Lewati ke konten

Dongeng Dari Cina : Anak Melon

September 14, 2026 · Anonim

Sukusastra-Sepasang suami istri petani hidup bahagia di sebuah desa terpencil. Mereka memiliki kehidupan yang sangat tenang dan damai. Namun, mereka berdua selalu merasa hampa karena belum memiliki anak.

Ketika musim dingin yang sangat dingin datang, kebun mereka menjadi kering. Tidak ada sayuran yang bisa tumbuh dengan baik di ladang mereka. Mereka hanya berhasil memanen satu buah melon yang berukuran kecil.

Saat dibawa ke dalam rumah, sang istri merasa sedih dan kecewa. Tiba-tiba saja, buah melon yang diletakkan di meja itu berbicara. Melon itu meminta izin untuk diangkat menjadi anak di rumah mereka.

Sepasang petani itu merasa sangat heran melihat buah yang bisa berbicara. Namun, melon itu menjawab bahwa mereka telah merawatnya dengan sangat baik. Akhirnya, mereka berdua sepakat untuk memanggilnya dengan nama Anak Melon.

Tak disangka-sangka, Anak Melon ternyata bisa melakukan berbagai pekerjaan yang berat. Ia sangat rajin membantu ayah dan ibunya di ladang setiap hari. Anak Melon bisa membajak, menanam, menyiram, dan membersihkan seluruh ladang.

Semua kebutuhan harian sepasang petani itu kini sudah bisa dipenuhi. Beberapa tahun kemudian, sebuah perang besar mendadak pecah di wilayah kerajaan. Seluruh anak muda diwajibkan untuk ikut serta menjadi militer kerajaan.

Kewajiban militer itu juga berlaku bagi anak sepasang petani tua itu. Sepasang petani yang panik segera memohon kepada para pengawal kerajaan. Mereka meminta agar Anak Melon dibebaskan karena ia terlahir dari melon.

Pengawal kerajaan mengajukan syarat yang sangat berat bagi sepasang petani. Mereka harus menyediakan segepok emas untuk melapisi jalan menuju gerbang istana. Petani itu tentu saja tidak sanggup memenuhi syarat tersebut.

Secara mengejutkan, Anak Melon mengatakan bahwa ia sanggup memenuhi syarat itu. Ia meminta waktu selama dua hari untuk bisa mengumpulkan emas. Ibu tani langsung menangis karena merasa hal itu sangat mustahil.

Anak Melon dengan sangat percaya diri menenangkan hati ibunya yang sedih. Ia hanya meminta dicarikan tiga ekor binatang yang sangat unik. Binatang itu adalah anjing berkaki tiga, ikan merah, dan ikan putih bersih.

Sepasang petani yang kebingungan segera mencari ketiga binatang itu ke sungai. Menjelang sore hari, mereka berhasil membawa pulang semua pesanan Anak Melon. Kedua ikan lalu dimasak, kemudian diberikan untuk makanan anjing berkaki tiga.

Anak Melon lalu mengambil sebatang bambu yang berukuran kecil tetapi keras. Ia meminta sang ayah membawa anjing tersebut menuju ke istana kerajaan. Sang ayah harus memukul anjing itu sepanjang perjalanan dengan bambu tersebut.

Saran dari Anak Melon langsung dilakukan oleh sang ayah keesokan harinya. Sebuah keajaiban terjadi setiap kali anjing berkaki tiga itu dipukul bambu. Anjing itu mengeluarkan kotoran yang langsung berubah menjadi bongkahan emas murni.

Jalanan dari rumah petani hingga gerbang kerajaan kini penuh dengan emas. Berita keajaiban itu akhirnya terdengar sampai ke telinga raja yang berkuasa. Raja kemudian setuju untuk membebaskan Anak Melon dari wajib militer.

Berkarung-karung emas kini telah tersimpan dengan rapi di gudang kerajaan. Petani tua itu pun bisa pulang ke rumah dengan perasaan tenang. Namun, bertahun-tahun kemudian, muncul bau yang sangat menyengat di kerajaan.

Bau busuk itu menjadi racun berbahaya yang menyebabkan banyak orang sakit. Setelah diperiksa, bau itu ternyata berasal dari gudang harta milik raja. Semua tumpukan emas kini telah berubah kembali menjadi kotoran anjing.

Raja menjadi sangat murka dan menyuruh pengawal menangkap keluarga petani. Namun, keluarga petani itu sudah menghilang dan tidak pernah ditemukan lagi. Mereka semua kini hidup dengan aman dan bahagia di tempat baru.

Pesan Moral / Hikmah Cerita

Keserakahan dan kelicikan pada akhirnya hanya akan membawa petaka bagi diri sendiri. Kita harus selalu menghargai ketulusan orang lain dan tidak memanfaatkan keadaan demi keuntungan pribadi. Kejujuran serta kerja keras adalah harta berharga yang paling hakiki dalam kehidupan. Kebahagiaan sejati tidak akan pernah bisa ditukar dengan tumpukan emas yang palsu.

Tentang Penulis

Anonim

Profil penulis Anonim.

Baca Biografi Selengkapnya →
Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.