Lewati ke konten

Mengapa Ia Berdiri di Sana, Menutupi Pembunuh Istri Saya?

January 15, 2025 · Syafiq Addarisiy

Mengapa Ia Berdiri di Sana, Menutupi Pembunuh Saya

1

Bagaimanapun, Kanjeng Sunan Prawata adalah Sultan Demak. Membunuhnya sama saja seperti menyirami bara api dengan minyak jarak. Meski begitu, saya akan melakukannya sebab yakin yang saya lakukan adalah benar. Semua tahu siapa yang bertahun lalu membunuh Gusti Pangeran Sekar di tepi kali selepas salat Jumat. Siapa pun juga mengerti bahwa Gusti Penangsanglah yang akan jadi Sultan Demak—tidak sekadar menjadi Adipati Jipang seperti sekarang ini—seandainya hal itu tidak terjadi.

Keyakinan itulah yang menjadi sumber keberanian saya. Ditambah lagi, di pinggang saya, telah terselip Kiai Setan Kober. Seorang abdi Dalem Jipang, seperti yang telah direncanakan, benar-benar berhasil mengambilnya dari gudang pusaka Kadipaten Jipang Panolan dan meminjamkannya kepada saya. Dengan sipat kandel Gusti Penangsang tersebut, tekad saya tentu jadi semakin kuat berkali lipat. 

Bersembunyi di balik gerumbul, saya menajamkan telinga, menghayati suasana yang sepi tanpa lalu-lalang orang. Langit bersih. Angin berhenti berembus. Hanya derik jangkrik yang senantiasa terdengar membelah malam. Degup jantung saya memukul-mukul, tapi keyakinan saya tidak tergoyahkan. Suara burung hantu keenam yang saya kenali terdengar, bersiut tipis di kolong malam. Saya menegakkan badan, tanggap bahwa itulah isyarat bagi saya untuk bergerak.

Mengendap-endap, saya melompati pagar dan berhenti di dekat jendela kamar Kanjeng Sunan Prawata. Saya mengitarkan pandang. Meski tak ragu Aji Panyirepan telah bekerja, saya tetap mesti berhati-hati. Meraba jendela, saya lega ketika tahu bahwa Aji Segara Geni yang diarahkan ke bangunan ini juga telah menunjukkan keampuhannya. Saya melompat masuk. 

Di dalam ruangan, sejenak saya mematung dan menahan napas, memastikan bilik mana yang mesti saya tuju. Tak butuh waktu lama bagi saya untuk menemukannya karena tata tempat di sini persis seperti yang dilaporkan telik sandi. Dari tempat saya berdiri pun, bilik pribadi Kanjeng Sunan Prawata sudah tampak. Bahkan, saya bisa melihat kaki Kanjeng Sunan Prawata dari pintu kamarnya yang terbuka. 

Saya pun segera melangkah mendekatinya. Namun, baru dua tapak berjalan, saya membelalakkan mata. Kanjeng Sunan Prawata telah tahu kehadiran saya. Duduk di pembaringan, matanya terarah kepada saya sembari mengacungkan keris dengan tangan kanan yang gemetar, sementara tangan kirinya memegangi perutnya yang telah terluka akibat tusukan keris. Pakaiannya telah merah oleh darah. Dan setelah mengamati lebih baik lagi, saya tercengang mendapati istrinya telah tergolek di belakang tubuhnya.

Saya jadi bertanya-tanya karena jelas ada orang lain yang lebih dahulu tiba. Siapa yang melakukannya? Kenapa saat ini? Apakah rencana kami telah bocor dan dimanfaatkan orang-orang Pajang? Adakah pengkhianat di antara kami?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak terjawab karena Kanjeng Sunan Prawata sudah lebih dulu melemparkan kerisnya, mematuk tempurung lutut kiri saya. Saya limbung dan susah payah tidak menimbulkan gaduh. Tapi, racun di keris itu cepat menyatu dalam aliran darah saya. Segalanya mengabur dan saya roboh seketika, sebelum sempat melakukan apa-apa.

2

Malam ini begitu sunyi dan panas sekali. Rasanya tidak wajar. Itu kenapa saya terus terjaga dan memusatkan nalar budi. Saya berharap bahwa ini hanya perasaan saya semata. Tapi, agaknya kekhawatiran saya benar adanya. Entah di mana, seseorang, atau bahkan lebih, tengah merapal Aji Panyirepan dan Segara Geni. Hanya ajian itu yang bisa membikin keadaan sesenyap dan sepanas ini. Jelas sekali, akan ada orang kemari. 

Kembali menjernihkan pikiran, saya menangkap desir langkah kaki seseorang mengendap-endap mendekati jendela. Dalam hati, saya menyesali keteledoran saya tidak menguncinya karena ingin angin luar bisa masuk kemari. Tapi mau bagaimana lagi? Udara memang panas sekali dan yang telanjur tidak bisa diulang kembali. Saya menghela napas dan bersikap waspada.

