Puisi-puisi Polanco Surya Achri
January 5, 2026 · Polanco Surya Achri
Mula Siti Jenar
1.
Aku hanyalah cacing yang senang kepada tembang para petani,
hanya geliat yang suka dengarkan riwayat dari ayat-ayat. Aku
tiada pernah ingin jadi wali. Akan tetapi, Yang Mahasunyi
kehendaki diri, agar jadi manusia yang mewarta-memuji:
yang ajarkan pada para petani sembahyang-mengaji:
manunggaling kawula-Gusti. Dan saat masih jadi cacing pada
tanah pesing, aku hanya bercita jadi umpan pancing—dari
kanak yang hendak beri ikan ke Ibu yang kurus kering.
Betapa, jadi pakan para burung di bawah pimpinan Hudhud
adalah mimpi yang terlalu jauh bagiku berujud. Akan tetapi,
aku malah menjelma manusia, jadi Jenar bernama. Duh,
Gusti, apa dengan sepasang tangan ini, sahaya dapat
tangkap beberapa ikan bagi mereka yang kelaparan? Kelak,
bila aku jadi anjing, sungguhlah ingin aku memanggil
melolongkan nama-Mu dengan sepenuh seluruh!
2.
Seorang—yang kemudian kutahu ialah Khidir—mengambilku
dari sepetak tanah; memintaku masuk ke sebelah telinga, dan
ikuti cahaya: yang bawa pada hatinya. Aku terjaga; dapati
diri jadi manusia, jadi Jenar bergelar nama. Sesudah kenalkan
diri, dan beriku nama, ia pun berkata: Ada yang duga,
jadi manusia dulu baru bisa menuju-Nya; padahal dengan
menuju-Nya, akan Ia dijadikan manusia . . .
3.
Duh, Yang Mahasunyi, sahaya ingat, saat salah satu
sunan itu sampaikan firman-Mu kepada muridnya di atas
perahu; firman yang berkata, telah diri-Mu cipta manusia
dalam bentuk sebaik-baiknya—dan akan masukannya
ke tempat serendah-rendahnya: kecuali mereka
yang beriman dan berbuat kebajikan.
Sang murid bertanya, mana yang lebih mulia, manusia
atawa surga; dan sunan itu berkata, bahwa lebihlah mulia
manusia bila ditaatinya Gusti yang Maha; dan lebihlah
mulia manusia utama: Muhammad Rasul Anbiya. Aduh,
Gusti, apa di Surga yang dipenuhi dengan sungai
ada tanah yang perlu kugemburkan?
(2014—2024)
Syuro’ sebelum Hukuman Mati
Memenggal cacing tiada akan membunuhnya; malah membuatnya
jadi dua jadi kian berganda. Cara membunuh cacing ialah dengan
membakarnya; memasukkannya ke api yang menyala. Betapa,
ia bukan Ibrahim Anbiya, bukan kekasih Gusti yang Maha.
Ia bukan lagi cacing. Ia seekor anjing. Memenggal kepalanya
ialah pilihan terbaik, pilihan yang bajik. Dan kematiannya
akan seperti daun kering yang jatuh tertiup angin.
Namun, bagaimana bila ia sebenarnya adalah seekor kepiting
yang bebas bergerak dari tanah Jawi ke tepi sungai surga Sunyi?
(2024—2025)
Dalam Perjalanan ke Altar Hukuman
1.
Adalah menyedihkan ketika melihat seekor pungguk
merindu bulan bundar berbentuk. Namun, lebihlah
menyedihkan, kala melihat Jenar merindu Gusti
pemilik jagat lebar; melihat cacing kerdil merindu
Gusti yang Mahabesar, Gusti yang Mahajembar.
Akan tetapi, bagaimanakah bila Gusti mau
memancing, dan hendak pakai umpan cacing?
2.
Apabila aku mati dan tiada bisa dikubur di tanah Jawa,
tanah tempat aku bermula, bisakah aku dikuburkan
di mega-mega atawa rembulan yang purnama?
Dirimu bukan burung; kuburmu bukan di antara
mendung. Dirimu adalah kecil cacing, terurai di sepetak
tanah pesing; dirimu adalah anjing, sirna di tanah kering;
dirimu adalah kepiting, lenyap di dalam pasir, di
pantai-pantai asing. Langit, dirimu tahu, Jenar, bukan
kuburmu, bukan tempatmu!
Cacing pun bisa bersayap. Anjing pun bisa bersayap.
Kepiting pun bisa bersayap. Namun, aku pun tiada tahu
layakkah aku yang cacing, anjing, dan kepiting dikenal
di lapis-lapis langit tempat para nabi dan orang suci
berzikir dan memuji, berputar seperti gasing.
(2015—2025)
Percakapan Sultan Demak dan Siti Jenar
Angkasa dan para malaikat tiada mengenalmu beralamat; mereka
tiada mengenal Jenar yang hebat. Dan bumi, di mana kerajaan berdiri,
dengan kuasa silih berganti, asing padamu, pada wali kesepuluh
yang lumpuh. Lalu, akan ke mana dirimu, Jenar?
Andai surga dan neraka menolak, tentu pada Gusti aku kembali.
Aku adalah mangsa-Nya… Dan diriku mungkin memang berhala,
duh, Sultan; jadi penggallah sahaja kepala ini dengan segera.
Saat pedang siap memotong lehermu, dan terucap bujukan supaya
berkata bahwa dirimu bukan Gusti, sehingga hukuman mati akan
hilang, apakah dirimu akan tetap memilih mati, Jenar?
Aku memang bukan Gusti yang Mahasunyi. Aku hanya cacing
yang ingin punya lisan guna bernyanyi. Namun, tetap kupilih mati,
tetap kupilih tertebas pedang yang lebih dingin dari hujan dini hari.
Andai ditanya alasan, akan kukatakan: Sebab sudahlah bulat
tekatan, sudahlah purnama disebutkan. Jadi, tebaskanlah sahaja
itu pedang, tebaskanlah sahaja besi berbilah tajam. Hidup adalah
puasa; maut adalah menu berbuka. Karenanya, bila sudah saat,
hidangkanlah sahaja segera . . .
(2017—2025)
Adalah seorang penyair dan penulis prosa yang bermukim-lahir di Yogyakarta. Selain menulis, terkadang ia menyutradarai film dokumenter dan pertunjukan; serta mengurator.
Baca Biografi Selengkapnya →