Peristiwa
Duh, Saya Tidak Mengerti Ilmu Hitam Jogja
August 29, 2026
Sejak kecil saya sering didoktrin oleh larangan, “Kalau opa itu tawar makan jangan terima,” “mama ini minta antar ke pasar tolak saja,” atau “om itu panggil tidak usah toleh.”
Larangan yang butuh waktu lama untuk mendapatkan penjelasan dari orang tua, yang merupakan penuturnya. Sehingga larangan itu menjadi bias. Bias bisa berarti ujaran kebencian mau pun peringatan bahwa “mereka itu ada pegang”.
Dalam ilmu morfologi, kata “pegang” adalah morfem bebas dengan kelas kata verba. Tapi, dalam tatanan bahasa, proses afiksasi atau penambahan imbuhan sering dilakukan agar mengubah makna gramatikal. Misal, me + pegang: memegang, di + pegang: dipegang, dan pegang + an: pegangan. Kalau di awalan (prefiks) bisa menjadi verba aktif/pasif dan di akhiran (konfiks/sufiks) menjadi nomina.
Sayangnya, kata “pegang” yang dipredikatkan kepada orang-orang yang diwanti-wanti orang tua itu tak mengalami afiksasi, dan itu membuatnya tampak sederhana, apalagi kalau tidak menambahkan objek setelahnya.
Padahal, di daerah Flores, khususnya di Ende, alih-alih berhenti sebagai verba, kata “pegang” malah terkesan sebagai adjektiva, bahkan tanpa afiksasi. Sebuah bentuk penyifatan kepada oknum-oknum yang mengemban jalan ninja ilmu hitam. Atau di sana disebut sebagai polo wera yang artinya penyihir jahat.
Benarkah mereka itu ada pegang?
Saya tak begitu yakin akan hal itu. Sebab, melihat langsung praktik perubahan wujud (dari manusia menjadi bentuk hewan, misalnya) pun saya tidak pernah. Tapi kalau ada tetangga yang meninggal mendadak, pasti akan keluar dari mulut mama-mama, “Ais pantas, kapan hari opa itu ada beli di mereka pu kios.”
Oknum ilmu hitam selalu mendapat counter-nya oleh oknum ilmu putih, begitulah resolusi dalam sebuah cerita fiktif klasik. Di Flores, ada dua jenis oknum kulit putih: mereka yang berjubah putih (para pastor) dan mereka yang dijuluki (agak geli menyebutnya) “orang pintar”. Para “orang pintar” inilah yang sering memberi legitimasi akan keberadaan para oknum ilmu hitam. Mereka dipercaya mendapat kelebihan untuk menerawang sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang awam.
Yang membikin saya tepuk jidat adalah kebanyakan oknum “orang pintar” di Flores hanya lulus SMA dan ada pula yang tidak selesai sekolah. Lalu apa maksudnya predikat “orang pintar” itu? Toh, jangan sampai oknum sebelah (ilmu hitam), yang dikatakan “pegang” itu, malah lulusan S-1 atau lebih.
Belum selesai perkara dua kubu, muncullah kubu lain, yakni para pengkaji. Nah, mereka ini benar-benar sarjana. Buktinya mereka mengisi acara Panggung Teras Wruh (Ilmu Hitam) pada Kamis sore itu (27/08/2026), di halaman Aula Grha Budaya.
Saya yang duduk di salah satu kursi benar-benar dibikin bingung dengan frasa-frasa yang dilempar oleh Rendra Agusta. Alit Jabang Bayi dan Patub “Letto” sesekali mengajukan pertanyaan, lalu setelah itu membiarkan Rendra mengalir. Istilah-istilah Jawa berhamburan di telinga saya, tetapi tak ada satupun yang masuk.
Penulisan ulang poin-poin yang saya dengar ke buku catatan malah membikin saya jadi kalang kabut. Saya takut salah tulis dan nantinya salah kaprah. Mungkin setidaknya saya melampirkan poin-poin yang saya catat dari pernyataan Mas Rendra Agusta dengan menggunakan teknik extreme close-up ala Bung Muflihun:
Ngelmu Kasampurnan
Ngelmu agama
Ngelmu Kapanditan
Ngelmu Supi
Ngelmu PethekPada saat Islam masuk ke Jawa, terjadi proses demonisasi dari kebudayaan Hindu-Buddha sebelumnya. Citraan dewa-dewa mulai dikurangi dan segala yang bersifat animisme/dinamisme berorientasi menjadi sesuatu yang jahat, gelap, dan hitam.
Mata kanan: Abrahamik
Mata kiri: Kebudayaan
Guna-guna mengubah sifat dan emosional
Teluh langsung menyerang fisik
Pangiwa Tembang kidung untuk menjaga keluarga dari ilmu hitam
Bahan Material yang biasa digunakan:
Pohon Waru untuk melariskan dagangan
Kayu Aeng untuk menghambat penglarisan
Lemah Sangar / Tanah SeramOrang Jawa sering memilih tanah yang datar, sementara tanah miring selalu dihindari, apalagi yang miringnya ke barat. Rumah Jawa selalu menghadap ke timur karena kalau ke barat hawanya akan terasa panas. Ada dua belas jenis tanah yang boleh dan yang tidak boleh ditempati oleh orang Jawa.
Daftar Ngelmu Pangiwa:
1. Ngeluh (braja)
2. Taranjuna: praktiknya dengan ditiup
3. Tenung: lewat ayam jago sebagai medianya
4. Sikir
5. Bajing Kiring
6. Welut Putih
7. Gembolo GeniSekarang:
Mata kanan: Sains dan Ilmu Pengetahuan
Mata kiri: Agama
Pelet menjadi paylaterAda tiga Laku untuk menghadang Ilmu Hitam:
1. Melaku-laku
2. Lelaku: Spiritual
3.Lakon: Kita harus menjadi diri sendiri.
Sampai pukul tujuh malam, suara oknum pengkaji ilmu hitam itu masih menggema. Meski tak begitu mengerti, saya tetap terpukau akan beberapa penjelasan Rendra (yang berbahasa Indonesia) dari periodisasi masuknya Islam hingga proses demonisasi itu.
Dan, dengan diberinya panggung bagi ilmu hitam dan mendekatkannya pada buku, pada sastra, saya kira, itu adalah usaha untuk menghapus batas-batasnya meski kenyataannya sulit. Sebab, garis demarkasi yang melahirkan oposisi biner bisa saja sudah terbentuk sejak kita masih belia dan mungkin sudah dipersiapkan jauh-jauh sebelumnya.
Ia selalu muncul secara implisit seperti “mereka itu ada pegang,” “orang pintar,” dan lain sebagainya. Sehingga, ketidaklugasan itulah yang mengaburkan konteks budaya dan dominasi nilai-nilai keagamaan di sekitarnya.