Lewati ke konten

Dongeng Aesopus : Rubah dan Buah Anggur

August 20, 2026 · Aesopus

Sukusastra-Seekor rubah berjalan sendirian di tengah hutan yang sangat lebat. Hutan itu sudah seperti rumah sendiri bagi si rubah yang cerdik. Ia berjalan dengan santai tanpa rasa takut akan bahaya predator.

Tiba-tiba, langkah kaki rubah terhenti di sebuah sudut hutan. Matanya membelalak besar dan mulutnya terbuka lebar karena sangat terkejut. Air liurnya hampir saja menetes membasahi tanah di bawahnya.

Perut rubah seketika berbunyi dengan sangat nyaring karena merasa lapar. Rasa lapar itu muncul setelah ia melihat ranumnya buah anggur. Buah itu bergelayutan dengan sangat indah di pohon yang tinggi.

Tidak hanya satu gumpal, melainkan ada berpuluh-puluh gumpal buah anggur. Ranting pohon tersebut tampak sangat penuh dan berat karena buahnya. Rubah membayangkan betapa lezatnya rasa buah anggur segar itu.

“Hap! Hap! Hap!” rubah mulai melompat tinggi.

Rubah mencoba menangkap buah anggur yang berada tepat di atasnya. Sayangnya, usaha pertama rubah itu ternyata mengalami kegagalan yang besar. Buah anggur tersebut masih berada jauh dari jangkauan mulutnya.

Rubah tidak mau menyerah begitu saja pada percobaan pertama itu. Ia berjalan mundur beberapa puluh langkah untuk mengambil ancang-ancang baru. Rubah bersiap untuk berlari dan melompat dengan kekuatan penuh.

Rubah mulai berlari dengan sangat cepat lalu melompat tinggi. Ah, ternyata lompatan kedua ini juga tetap mengalami kegagalan. Tidak ada satu pun biji buah anggur yang berhasil ditangkap.

Rubah berpikir bahwa jarak ancang-ancangnya mungkin masih kurang jauh. Ia pun mundur lebih jauh lagi ke belakang pohon anggur. Rubah menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan seluruh tenaganya yang tersisa.

Dengan kecepatan yang sangat kencang, rubah berlari mendekati pohon. Saat posisinya sudah sangat dekat, rubah melompat setinggi mungkin. Namun, tubuh rubah justru jatuh terhempas ke atas tanah.

Saat membuka mata, rubah tidak melihat ada anggur di mulutnya. Usahanya yang ketiga ini kembali berakhir dengan kegagalan yang mengecewakan. Rubah merasa sangat lelah dan lemas karena terus melompat.

Rubah akhirnya duduk pasrah di bawah pohon anggur yang rindang. Ia tersadar bahwa tubuh pendeknya tidak akan bisa meraih buah itu. Anggur tersebut terletak terlalu tinggi di atas ranting pohon.

Ia tahu bahwa memaksakan kehendak hanya akan berakhir dengan sia-sia. Rubah mengakui kelemahan dirinya dan memilih untuk pergi mencari makanan lain. Setidaknya, rubah kini memiliki pengalaman berharga tentang batasan kemampuan dirinya.

Pesan Moral / Hikmah Cerita

Kita harus belajar menerima kenyataan dan keterbatasan diri dengan sikap yang lapang dada. Jangan memaksakan kehendak untuk meraih sesuatu yang memang berada di luar kemampuan kita saat ini. Sikap tahu diri akan menjauhkan kita dari rasa kecewa yang mendalam. Kebahagiaan sejati muncul dari rasa syukur atas apa yang mampu kita capai.

Aesopus
Tentang Penulis

Aesopus

Profil penulis Aesopus.

Baca Biografi Selengkapnya →
Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.