Lewati ke konten

Peristiwa

Tokoh Kita Terkenang Mahkamah Sastra

August 26, 2026

Tokoh kita mencengkeram lutut sebelah kiri dengan jari-jari tangan kirinya dan mencoba mengail gayung dengan tangan kanannya. Lalu, dalam sebuah napas senin-kamis yang berulang-ulang hingga hitungan ketujuh dan sebuah hentakan dari pita suaranya, tiba-tiba, terdengar bunyi plung yang nyaring.

Tokoh kita tak mau tahu, mana yang lebih krusial: mengeluarkan fesesnya yang berbentuk seperti obat nyamuk bakar itu ataukah kloset yang menampungnya.

Toh, yang terpenting adalah terbebas dari hajat yang membuatnya merem-melek saat menahannya, lantas bisa bergegas ke Ruang Wijaya Kusuma buat meliput Loka Karya Cerpen Festival Sastra Yogyakarta 2026.

Itu hari Selasa (25/08/2026), dan tokoh kita mengira isi loka karya nanti adalah kiat-kiat menulis cerpen yang baik dan benar agar bisa lolos kurasi media. Sebut saja Suku Sastra, walaupun menunggu perang dunia ketiga lebih mending daripada menunggu kepastian kapan tulisan kita akan dimuat di sana. (Setidaknya untuk hari-hari ini saja karena semua pengurusnya lagi sibuk di FSY)

Tapi perkiraannya salah. Ia mengabaikan fakta bahwa buku-buku mesianistik macam kiat menulis cerpen yang baik dan benar atau menjadi penulis best-seller kadung beredar luas di pasaran.

Dan jika berbicara tentang latihan menulis yang bisa dilakukan di mana pun dan kapan pun, membaca buku serupa itu sudah cukup. Setidaknya, ia bisa dijadikan guru selagi kita mau membukanya dan tak tergoda buat menjadikannya pemantik kayu bakar setelah membaca sampai lima belas halaman. Apalagi jika di bagian cover buku terpampang “dilengkapi dengan akses 200+ video pembelajaran”.

Wah, Umbu pun sungkem kalau begitu.

Tapi nyatanya, yang sejatinya dicari seorang penulis adalah evaluasi karya yang intim. Joko Gesang Santoso, penulis novel Nyutrayu yang menjadi pembicara loka karya, melaksanakan itikad itu dengan membedah satu per satu dari seluruh karya peserta yang hadir.

Tokoh kita pun sebenarnya pernah menyelenggarakan forum yang, katakanlah, serupa. Dengan gagah—setidaknya begitu yang dirasakannya—tokoh kita dan kawan-kawannya yang dipredikatinya sendiri sebagai “para wali penjaga sastra Indonesia tingkat kampus” membuat “Mahkamah Sastra”.

Tak peduli berapa yang datang, ia membuat forum itu dengan tujuan sederhana: membangkitkan gairah bersastra di jurusannya (yang sebenarnya jurusan sastra tapi ora nyastra blas). Plus, agar kampusnya yang terkenal dengan ranah akademiknya yang kaku bisa agak dicairkan dengan mencoba memasuki ranah kreatif.

Forum itu bertahan selama satu kali penyelenggaraan sebelum kemudian ada rencana, rencana lagi, hingga rencana lagi, yang membuatnya sadar bahwa hidup yang hanya direncanakan berbeda dengan hidup yang benar-benar dipertaruhkan.

Mengingat masa-masa itu, tokoh kita jadi teringat pula pada lirik sebuah lagu: mendung tanpo udan, ketemu lan kelangan, opo iki sing diarani perjalanan. Tapi tentu saja, Mahkamah Sastra memang kelangan, tapi tak pernah kembali ditemukan.

Baiklah, kata tokoh kita dalam hatinya, aku harus fokus pada kerjaanku dulu.

Tokoh kita merasa apa-apa yang disampaikan Joko sebenarnya sudah jelas. Sangat jelas, bahkan. Hanya saja, ia tak tahan hanya menjadi penonton di pojokan sementara satu ruangan seperti berkomplot buat membangkitkan melankolianya akan Mahkamah Sastra.

Bagaimanapun itu membuat tokoh kita sakit hati. Ia memutuskan buat menyapu pandangannya ke sudut-sudut ruangan yang lain. Siapa tahu menemukan seekor kecoa yang tergelincir setelah pendaratan darurat dan tak bisa terbang karena tubuhnya terbalik dan akan mengingatkannya pada Gregor Samsa.

Tapi yang dilihatnya adalah Rinjani, kawannya, yang sangat enak kerjanya. Ia hanya membantu mic merangkak dari satu peserta ke peserta lain yang mau bertanya. Sebentar-sebentar, kalau tak ada yang perlu diurus, ia akan duduk santai sambil memandangi ponsel. Mungkin honornya bisa lebih banyak dariku, begitu tokoh kita pikir.

Tapi hanya melihat tokoh kita gelisah seperti itu akan sangat membosankan. Sebab itu, mari kita coba extreme close up ke dalam sebuah buku catatan yang ada di pangkuannya. Mungkin bisa kita temukan sesuatu yang lebih menarik. Begini isi catatan itu:

1) Tidak ada teori yang mutlak untuk memandu penulisan fiksi.

2) Anda bisa menerima masukan saya, atau menolaknya mentah-mentah, atau menerimanya untuk dibuang ke tempat sampah.

3) Cerpen ya cerpen. Ia bukan ringkasan novel. Makanya menulis cerpen harus fokus pada satu gagasan. Jangan kebanyakan flashback. Memori bisa dijelaskan sekilas-sekilas lewat benda atau hewan atau suara gaduh di rumah tetangga.

4) Tokohmu ini punya motif bagus, tapi jadi goblok pas ketemu kemaluan lelaki. Ia punya idealisme dan cita-cita yang kudu dicapai, dan sayang banget kalau itu terhenti karena jatuh cinta atau bercinta.

5) Gelatik. (Tunggu, ini sepertinya berasal dari label merk di kertasnya yang, karena dorongan kebosanan atau apa, ditebalkan dengan pulpen.

6) Nyutrayu – Joko Gesang Santoso – nyeritain pergundikan – selesai acara pinjem ke siapa pun yang punya buat difotokopi.

7) Joko seharusnya …

Sebentar, kita potong dulu extreme close up-nya karena loka karya ternyata sudah tuntas.

Tokoh kita tiba-tiba mengingat sesuatu. Ia membuka ponselnya dan mulai mengetik.

Usut punya usut, setelah penyadapan ponselnya berhari-hari kemudian, diketahui tokoh kita ini mengajak kawannya, Bryan, buat mengembalikan lagi kejayaan Mahkamah Sastra.

[25/08, 2:38 pm] Bryan Anak Baik:
        Menarik. Sekalian diajaklah adik2 tingkat kita biar ga ngerasa diabang-abangin :v
[25/08, 2:39 pm] Tokoh Kita:
        Itu kau doang yang abang-abangan. Aku engga. (emot ketawa tiga biji)

Satu pesan lagi masuk dari Bryan Anak Baik.

Tapi tokoh kita tak membukanya karena, bagaimanapun, ritual mencengkeram lutut dan mengail gayung harus tetap dilanjutkan walau pun telah dihentikan selama berjam-jam.

Bagi tokoh kita, urip mung mampir ngising.

 

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.