Lewati ke konten

Umar Kayam dan Kita Saat Ini

April 30, 2025 · Admin Suku Sastra

Umar Kayam dan Kita Saat Ini

Tiap kali nama Umar Kayam diucapkan, beberapa judul karya prosa fiksi langsung disangkutkan dengannya, sering kali tidak secara urut waktu: Para Priyayi, Sri Sumarah, Bawuk, atau Seribu Kunang-Kunang di Manhattan. Boleh jadi juga pembaca yang lebih menyukai bentuk esai akan teringat pada Mangan Ora Mangan Kumpul atau Madep Ngalor Sugih, Madep Ngidul Sugih.

Dan kemungkinan besar, pembaca sastra Indonesia modern akan mengidentifikasi Pak Kayam, lantaran karya-karyanya itu, sebagai pendukung kebudayaan Jawa yang giat. Yang perlu diperjelas dalam identifikasi itu adalah kepada kelompok sosial Jawa yang manakah Pak Kayam berpihak dalam karya sastranya? Apakah priayi atau wong cilik? Ataukah kedua-duanya sekaligus?

Pertanyaan-pertanyaan ini wajar diajukan. Pak Kayam, dalam kapasitasnya sebagai penulis sastra, mampu mencerminkan detail-detail wong cilik dengan sangat meyakinkan, terutama dalam dua cerpen yang disatukan dalam Lebaran di Karet, di Karet…., yaitu “Ke Solo, Ke Njati” dan “Lebaran Ini, Saya Harus Pulang”. Terlebih jika memperhitungkan kolom-kolom Pak Ageng dan Mister Rigen dalam Mangan Ora Mangan Kumpul, misalnya.

Jennifer Lindsay dalam “Semangkin Dikangeni: Kolom KR dan Pocapan” yang dihimpun dalam Umar Kayam Luar Dalam (2005) mencermati bahwa Mister Rigen, sebagai wong cilik yang bekerja sebagai pembantu priayi kecil Pak Ageng, selalu menggunakan bahasa Jawa krama kepada majikannya. Gradasi bahasa Jawa itu tetap terasa bahkan ketika diujarkan dalam bahasa Indonesia: “Kontras bahasa dan statusnya amat tajam. Bahasa Indonesia pembantu jelas mewakili krama, dan bahasa nDoro-nya ngoko kasar (2005: 60).”

Memang sangat meyakinkan, tetapi proporsi dan intensitas pengolahan bahasa Pak Kayam melalui karya sastra jelas lebih besar ketika membahas golongan priayi. Mungkin karena punya latar belakang keluarga priayi, ia juga dengan sangat meyakinkan mampu membentangkan detail-detail golongan priayi dalam Para Priyayi (1992), yang menjadikan novel itu tampak seperti risalah sosiologi dalam bentuk novel. Tentang bentuk literer itu, untungnya, Pak Kayam sudah memberi batas tegas berupa subjudul: Sebuah Novel.

Novel itu agaknya menjadi tanda pasti tentang kecenderungan pemihakan Pak Kayam. Ketika membicarakan Para Priyayi, pembaca mau tidak mau harus menempatkannya sebagai sebuah prosa fiksi, bukan kertas kerja ilmu sosial. Dengan catatan: sah juga apabila pembaca menggunakan makna referensial di luar teks sebagai argumen untuk menyatakan bahwa Pak Kayam memang adalah “pembela” golongan priayi.

Ahmad Nashih Luthfi dalam Manusia Ulang-Alik (2007) menyatakan bahwa Para Priyayi rupanya merupakan perwujudan keinginan Pak Kayam untuk “membantah pandangan para sejarawan dan antropolog asing, khususnya Clifford Geertz, yang membagi manusia Jawa secara trikotomis; santri, priayi, dan abangan” yang merupakan klasifikasi yang tidak tepat karena “tumpang tindih antara pengelompokan sosial dan ketaatan beragam” (2007:90).

Lantas, apa itu sebenarnya priayi? Pak Kayam sendiri tampaknya memandang esensi dari istilah itu sebagai sesuatu yang masih harus terus dicari, seperti yang dikatakan Lantip, yang mengalami mobilitas vertikal menjadi anggota golongan priayi, ketika ditanya tentang makna priayi: “Sesungguhnya saya tidak pernah tahu, Pakde. Kata itu tidak terlalu penting lagi bagi saya” (Para Priyayi: 306-307).

