Spekulasi Ignoramus dalam Memperhitungkan Keruntuhan Bumi
October 26, 2024 · M. Thoriq Aufar
Di antara pembaca cerpen “Ignoramus”1, barangkali akan ada yang mengasosiasikan Stephen, tokoh utama dalam cerita tersebut, sebagai sosok Stephen Hawking. Kecurigaan pembaca ini tentu beralasan, berdasarkan pertimbangan kode-kode seperti penggunaan nama, ciri fisik sebagaimana gangguan saraf motorik yang mengharuskannya bergantung pada kursi roda, serta perannya sebagai fisikawan dengan ambisi besar dalam menyingkap rahasia-rahasia semesta. Jika golongan pembaca ini benar-benar mencari jawaban atas dugaannya dan mulai mengutak-atik data, apa pun temuan mereka, tentu tidak akan menyenangkan. Bisa jadi malah sia-sia. Akan tetapi, spekulasi Aveus Har tentang perkara sains dan masalah-masalah universal yang mengarah pada kondisi apokaliptik adalah benar warisan dari kegelisahan para saintis, termasuk juga Hawking, yang perlu dipertimbangkan. Menyenangkan atau tidak, masalah inilah yang sedang kita hadapi.
Secara ringkas, “Ignoramus” adalah kisah tentang hari kiamat. Kita tentu telah banyak mendengar cerita tentang hari kehancuran bumi dari berbagai versi. Akan tetapi, versi manakah yang paling mengganggu audiens (pembaca, penonton, atau pendengar), membekas, dan mungkin juga mengendap jadi cara pandang atau keyakinan? Apakah versi dalam tradisi kitab-kitab kuno ataupun mitologi yang menuturkan kehancuran bumi sebagai penanda akhir dari kehidupan ‘sementara’ dan menjadi permulaan dari ‘afterlife’ yang sesungguhnya di surga? Ataukah versi dari spekulasi para saintis, yang secara umum berangkat dari sebab-akibat atas hukum alam? Yang satu dituturkan dalam bentuk ajaran maupun dongeng-dongeng leluhur dengan menunjukkan ketidakberdayaan manusia. Sementara itu, yang satunya berusaha melakukan penundaan, atau beberapa yang lebih optimistis akan menampilkan usaha manusia dalam membentuk kehidupan baru melalui proses peruntuhan sistem lama, yang banyak muncul dalam cerita-cerita science fiction (SF). Memang, di luar keduanya, terdapat berbagai alternatif yang lain. Namun, setidaknya, dua versi tersebutlah yang secara mayor muncul dengan disertai ideologi dominan dan bersifat hegemonik.
Bagaimanapun, cerita apokaliptik bukanlah bentuk genre baru. Setidaknya, cerita paling awal mengenai kehancuran alam semesta dapat ditelusur lewat kisah-kisah agama, seperti bentuk cerita-cerita apokaliptik tentang kehancuran kehidupan pramanusia di bumi yang dihuni oleh makhluk-makhluk ‘tak terjelaskan’. Cerita apokaliptik dapat dilacak dalam salah satu narasi religi yang merujuk pada kehidupan Abul Jan yang luluh lantak sebelum manusia mengisi planet ini, juga melalui kisah banjir bah di era Nuh yang mewakili cerita dari beberapa agama samawi. Pun dengan agama ardhi yang memiliki kisah maupun ramalannya sendiri mengenai kehancuran semesta.
Tradisi agama telah mewarisi beberapa varian cerita apokaliptik dalam lingkup yang lebih dasar, mengakar, dan menjadi common sense. Pola penceritaannya pun terus berkembang dari zaman ke zaman. Bentuk-bentuk cerita tersebut, seperti cerita ilahiah, mitos, supranatural, dan seterusnya dapat ditarik pada unsur-unsur teosentrisme, dan menjadikan manusia sebagai subjek yang tak berdaya. Di luar ketidakberdayaan manusia, terdapat kekuatan tertinggi yang telah mengatur nasib dan tidak terbantah.
