Reviu Buku (Kumpulan Puisi)
Cinta, Tuhan, Ajal
Cinta, Tuhan, Ajal
SUKUSASTRA – Sejatinya tidak ada tema usang untuk diusung ke dalam karya sastra selagi pengarang mampu mengeksplorasi tema yang diangkatnya dan membuat tema itu “tampil beda” dengan garapan pendahulunya. Hanya saja, tak sedikit yang beranggapan bahwa tema cinta terlalu berisiko. Setiap kali mendaras sajak cinta, misalnya, sudah barang tentu kita akan mendapati ungkapan kemesraan, kerinduan, kekecewaan, kehilangan, dan semacamnya. Sebagian penyair khawatir terperosok di kubangan kisah picisan, terlebih jika belum sanggup beranjak dari pola konvensional tanpa pembaruan meyakinkan. Salah-salah mereka bakal jadi bulan-bulanan kerewelan kata-katanya sendiri.
Di tengah surutnya minat penyair mutakhir terhadap puisi romansa, Royyan Julian lebih memilih menyongsong arus. Di Ranjang Poskolonial (2025), ia menyuarakan perasaan-perasaan alamiah tadi dengan beragam pengalaman yang melahirkannya. Walau demikian, 61 puisi dalam buku ini bukanlah untaian bait sentimental belaka. Puisi-puisi yang terhimpun, meski bercorak naratif dan karenanya relatif cair, tampak digarap dengan pertimbangan yang sangat matang, penuh kehati-hatian, sarat alusi dan metafora, sehingga tidak jatuh sebagai puisi liris yang—meminjam Nirwan Dewanto—bergerak memusat, menyusut ke dalam dirinya sendiri.
Royyan bukan penyair puber yang mengandaikan puisi sebagai mangkuk dangkal bagi luapan emosi. Ia sadar, “bentuk” adalah pertaruhan akbar yang tak dapat ditawar. Memang, keberhasilan seorang penyair atau penulis, kata Budi Darma, diukur dari bentuk karyanya, sebab mau tidak mau isi atau gagasan pengarang akan tertampung pada bentuk. Sebuah bentuk yang jelek tidak mungkin menampung isi yang baik dan sebuah isi yang baik tidak mungkin ditampung oleh bentuk yang miskin (Pengantar Teori Sastra, hlm. 79-80).
Lantaran pengutamaan bentuk itulah, tema cinta di tangan Royyan bisa terselamatkan. Ranjang Poskolonial tampil sederhana, sesekali juga memperdaya, tetapi enggan membuat pembaca tersesat dalam kebingungan yang berlarat-larat. Ada keseimbangan gaya ucap yang senantiasa terjaga. Beberapa puisi bergerak samar-samar menepis wasangka, sementara puisi lainnya mencoba patuh pada kahar penafsiran. Tatkala sebuah stanza memberi kelonggaran, stanza yang lain berupaya memperlambat ritme pembacaan.
Berbeda dengan ketiga buku puisi Royyan sebelumnya, analekta ini tampak menjaga jarak dengan atribut puitik yang potensial menunda pemahaman kita, serta tak berhasrat mengais diksi-diksi arkais/klasik yang menuntut kita mendedah kamus berkali-kali. Namun, sang penyair paham, bagaimanapun pembaca karya sastra tidak boleh dimanja. Maka, alternatif yang ditempuh ialah mengoptimalkan kesedapan bahasa, selain menyematkan sejumlah interteks dari pengetahuan yang dikuasainya.
Alhasil, baik kisah romantis maupun tragis yang tersaji di hadapan kita tidak maujud sebagai memoar. Senarai kisah itu pun sebenarnya bukan melulu cerita yang lekat di telinga. Terkadang ada hal lain yang tersembunyi di balik suatu perkara, seolah cerita ganjil itu diimpor dari negeri antah-berantah. Sebagai contoh, berikut saya cantumkan nukilan sebuah puisi:
Mantan kekasihku melahirkan seekor harimau prematur di antara gerimis dan petang.
Di ranjang berkelambu pernah kubakar empat perawan yang siap dibuahi tetapi apinya padam.
