Subagio Sastrowardoyo (1924-1995) adalah seorang sastrawan serba bisa. Ia memiliki mata penyair dan kritikus. Ketika menggunakan mata penyairnya, ia telah menerbitkan beberapa buku puisi seperti Simphoni (1957), kemudian…
Topik
Subagio Sastrowardoyo (1924-1995) adalah seorang sastrawan serba bisa. Ia memiliki mata penyair dan kritikus. Ketika menggunakan mata penyairnya, ia telah menerbitkan beberapa buku puisi seperti Simphoni (1957), kemudian…
Kesamaan pilihan bentuk itu mengokohkan keyakinan kami bahwa kritik sastra masa kini harus didekatkan kepada publiknya, yaitu pembaca sastra Indonesia–pada semua spektrum jenis dan gaya bahan bacaan. Esai lebih lentur dan kurang intimidatif ketimbang, katakanlah, skripsi atau tesis yang angker.
Pada beberapa bagian, narator tahu banyak hal tentang latar yang ingin diujicobakan pengarang sebagai dunia futuristik lengkap dengan sebab-akibat di baliknya sebagai bentuk antroposentrisme. Namun, pada beberapa hal, pengetahuan narator, sekaligus juga Stephen sebagai tokoh, cukup terbatas dan menampakkan ketidakberdayaannya (teosentris). Sehingga, yang muncul adalah tumpang tindih antara hal-hal yang pengarang ingin jelaskan sekaligus meninggalkan permasalahan yang tak selesai di waktu yang bersamaan.