Berbeda dengan narasi religi, narasi sains maupun science fiction punya wacananya sendiri, dengan cara pertanggungjawaban yang lain pula, sebagaimana kehidupan era dinosaurus yang hancur karena hujan meteor, dengan sebab-akibat dari kombinasi hukum alam yang kompleks. Pola yang kedua ini menempatkan manusia sebagai subjek yang aktif, setidaknya sebagai interpretan dengan cara pandang antroposentris.
Dua pendekatan yang bertolak belakang, antara antroposentrisme dengan teosentrisme, memang kerap memunculkan masalah. Perihal dikotomis yang telah membudaya dan membentuk pola pikir manusia ini telah dibicarakan panjang oleh Hasan Hanafi, bagaimana yang satu akan meliyankan yang lain. Sementara itu, perkara inilah yang ingin dimain-mainkan oleh Aveus Har, entah dengan intensi atau tidak. Lalu, di wilayah manakah “Ignoramus” menempatkan diri?
Sekilas tangkap, bentuk tawaran Aveus Har dapat diindikasi sebagai suatu percobaan cerita dalam bentuk science fiction, meski terdapat pencampuradukan dengan pola teologis. Praduga ini dapat lekas ditangkap dari teks yang membangun ruang-ruang futuristik dan percobaan pengarang dalam mereka-reka sebab-akibat kehancuran alam. Sementara itu, kemunculan unsur teologis dapat ditemukan dalam dialog ‘imajiner’ serta komentar-komentar narator. Cerita “Ignoramus” seakan berada di antara ruang dalam keduanya, yang saling bertumpang tindih. Memang, latar dan narasi penceritaan yang seolah diujicobakan dalam bentuk konvensi ilmiah perlu dibedah pada bagian detail-detailnya. Begitu juga intensi narator melalui tokoh bayangan dan gayanya berkomentar perlu dibicarakan.
Dalam menilai SF yang ideal, permasalahan yang kerap muncul sering kali disebabkan tekanan populerisme maupun ideologis, selain dari ketidakmampuan teknis. Kelayakan batas-batas sains juga sering jadi soal. Namun, setidaknya, Darko Suvin menawarkan beberapa indikator dalam mengukur seberapa kuat sebuah karya SF dapat dipertanggungjawabkan, di luar kehendak pasar, dengan indikator-indikator kerapatan teks dan jangkauan estetis yang berelasi dengan konteksnya.
Pada dasarnya, ideal optimum SF model Suvin dijadikan alat ukur karya berdasarkan kemasukakalan yang didasari oleh hukum-hukum empirisisme dan positivisme. Karena itulah ia disebut sebagai science fiction, meski juga akan bertarik-ulur dengan fictional novum dengan premis-premis yang koheren dan dapat dipertanggungjawabkan secara logika kognitif dalam kerangka logika cerita (fictional universe) maupun kejelasan dengan relasinya terhadap empirical universe. Sementara itu, keretakan dengan mengaburkan antara sisi logis dengan teologis justru dominan dalam cerpen “Ignoramus”, bahkan di wilayah formal. Sehingga, jika cerpen ini dinilai dengan indikator ideal optimum model Darko Suvin, apakah berterima, dengan melibatkan range pengukuran SF dari pessimum ke arah optimum; yang menjangkau the banal, the incoherent, the dogmatic, dan the invalidated pessimum dalam teks cerita?
Perkara kejelian dalam urusan teks pada science fiction menjadi urusan penting, apalagi mempertimbangkan bahwa kecenderungan latar dalam SF berada di ruang alternatif, atau dalam bahasa Suvin disebut sebagai fictional novum (inovasi dan kebaruan secara umum dalam narasi). Seperti dalam “Ignoramus”, misalnya, tidak mudah untuk mentransferkan apa yang dibayangkan oleh pengarang kepada pembaca perihal ruang maupun peristiwa ‘imajiner’ yang terjadi di tahun 3016. Belum juga mempertimbangkan, bagaimana konteks sosiologis yang mendasari ketegangan peristiwa-peristiwa tersebut.
