Lewati ke konten

Peristiwa

Membaca Cerpen Umar Kayam Lewat Tafsir Panggung

August 26, 2026

Pertama kali aku bersentuhan dengan karya Umar Kayam adalah melalui cerpennya yang paling terkemuka, yakni Seribu Kunang-Kunang di Manhattan. Ketika itu aku membutuhkannya untuk bahan analisis kebingungan identitas subjek pascakolonial Homi K. Bhabha. Pada sentuhan yang pertama itu, aku langsung kagum dengan kelihaian Kayam meramu subjek yang begitu luas dan kompleks ke dalam sebuah cerpen, seperti menuang lautan dalam sebuah gelas.

Tentang Marno, misalnya, yang tinggal di apartemen mewah di Manhattan dan mengencani wanita kulit putih, namun tetap merasa terasing dan merindukan kampung halamannya yang pedesaaan. Tentang Jane yang melihat Marno sebagai liyan, sesuatu yang asing dan eksotis. Atau tentang kegagalan komunikasi antara keduanya, dan banyak hal lain terkait identitas dan relasi kuasa.

Setelah itu, aku mulai membaca karya-karyanya lain. Kini, Pak Kayam, sapaan akrabnya, menjadi salah satu tokoh budaya yang aku kagumi. Kebetulan, malam ini (25/08/2026), Festival Sastra Yogyakarta (FSY) menggelar pertunjukan Pembacaan Cerpen dan Sketsa Umar Kayam, sebuah kesempatan untuk mengalami karya-karya Pak Kayam dalam suasana yang lain.

Menurut Salman Rushdie, apa yang membedakan karya sastra, termasuk cerpen di dalamnya, dengan karya seni lainnya (lukisan, drama, film, dll.) adalah karya sastra memberikan kesempatan kepada pembacanya untuk membayangkan dan menciptakan dunia ceritanya sendiri, sementara karya seni lain sangat membatasi ini. Misalnya dalam film atau pertunjukan drama, semua penonton akan memiliki Marno, Jane, ataupun Manhattan yang sama karena semuanya telah dihadirkan secara visual. Sementara saat membaca cerpen, masing-masing pembaca akan memiliki Marno yang berbeda sesuai dengan imajinasinya. Karena itulah karya sastra sangat personal, ia lahir dari pikiran dan imajinasi pembaca itu sendiri.

Lantas bagaimana jika cerpen dibacakan dalam sebuah pertunjukan dengan kostum yang mewakili karakter-karakter dalam cerita? Begitu juga dengan ekspresi wajah dan intonasi suaranya. Ditambah lagi dengan ilustrasi musik. Apakah semuanya akan membatasi imajinasi pembaca, dalam hal ini penonton? Atau justru membantu imajinasi penonton sehingga lebih mengalami cerita itu sendiri?

Malam ini, aku mengalami kemungkinan kedua. Tidak bisa dipungkiri ada yang dibatasi, misalnya rupa dan suara tokoh, tetapi di sisi lain ada yang diperkaya, yang mungkin tidak bisa didapatkan hanya dengan membaca.

Misalnya penampilan pertama, Maseko BS yang membacakan cerpen Drs. Citraksi dan Drs. Citraksa oleh Maseko BS. Ia menggunakan kostum perpaduan tradisional dan formal, atasan kemeja berbalut rompi dengan bawahan kain jarik batik, terlihat sangat tidak pas dan norak. Imajinasimu langsung dituntun inilah rupa kebobrokan birokrasi berbalut nepotisme yang dikritik dalam cerpen ini, sangat tidak pas dan norak. Kostum ini seperti menjadi frame untuk melihat kedunguan Citraksi dan Citraksa yang memperoleh jabatan bukan karena kompetensi tapi kerena relasi keluarga—komikal tapi tragis. Dengan begitu, kesan cerita jadi semakin terarah.

Itu baru satu elemen. Bagaimana jika satu orang sebagai pengisah sementara ada juga pemeran karakter yang bertindak sebagai pengisi suara dialog tokoh, seperti penampilan kedua oleh Teater Lentera dari Jepara yang membawakan cerpen Seribu Kunang-Kunang di Manhattan. Tidak hanya suara, tetapi juga kostum, emosi dan ekspresi wajah yang sesuai dengan karakter mereka.

Aku bisa melihat Marno yang pribumi berpakaian seperti orang Amerika, berkemeja putih berbalut rompi hitam. Aku bisa mendengar suara Jane yang tinggi bernada mendominasi, kadang manja, kadang meremehkan. Kemudian imajinasiku membawa kedua karakter ini ke dalam ruangan di Manhattan, dan menggerakkan mereka mengikuti alur cerita yang dibacakan pengisah.

Puncaknya pada penampilan terakhir, masih oleh Teater Lentera, yang membawakan sketsa Suro Sakmadyaning Wono. Di sini, ada ilustrasi musik/suara. Ada suara kereta api yang mengantar kedatangan/kepulangan tokoh, suara peperangan, nada kesedihan, sampai suara motor lewat di depan rumah, mengiringi pembacaan cerita. Jika sebelumnya, penonton hanya bisa mendengar suara tokoh, kini latar pun bersuara. Imajinasi jadi semakin dibangkitkan untuk mencipta dunia cerita. Meskipun berbentuk monolog, aku merasa sesi ini menjadi puncak dari pengalaman sebelumnya. Pengisah begitu menjiwai ketiga karakter yang dibawakannya. Ekspresi, intonasi, modulasi, sampai gerak-geriknya begitu penuh sehingga seakan tidak ada jalan bagi penonton untuk tidak menyaksikan (tentunya dalam imajinasi masing-masing) tragedi yang dialami Suro Sakmadyaning Wono.

Begitulah pertunjukan Pembacaan Cerpen dan Sketsa Umar Kayam malam ini. Aku sendiri sangat menikmati pertunjukannya. Aku rasa bukan karena ini kali pertama, tetapi lebih kepada pengalaman berbeda yang disuguhkan. Meskipun ada pembatasan, dunia cerita akhirnya tidak dibangun di atas panggung, ia hanya memberi arah dan memperkaya bahan bagi penonton untuk membangun dunia cerita dalam pikiran atau imajinasinya sendiri.

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.