Puisi Mendadak Ramai, Kita yang Mendadak Seniman
September 18, 2026 · Wahyu Tanoto
Beberapa hari lalu, saya sempat tertegun cukup lama di depan layar ponsel, sampai kopi hitam di gelas saya dingin tanpa sempat diseruput. Gara-garanya, di sebuah platform video pendek yang isinya biasanya kalau bukan orang joget ya orang pamer rumah mewah, mendadak ada orang muda. Potongan rambutnya rapi khas anak senja zaman sekarang, tatapan matanya dibuat sesayup mungkin seolah-olah dia sedang memikul seluruh beban kesedihan dunia di pundaknya.
Dengan latar belakang musik instrumental piano yang mendayu-dayu, dia membacakan beberapa baris kalimat yang dipenggal-penggal secara vertikal di layar. Kalimatnya kira-kira begini: “Aku adalah genangan air yang menunggumu, dan kamu adalah hujan badai yang membuatnya meluap lalu dilupakan.”
Saya mengucek mata. Di bawah video itu, jumlah tanda sukanya tembus ribuan. Kolom komentarnya penuh sesak oleh netizen yang mendadak galau berjamaah, merasa jiwanya teriris-iris, lalu menganggap tulisan itu sebagai mahakarya sastra abad ini.
Ada yang berkomentar “Sakit banget sajaknya, Kak”, lengkap dengan emotikon hati retak. Ada juga yang menimpali dengan kalimat yang tak kalah ajaib: “Aksaramu begitu merasuk ke dalam relung renjanaku.” Saya yang membaca komentar-komentar itu malah jadi garuk-garuk kepala yang tidak gatal.
Melihat fenomena ini, pikiran saya langsung melompat ke ingatan belasan atau dua puluh tahun lalu, saat saya masih sering nongkrong di wedangan atau burjo dekat kampus di Jogja. Zaman dulu, kalau ada cowok yang hobi ngomong puitis pakai kata-kata melintir di depan temen-temen tongkrongannya, taruhannya cuma dua.
Kalau tidak diledek habis-habisan sampai mukanya merah padam, ya dianggap sedang kurang waras karena kebanyakan begadang memikirkan uang kosan yang telat. Puisi pada masa itu adalah urusan sunyi. Bersemayam di pojokan perpustakaan yang pengap, di lembar-lembar kertas buram koran Minggu, atau di kamarnya mahasiswa jurusan sastra yang rambutnya gondrong, jaket almamaternya lecek, dan agak jarang mandi.
Puisi adalah barang wingit, elitis, dan hanya disentuh oleh orang-orang yang memang mendedikasikan hidupnya untuk merawat kata.
Tapi sekarang? Zaman sudah jungkir balik secara radikal. Puisi yang dulunya dianggap barang antik yang membosankan dan bikin kantuk, kini bertransformasi menjadi komoditas digital yang sangat seksi dan bernilai jual tinggi. Semua orang mendadak jadi penyair, atau minimal, mendadak merasa perlu terlihat puitis di hadapan publik virtual.
Maka muncullah pertanyaan menggelitik yang terus mengusik isi kepala kita yang doyan melihat realitas secara santai dan apa adanya ini: Ini sebenarnya tanda bahwa masyarakat kita sudah naik kelas literasinya, atau jangan-jangan cuma parade “sok-sokan” massal biar kelihatan keren dan beradab saja?
Mari kita bedah perkara ini secara jujur, khas orang pasar yang tidak suka pakai teori-teori langit atau istilah estetika yang bikin dahi mengkerut. Kalau kita mau berbaik sangka, berjiwa besar, dan memakai kacamata optimisme yang tebal, tren “demam puisi” ini jelas merupakan sebuah berkah yang patut disyukuri.
Bayangkan saja, di sebuah negara yang survei tingkat literasinya sering bikin kita elus dada karena selalu nangkring di urutan bawah skala internasional, melihat anak-anak muda mau menyisihkan kuota internetnya untuk membaca, menulis, atau mendengarkan puisi adalah sebuah keajaiban budaya.
Puisi yang selama puluhan tahun dikurung di menara gading oleh para kritikus sastra berwajah tegang dan dosen-dosen senior, kini mengalami apa yang disebut sebagai “demokratisasi”. Puisi telah turun ke jalanan digital. Ia merangkul siapa saja tanpa perlu menanyakan apakah si pembaca tahu apa itu majas personifikasi, apa itu metrum, atau apa bedanya sajak berbalas dengan pantun kilat.
Dari sudut pandang ini, tren digital ini adalah pintu gerbang literasi yang sangat ramah lingkungan. Setidaknya, melihat linimasa kita dipenuhi oleh remaja yang sibuk merangkai kata indah, meskipun kadang agak maksa, jauh lebih menyehatkan jiwa daripada melihat mereka saling maki urusan politik, pamer saldo ATM, atau tawuran di jalanan.
Di sini, puisi berfungsi sebagai penawar racun dari bahasa harian kita yang makin hari makin kasar, pragmatis, dan kehilangan rasa kemanusiaannya. Namun, sebagai orang yang hidup dengan kaki tetap menginjak bumi nyata, kita juga tidak boleh naif-naif amat sampai menutup mata dari sisi gelapnya.
Fenomena “demam puisi” yang kita saksikan hari ini sering kali bukan lahir dari gairah membaca yang mendalam atau kegelisahan eksistensial yang matang. Sebaliknya, ia sering kali hanyalah anak kandung dari tuntutan estetika visual media sosial.
Di era algoritma yang kejam ini, puisi tidak lagi dinikmati sebagai ruang kontemplasi, melainkan diperlakukan persis seperti filter foto, baju baru, atau kopi susu kekinian. Ia adalah aksesoris untuk mempercantik tampilan luar citra diri atau personal branding.
