Latihan Membunuh Kecoak
May 23, 2025 · Muhammad Faisal Akbar
Tingkah laku Gandis berubah dalam sekejap usai perjumpaannya dengan Mak Rusih pekan lalu. Ia bercerita bahwa Mak Rusih, leluhurnya itu, menghampirinya melalui mimpi. Dan sejak saat itu, Gandis memiliki hobi baru yang membuat kepalaku pening. Gandis, istriku, sekarang gemar membunuh kecoak.
Menurutku, perilaku ini cukup ganjil. Sebab sejauh yang kukenal, Gandis adalah seorang pengecut dan makhluk kecil itu adalah musuh terburuknya. Ibarat menatap hantu Nak Phra Khanong. Sudah tak terhitung lagi momen ketika muncul kecoak dari balik celah ubin, misalnya, yang membuatnya berteriak histeris sambil melompat ke sana kemari.
“Tolong, cepat, binasakan coro itu!” pekik Gandis berulang kali tanpa memedulikan kegaduhan di sekelilingnya.
Meski kadang menyusahkan, terus terang saja, itu sebetulnya cukup membuatku bangga. Bagaimana tidak? Seorang lelaki tentu harus mempunyai tongkat sakti bernama sifat heroik. Bapak, paman-paman, para abang sepupu, hingga kakekku menyebut ini sebagai naluri. Dalam semesta lelaki, mesti ada hal yang perlu dilindungi, dan ancaman adalah syarat utamanya.
Namun, nyaris sepekan belakangan, semuanya berbeda seratus delapan puluh derajat. Gandis, perempuan berwajah tirus itu, menjelma menjadi seorang pemberani yang mampu menaklukkan ketakutannya. Tiap kali ada kecoak yang melintas, ia buru-buru meraih benda keras di sekitarnya, membidik, lalu memukulnya sampai mati. Bahkan adakalanya Gandis menjumput sepasang kecoak sekaligus menggunakan jemari di kedua belah tangannya, lantas menumbuknya tanpa ragu-ragu. Kecoak terbang pun tak luput. Gandis akan menghantamnya dengan gagang sapu. Dan semua itu ia lakukan dengan sebuah seringai lebar.
Sejujurnya, aku tak mempermasalahkan gelagat Gandis tersebut. Aku sadar, perempuan mempunyai preferensinya sendiri yang kerap bikin geleng kepala. Gandis bisa saja memilih menekuni kegiatan yang lebih lumrah seperti hidroponik, merias diri, menamatkan buku resep masakan, atau berbelanja di mal bersama kawan sepergunjingannya. Tapi, nyatanya tidak.
Maka sebagai suami yang baik dan pengertian, aku mendukung apa pun yang ia sukai. Lagi pula, membunuh kecoak tak secuil pun melanggar undang-undang dan ada faedahnya. Pertama, karena tetek bengek itu tak lagi merepotkanku sebagaimana yang lalu-lalu. Kedua, karena Gandis kini tampak jauh lebih mandiri.
“Jika aku amati, kamu baru-baru ini tampak terobsesi pada hal itu,” aku tak sanggup menahan rasa penasaran.
“Terobsesi pada apa, Sayang?”
“Itu, membunuh kecoak.”
“Oh, Mak Rusih bilang, kita harus menghadapi ketakutan kita lalu menikamnya sampai mampus,” lanjut Gandis, “dan aku mengamininya.”
“Tapi, kenapa harus kecoak?”
“Berkat mereka, kecoak-kecoak itu, seorang perempuan lemah sepertiku mampu mengubah cara pandangnya.”
Aku mengiakan saja seraya melirik mukanya. Tak salah lagi. Ada sesuatu di bola mata Gandis yang tak pernah sekali pun kulihat selama tahun-tahun pernikahan kami. Mata perempuan pemurung itu kini lebih bernyali. Dan lebih dari itu, ada semacam ketenangan yang bergelayut di situ dan hal ini membuatku merasa sedikit tak nyaman.
“Kapan kamu berjumpa dengan Mak Rusih?”
“Malam Sabtu lalu.”
Sesudahnya Gandis mengecup pipiku di kedua sisi sambil tersenyum, lantas mengusap cambangku dengan manja, sebelum ia mematikan lampu lalu memunggungiku dan beranjak tidur.
***
Aku ingat persis kapan Gandis mulai menelateni hobi aneh itu. Semuanya bermula di hari Sabtu lalu, tepatnya sehari setelah aku tak sengaja meninggalkan ponselku di rumah. Awalnya aku panik, mengira bahwa benda itu telah hilang entah ke mana. Pasalnya, Jumat adalah hari tersibuk dan ini sama saja dengan bunuh diri.
Ponsel itu, yang Gandis hadiahkan kepadaku di hari ulang tahun pernikahan kami setahun silam, menyimpan seluruh rangkaian jadwal rapat dengan para klien, lengkap dengan rincian informasinya. Tak hanya itu, di situ terdapat pula beberapa rahasia perusahaan yang tak boleh bocor. Sederhananya, A1.
