Dongeng Brother Grimm : Nenek Hulda
September 2, 2026 · Brother Grimm
Sukusastra-Dahulu kala, hiduplah seorang janda bersama dua anak perempuannya. Anak kandungnya memiliki sifat yang malas dan berwajah buruk. Sebaliknya, anak tirinya adalah gadis yang sangat rajin dan berwajah cantik.
Sang ibu lebih menyayangi anak kandungnya sendiri. Anak tiri justru harus mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga yang berat. Setiap hari, gadis rajin itu harus duduk di pinggir sumur untuk menenun.
Suatu hari, alat tenun gadis itu terlepas karena tangannya terluka. Alat tenun tersebut langsung jatuh ke dalam sumur yang dalam. Gadis itu menangis lalu mengadu kepada ibu tirinya.
Ibu tirinya justru memarahi gadis itu tanpa rasa kasihan. Ibu tiri menyuruhnya mengambil kembali alat tenun yang jatuh tersebut. Karena merasa bingung, gadis itu akhirnya melompat ke dalam sumur.
Ketika terbangun, gadis rajin itu sudah berada di padang rumput yang indah. Matahari bersinar cerah dan banyak bunga mekar di sana. Gadis itu lalu berjalan dan menemukan sebuah oven besar.
Oven itu penuh dengan roti yang sudah matang. Roti-roti itu berteriak meminta tolong agar segera dikeluarkan dari oven. Karena merasa kasihan, gadis itu membantu mengeluarkan semua roti dengan sendok besar.
Gadis rajin itu melanjutkan perjalanannya hingga menemukan pohon apel. Pohon apel itu meminta bantuan untuk menggoyangkan batangnya karena buahnya sudah matang. Gadis itu dengan senang hati menggoyangkan pohon hingga semua apel jatuh.
Gadis itu mengumpulkan semua buah apel ke dalam sebuah keranjang. Setelah itu, ia berjalan lagi dan sampai di sebuah rumah kecil. Di sana, seorang nenek dengan gigi besar sedang melihatnya dari jendela.
Gadis itu sempat merasa takut dan ingin melarikan diri. Namun, nenek yang bernama Nenek Hulda itu memanggilnya dengan suara sangat lembut. Nenek Hulda menawarkan pekerjaan rumah tangga dengan imbalan yang sangat baik.
Gadis rajin itu setuju dan mulai bekerja di rumah Nenek Hulda. Ia mengerjakan semua tugas dengan sangat baik dan cekatan. Nenek Hulda merasa sangat senang dan menyayangi gadis itu.
Setelah sekian lama, gadis itu mulai merindukan rumah dan keluarganya. Nenek Hulda memahami perasaan tersebut dan mengizinkannya untuk pulang. Nenek Hulda juga mengembalikan alat tenun milik gadis itu.
Nenek Hulda mengantarkan gadis itu sampai ke sebuah gerbang besar yang bersinar. Saat melangkah keluar, tubuh gadis itu dihujani oleh emas yang sangat banyak. Emas itu merupakan hadiah atas kebaikan dan kerajinan si gadis.
Gadis itu tiba di rumahnya dengan membawa banyak emas. Ibu tirinya menjadi sangat gembira melihat kekayaan tersebut. Sang ibu ingin anak kandungnya yang malas juga mendapatkan emas yang banyak.
Ibu tiri menyuruh anak kandungnya menenun di pinggir sumur dan melompat ke dalamnya. Anak malas itu mengalami perjalanan yang sama di padang rumput. Namun, ia menolak membantu roti dan pohon apel karena malas.
Saat bekerja di rumah Nenek Hulda, anak kandung itu juga bermalas-malasan. Perilakunya membuat Nenek Hulda merasa sangat kecewa dan tidak senang. Pada hari ketiga, Nenek Hulda akhirnya mengusir anak malas itu.
Saat berjalan keluar gerbang, anak malas itu berharap mendapatkan hujan emas. Sayangnya, tubuh anak itu justru disembur oleh cairan hitam pekat seperti aspal. Cairan hitam itu melekat erat pada tubuhnya sebagai balasan atas kemalasannya.
Kerajinan dan ketulusan hati untuk membantu sesama akan selalu membuahkan kebaikan serta kebahagiaan di masa depan. Sebaliknya, sifat malas, serakah, dan enggan menolong orang lain hanya akan mendatangkan kerugian serta keburukan bagi diri sendiri.