Peristiwa
Ziggy, Strategi, dan Apa yang Belum Terbahasakan
August 28, 2026 · Muhamad Samsul Hadi
Jam sudah menunjukkan pukul 11.00 WIB, waktu ketika acara dimulai. Panitia mulai mengarahkan peserta yang masih asyik melihat-lihat buku yang berjajar di sebelah panggung ke tempat duduk yang telah disediakan. Cukup banyak yang hadir, hanya beberapa kursi yang tak berpenghuni. Itupun setelah panitia menambahkan dua baris kursi lagi di belakang. Tidak heran sih, ini Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, penulis yang namanya begitu sulit dibaca itu pasti banyak penggemarnya. Bicara soal sastra melakukan defamiliarisasi, maka Ziggy melakukan itu sejak pada namanya.
Talk show hari ini mengangkat tema “Kerentanan Manusia, Ketangguhan Sastra” dan dipandu oleh Tesalonika Maria Kaynna Kersanning Gusty. Seperti yang kuduga, pembahasan pasti lebih banyak soal proses kreatif penulis. Pembahasan terkait tema hanya di awal sebagai pengantar dan terselip di ujung acara. Lalu salah siapa? Moderator sudah sedari awal talk show mengatakan akan mengulik soal cerita dan proses kreatif di balik karya-karya penulis. Jadi wajar saja jika perbincangan bergulir lebih ke soal proses kreatif penulis. Ini lebih tepat disebut “Kerentanan Tema, Ketangguhan Proses Menulis”.
Meski demikian, mungkin hanya aku yang keberatan. Peserta yang datang juga sepertinya lebih ingin mengetahui proses kreatif Ziggy daripada fokus ke tema. Keberatan itu sedikit terobati ketika ada peserta yang bertanya sesuai tema. Peserta bernama Nanida itu mengatakan tema hari ini terkait hal-hal yang membuat kita jatuh (kerentanan manusia) kemudian bertahan dan mencoba memahami diri lewat kata-kata (ketangguhan sastra), sementara tokoh-tokoh dalam beberapa karya Ziggy seringkali tidak benar-benar sembuh dari apa yang membuat mereka jatuh.
Menurutnya, tokoh-tokoh itu justru tumbuh bersama luka dan kehilangan, dan tetap tersisa sesuatu yang tidak mereka mengerti. Pertanyaannya, apakah memahami diri sendiri itu selalu menemukan jawabannya atau cukup belajar menerima kenyataan bahwa memang ada beberapa hal dari diri kita yang tidak pernah ada jawabannya.
Menanggapi pertanyaan itu, Ziggy mengatakan dirinya tidak percaya pada ending dimana semuanya selesai. Dia lebih suka membuka ruang kemungkinan-kemungkinan. Menurutnya, justru lebih optimis ketika kita mengetahui bahwa ada satu kondisi yang tidak bisa serta merta kita tinggalkan. Pertanyaannya, apakah kita memiliki kekuatan untuk menyadari dan mengakui bahwa itu tidak bisa kita tinggalkan dan apakah kita memiliki kemampuan untuk berstrategi dan memitigasi keadaan tersebut. Menurut Ziggy, ending semacam itu lebih positif.
Bukan hanya tema dan pembahasan, cara pikir narasumber dan moderator juga terkesan tidak nyambung. Tesalonika yang berlatar akademik dengan segala teori bedahnya bertentangan dengan cara pandang Ziggy yang lebih mengandalkan rasa dan pengalaman dalam melihat karya.
Ketidaksetujuan/ketidaksepahaman itu beberapa kali muncul dalam respons Ziggy. Ia akan mengatakan, “Nggak bisa dibilang begitu..,” atau, “Aku tidak terlalu memahami pertanyaanmu,” bahkan, “Sepertinya aku tidak sejalan dengan…” sebelum kemudian menjelaskan cara pandangnya sendiri.
Anehnya, aku justru menyukai sikap Ziggy yang blak-blakan ketika tidak sepaham dengan moderator. Ada kesan bebas dan tak tergoyahkan untuk mempertahan pemikiran dan pandangannya.
