Peristiwa
Hatarakibachi dalam Laku Menyembunyikan Luka
August 26, 2026
“Pernah suatu waktu beberapa orang di kampung lari keluar rumah. Mereka kira suara gempa, tapi ternyata itu suara mesin sensor kayu. Makanya, di kampung, hampir tiap jam putar musik kencang-kencang supaya orang-orang tidak terlalu cemas,” tutur temanmu yang baru tiba di Jogja selepas liburan panjang kemarin malam.
Oleh sebab gempa susulan yang hanya berselang beberapa jam, maka membunyikan musik dengan mini sound menjadi pelarian untuk menghilangkan cemas di kampungnya. Kau cukup sangsi mendengarnya dan menebak-nebak: jenis musik apa yang mereka putar? Diputar secara acakkah atau di-request sesuai suasana?
Ada sesuatu yang janggal dengan tuturannya itu, sebab bukankah keras suara musik bisa menambah musibah. Bahwa para penduduk akan terlena dan tidak bisa mewaspadai gempa susulan. Tapi, apa boleh buat, tiap-tiap orang memang punya mekanisme pertahanan dirinya sendiri-sendiri.
Hal yang sama juga terjadi pada suatu siang di Aula Grha Budaya (25/08/2026), sewaktu kau menghadiri diskusi buku cerpen Hatarakibachi, ketika Fairuz Mumtaz melempar tanya, “Sepengetahuan saya, karya pengarang perempuan selalu identik dengan luka. Nah, apakah Hatarakibachi juga banyak mengandung luka?”
Pertanyaan itu ditujukan kepada Naufal Waliyudin (biasa dipanggil Madno) selaku pengulas. Sedangkan penulisnya, Awit Radiani, kelihatan terkejut mendengar pertanyaan itu. Kau terpukau dengan umpan ciamik dari Fairuz yang berkualitas walau pun tiba-tiba.
Madno tersenyum-senyum, dan dengan berkelakar mengumpamakan bunyi pertanyaan Fairuz seperti mobil yang mendadak berpindah ke gigi tiga. Kau pun merasakannya, bagaimana diskusi yang sedari awal berjalan santai tanpa aba-aba langsung menjadi serius. Awalnya banyak menyinggung persoalan-persoalan proses kreatif, kemudian seketika berpindah ke dalam teks.
“Ya, ada upaya meromantisasi luka perempuan dalam buku ini. Namun, Mbak Awit selalu melakukan pembelokan nasib tokoh di akhir cerita. Di mana ada beberapa tokoh yang memiliki taktik atau siasat untuk meninggalkan luka,” jelas Madno.
Mencermati jawaban Madno, kau teringat lagi akan cerita temanmu semalam tadi dan kembali melempar dugaan-dugaan dalam hati: jangan sampai, karena saking terbiasanya dengan gempa, mereka bisa dengan mudah meromantisir bencana.
Kemudian, untuk mencari muara dari luka perempuan, Madno mengakui bahwa ia mencoba mencurigai representasi tokoh laki-laki dalam cerpen itu. Dan, ia menemukannya hanya ada pada dua tokoh laki-laki baik dalam sekian cerpen di bukunya.
“Sisanya, puluhan tokoh lain itu begundal. Ada yang berselingkuh, meninggalkan anak-istri hingga yang menyewa pemukul bayaran,” tukas Madno.
Bahkan kata Madno, dalam Hatarakibachi, laki-laki yang baik sekali pun akan bernasib buruk di akhir cerita. Disebutkannya tokoh ayah (termasuk satu dari dua tokoh baik) yang disalahpahami oleh anaknya karena tidak pernah bercerita akan sosok sang ibu. Ia sempat disangka gay oleh si anak karena saking menutup diri dengan lawan jenis.
“Awit, kenapa cerpen-cerpenmu tampak suram sekali?” tanya Fairuz dengan ketiba-tibaan mobil gigi tiganya.
“Aku kalau bikin cerita, itu sebenarnya orangnya ada!” jawab Awit lugas.
“Siapa itu lelaki baik yang kemudian bernasib buruk?” ucap Fairuz penuh penasaran.
Berdasarkan pengakuan Awit, tokoh ayah yang merahasiakan istrinya tadi terinspirasi dari seorang seniman teater Jakarta yang merupakan kenalannya.
“Aku memang suka berangkat dari kisah nyata, tapi tetap ada curcolnya,” tambah Awit.
Awit juga mengakui kalau dirinya tipe orang yang suka mengamati. Apapun di sekitarnya dia amati, dan itu berangkat dari rasa penasaran serta rasa ingin tahu. Oleh karena itu, objek-objek nyata selalu menjadi pantikan untuk menulis, bahkan dihadirkan secara implisit di dalam cerpen.
Selain itu, ia secara terang-terangan mengatakan kalau tidak terlalu menyukai buku-buku dengan pembahasan yang berat. Karenanya, buku-buku komik yang biasa mengisi waktu senggangnya, juga ikut mempengaruhi cara berpikir dan menulisnya yang cenderung komikal.
“Untuk mengonfirmasi tentang luka-luka yang disebutkan tadi, apakah luka itu real atau kamu sendiri sedang terluka?” tanya Fairuz masih dengan gayanya.
Hadirin tertawa lepas merespon ke-blak-blak-an Fairuz, sedangkan kau diam-diam merasa bersalah karena telah meragukan cerita temanmu semalam dan menyepelekan luka kolektif itu.
“Aku juga punya luka dan aku mau mencoba menyandingkan lukaku dengan luka-luka mereka—tokoh-tokoh dalam cerpen itu,” ujar Awit jujur.
“Apa ada kemungkinan kamu menyembunyikan lukamu di balik tokoh-tokoh itu?” timpal Fairuz.
“Bisa jadi ya…” susul Awit ragu.
Fairuz pun sekali lagi berusaha mengonfirmasinya dengan menanyakan ke Madno tentang persentase kehadiran penulis dalam cerita. Menurut Madno, kemunculan suara penulis di cerita bisa bergantung pada kebutuhan si penulis sendiri: apakah kemunculan tersebut bisa menyembuhkan lukanya sendiri atau tidak.
Ditegaskan pula oleh Madno bahwa suara penulis haruslah dikemas sedemikian rupa, agar tidak bocor dan diketahui para pembaca. Tapi, hemat Madno, jika untuk tujuan praktis subjective for being atau kesejahteraan pribadi, bisa dipertimbangkan karena di satu sisi ia menjadi terapi.
“Kira-kira Mbak Awit berhasil nggak dalam bersembunyi itu?” kembali Fairuz menaikkan gigi.
“Kalau sembunyinya, tidak cukup berhasil, ya. Jadi, saya merasa, diri pengarang masuk di dalam cerita juga dalam naratornya,” jawab Madno disertai tawa kecil.
Terlepas dari kritik itu, Madno tetap memuji mutu bertutur Awit yang sangat puitis. Beberapa nukilan kalimatnya pun bagi Madno bisa menjadi puisi jika diubah dalam tipografi. Pun dengan gaya bertuturnya yang sangat detail, tak segan-segan disandingkan Madno dengan sastrawan Ahmad Tohari.
Di akhir sesi, kau kembali terlempar ke kisah gempa malam tadi. Kau coba mengingat-ingat ekspresi wajah dan gaya tutur temanmu. Dan menjadi yakin bahwa laku menyetel musik, dan bersembunyi di balik narator sama-sama tak berhasil menyembunyikan luka.