Bagi Suvin, dalam menimbang masalah antara logika narasi dan dominasi ideologi, urusan teks pada SF menjadi material sentral karena teks-lah yang mengantarkannya dari original sender (penulis) ke original receiver (pembaca) sebelum membicarakan urusan konteks (sosial-historisnya). Perkara awal ini setidaknya untuk meminimalkan munculnya mis-informasi, ketidaktahuan, mistifikasi, dan sebagainya. Pembatasan terhadap detail narasi, struktur plot, serta penggalan elemen-elemen fictional novum, bagi Suvin dianggap sebagai bentuk kebanalan (the banal pessimum). Dalam “Ignoramus”, misalnya, muncul suatu masalah dalam struktur plot, yang merupakan masalah cerita itu berkembang.
Pada fragmen pertama, seketika pembaca dihadapkan pada situasi krisis, yakni hari menjelang apokalips, dengan penanda waktu 15 November 3016 atau seribu tahun mendatang. Situasinya tentu mudah ditebak; pemandangan manusia murung yang mencoba menilik kembali apa yang sudah terjadi, sekaligus mempertimbangkan apa yang telah manusia ciptakan sehingga dapat membawa percepatan akan kehancuran dunianya sendiri. Latar yang dibangun oleh Aveus Har dalam situasi tersebut adalah kota futuristik yang lelah, lengkap dengan pantulan panas dari kubah-kubah logam, tingginya gas amonia dan karbon dioksida yang melebihi batas normal, nihilnya ‘pohon’ serta ‘burung’ sebagai simbol kealamian bumi atau ruang layak huni, dan seterusnya.
Sebagaimana kecenderungan cerita yang dibuka dengan situasi krisis, yang muncul pada babak kedua dalam cerita “Ignoramus” berupa penjabaran muasal kiamat itu terjadi. Perihal eksploitasi alam dijadikan sebagai biang perkara, yang sekaligus digunakan sebagai landasan dari prediksi Stephen tentang hari kehancuran bumi yang akan terjadi sepuluh ribu tahun lagi. Sialnya, Aveus memainkan drama pada kesalahan analisis hitungan yang dilakukan oleh tokoh, yang nyatanya kehancuran bumi datang sepuluh kali lipat lebih awal. Akibatnya, pada babak kedua, teks membuka peluang untuk dapat ditulis secara lebih cermat; bagaimana kesalahan perhitungan itu terjadi, bagaimana kondisi tak terkendali, dan seterusnya. Chaos, jelas! Namun, sayangnya, ekspektasi pembaca tidak cukup terpuaskan pada bagian ini, sebab kausalitas cerita yang dibangun tidaklah cukup berimbang. Bayangkan, bagaimana sebab kehancuran bumi hanya ditulis secara ringkas dalam satu paragraf yang terdiri dari 3 kalimat! Melalui gaya penceritaannya, teks dapat ditangkap sebagai bentuk ketergesaan dengan kalimat-kalimat penilaian secara langsung (dogmatic pessimum).
“Maka eksploitasi alam terus berlangsung dan semakin masif. Tidak ada ketakutan akan sekaratnya bumi karena manusia telah merasa sanggup mengatur alam. Atas nama industri dan kapitalisasi hutan-hutan dibabat, pabrik-pabrik dibangun, limbah-limbah digelontorkan, perut bumi ditambang.”
Apakah tiga kalimat di atas cukup meyakinkan untuk dijadikan sebagai penyebab keruntuhan planet ini, atau dapat digunakan sebagai data untuk menghitung berapa tahun lagi planet ini bertahan? Lalu dari mana Stephen mendapatkan angka sepuluh ribu tahun, serta bagaimana pula narator menawarkan percepatan kehancuran bumi menjadi seribu tahun? Situasinya tentu tidak akan sesederhana itu. Pengarang (melalui tokoh Stephen) menyebutkan angka sepuluh ribu tahun, tentu tidak bisa diterima secara semena-mena, dan tidak bisa dipangkas sebagaimana bentuk kebanalan. Narator juga tak selayaknya menangguhkan perkara ini dengan kalimat “… sepuluh ribu tahun adalah waktu yang sangat lama. Tidak satu pun yang berpikir akan tetap hidup sampai sepuluh ribu tahun…”, lalu ditutup dengan kalimat retoris, seolah melemparkan ketidaktahuannya kepada pembaca. Kemungkinan dan ketidakmungkinan tentu membutuhkan suatu sebab. Bagaimanapun, karena angka-angka itulah masalah dalam cerita tersebut muncul dan berkembang, sekaligus membangun novum.
