Lewati ke konten

Malaikat Ajal Untuk Nono

April 30, 2026 · Mimah Nur Baiti

Malaikat Ajal Untuk Nono

Malam senantiasa abu. Ajag-ajag melolong pelik. Mengeruk keberadaan jiwa-jiwa yang tercecer di lembah dan semak-semak belukar. Sisa sendu semalam menghantar kengerian yang bengkak. Dua orang laki-laki berkeliaran dalam hutan. Saban hari memungut ingatan kejadian jatuh pada hari kesembilan.

Keduanya menghindar dari pilu yang berlarian dan sesak tanpa bentuk, tak berkesudahan. Mata-mata mereka memata-matai sekitar. Mereka ingin sekali mengingat sesuatu, tetapi yang ada hanya gelap. Ini hitam, merah, bau, dan basah. Hanya kebekuan malam yang mereka rasa dan keberisikan tikus tanah yang rumahnya rusak dihujam gemuntur sampai lebur.

“Seharusnya kau mulai mencari jalan pulang. Namun, carilah jalan lurus. Kau tak rindu si molek di kampung?”

Maun menyepah daun jelatang. Merangkul. Sok akrab padahal tak kenal. Nono berliur. Pedih, dirasa bibirnya ikut mekar. Nono pincang hati rindu dengan Ncih. Sang gadis molek. Gatal tangannya colak-colek. Buah ranum yang mengais cinta dari sisa-sisa. Penat laki-laki perlu dipuaskan, Ncih siap sedia berlutut sepinggang, merangkak, mengikat rambutnya menggunakan tangan. Bibirnya maju semonyong-monyongnya menghisap najis dari para bajingan yang tergelitik keasyikan. 

Siapa lah berani menyebut kasihnya gadis molek, hanya Nono seorang. Dia merengut. Alis mengkerut. Tak nyaman. Dia tak ingat pernah memberi tahu nama cintanya kepada Maun. Maun tak bermaksud. Tak berminat pula. 

“Saya memang senang mengintip tempurung manusia. Mereka tak usah membagi rahasia, sebab dalam catatanku semuanya ada.”

“Kau, bisakah kau membaca pikiran orang? Kalau di zaman sekarang … cenayang! Ya, Cenayang. Kau kah itu? Kalau begitu, kirimlah sinyal pertolongan pada polisi atau tim sar biar saya dapat pulang. Saya mau menemui Ncih, perlu bilang padanya kalau saya jatuh cinta dan minta maaf karena bikin dia sedih dengan meninggalkannya ke Bogor tanpa bilang-bilang.”

“Saya minta maaf untuk urusan hatimu. Kemampuan ini berlaku hanya untuk orang baik dan hidup. Saya tak bisa menggunakannya pada polisi, kau, ataupun Ncih.”

Gemeretak gigi. Menggigil. Maun tiba-tiba menangis. Bibirnya gatal disengat jelatang. Hati Nono lebih meradang. Rindu pada Ncih, kepingin ciuman.

Gunung-gunung melamun menghadapi senja, sedang mata Nono mendarah-darah memelototi Maun yang sok tahu. Seminggu ini menuntun pada jalan lurus yang katanya petunjuk baik dari Tuhan. Dibukanya selalu sebuah buku di muka Nono, laki-laki bengis itu menunjukkan air muka masam, geram ingin menempelengnya keras-keras. Maun mulai membaca surat pembuka di dalam kitab, Nono kepalang kesal. Dia mencak-mencak pada Maun. Boro-boro mendengarkan, menengok saja ogah-ogahan. 

“Kalau mau pulanglah sendiri! Jangan kau pusingkan saya di sini. Kau terus-menerus berceloteh. Bau mulutmu, Un! Buku-buku mantra itu, harusnya kau dinamai dukun!”

“Kau pula jelek, bau, dan hitam. Kau bahkan hampir terlihat sama bila disandingkan dengan sebelah sisi biji saga, tetapi bisa-bisanya kau tetap menghina orang lain. Kau harus pulang, No. Dengan begitu saya bisa ikut pulang juga.” 

Sedang hatinya benar-benar berat ditindih rindu sebab dengan Ncih tak kunjung dapat temu. Nono membelokkan badan, menggali ke dalam dua bola mata hitam Maun yang terlihat aneh tanpa penerangan. Riuh gemericik air menghujam besi-besi bekasan kapal, disusul nyaring suara hewan-hewan kelaparan. Nono mengasingkan diri ke tepi, ke dalam gua, gelap dan sepi. Merekatkan matanya setelah ditebas angin-angin malam yang datang dari luar. Maun heran sekaligus salut dengan pendirian laki-laki bengis di hadapannya ini, bahwa katanya hidup adalah sebuah sendiri. 

“Aku lebih takut melihat ke dalam matamu dibanding lolongan pilu hewan-hewan liar.”

Seseorang bermahkotakan bunga, menghantar wewangian menenangkan seakan berasal dari surga. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Nono meriang menciumi rindu dari gadis moleknya. Mematung. Bergerak sedikit bikin copot jantung. 

Pulanglah. 

Temui aku dan anakku. Rindu perlu diselamatkan, jiwa perlu ditenangkan.

Ada harga yang harus dibayar. 

Ikutilah jalan lurus, tuturkanlah kalimat-kalimat baik, ikutilah cahaya.

Pulanglah.

