Lewati ke konten

Senapan Tak Berpeluru | Novel Joko Gesang Santosa

October 13, 2017 · Fairuzul Mumtaz

“Kau tahu bagaimana rasanya menanggung dosa perang, Kir?”

“Kau tidak akan pernah bisa tidur dengan nyenyak, sementara jeritan, desingan peluru, ledakan bom, dan amis darah serta daging gosong manusia masih melingkupi kehidupanmu sesudahnya.”

“Manusia perang tahu bahwa saat kulitnya robek, dagingnya keluar, darahnya menyembur ke tanah—ia merasakan kesakitan yang amat sangat, dan ia pun bisa membayangkan kesakitan yang kurang lebih sama dengan apa yang dialami musuhnya jika dalam keadaan yang sama.”

“Mereka sadar diberi batas untuk itu—bahwa yang demikian itu sudah melanggar kemanusiaan. Perang—tak lain hanyalah kebohongan besar. Manusia bohong bahwa ia punya rasa takut akan rasa sakit. Manusia bohong bahwa ia sebenarnya takut akan disakiti. Mereka berkelompok. Dikompakkan dengan seragam dan senjata. Lalu, dengan keseragaman kebohongan itu mereka bersama-sama membohongi umat manusia dan melanggar batas-batas kewajaran yang sudah ada dalam benaknya sendiri. Perang—bukan unjuk keberanian, tetapi benteng munafik akan rasa sakit.”

 

 

Sumber: http://bit.ly/2g6aGeZ

F
Tentang Penulis

Fairuzul Mumtaz

Ketua Komunitas Sastra Suku Sastra ini adalah penulis, jurnalis, novelis, editor, pembaca puisi, dan akademisi sastra dan budaya. Aktif di berbagai kegiatan sastra dan literasi.

Baca Biografi Selengkapnya →
Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.