(“Seminar Demografi di Ranjang Berkelambu”, hlm. 25)
Lebih daripada itu, karena seorang penyair memang didesak untuk senantiasa menemukan pengucapan segar atau baru bagi puisinya, Royyan tidak kehabisan akal menyulap ujaran komunal menjadi milik personal. Mari perhatikan cara Royyan menggambarkan hubungan yang hambar dalam “Pertemuan yang Dingin”, tetapi aku-lirik begitu sulit meninggalkan pasangannya: Nalurimu pucat seperti orang mati./ Aku adalah arwah yang dipaksa/ lepas dari jasadmu. (hlm. 44); atau dalam puisi “Luka yang Indah”, judul yang terkesan receh ini ternyata berisi larik-larik dengan daya kejut tentang suatu penerimaan atas kekurangan: Pelan-pelan aku menyingkap kainmu./ Di sanalah kutemukan luka paling indah./ Di situlah dahulu seekor ikan/ menjadi manusia. (hlm. 54)
Rupanya, cinta di Ranjang Poskolonial tidak hanya asyik sendiri. Ia kerap bergelut dengan Tuhan dan maut. Ada kalanya kata “Tuhan” sebatas singgah di ujung lidah (“Di Lantai Dua” & “Obituarium Ayah”), kadang terlibat dalam keintiman dua insan yang sedang kasmaran (“Stigmata”), terasa dekat dan karib dengan aku-lirik (“Malam itu Tuhan Termenung di Sudut Kafe” & “Sifat-Sifat Tuhan”), kadang juga digugat kehadiran-Nya (“Patah Hati” & “Membesuk Trauma”) sekaligus dirindukan ketiadaan-Nya (“Mencari Masa Silam”).
Satu puisi yang menarik perhatian saya adalah “Malam itu Tuhan Termenung di Sudut Kafe”. Di ruang puisi ini, relasi hamba dan Sang Pencipta tak terhalang hijab apa pun. Tuhan tampak konkret di depan mata aku-lirik, beradu pandang dan berbincang, sehingga dirasa benar-benar terbukti keberadaan-Nya. Perjumpaan imajiner tersebut seakan melabrak konsep abstrak yang selama ini diyakini oleh suatu golongan, bahwa “Tuhan lebih dekat dari urat nadi”, yang betapa pun dekat tetap saja tiada pernah terlihat.
Penggambaran semacam ini kurang-lebih sama dengan apa yang ditulis Chairil Anwar dalam puisi “Di Mesjid”: Kuseru saja Dia/ Sehingga datang juga// Kami pun bermuka-muka. Tapi, Royyan menuliskannya dengan latar dunia urban, malah bisa dibilang “profan”—yakni kafe—seperti ingin menegaskan bahwa Tuhan tidak hanya hadir di rumah ibadah. Dalam hal ini, puisi “Malam itu Tuhan Termenung di Sudut Kafe”, sepintas, senada dengan puisi “Tuhan di Kedai Kopi” gubahan M. Aan Mansyur: “segelas kopi yang kugenggam sembari mengenang/ hidupku yang terhapus adalah tuhan yang hangat.”// “aku sendiri. tuhan sendiri. aku masih berharap/ dia mau berteman baik denganku.”
Adapun kata “maut”, “ajal”, atau “kematian”, selalu terpancang di antara baris-baris melankolis, seperti dalam puisi “Turbulensi”, “Obituarium Ayah”, “Serenada”, “Metafora Pengkhianatan”, “Lapar”, “Gospel Sepasang Kekasih”, dan “Hantu Kesepian”. Persona lirik takluk di hadapannya. Tiada perlawanan. Bahkan, dalam “Hantu Kesepian”, cinta seolah kehilangan martabatnya ketika aku-lirik memutuskan menggumuli maut ketimbang tersiksa karena cinta, sebab cinta dan derita/ setipis jelaga. Atau justru cintalah yang lebih digdaya?
Keduanya, ternyata, sama kuatnya. Sama ambisiusnya. Bila kematian tak punah dikikis sejarah (hlm. 4),maka cintamu yang sengit juga takkan hilang dari sejarah (hlm. 23). Dua-duanya tumbuh dan menubuh dalam diri aku-lirik, kendatipun pada saat yang sama terasa asing.
Cinta, Tuhan, ajal, merupakan tiga terma yang saling bertali-temali di Ranjang Poskolonial. Sadar atau tidak, Royyan menepuk pundak kita bahwa kita tidak berdaya di bawah tirani ketiganya, atau salah satu dari ketiganya. Di samping itu, bunga rampai ini meyakinkan kita bahwa sajak cinta masih layak ditulis dan dibaca. Tentu saja sajak cinta yang tak sekadar terobsesi pada linang air mata, senandung rindu, buaian sunyi, dan denyar senja.***