Pintu jendela perlahan dibuka. Seseorang, entah siapa, melompat masuk dan berhenti sejenak. Ia mengitarkan pandang, tampak seperti memastikan keadaan sekitar. Tapi itu tak lama karena kemudian melangkah kemari tanpa keraguan. Saya pun merasa pasti, ia bukanlah begal atau rampok biasa yang datang tanpa persiapan apa-apa. Saya menarik napas, memutuskan untuk mengejutkannya.

“Selamat malam,” sapa saya ketika seseorang itu telah melewati pintu kamar saya. 

Seseorang itu tampak terkejut. Ia tak langsung menjawab. Keheningan sejenak mengental di antara kami berdua.

“Ki Sanak ini siapa dan ada keperluan apa?”

“Saya utusan Gusti Penangsang,” jawabnya setelah diam beberapa saat. “Datang kemari untuk menagih utang pati.”

Tertegun, saya memejamkan mata dan menghela napas karena paham betul apa yang dimaksudnya. Mengangguk-angguk pelan, saya mengangkat muka dan menatapnya lalu berkata, “Baiklah. Silakan tunaikan tugas Ki Sanak.”

Sungguh, tak ada niatan dalam diri saya untuk melawan. Saya sadar benar apa yang dulu saya lakukan pada Pamanda Sekar adalah dosa besar. Barangkali, ini memang ganjaran yang pantas saya terima. Itu kenapa saya tak beranjak dari tidur dan hanya memiringkan tubuh ke arahnya, membelakangi istri saya. 

“Sampaikan permohonan maaf saya kepada Adi Penangsang. Sungguh, saya sangat menyesali perbuatan saya waktu itu,” ucap saya ketika seseorang entah siapa itu meraba hulu keris di pinggangnya dan berjalan mendekat. Ia mengangguk kecil, dan tangan kanannya perlahan melolos keris dari warangkanya. 

“Satu hal yang saya minta,” lanjut saya, “sudilah kiranya Ki Sanak melepaskan istri saya. Dengan ini semua, ia tak ada hubungannya.”

Seseorang entah siapa itu maju selangkah dan menusukkan kerisnya ke perut saya sekuat tenaga. Rasanya panas, menggigit, dan saya betul-betul siap meninggalkan dunia ini seumpama tak mendengar pekik istri saya yang tak panjang. Saya terbelalak. Keris yang melubangi perut saya tembus ke perutnya.

Sesuatu dalam dada saya bergolak. Segera saya bangun, meraih Kiai Betok, dan mengitarkan pandang. Seseorang yang entah siapa itu telah bersembunyi di sudut gelap dekat jendela. Saya acungkan tangan kanan saya ke arahnya dengan gemetar sementara tangan kiri saya menahan kucur darah dari luka menganga di perut saya. 

Pembunuh isteri saya itu tampak waspada, memasang kuda-kuda, seperti bersiap menghindari lemparan keris saya. Tapi saya tak peduli. Ia boleh melakukan apa pun sebab saya yakin satu gores saja sudah cukup untuk menghabisinya.

Saya sudah selesai memusatkan sisa tenaga dan akan melemparkan keris di tangan saya. Tapi, seseorang lain tiba-tiba masuk melalui jendela, diam sejenak, lalu melangkah maju dan menutupi sosok pembunuh isteri saya. Kejadiannya kelewat cepat, kesadaran dalam diri saya sudah tipis, dan Kiai Betok kadung meluncur dari genggaman tangan saya, menancap di tempurung lututnya. 

Siapa pun ia yang baru datang itu pasti mati. Saya sendiri pun akan mati dan saya tak keberatan. Saya hanya menyesal dan mengeluh dalam hati: Mengapa ia berdiri di sana, menutupi pembunuh istri saya?

3

Mendengar suara burung hantu di antara derik jangkrik, saya bergegas menuju pesanggrahan Gusti Sunan Prawata. Saya mesti cepat. Telik sandi kami—yang sebetulnya telik sandi Jipang tapi berhasil kami yakinkan untuk memihak Pajang—mewanti-wanti bahwa saya hanya punya waktu sampai terdengar enam kali suara burung hantu. “Setelah itu,” katanya, “Rangkud akan masuk.”

Tugas yang saya emban sangatlah berat. Saya mesti membunuh Gusti Sunan Prawata dan Rangkud, tapi sekaligus mengesankan bahwa keduanya saling serang. Meski begitu, saya tak ragu bahwa saya akan berhasil melakukannya.

Mengetahui Gusti Sunan Prawata benar-benar tak mengunci jendela sebagaimana dilaporkan, dalam hati saya mengakui bahwa keterangan dari telik sandi memang dapat diandalkan. Melompat masuk, saya kembali diam sejenak dan baru bergerak setelah yakin tak ada yang berjaga di pesanggrahan Gusti Sunan Prawata ini. Saya pun melangkah menuju peristirahatannya, merasa bahwa semuanya akan berjalan sesuai rencana.

Meski begitu, begitu melewati memasuki peristirahatannya, saya terkejut. Sebab, tidak hanya masih terjaga, Gusti Sunan Prawata malah menyapa saya dengan tenangnya, “Selamat malam. Ki Sanak ini siapa dan ada keperluan apa?”

