ya, tidak apa-apa. Tetapi, tidak mungkin tidak basah kalau sudah menyelam, kan? Apalagi ini sebuah keputusan. Terlebih, ini merupakan buku pertama dari serangkaian karya untuk merayakan dua puluh tahun proses berkarya pengarangnya. Terlepas dari “gangguan-gangguan” itu, buku tentang para pengecut ini layak dibaca.