Mimpi yang aneh. Mimpi yang kejam. Nono menahan lelehan dari pucuk matanya yang lelah. Nono sudi untuk tidur lagi. Kalau dilihatnya dalam bunga tidur Ncih telah jadi bidadari surga yang jelita. Penuh harum dan senyum. Ia mau meniadakan bangun.

Aku menerima kabar kejatuhan pesawat yang kau naiki. Selama berhari-hari aku tak makan, minum, atau mandi. Aku tidak ikut terbakar, tetapi jiwaku telah lebih dulu jadi abu. No, aku mengandung. Kiamat ini entah harus kuberitakan pada siapa. Tak ada wartawan yang mau meliput pelacur yang hamil, tetapi, No, amat bersyukur aku orang-orang itu meliputmu. Memberi tahu ketiadaanmu padaku. No, do’a-do’a baikku menghantarkanmu.

Nono gelagapan. Seluruh tubuhnya gemetar, berikut dengan jari-jari tangan yang tinggal enam. Kocar-kacir larinya menemui Maun. Laki-laki yang senang menyepah jelatang itu tersenyum. 

“Kau … Ncih, dan saya?”

“Sudah delapan tahun yang lalu. Ncih pulang di tahun ke-empat kau di sini. Dia dicekoki minuman. Diperkosa warga kampung. Lalu menjadi gila dan dibakar. Kau mau pulang dan menemuinya?” 

Kebakaran hatinya. Kering kerontang. Nono ditarik paksa ke dalam ingatan hari ke sembilan di bulan Mei 2012, saat benda yang membawanya mengudara menabrak sisi batu gunung. Tubuh-tubuh tercecer di mana-mana, terlempar, saling menghantam, berhamburan, ada yang pecah, ada yang terbelah. Tak jelas itu punya siapa. Tak percaya pada dirinya sendiri: bentuk wajah yang separuh dan tubuh yang tinggal sebagian. Lolongan pelik berbarengan jerit kepiluan yang sangat memekakkan telinga. Nono melotot merah menyaksikan nyawa-nyawa yang tinggal nama saja. Raungan pedih di atas tumpukan tulang belulang yang mengering dan menyatu dengan tanah, berbaur jadi pupuk alami pegunungan Salak yang murni dan menyedihkan. 

Lelehan dari matanya tak juga tandas, ia menyalami para korban senasib sepenanggungan. Maun lagi-lagi membuka surat pertama di dalam kitab, menyepah jelatang dan memejam erat. Nono berdo’a supaya Tuhan bikin mereka yang masih berkeliaran tenang. Nono meminta segala-galanya. Tak luput banyak pengampunan untuknya yang gemar mencopet, menjual anakan ayam milik tetangga, menipu masyarakat, dan menggandakan uang. Ia juga gemar menampar, menonjok, mencabok, tak elak membacok para pelanggan Ncih yang keterlaluan. 

Segala jahat ia lakukan, sebab semua baik tak mengenakkan hati Ncih. Wanitanya berpikir macam-macam tentang Nono, tentang seluruh niatnya mendekat dan banyak perasaan tak layak. Berkali-kali Nono menyuarakan kecintaannya, ia tak punya apa-apa selain semacam sebuah cinta yang erat-erat ia genggam. Nono bekerja. Segala uang diberikan pada Ncih agar ia lepas dari pekerjaan yang sungguh berat Nono terima. Begitu cintanya pada Ncih, begitu tak sabarnya bertemu Ncih. Nono meriang di pelukan Maun. Ini sudah selesai. Ia mau pulang untuk penebusan dan memeluk cinta dalam waktu yang panjang. 

“Tuntun saya, Un. Bawa saya pulang pada Tuhan, pada Ncih, dan anak dalam kandungannya yang entah ulah siapa. Bawa saya, Un. Akan kunikahi ia di surga, di depan Tuhan sebagai walinya, jadi bapak si anak harum malam.”

Kalimat-kalimat baik terbata-bata keluar dari mulutnya. Maun tersenyum dengan sabit kehitaman yang entah dari mana didatangkan. Siapa mengira dirinya telah mati. Siapa mengira laki-laki tua penyepah jelatang adalah malaikat ajal untuk Nono yang ditugaskan Tuhan sampai ia mau pulang. Wewangian surga kembali hadir. Hatinya taman bunga. Kembalilah Nono pada Maha Menghidupkan dan Meniadakan Manusia. Di genggamannya ada madu manis akasia dan setangkai bunga yang harumnya Ncih suka. Sementara di bajunya terbungkus undangan pernikahan berisi namanya dan wanita yang didambanya di dunia. 

Maun menjalankan tugas dengan baik selama delapan purnama. Mengawasi sebagai ajal yang dekat dan dapat datang kapan saja. Memperhatikan segala perilaku manusia dengan saksama. Setelahnya ia jadi saksi cinta dua orang pendosa yang tersesat jauh dari kebaikan dunia, yang lahir dari takdir seenaknya. Tuhan menerima mereka–yang bagaimana saja–dengan balasan setimpal-timpalnya, dalam tangan cinta selebar-lebarnya. 


M
Tentang Penulis

Mimah Nur Baiti

Mahasiswi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Lahir di Bandung, 2004. Karyanya terpilih untuk diterbitkan di dalam antologi bersama Seribu Kisah: Sebuah Kasih (2022) dan juara 1 lomba cerpen terbaik tingkat prodi di Universitas Pendidikan Indonesia (2023).

Baca Biografi Selengkapnya →
Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.