Apalagi, perkara ruang yang akan muncul dalam jangka waktu yang panjang tersebut tidak mudah untuk dilewatkan. Untuk membayangkan ruang maupun peristiwa alternatif dalam satu planet ini, sebagaimana hutan-hutan yang dieksploitasi dan digantikan oleh industrialisasi, apalagi seribu atau sepuluh ribu tahun ke depan, jelas tidak mudah. Di samping itu, kecenderungan wacana industrialisasi yang muncul dalam wacana sains memberikan kesan optimisme pada gerakan modernis (utopia) sehingga untuk menegasikannya (distopia) diperlukan argumentasi yang kuat. Kepiawaian pengarang diperlukan agar pembaca dapat menerima bagaimana masyarakat kita hidup dalam wilayah yang paradoks, antara kapitalisme kontemporer yang cukup kompleks dan bersitegang dengan hajat seluruh umat manusia. Situasi rumit ini banyak muncul dalam bentuk-bentuk SF model distopia; bagaimana sistem korporat yang korup, bagaimana hubungan ekonomi, baik makro maupun mikro yang bersitegang dengan sistem sosial yang ada, dan bagaimana alam muncul sebagai wilayah yang terabaikan sementara kebutuhan pangan dan energi terus melonjak, dan seterusnya, seperti dalam novel The Windup Girl-nya Paolo Bacigalupi. Maka, pemangkasan situasi latar sosial dan kausalitasnya dalam cerpen “Ignoramus” terkesan brutal.
Memang, membandingkan perkara eksplorasi teks yang muncul dalam latar ruang maupun sosial antara “Ignoramus” dengan The Windup Girl agaknya berlebihan, dan juga tidak adil. Novel Bacigalupi, secara general, dapat ditangkap sebagai SF dengan bentuk dystopian, yang cakap dalam mengeksplorasi wilayah-wilayah tersebut, sementara “Ignoramus” mengeksplorasi perihal kehancurannya, atau muncul sebagai subgenre Apokaliptik. Itu pun kalau praduganya dapat dipertanggungjawabkan. Bagaimanapun juga, dari gagasan Darko Suvin kita sepakat bahwa pemenggalan pada elemen-elemen yang berkaitan dengan novum dapat mengarah pada kebanalan.
Jika keidealan teks SF dalam indikator banal pessimum diukur dari kelengkapan struktur plot dan elemen-elemen narasi sehingga tidak menimbulkan misinformasi dan ketidaktahuan, incoherent pessimum mengukur bagaimana narasi tersebut hadir sebagai keutuhan yang padu, atau tidak terpecah-pecah dari fokus yang ingin diceritakan. Dalam “Ignoramus”, hal-hal yang ingin dibicarakan cukup kompleks. Jika pengarang menghadirkan varian ‘konteks’ dalam satu ‘teks’ dan dapat ditangkap secara koheren, tentu cerita akan jadi potensi yang menarik. Akan tetapi, risiko yang muncul, jika elemen-elemen cerita tidak saling terkait, kemegahan teks dapat terjebak pada ketidakpaduan. Bagaimanapun juga, praduga (presupposition) dalam SF berangkat dari koherensi antara proposisi dan teks, yang secara langsung muncul dalam faktor-faktor linguistik. Sementara itu, presuposisi hadir sebagai mediator antara ‘yang muncul’ dalam teks maupun yang di luar teks, atau teks (formal/sintaksis) dan konteks (sosiologis/pragmatis). Dalam “Ignoramus”, misalnya, Aveus Har mencoba membangun presuposisi sebagai mediator tersebut melalui elemen narasi terkecilnya, yakni bentuk rujukan untuk memenuhi keutuhan lanskap saintifik. Terdapat beberapa rujukan pada mega proyek science yang bermunculan dalam teks, seperti Proyek Gilgamesh, partikel tuhan, dan seterusnya.