Untung saja Gandis sigap. Siangnya, saat jam istirahat, ia dengan sukarela mengantarkan ponsel sialan itu ke kantor meski harus menempuh jarak tak kurang dari dua puluh kilometer menggunakan angkutan umum. Karierku terselamatkan. Aku mengucapkan terima kasih dan menawarinya tumpangan untuk pulang. Tapi, ia menolak.
Keesokan harinya, setelah semalaman bersua dengan Mak Rusih dalam mimpi sesuai pengakuannya, Gandis mulai keranjingan membunuh kecoak hingga lupa menghidangkan menu favoritku yang telah ia janjikan.
“Tidak jadi masak tongkol cili padi?”
“Tidak.”
“Ah, ini pasti gara-gara hobimu,” nada bicaraku mulai ketus, “belum bosan kamu membunuh kecoak-kecoak itu?”
“Belum,” katanya singkat, “dan rasanya aku tidak akan pernah jenuh.”
“Kenapa?”
“Anggap saja ini latihan. Membunuh kecoak sama dengan melatih diri untuk hal-hal besar di masa mendatang.”
Aku menaikkan alis sampai keningku berkerut. Omongan Gandis makin tak masuk akal dan terkesan menyebalkan. Ia seperti tersesat dalam metaforanya sendiri.
“Demi martabat,” sambung Gandis lagi, “sudah sepatutnya perempuan membasmi hama yang ada di rumahnya.”
***
Pekan demi pekan berlalu. Gandis makin jarang mengajakku mengobrol. Ia lebih senang melengos dan mendengarkan heavy metal di ruang tengah. Seiring dengan itu pula, aku mendapati Gandis kian jarang membunuh kecoak. Walaupun sebagian berhasil lolos, masih ada satu-dua ekor yang menjadi korban keganasan Gandis. Ini dapat dibuktikan dari jumlah bangkai kecoak di tong sampah yang menyusut dibandingkan sebelumnya.
Gandis menjelaskan, kecoak-kecoak itu lambat laun menjadi lebih cerdik bahkan licik. Makhluk menjijikkan itu sekarang mahir bersembunyi, seperti ada tangan-tangan tak terlihat yang mengulurkan bantuan. Mereka dengan lihainya mengendap-endap dari sela-sela karpet, dari saluran air, atau dari lubang kosen saat Gandis lengah.
“Serangga itu bahkan sering menyangkal bahwa dirinya kecoak agar tidak diterkam,” ia tambah merengut.
Gandis mulai kesulitan. Frustrasi. Namun, ia pantang menyerah. Alhasil, keadaan rumahku yang jadi bulan-bulanan: lemari baju dibongkar, tumpukan boks digeledah, perkakas di gudang berserakan, buku-buku dihamburkan dari raknya, bahkan garasi dan laci mobilku pun diobrak-abrik hingga menyerupai kapal pecah.
Perang gerilya itu terus berlangsung hingga di suatu malam, Gandis memutuskan untuk menyambangi sumber kecoak itu.
“Aku mau pergi sebentar,” kata Gandis.
“Ke mana?” tanyaku perlahan, “ini sudah larut.”
“Tidak penting. Itu bukan urusanmu.”
“Apa maksudmu?”
“Intinya, aku hendak memburu kecoak itu. Aku rasa, latihan ini sudah cukup.”
“Astaga, kamu sudah terlampau ekstrem, Dis.”
“Tidak juga.”
“Memangnya kamu sudah tahu sumber kecoak itu?”
“Ya, aku melihatnya pertama kali keluar dari layar ponselmu dan kini aku akan betul-betul menghabisinya,” tandas Gandis.
Entah mengapa, dadaku berdebar kencang. Aku sontak berdiri, meletakkan laptop di ambang kasur, lalu menggenggam tangan Gandis secepat kilat.
“Kita sudah sepakat. Urusanmu adalah urusanku juga.”
Wajah Gandis seketika pucat. Ada ombak raksasa yang bergulung di tepian matanya yang menghitam. Genangan air itu lalu meleleh, membasuh sudut bibirnya yang merah. Raganya memberontak.
“Lantas, kenapa kamu tidak membunuh kecoak itu sedari awal?”
Aku melepaskan cengkeramanku. Keringat membasahi punggung. Aku tak berkutik. Detik berikutnya, Gandis merampungkan kalimatnya.
“Padahal kamu melihatnya hampir tiap hari, bahkan membiarkannya tidur di sampingmu dan menggerayangi tubuhmu sepanjang malam.”
Depok – Ciputat / 2025
Muhammad Faisal Akbar lahir di Jakarta dan bermukim di Depok. Menulis beragam esai dan cerpen di sejumlah media. Terobsesi pada buku dan sepak bola indah.
Baca Biografi Selengkapnya →