Lewati ke konten

Dongeng Beatrix Potter: Peter Rabbit

August 30, 2026 · Beatrix Potter

Sukusastra-Di bawah akar sebuah pohon besar, hiduplah satu keluarga kelinci yang hangat. Ibu kelinci tinggal bersama empat anaknya, yakni Flopsy, Mopsy, Cottontail, dan si bungsu Peter.

Suatu pagi, ibu kelinci hendak pergi ke toko roti. Sebelum berangkat, ia memberikan nasihat penting kepada anak-anaknya.
“Kalian boleh bermain di lapangan atau di pinggir sungai, anak-anak,” ujar ibu kelinci dengan lembut. “Namun, jangan sekali-kali kalian masuk ke kebun Pak McGregor. Ayah kalian pernah celaka di sana.”

Setelah ibu kelinci pergi, Flopsy, Mopsy, dan Cottontail segera bermain di pinggir sungai. Mereka dengan patuh mencari buah beri di sekitar sana.

Sayangnya, Peter adalah anak kelinci yang sangat nakal. Ia tidak mendengarkan peringatan ibunya sama sekali.

Peter justru menyelinap masuk ke kebun Pak McGregor melalui gerbang kecil. Ia merasa sangat bersemangat melihat banyak sayuran segar di sana.

Peter mulai memakan selada dan kacang polong dengan lahap. Tak lama kemudian, perutnya terasa sakit karena terlalu kenyang.
Ia lalu mencari peterseli untuk menenangkan perutnya yang mulas. Saat itulah, ia tidak sengaja bertemu dengan Pak McGregor.
Pak McGregor sedang sibuk menanam kol di ujung kebun. Begitu melihat seekor kelinci di kebunnya, ia langsung berdiri dan mengejar Peter.

“Berhenti, pencuri kecil!” teriak Pak McGregor dengan suara yang menggelegar.

Peter merasa sangat ketakutan hingga jantungnya berdebar kencang. Ia berlari sekuat tenaga mengelilingi kebun untuk mencari jalan keluar.
Dalam kepanikan, Peter kehilangan sepatu kecilnya di tengah kebun. Ia terus berlari sambil berharap bisa menemukan gerbang kembali.

Pak McGregor terus memburunya dengan tongkat di tangan. Peter mencoba bersembunyi di dalam gudang peralatan agar tidak tertangkap.
Ia masuk ke dalam kaleng penyiram yang besar. Pak McGregor terus mencari di setiap sudut gudang, namun ia tidak menemukannya.
Peter sempat bertanya arah jalan keluar kepada seekor tikus yang lewat. Namun, tikus itu hanya bisa menggeleng karena mulutnya penuh dengan kacang.

Peter mulai menangis karena merasa tersesat di dalam kebun yang luas. Ia mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arah persembunyiannya.

Setelah cukup aman, Peter mengintip dari balik celah pintu. Ia melihat Pak McGregor sedang sibuk menyirami bawang di dekat gerbang.
Peter menyadari bahwa itulah kesempatan emas untuk melarikan diri. Dengan sangat hati-hati, ia merangkak pelan melewati belakang Pak McGregor.

Begitu berhasil melewati gerbang, Peter berlari kencang tanpa menoleh lagi. Ia tidak peduli bahwa jaket dan sepatunya kini dijadikan umpan oleh Pak McGregor.

Sesampainya di rumah, Peter jatuh sakit karena kelelahan dan ketakutan. Ibu kelinci merawatnya dengan penuh kasih sayang dan memberinya teh hangat.

Malam itu, Peter berjanji dalam hatinya untuk selalu menuruti nasihat orang tuanya. Ia tidak ingin lagi membahayakan diri sendiri demi kenakalan sesaat.

Pesan Moral / Hikmah Cerita

Kepatuhan kepada orang tua adalah bentuk perlindungan diri yang paling utama. Rasa penasaran yang tidak disertai dengan kebijaksanaan sering kali membawa kesulitan. Kejujuran dan disiplin diri merupakan kunci utama dalam menjaga keselamatan, sementara keberanian tanpa perhitungan hanya akan mendatangkan penyesalan bagi diri sendiri maupun keluarga yang dicintai.

Beatrix Potter
Tentang Penulis

Beatrix Potter

Profil penulis Beatrix Potter.

Baca Biografi Selengkapnya →
Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.