Dari aspek keutuhan cerita, dua rujukan, yakni Proyek Gilgamesh dan partikel tuhan, tidak terlalu erat kaitannya dengan alur selain menciptakan lanskap antroposentris. Fungsi penyebutan dua proyek sains tersebut adalah bentuk dari intertekstualitas terhadap dua wacana yang ingin dihadirkan oleh penulis dan memantik ‘horizon’ pembaca untuk mengaitkan pada situasi di luar teks. Singkatnya, Proyek Gilgamesh merujuk pada wacana optimisme saintis yang ingin memanipulasi kematian manusia sehingga dapat hidup lebih lama. Sementara itu, partikel tuhan berkaitan dengan temuan Peter Higgs tentang mikro partikel berkekuatan masif yang mengarah pada hipotesis tentang penciptaan dan kehancuran semesta.
Namun demikian, situasi sosiologis yang dibangun Aveus Har tidak utuh menghadirkan lanskap saintifik. Ia meretakkan dengan wacana-wacana mistik yang dihadirkan, melalui kemunculan tuhan di dalam ceritanya, sekaligus juga tendensi komentar dari narator. Ringkasnya, kemunculan tuhan menjadi penanda media presuposisi pada sudut yang lain—yang keduanya cenderung berkontradiksi. Narator membuka peluang adanya dikotomi antara sains dan teologisme melalui komentarnya dalam cerita. Pembaca akan tahu, di wilayah itulah narator berpihak, sekaligus pengarang bermain-main. Isu-isu konteks tersebut juga dapat dilacak pada tataran keutuhan antarfragmen yang muncul dalam teks formal secara menyeluruh.
Keutuhan cerita yang ditawarkan dalam enam babak “Ignoramus” dibentuk atas ikatan-ikatan setiap fragmennya. Aveus membangun kelima fragmen awal sebagai rentetan peristiwa yang tersamar, lalu dinegasikan pada fragmen keenam bahwa cerita sebelumnya tidak nyata terjadi, atau sekadar sebagai mimpi Stephen. Jika gaya penceritaan narator dapat ditangkap secara berbeda antara fictional novum dalam dunia riil dan dunia mimpi, tentu asumsi banal pessimum dapat dimaklumi. Akan tetapi, di kelima fragmen awal cerpen itu, narator berada pada wilayah yang samar.
Pada beberapa bagian, narator tahu banyak hal tentang latar yang ingin diujicobakan pengarang sebagai dunia futuristik lengkap dengan sebab-akibat di baliknya sebagai bentuk antroposentrisme. Namun, pada beberapa hal, pengetahuan narator, sekaligus juga Stephen sebagai tokoh, cukup terbatas dan menampakkan ketidakberdayaannya (teosentris). Sehingga, yang muncul adalah tumpang tindih antara hal-hal yang pengarang ingin jelaskan sekaligus meninggalkan permasalahan yang tak selesai di waktu yang bersamaan. Misalkan pada fragmen pertama, pengarang mencoba menggambarkan kondisi kehancuran dunia secara logis, sekaligus gamang, bagaimana tokoh dapat berada di ruang itu. Pada fragmen kedua, cerita berusaha menjelaskan penyebab kehancuran bumi, yaitu eksploitasi alam, lalu bertumpang-tindih dengan ketidaktahuan sendiri atas prediksi kehancurannya. Pada fragmen tiga, perihal perjalanan waktu menjadi hal yang ingin dibicarakan, sekaligus terbentur pada ketidaktahuannya sendiri akan konsep waktu. Pada fragmen berikutnya, narasi diarahkan pada penjelasan kehidupan manusia bionik, yang terbentur pada permasalahan eksistensial mereka sendiri. Fragmen kelima sebagai puncak dilema, baik Stephen maupun narator, kebimbangan berada pada perihal waktu dan hukum-hukum kehidupan. Puncak ketegangan yang telah dibangun dalam kontradiksi antara masalah sains dan teologis dihajar secara habis-habisan dalam babak ini sehingga banyak ruang yang tersisa, baik secara teks maupun konteks. Permasalahan ini juga terabstraksi pada sikap Stephen pada dunianya yang riil (fictional universe) di babak terakhir.
