Kategori
Puisi
dan Ibu Kunthi tetap memanggilku Suryatmaja—mengapa? apa karena hangat rahimmu pernah menyatu dengan mani Dewa Surya?
engkau yang kerap menimang dan berkisah tentang sebuah kampung yang tak pernah kusinggahi-- dan hanya meninggalkan bekas peta di dalam kepala.
aku terus berjalan, bersamamu. melalui juli demi juli. menyimpan cahaya teduh yang kerap berjatuhan dari matamu.
kerumunan langkah manusia. berebut ke simpang jalan, seperti mematuki pembuluh tubuhmu. di antara udara putus asa, kecemasan meronta.
di antara limbung tubuh lelah, remah amarah yang keruh. kita ingat, untuk tetap bertahan pada riuh kota, memasuki setiap simpang jalan.
Ada ledak-ledak lagu lawas bersahutan dengan petir dan guntur, sesekali memanggil penyiar yang kabur bersama hujan.
Kupandang tawang yang memerah. Perlahan, rintik-rintik kenangmu menghujaniku: Kita pernah menyambut senja di dermaga.
Tapi, di sanalah kau, bagaikan seorang buta tuli terus memintaku pulang tanpa sekali pun kau sambut jala yang hendak membawamu berlayar