Lewati ke konten

Dongeng : Janda Tua Kota Stavoren

September 13, 2026 · Anonim

Sukusastra-Dahulu kala, Kota Stavoren adalah pelabuhan tertua di Belanda yang sangat ramai. Di dekat pelabuhan itu, hiduplah seorang pedagang kaya yang sangat baik hati. Ia memiliki banyak kapal besar untuk berdagang ke berbagai negara. Pedagang itu selalu menolong orang miskin dan memperlakukan pekerjanya dengan sangat adil.

Ketika pedagang itu meninggal dunia, seluruh kota merasa sangat sedih. Namun, sang istri justru merasa senang karena ingin menguasai semua harta. Istri pedagang itu menjadi janda yang sangat sombong dan egois. Ia langsung mengusir semua orang miskin yang datang meminta bantuan ke rumah megahnya.

Janda tua itu terus mengembangkan usaha suaminya hingga menjadi semakin kaya raya. Kekayaannya bahkan dikabarkan melebihi kekayaan raja dan keluarga kerajaan. Namun, ia tidak pernah merasa puas dan selalu ingin memburu barang-barang mewah. Ia memerintahkan semua pegawainya berlayar ke seluruh dunia untuk mencari harta karun.

Kapal-kapalnya pulang membawa ukiran gading dari Afrika dan sutra indah dari Cina. Ada juga rempah-rempah dari Hindia Timur dan kuda putih dari Arab. Mereka juga membawa karpet sutra dari Turki serta vas indah dari Yunani. Meski rumahnya penuh barang mewah, janda sombong itu tetap merasa belum puas.

Suatu hari, kapal terakhir pulang dari Pantai Baltik dengan membawa muatan gandum emas. Kapten kapal mengira majukannya akan senang karena gandum itu berkualitas sangat tinggi. Gandum tersebut bahkan cukup untuk memberi makan seluruh kota selama satu bulan penuh. Sayangnya, janda tua itu justru marah besar karena menganggap gandum tidak berharga.

Di tengah kemarahannya, seorang kakek tua yang miskin datang meminta sekarung gandum. Janda itu menolak dan malah menyuruh pekerja membuang seluruh gandum ke laut. Ia lalu melepas cincin emasnya yang sangat mahal dan membuangnya ke dalam air. Janda itu berkata bahwa ia lebih baik membuang cincin daripada membantu orang miskin.

Kakek tua itu lalu memperingatkan sang janda dengan tenang namun tegas. Ia berkata bahwa cincin itu akan kembali dan sang janda akan menjadi pengemis. Janda sombong itu hanya tertawa keras dan mengabaikan ucapan si kakek. Beberapa hari kemudian, seorang pelayan memasak ikan segar untuk makan malam sang janda.

Saat ikan dibelah, janda itu terkejut karena menemukan cincin emasnya di dalam perut ikan. Ia merasa ketakutan dan langsung teringat pada ucapan kakek tua tempo hari. Tiba-tiba, langit berubah menjadi sangat gelap dan badai besar datang melanda. Hujan deras turun selama berhari-hari tanpa henti hingga menyebabkan banjir besar.

Air laut naik sangat tinggi dan menenggelamkan seluruh kota, termasuk rumah mewah si janda. Semua harta benda dan kapal-kapalnya hanyut tenggelam ke dasar laut terdalam. Janda tua itu berhasil selamat, tetapi ia kini tidak memiliki apa-apa lagi. Ia menderita kelaparan dan kedinginan di jalanan sendirian.

Tidak ada satu pun penduduk desa yang mau menolong atau memberinya makan. Janda itu dahulu sering memaki dan menghina semua orang di kota tersebut. Akhirnya, ia pergi meninggalkan kota dan terpaksa memakan makanan sisa yang dibuang orang. Kini, ucapan kakek tua itu menjadi kenyataan dan sang janda benar-benar menjadi pengemis.

Pesan Moral / Hikmah Cerita

Kekayaan dan harta benda di dunia ini tidak bersifat abadi dan bisa hilang dalam sekejap. Kita tidak boleh menjadi orang yang sombong, serakah, dan tinggi hati kepada sesama. Hormatilah orang lain dan bantulah mereka yang membutuhkan dengan tulus agar hidup kita selalu berkah dan bahagia.

Tentang Penulis

Anonim

Profil penulis Anonim.

Baca Biografi Selengkapnya →
Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.