Tumpang tindih antara pengetahuan dan ketidaktahuan di seluruh cerita yang muncul dalam teks dapat membawa pada wilayah konteks yang luas. Narator sendiri juga beberapa kali menyebutkan keterbelahan dua kutub antara mistisisme yang cenderung muncul secara samar dan dogmatik, juga bentuk sains yang berorientasi pada cara pandang analitis. Pun demikian, bentuk tumpang tindih antara cara pandang empiris dengan yang ‘tersamar’ dalam “Ignoramus” agaknya menciptakan polanya sendiri, yang mengarah pada konteks wacana identitas.
Jika teks “Ignoramus” diuji dengan bentuk incoherent pessimum model Suvin, agaknya sukar untuk diterima, di mana teks sengaja dihadirkan secara terpecah-pecah. Selain itu, cerita ini juga tidak mudah diujikan dalam indikator the invalidated pessimum karena tidak diorientasikan pada standar kognitif. Bagaimanapun, tawaran Suvin adalah susunan cerita yang dapat diukur berdasarkan pola kuantitatif maupun kualitatif. Pola-pola tersebut yang akan membedakan bagaimana SF berada di pihak sains sebagai fitrahnya, yang akan membedakan dengan cerita yang diorientasikan pada standar non-kognitif sebagaimana fantasi, dongeng, atau genre-genre yang dekat dengan metafisika lainnya. Hukum-hukum tersebut juga untuk membedakan peristiwa yang dilalui tokoh berada di wilayah urutan kerangka dengan susunan kejadian yang logis sekaligus juga ‘riil’ (dalam cakupan fictional universe maupun empirical universe) atau berada di wilayah yang tidak riil, seperti bentuk delusional maupun mimpi. Sehingga, memvalidasi keilmiahan ‘mimpi’ Stephen, agaknya juga akan sia-sia.
Pun demikian, selain keretakan kaidah SF teks dan konteks yang dibangun, bentuk bahasa dogmatik (dogmatic pessimum) juga mendominasi narreme (unit fundamental dalam struktur narasi) yang disusun oleh pengarang. Bentuk teks ini sebenarnya sangat dihindari dalam cerita-cerita SF modern yang diidealkan Suvin. Dalam “Ignoramus”, misalkan, beberapa gaya bahasa dogmatik muncul secara dominan dalam percakapan Stephen dengan angin yang seolah sebagai perwakilan Tuhan—bahkan kemunculan suara Tuhan sendiri.
“Aku telah menyaksikan kebenaran hukum alam,” sahut Stephen.
“Tuhan yang menciptakan alam dengan segenap hukumnya.”
“Tidak ada Tuhan; alam tercipta oleh ledakan besar dan akan hancur sebagai ledakan.”
Angin menggeleng-gelengkan kepala.
“Sesungguhnya, manusia merugi …,” bisik angin.
“… kecuali …,” imbuh suara yang Agung.
Angin mengangguk takzim. “… kecuali yang beriman.”
Memang, yang dimasalahkan Suvin bukanlah dogma dalam pengertian yang sesungguhnya, melainkan dogmatik dalam wilayah estetik, yang mengarah pada penyampaian ‘ideologis’ pengarang yang dilakukan dengan ‘terlalu’ eksplisit dan ‘terlalu’ repetitif. Bahasa dogmatik juga muncul sebagai suara Stephen—pihak yang mencoba berada di wilayah logis. Selain bahasa dogmatik yang muncul dari tokoh Stephen, elemen ini juga muncul dalam percakapan manusia bionik sebagai representasi bentuk kemajuan tertinggi atas sains, sebagaimana “Sedangkan kita hidup lama juga tak punya makna.” Kecenderungan gaya bahasa ini juga muncul pada narator dalam menggambarkan Stephen, seperti “… dia selalu yakin ada penjelasan ilmiah untuk segala fenomena alam semesta.”