Saya tergeragap dan butuh beberapa waktu untuk dapat berkata, “Saya utusan Gusti Penangsang. Kemari untuk menagih utang pati.” Jantung saya berdebaran ketika mengucapkan itu.

“Baiklah,” jawab beliau singkat, “Silakan tunaikan tugas Ki Sanak.”

Mendengarnya, saya mengernyitkan dahi. Tapi saya mengingatkan diri bahwa saya mesti merampungkan tugas. Saya pun meraba hulu keris saya dan berjalan mendekat.

“Sampaikan permohonan maaf saya kepada Adi Penangsang,” ucap Gusti Sunan Prawata saat saya sudah berdiri satu langkah darinya. “Sungguh, saya sangat menyesali perbuatan saya waktu itu.”

Mendengarnya, saya jadi merasa bersalah lalu memilih mengangguk pelan dan melolos keris milik saya. Dan ketika sudah mengarahkan ujungnya ke udara, Gusti Sunan Prawata lagi-lagi mengatakan hal yang menggedor relung dada saya, “Satu hal yang saya minta. Sudilah kiranya Ki Sanak melepaskan istri saya. Dengan ini semua, ia tak ada hubungannya.”

Mendengar semua itu, saya jadi ingin lekas-lekas menyelesaikan tugas. Saya pun memantapkan diri dengan membayangkan betapa besar jasa saya nanti setelah Gusti Hadiwijaya sudah naik takhta. Saya tusukkan keris ke perut Gusti Sunan Prawata tanpa ragu-ragu. Tak ada keluh, tak ada suara mengaduh. Alih-alih, telinga saya malah menangkap pekik pendek seorang perempuan.

Saya pun kalap begitu menyadari istri Gusti Sunan Prawata ikut tertusuk keris saya. Saya kian kalap melihat Gusti Sunan Prawata menjadi geram, bangkit dari tidur, dan tampak akan meraih pusakanya. Saya mundur selekas mungkin, berusaha bersembunyi dalam kegelapan di dekat jendela. Tapi sia-sia. Gusti Sunan Prawata tetap bisa menemukan saya. 

Dada saya berdebaran melihat beliau mengacungkan kerisnya ke arah saya. Saya tahu betul keris yang digenggamnya itu adalah Kiai Betok, dan tentu saya telah mendengar kesaktiannya. Memikirkan itu, saya jadi membayangkan justru sayalah yang akan mati. Di hadapan saya, bayangan kematian tampak menyeringai. Meski begitu, saya menolak mati tanpa perlawanan. Saya pasang kuda-kuda meski sebetulnya gentar.

Tapi, seperti pertolongan langsung dari Gusti Allah, Rangkud tiba-tiba saja melompat masuk melalui jendela dan berdiri di depan saya, tepat ketika Gusti Sunan Prawata melemparkan kerisnya. Rangkud roboh seketika, disusul Gusti Sunan Prawata. Saya berdiri mematung antara percaya dan tak percaya, terpukau dengan yang baru saja terjadi di depan saya. 

Butuh beberapa waktu bagi saya untuk kembali sadar bahwa saya harus segera keluar, tak boleh ketahuan siapa pun, dan waktu untuk itu tak banyak. Saya lekas berjalan mendekati jasad Rangkud, melolos Kiai Setan Kober yang masyhur itu dari pinggangnya, dan terhenyak. Dalam sekali genggam, saya langsung tahu bahwa itu bukanlah keris sembarangan.

Selesai menyelipkan keris andalan Gusti Penangsang tersebut ke dalam genggaman Rangkud, saya lalu berjalan mendekati tubuh Gusti Sunan Prawata yang rebah dan mencabut keris yang saya gunakan untuk menusuk perutnya. Mengamatinya sejenak, saya membandingkan keris mana yang lebih sakti: Kiai Setan Kober ataukah keris Gusti Hadiwijaya ini?

Saya tak mampu menakarnya dan memilih bergegas pergi. Di dekat jendela, saya sempatkan menengok ke belakang dan membatin: Terima kasih, Rangkud. Berkatmu, rencana kami berjalan dengan baik. Saya tersenyum kecil dan keluar melalui jendela. Melompati pagar, saya segera menerobos hutan, menyamarkan jejak diri dengan menyatu ke dalam kegelapan.***

S
Tentang Penulis

Syafiq Addarisiy

Lahir: -, -

Pengasuh Bidang Kurikulum Program Kitab Kuning di Madin PP. Assalafiyyah, Mlangi, dan alumnus Jurusan Sastra Indonesia UNY. Ia senang mendengarkan musik, menonton film, menulis, dan membaca. Beberapa tulisannya tersiar di Koran Tempo, Kompas.id, Suara Merdeka, Bacapetra.co, Basabasi.co, Minggu Pagi, Koran Radar Selatan, Majalah Sastra Kandaga, dan lain-lain.

Baca Biografi Selengkapnya →
Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.