Lewati ke konten

Peristiwa

Kapan pun Selesainya, FSY Tak Perlu Ditangisi!

September 6, 2026 · Mad Muflihun

Mau tak mau, FSY tahun ini harus selesai.

Itu terjadi saat bintang-bintang bertelekung pepohonan. Langit menyisakan nila yang mahaluas, dan hanya bulan purnama di sana yang bergulat dengan kesendirian.

Saya tak mau menulis dengan melankolis sebab tak ada yang patut ditangisi. Orang-orang baru memang harus datang dan pergi. Begitu juga pengalaman baru, keluarga baru, dan kaos baru bertuliskan “Bienial Sastra” yang membuat saya merasa gagah saat memakainya di kampus.

Hanya orang-orang emosional yang menulis dengan haru dan tangis. Seolah-olah tahun ini adalah tahun terakhir mereka hidup. Seolah FSY tahun ini adalah yang terakhir dan tak akan pernah ada lagi. Seolah mereka tahu akhir tahun nanti kiamat akan terjadi.

Saya tak akan menulis dengan melankolis sebab kawan saya, Bung Gusta, berhasil memenangkan sayembara puisi FSY tahun ini. Juara 2. Patut bangga, patut pula terharu. Tapi tak patut menangis. Sekali lagi tidak!

Memang, malam itu produksi air mata saya sudah berlebih dan hampir saja jebol. Tapi saya tak boleh menangis. Seseorang yang, saat pertama kali saya mengenalnya, katanya “setiap malam bercinta dengan puisi”, sekarang sudah mulai terlihat jalan kepenyairannya.

Aku bangga padamu, Gus!

Maka malam itu, Sabtu (30/08/2026) di Amphitheater, saya mengamini puisi Jokpin yang dibacakan oleh Wakil Walikota Yogyakarta, Wawan Harmawan. Puisi itu berjudul “Cita-Cita”.

Setelah punya rumah, apa cita-citamu?
Kecil saja: ingin sampai rumah
saat senja supaya saya dan senja sempat
minum teh bersama di depan jendela.

Ya, FSY x Bienial Sastra Indonesia Modern tahun ini adalah material—batu, bata, beton—untuk membangun rumah itu. Rumah yang, ketika pertama kali saya masuk ke dalamnya, diwarnai oleh gelak tawa Simbah, Mas Fairuz, Mba Brenda, Mas Dhafi.

Rumah yang kemudian terus saya bangun sedikit demi sedikit selama gelaran FSY ini. Rumah yang nafasnya akan lebih panjang dari nafas saya sendiri.

Mungkin sehabis ini kita kembali menepi ke sudut lapangan masing-masing. Tapi saya yakin rumah itu tak akan sebegitu mudahnya hancur.

Seperti kata Dee Lestari malam itu: Yang menyakitkan bukan yang berakhir, tapi yang tak pernah memulai.

Menjadi manusia harusnya bukan yang selalu “menerima keadaan apa adanya”, tetapi mereka yang, seperti dalam cerita-cerita Hemingway, terus bertarung walau pun tahu pada akhirnya akan kalah. Atau mereka yang terus terbentur, terbentur, terbentur, meski akhirnya modar.

Dan tampaknya, saya dan orang lain yang saat itu duduk memutar di Amphitheater juga sama-sama mensyukuri pertarungan-pertarungan semacam itu. Kami sama-sama berbahagia malam itu. Seperti bahagianya Keenan bertemu dengan Kugy yang diabadikan dalam “Perahu Kertas” oleh Dee Lestari.

Ku bahagia kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada di antara miliaran manusia…

Sementara itu, Kiai Kanjeng selalu tak pernah gagal membuat sekujur tubuh saya merinding.

Saya pikir mereka akan langsung membawakan gubahan-gubahan shalawat. Tapi ternyata tidak. Mereka malah membawakan terlebih dahulu lagu mengeja alfabet Inggris, Indonesia, dan Arab. Kemudian nama hari dan nama pasaran Jawa. Memang unik.

Terlihat di depan panggung anak-anak pun ikut menari kesana-kemari. Sesekali orang tua mereka mengomat-kamitkan sesuatu. Mungkin, “Hati-hati, Nak. Nanti terjatuh!” Tapi si anak terus menari. Malah ditambah tertawa-tawa.

Saya jadi teringat lagi kata Dee, “Menertawakan masalah-masalah kehidupan bukan berarti melarikan diri dari masalah itu, tetapi cara agar kita selalu waras menghadapinya.”

Senada dengan itu, Kiai Kanjeng pun juga membuat hadirin tak henti-hentinya tertawa. Utamanya dua personilnya yang maju ke depan untuk melakukan aksi teatrikal.

“Pandanglah Indonesiamu itu,” kata salah satunya. “Tatap di pusat mata jiwamu, kemudian pilih satu kata. Ucapkan!”

“Alhamdulillah…,” kata yang lain.

Mbok yang jujur pada diri sendiri itu. Pandanglah jutaan petani, jutaan buruh, orang kecil di desa dan kota.”

“Subahanallah…”

Woo, kamu itu terlalu menahan diri, le. Tataplah air muka para pemimpin, dan pejabat, dan wakil rakyat. Berapa yang hatimu bisa percaya dan berapa yang tidak?”

“Astaghfirullah, saya mau mukok.

“Ayo, ayo mukok!”

“Grhhhh…”

“Ayo!”

“Grhhhh…”

“Ayo!”

“Bajingan tengik!”

“Ayo tatap indonesiamu!”

“Bajingan!!”

“Ledakkan le!”

“ASUUUU!”

Tapi memang, tak mudah buat menerjemahkan tawa hanya dalam selintas tulisan seperti itu.

Kemudian Kiai Kanjeng terus menyanyikan lagu-lagunya dan menutupnya dengan “Tombo Ati”.

“Tombo Ati” yang kiranya benar-benar mengobati hati agar tak tersedu-sedan saat malam perpisahan itu.

Maka, yang bisa saya sampaikan selanjutnya adalah: sampai jumpa di FSY tahun berikutnya. Semoga, dalam segala mumet dan mbrasak-mbrusuk, aku selalu bisa mencintai kalian. Dan sebaliknya.

Juga, semoga kita bisa selalu bertemu, dan nyenja lagi, dan ngopi lagi!

 

Tentang Penulis

Mad Muflihun

Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia UGM angkatan 2024. Ahli melinting tembakau dan sedang belajar menulis.

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.