Di samping itu, pelabelan narator terhadap Stephen sebagai seorang ilmuwan dilakukan secara repetitif, seolah penegasan satu-dua kali tidak cukup untuk menggambarkan karakter Stephen. Melalui model bahasa ini, pemaknaan dilakukan secara paksa dari penulis terhadap pembaca. Jika menganut gagasan yang ditawarkan oleh Suvin, “Ignoramus” dengan jelas melanggar hukum fleksibilitas fiksi, di mana novum maupun gagasan akan diterima oleh pembaca sebagai cerita melalui interpretasi yang tidak tunggal. Bagi Suvin, hukum fleksibilitas inilah yang perlu dipertahankan dalam SF, di mana kecenderungan sains murni akan dituturkan dalam bentuk analitik dan prosedural untuk meminimalkan misinterpretasi.
Memang, membicarakan SF yang ideal perlu mempertimbangkan banyak hal terhadap kaidah-kaidah yang muncul dalam teks—di luar kemunculan masalah identitas-identitas dunia ketiga yang cenderung menyusupkan bentuk mistisisme. Permasalahan ini jadi problematis antara kontradiksi wacana rasional dan irasional yang bertabrakan dengan kajian hegemoni kebudayaan tertentu. Pun demikian, baik Wells maupun Suvin menyepakati bahwa sebagian besar SF yang ada, bahkan di dalam tradisi masyarakat antroposentris, memang mendekati penilaian pessimum karena banyaknya keretakan-keretakan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Kenyataannya, SF secara populer hadir dengan ketidaklogisan, dan banyak dijadikan sebagai sarana eskapisme pembaca, yang disebut Suvin sebagai conceptual fetish, atau sekadar untuk memunculkan daya nikmat pembaca, baik secara sadar dilakukan oleh penulis maupun tidak.
Conceptual fetish, sebagai pemuas libidal pembaca, tidak hanya muncul pada mistifikasi atau pun pencampuradukan mitos saja, tetapi juga muncul dalam bentuk intensi pengarang yang cenderung ideologis, penyisipan bentuk-bentuk etik, eksplorasi science yang berlebihan, tema, dan sebagainya. Dalam kecenderungan SF populer di Amerika Serikat, misalnya, cerita-cerita spektakuler tentang superhuman, heroisme, dominasi power, tema-tema invasi, maupun kecanggihan teknologi yang jauh melampaui dan melanggar hukum positivistik dan empiris lebih banyak digemari. Tentu, ada kecenderungan ideologis di luar teks yang terbentuk atas konstruksi sosio-kultural cerita-cerita tersebut yang bertumpang tindih dengan permintaan kebutuhan ‘pemuasan’ pasar. Begitu juga dengan “Ignoramus”, agaknya mustahil memisahkannya dari konstruksi di luar teks.
Lapisan-lapisan teks dan keberagaman konteks dalam “Ignoramus” memang menghadirkan banyak hal. Segalanya campur aduk dalam enam babak. Jika mengingat kembali pernyataan Darko Suvin bahwa SF muncul dari struktur sosio-historisnya original sender, yang melingkup ruang, waktu, agen, dan cosmic-cum-social totality-nya, barangkali situasi inilah yang merepresentasikan wilayah Indonesia secara umum, di mana Avues Har dibentuk; ia berada di pusaran banyaknya ideologi yang bertumpang tindih dan bertabrakan. Sementara itu, pembaca yang berusaha mengurai justru menjadi ignoramus (manusia yang tak tahu apa-apa).***
Catatan
1 Cerpen karya Aveus Har, terbit di Media Indonesia, 13 November 2022.