Sementara definisi ketat tentang istilah “priayi” cukup menyulitkan, beberapa cirinya yang dapat dikenali antara lain bahwa status priayi diperoleh secara profesional sebagai proses pencapaian, bukan keturunan bangsawan. Dalam Para Priyayi, Soedarsono melakukan mobilitas vertikal dari keluarga petani menjadi priayi setelah memperoleh beslit sebagai guru bantu pada zaman Hindia Belanda dan diubah namanya menjadi Sastrodarsono. Banyak dari golongan priayi itu yang “bersikap oportunis terhadap suatu orde atau kekuasaan, dengan cara menunggangi jabatan” (Luthfi, 2005: 91).

Yang membedakan novel karyatama Pak Kayam, Para Priyayi dan sekuelnya, Jalan Menikung, dengan para penulis sastra lain agaknya adalah betapa lengkapnya karya itu dalam membabarkan aspek-aspek sosiologis kepriayian, yang dilakukan secara konsisten sesuai konvensi struktur naratif sastrawi, sehingga tetap mewujud sebagai karya sastra dan bukannya risalah sosiologi atau antropologi.

Namun, yang agak mengherankan adalah bahwa dalam suatu kesempatan, ketika diminta membuka diskusi tentang percabulan dan kesusastraan, Pak Kayam dalam makalahnya yang berjudul “Percabulan dalam Kesusastraan” (dalam Sejumlah Masalah Sastra yang disunting Satyagraha Hoerip, 1982), mengaku “pengetahuan saya tentang puisi ada terlebih miskin lagi”. Tentu yang dimaksud di sini adalah puisi Indonesia modern. Pasalnya, dalam Para Priyayi, ia menuliskan puisi Jawa yang diambil dari Wulangreh dan Wedhatama, bahkan memberikan tafsirnya melalui narasi Sastrodarsono.

***

Umar Kayam lahir di Ngawi pada 30 April 1932 dan meninggal di Jakarta pada 16 Maret 2002. Dalam usianya yang merentang tujuh puluh tahun itu, sebenarnya Pak Kayam tidak sangat produktif dalam menulis karya sastra. Ia hanya menghasilkan dua novel, dua kumpulan cerpen yang disatukan, beberapa buku kumpulan cerpen yang sering kali sama tetapi ditambahi beberapa judul, dan dua buku berisi kolom-kolomnya di surat kabar.

Namun, Pak Kayam tentu saja tidak dikenal hanya sebagai sastrawan. Selain menulis sastra, ia juga aktif dunia film, termasuk berperan sebagai Soekarno dalam film G30S, bahkan pernah menjabat sebagai Dirjen Radio, Televisi, dan Film pada masa-masa awal Orde Baru, selain menjadi akademisi.

Yang patut direnungkan saat ini adalah, dalam konteks sastra, pertama, sudah adakah karya yang sekomprehensif karya-karya Pak Kayam dalam memotret ideal suatu kelompok sosial dalam masyarakat, yang dalam kasus Pak Kayam adalah golongan priayi, dan bagaimana kelompok itu merespons perubahan sosial yang melingkupinya. Novel Upacara karya Korrie Layun Rampan memang juga teliti melukiskan latar kebudayaan Dayak, tetapi pelukisannya spesifik pada salah satu aspek saja, yaitu ritual atau upacara yang menyertai dinamika tokoh-tokohnya.

Kedua, apakah gaya tutur Pak Kayam yang cenderung humoristis, terutama dalam kolom-kolomnya, bisa cocok dan diterima dengan gaya tutur generasi muda saat ini yang cenderung santai dan humoristis juga? Jika ya, pertanyaan berikutnya adalah apakah “isi” tuturan itu bisa dimengerti oleh generasi yang baru lahir setelah Pak Kayam berhenti menulis?

Ketiga, apakah “pesan pengarang” dalam banyak karya Pak Kayam, yaitu harapan dan kepercayaan kepada golongan priayi sebagai penggerak penting, jika bukan yang utama, dalam memajukan masyarakat, masih relevan pada era demokrasi liberal dan kapitalisme lanjut ini?

Dan, yang sangat penting, apakah masyarakat yang didominasi orang berusia muda saat ini masih memandang penting priayi dan kepriayian, mengingat kepemilikan materi, hedonisme, dan popularitas makin menjadi ukuran status sosial seseorang?***

A
Tentang Penulis

Admin Suku Sastra

Admin Suku Sastra menangani semua tetek bengek di situs web SukuSastra.com, mulai dari memeriksa kelengkapan tulisan sebelum memposting di situs web hingga mengontrol tampilan.

Baca Biografi Selengkapnya →
Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.