Seseorang mengutip sajak Goenawan Mohamad atau Sapardi Djoko Damono hari ini, belum tentu karena dia paham betapa berdarah-darahnya sang penyair merenungkan nasib manusia di bumi yang fana ini. Sering kali, kutipan itu dicomot hanya karena takarir atau caption foto cangkir kopinya di Instagram bakal terlihat lebih “senja”, lebih estetik, dan otomatis mengundang lebih banyak jempol jika dikasih bumbu-bumbu puitis.
Puisi tidak lagi dibaca untuk menyelami maknanya, melainkan untuk dipajang agar si pemilik akun terlihat sebagai manusia yang intelek, sensitif, dan memiliki selera seni yang tinggi.
Akibat dari pergeseran fungsi ini adalah terjadinya inflasi kata-kata indah yang miskin makna secara massal. Kata-kata yang dulunya sakral dan magis seperti sunyi, kelam, aksara, renjana, prahara, atau jemari kini diobral murah di mana-mana sampai kehilangan kesaktiannya. Mereka direduksi menjadi sekadar “kutipan galau” pemuas dahaga keterikatan digital atau engagement. Agaknya hal ini merupakan bentuk pelecehan halus, sebuah degradasi massal terhadap esensi puisi itu sendiri.
Kita seolah-olah sedang merayakan kebangkitan sastra, padahal kita sebenarnya cuma sedang jatuh cinta pada citra diri kita sendiri saat sedang terlihat puitis. Jadi kalau ada yang bilang ini cuma urusan “sok-sokan”, ya maaf-maaf saja, bau-baunya memang mengarah ke sana dan kita harus berani mengakuinya.
Paradoksnya semakin lucu dan ironis kalau kita sesekali meluangkan waktu untuk main ke toko buku fisik di pusat kota. Di saat akun-akun pembuat “puisi instan” di TikTok atau Instagram memiliki jutaan pengikut dan videonya ditonton belasan juta kali, nasib buku-buku antologi puisi dari para penyair tulen yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk merawat bahasa dengan keringat dan air mata justru tetap mengenaskan.
Buku-buku mereka tetap setia mendekam di rak paling belakang, berdebu, terhimpit di antara buku panduan membetulkan mesin cuci dan buku cara cepat kaya lewat saham. Kita ini, sebagai masyarakat digital, ternyata hanya senang dengan “kulit” puisi yang manis, instan, dan cepat ditelan, tetapi mendadak malas luar biasa ketika disuruh mengunyah “daging” puisi yang membutuhkan waktu untuk dicerna oleh akal sehat dan pikiran. Kita mendadak mencintai puisi, tetapi kita tetap malas membaca buku.
Lantas, setelah melihat keruwetan ini, apakah kita harus marah-marah, memasang wajah garang, dan mendadak menobatkan diri menjadi polisi sastra? Apakah kita harus merazia setiap remaja yang membuat puisi medioker di media sosial lalu mencaci-maki mereka karena dianggap merusak pakem sastra luhur?
Ya jangan, ndak usah sekaku dan segalak itu hidup di dunia yang sudah terlanjur ruwet ini. Menurut saya, membiarkan orang berproses, meskipun awalnya terasa sangat sok-sokan, norak, dan bikin geli, jauh lebih terhormat daripada membiarkan mereka abai total pada bahasa dan sastra. Menulis puisi yang buruk adalah langkah pertama yang sah untuk bisa menulis puisi yang baik.
Siapa tahu, dari yang awalnya cuma ikut-ikutan tren biar kelihatan keren di mata gebetannya, lama-kelamaan mereka malah penasaran, merasa ada yang kurang dari tulisan instan tersebut, lalu tidak sengaja nyasar membaca karyanya Chairil Anwar, Sutardji Calzoum Bachri, atau Rendra yang beneran. Dari modal “sok-sokan” itulah, benih literasi yang sesungguhnya terkadang justru mulai berkecambah.
Pada akhirnya, demam puisi yang sedang ramai hari ini barulah riak kecil di permukaan air kopi hitam kita. Fenomena ini bisa menjadi pintu gerbang literasi yang sangat bagus, dengan satu syarat mutlak: kita tidak boleh lekas puas dan berhenti di permukaan visualnya saja. Tugas kita sekarang, baik sebagai pengamat, penikmat lama, maupun pelaku sastra, bukanlah sibuk mencaci-maki mereka yang sedang puber puitis demi estetika linimasa.
Kita hendaknya mengajak mereka bergerak dari yang semula hanya gemar memajang kata indah untuk berburu tanda suka, menjadi manusia yang benar-benar mau duduk, membaca, meresapi, dan menghidupkan kembali esensi sastra dalam kesadaran berpikir yang utuh.
Sebab, jika tidak ada upaya untuk mendalaminya, demam puisi ini hanya akan berlalu sebagai bising musiman yang melelahkan. Dan ketika tren visual ini nanti sudah membosankan lalu berganti dengan tren baru yang lebih aneh, kita tentu tidak ingin melihat puisi kembali dilemparkan begitu saja ke tempat sampah kebudayaan kita, ditinggalkan sendirian oleh orang-orang yang sudah sibuk berburu tren estetik berikutnya demi memuaskan dahaga eksistensi diri yang tak pernah ada habisnya.
Wahyu Tanoto. Lahir di Banjarnegara 28 April. Beraktivitas sebagai buruh swasta di Perkumpulan Mitra Wacana, Yogyakarta. Ia menulis, esai, cerpen, fiksi mini dan cerita anak. Puisi-puisinya tersebar dalam berbagai antologi dan dimuat dalam media daring.
Baca Biografi Selengkapnya →