Dongeng dari Nigeria: Anjing yang Picik
October 12, 2026 · Anonim
Sukusastra-Dahulu kala, hiduplah seekor anjing yang memiliki lidah sangat pendek. Karena kekurangan tersebut, suara gonggongan si anjing terdengar sangat aneh dan jelek. Ia merasa sangat malu dan selalu menyendiri di dalam hutan.
Sebaliknya, buaya diciptakan dengan lidah yang sangat panjang dan gagah. Suara buaya terdengar sangat merdu, indah, dan juga berwibawa. Anjing sangat mengagumi kemampuan bersuara yang dimiliki oleh sahabatnya itu.
Suatu hari, anjing ingin melamar seekor anjing betina di desa seberang. Namun, ia merasa sangat tidak percaya diri karena suaranya yang buruk. Anjing kemudian mencari cara agar bisa berbicara dengan lancar di depan calon istrinya.
Anjing memutuskan untuk menemui buaya di sebuah sungai yang jernih. Ia berniat meminjam lidah buaya yang panjang untuk sementara waktu. Anjing merasa yakin buaya akan membantu karena mereka sudah lama berteman.
Saat bertemu, buaya menyambut kedatangan anjing dengan senyuman yang sangat ramah. Anjing lalu menceritakan rencana pernikahan dan masalah lidah pendek yang dialaminya. Mendengar cerita sedih itu, buaya menjadi sangat iba kepada sahabatnya.
Anjing mulai merayu buaya agar mau meminjamkan lidah panjangnya yang indah. Ia berjanji akan mengembalikan lidah tersebut segera setelah acara lamaran selesai. Buaya yang polos akhirnya setuju karena ingin melihat sahabatnya bahagia.
Buaya segera melepaskan lidah panjangnya dan meminjamkannya kepada sang anjing. Anjing merasa sangat gembira karena suaranya kini berubah menjadi sangat merdu. Ia pun berhasil melamar anjing betina pujaannya dengan sangat lancar.
Hari berganti hari, buaya setia menunggu kedatangan anjing di tepi sungai. Namun, anjing yang telah sukses melamar kekasihnya tidak kunjung datang kembali. Buaya berusaha tetap berpikir positif dan sabar menunggu janji manis sahabatnya.
Lama-kelamaan, buaya mulai merasa curiga karena anjing terkesan sengaja menghindar. Buaya kemudian menitipkan pesan lewat anjing lain yang kebetulan lewat di sana. Ia meminta agar anjing picik itu segera mengembalikan lidah miliknya.
Bukannya sadar, anjing picik itu justru berpura-pura lupa dengan semua janjinya. Ia berbohong dan mengaku tidak pernah meminjam apa pun dari buaya. Anjing pembawa pesan menyampaikan penolakan tersebut dengan perasaan yang sangat berat.
Mendengar jawaban itu, buaya menjadi sangat marah dan merasa dikhianati. Ia bersumpah akan memberi pelajaran berharga jika suatu hari bertemu anjing itu. Sejak saat itulah, buaya menyimpan rasa benci yang mendalam kepada anjing.
Akibat perbuatan tidak terpuji si anjing picik, hubungan mereka rusak selamanya. Kini, seluruh keturunan anjing terlahir dengan lidah panjang yang menjulur keluar. Sementara itu, seluruh keturunan buaya yang baik hati terlahir dengan lidah pendek.
Kejujuran dan kesetiaan dalam menepati janji adalah pondasi utama dalam sebuah persahabatan. Jangan pernah mengkhianati kepercayaan yang telah diberikan oleh orang lain demi keuntungan pribadi. Sifat egois dan licik hanya akan mendatangkan kerugian serta permusuhan bagi diri sendiri. Belajarlah untuk selalu bersyukur atas apa yang kita miliki tanpa merugikan orang lain.