Ia malah terlihat lebih nyambung dengan para peserta, pembaca setianya, yang mungkin seperti dirinya, lebih menggunakan rasa dalam membaca karya-karyanya. Ziggy akan mengatakan “Aku suka pertanyaanmu, kamu boleh masuk rumahku.” Seperti ketika nona Nanida bertanya.
“Ini nih jika moderator ndak prepare dulu sebelum membawakan acara. Kamu dibayar lho di situ, mbok belajar, baca gitu lo karya-karya penulis,” gerutuku dalam hati. Tapi aku salah, dia bukan ndak prepare, dia telah banyak membaca karya-karya Ziggy, bahkan sejak Fantasteen. Skripsinya pun mengambil objek material Kita Pergi Hari Ini. Tapi memang jalan akademik dan jalan sastra sering kali berbeda.
Aku ingat dosenku, Achmad Munjid, ketika membahas karya-karya Ishiguro, mengatakan seorang penulis yang benar-benar meresapi pengalaman kehidupan, karyanya akan menemukan pasangannya dalam teori akademik. Meski demikian, apa yang dijelaskan teori akademik terkait sebuah karya, belum tentu sama dengan intensi pengarang. Jalan akademik dan jalan sastra lebih seperti dua gerbong kereta api yang berjalan beriringan tapi sebenarnya beda tujuan.
Di luar itu, pembahasan soal proses kreatif Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie sangat manarik untuk diikuti. Saking menariknya, para peserta seperti masa bodoh dengan tema asal dapat mencicipi cerita pengarang dalam menulis. Terkait hal itu, ada satu hal hal yang menurutku perlu aku bagi di sini. Ziggy memiliki cara pandang yang unik saat melihat anak-anak dan cara mereka menghadapi tantangan dan tekanan dalam hidup. Seperti halnya orang dewasa, anak-anak juga memiliki strategi dalam menyelesaikan situasi yang dihadapinya, bedanya mereka tidak memiliki bahasa atau nama untuk menyampaikan atau menjelaskan apa yang mereka lakukan. Penggunaan kata “strategi” di sini membuatku manggut-manggut. Aku seperti sedang mendengar Bourdieu ceramah di depan. Ziggy memberi contoh sederhana, ketika anak dimarahi, strategi mereka adalah diam atau ketika mereka diminta melakukan hal yang mereka tidak sukai, mereka tidak ada di rumah. Balik lagi, mereka seperti halnya orang dewasa, bedanya belum terbahasakan.
Penegasan “pengalaman yang belum terbahasakan” ini menggema keras keras di kepalaku. Inilah sastra itu, pikirku, dunia anak-anak, The Real yang belum sepenuhnya tertaklukkan, sebuah pengalaman langsung tanpa sekat-sekat bahasa. Di sinilah, Kendrick Lamar menambang material untuk lagu-lagunya yang berkali-barkali memenangkan Grammy Award itu. Dan ternyata di sinilah juga, Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie membangun dunia cerita yang membawanya dua kali memenangkan Sayembara DKJ.
Setelah acara selasai, pikiranku terus terpaut pada sedikitnya pembahasan terkait tema “Kerentanan Manusia, Ketangguhan Sastra”. Masih ada rasa tak terima. Namun muncul kemungkinan lain di benakku, mungkin yang dimaksud kerentanan manusia yang dimaksud adalah hidup itu sendiri, dalam hal ini hidup anak-anak. Sementara itu, ketangguhan sastra adalah ketangguhan penulis dalam menuangkan kerentanan hidup ke dalam sebuah karya. Jika demikian, tema sudah tersampaikan dan moderator tidak jadi bersalah.

Lahir di Lombok, 12 Maret 1990. Saat ini tinggal di Yogyakarta. Menyelesaikan S1 Pendidikan Fisika di Universitas Hamzanwadi dan S2 Ilmu Sastra di UGM. Ia suka membaca buku-buku filsafat, novel, lari, dan nonton film. Komentar-komentarnya mengenai ragam hal bisa ditemukan di medium @Hadi Muhamad.