Lewati ke konten

Peristiwa

Komentar Penyair Senior atau Bagaimana Jika Hantu Llosa Gentayangan di Embung Giwangan

August 26, 2026

Saya termenung. Diam dan tidak bereaksi apa-apa sejenak. Sambil sesekali meneguk kopi dan mengepulkan asap, malam ini (24/08/2026) saya teringat obrolan kemarin siang ketika seorang penyair senior tiba-tiba mendatangi saya dan tak lama kemudian berkata, “sastra Indonesia tuh masih inferior, ya.”

Sastra Indonesia masih inferior!

Saya mengangguk-angguk juga ketika mendengarnya. Saya nyaris sepakat sepenuhnya.

“Tapi, mbak,” ujar saya menanggapinya siang itu, “mau bagaimana lagi?”

Ya, mau bagaimana lagi. Datanglah ke mari dan tengoklah betapa banyak kontradiksi di sini, di Festival Sastra Yogyakarta, di Taman Budaya Embung Giwangan ini.

Melekatkan kata “sastra” dengan “festival” saya membayangkan cuma ada sastra dan keramaian yang disebabkan olehnya. Tetapi, fakta di lapangan bakal membuat kita—para pecinta atau malah hamba sastra ini—tersentak.

Lihatlah, betapa pendar pemandangan di sini bakal mengganggu para hamba sahaya sastra.

Masuklah ke dalam gedung Grha Budaya dan perhatikan lalu lalang orang di pasar sastra. Sunyi senyap, persis bait-bait dalam puisi. Hanya tiga-empat terlihat mengantre di kasir dan keluar dari gedung dengan membawa buku, itu pun tidak semua buku sastra.

Pendarkan pandangan Anda sedikit ke timur dari pasar sastra, lihatlah ada pameran apresiasi (alih wahana) sastra di sana. Tapi, dua orang guide yang senantiasa duduk dan berjaga di sana sejak pagi mula, tak ubahnya bagian dari pameran saking jarang sekali orang yang mereka pandu buat menunjukkan apa-apa yang dipamerkan di sana.

Siang atau sore ketika diskusi soal buku kumcer atau novel atau puisi dilangsungkan, hanya ada satu shaf atau bahkan kurang orang yang datang. Itu pun nyaris (atau kadang-kadang lebih) dari setengahnya adalah panitia yang menjelma penonton bayaran dan satu-dua pencatat peristiwa yang pura-pura tekun menyalin pembicaraan untuk sekedar jadi bahan tulisan.

Kesunyi-senyapan itu barangkali hanya bisa disembuhkan oleh dua: jajanan dan pertunjukan (terutama musik). Dua hal yang membikin halaman gedung jadi ramai. Berbanding terbalik dengan di dalam gedungnya yang terdapat pasar, pameran apresiasi, dan diskusi sastra itu. Kekontrasan yang begitu kentara.

“Seolah sastra,” ucap penyair senior siang itu, “perlu sekali buat didatangi orang banyak.”

“Supaya bisa ramai, musik-musik yang cuma genjrang-genjreng itulah yang didatangkan,” begitu lanjutnya sebelum memungkasi kalimat yang saya sebut di muka. Kalimat-kalimat yang jelas menemukan gaungnya di FSY sini.

Tiba-tiba, dari arah depan, dengan pengeras suara yang disetel cukup kencang, suara perempuan yang disambut seorang lelaki, membuyarkan lamunan saya. Mereka—yang perempuan bernama Deena, yang lelaki Wafiq—mengenalkan diri sebagai pemandu acara dan kemudian menyebutkan apa yang hendak ditampilkan di depan. Tiga perwakilan instansi atau komunitas disebut di bawah satu mata acara: Musikalisasi puisi.

“Tapi, mbak,” kalau saja saya masih mengobrol dengan penyair senior itu, “bagaimana dengan musikalisasi puisi?”

Pemandu acara kemudian memanggil perwakilan SMAN 1 Depok. Mereka membawakan dua lagu musikalisasi puisi yang judulnya cukup asing di telinga saya.

Sekolah Puisi Yogyakarta kemudian berturut-turut tampil. Tidak untuk menampilkan musik atau musikalisasi puisi, melainkan membacakannya—sambil diiringi musik. Ada delapan anak yang bersamaan membacakan satu puisi, kemudian seorang dan seorang lagi.

Terakhir, Tulalit Band, teman-teman saya dari prodi sebelah (PBSI) ikut tampil. Mereka membawakan enam lagu musikalisasi puisi.

Musikalisasi puisi barangkali adalah perpanjangan tangan dari puisi atau sastra itu sendiri. Saya tidak tahu bagaimana tanggapan penyair senior itu. Tapi mengingat bahwa kesunyi-senyapan gedung Grha Budaya—yang saya sebut lebih dulu tadi—jadi tak tercium dari luar sini, saya jadi teringat sastrawan lain lagi: Mario Vargas Llosa.

Ia yang bukan lagi sastrawan senior tapi sudah menjelma hantu—roh halus yang menggentayangi sastra dunia. Seseorang yang tahun lalu baru saja dikuburkan itu pernah menulis begini: “[…] di mana kenikmatan, untuk lari dari kebosanan, menjadi hasrat universal,” ketika mengomentari peradaban hari ini yang, baginya, sudah menjelma peradaban hiburan dan kebudayaan modern telah mengalami dekadensi.

Kebudayaan, kata Llosa, sudah tak lagi independen. Ia telah dicengkeram oleh pasar dan diukur dalam patokan komersial: laku bukan mutu.

“Laku” bukankah itu juga yang menjadi kata kunci dalam penyelenggaraan FSY tahun ini?

Kata yang sejak awal memang menanggung beban ganda. Laku sebagai tindakan bahkan tirakat, sekaligus laku sebagai laris. Membenturkan dua hal yang boleh jadi kontradiktif.

Agaknya, memang kita tidak bisa menyalahkan FSY atau mitra penyelenggaranya yang logo mereka tertempel di mana-mana itu. Saya yakin, mereka pun punya pertimbangan-pertimbangan tersendiri. Mereka merespons ruang dan lingkup tempatnya mengada. Kompromistislah, sepertinya, yang kemudian diusahakan menjemput idealitas buat bertemu di tengah-tengah. Yang kemudian, pelan-pelan, diusahakan lagi berbarengan menuju kondisi ideal yang masih jauh di sana. Semoga!

Jadi, betullah telaah Llosa itu?

Entahlah, barangkali itu hanya—meminjam komentar Ronny Agustinus atas tulisan Llosa—gerundelan penulis tua. Llosa yang tengah mengalami pesimistis dan memandang hari ini dari tempurung kepalanya sendiri yang masih tertinggal puluhan tahun lalu—seperti juga beberapa orang tua di sekitar Sastra Indonesia.

Namun, boleh jadi, jika arwah penasaran betulan ada, Llosa akan menjelma hantu yang menggentayangi banyak tempat dan ruang. Termasuk mampir ke Embung Giwangan, tempat penyelenggaraan FSY 2026, kemudian tertawa keras dan berkata: “Betul kan apa yang aku bilang!”

Tentu dengan bahasa hantu Peru yang membawa jejak-jejak Amerika Latin di lidah gaibnya.

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.