Lewati ke konten

Peristiwa

Catatan Harian Kegiatan: Kesaksian Sastra

October 29, 2024

Komunitas Sastra Suku Sastra menutup kegiatan Lokakarya Penulisan Kreatif dengan rangkaian Tumplak Wajik pada Sabtu, 26 Oktober 2024 di The Ratan, Panggungharjo, Sewon, Bantul. Penutupan ini dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama adalah Kesaksian Sastra, yang merupakan diskusi buku hasil kegiatan. Sesi kedua adalah sesi peluncuran simbolis dan hiburan.

Kesaksian Sastra membahas dua buku hasil kegiatan yang dilangsungkan selama lebih kurang dua bulan. Buku pertama adalah kumpulan kritik sastra berjudul Dari Spekulasi Ignoramus Hingga Ingin Jadi Budi Darma Sehimpun Kritik Sastra, sedangkan buku kedua adalah kumpulan cerpen berjudul Sekilan Tanah Bekas Terompah Sulaiman dan Cerita-cerita Lain.

Diskusi Kesaksian Sastra di The Ratan./Foto: Arif Billah

Diskusi dimulai pada pukul 16.00 WIB, diawali pengantar oleh Ketua Komunitas Sastra Suku Sastra, Fairuzul Mumtaz. Mengenakan kemeja biru perjuangan dan peci hitam, Fairuz menjelaskan bahwa panitia menerima sekitar empat puluhan orang calon peserta. Yang masuk seleksi adalah dua puluh orang.

Para peserta dibagi ke dalam dua kelompok sesuai minat. Sepuluh orang menjadi peserta Lokakarya Penulisan Kritik Sastra atau yang biasa disebut “kelas kritik”. Sepuluh orang lainnya menjadi peserta Laboratorium Penulisan Prosa Fiksi Eksperimental, biasa disebut “kelas cerpen”. Para peserta mengikuti delapan kali sesi atau pertemuan di masing-masing kelas.

Dalam perjalanannya, dua orang peserta mengundurkan diri, masing-masing satu di kelas kritik dan satu di kelas cerpen. Namun, panitia berhasil memperoleh penggantinya.

Diskusi sore itu menghadirkan seorang perwakilan dari masing-masing kelas. Kelas kritik diwakili oleh Marisa Santi Dewi. Kelas cerpen diwakili Bangkit Adi Saputra. Kanya Kiarra memandu diskusi sebagai moderator.

Pengunjung mengisi formulir kehadiran./Foto: Arif Billah

Ketika ditanya kesan tentang perkembangan draf kritiknya sejak awal, Marisa menjelaskan panjang lebar bahwa ia sempat kaget. Walaupun belajar kritik sastra di FIB UGM, prosesnya “loncat-loncat”. Teori langsung diaplikasikan.

Kelas kritik memberi Marisa pengalaman baru karena, sejak pertemuan pertama dengan Profesor Faruk, para peserta diberi materi paling dasar. Profesor Faruk menjernihkan pengertian tentang kritik sastra. Kritik estetik dulu baru beranjak ke kritik perspektif, kritik ideologi, dan lain-lain.

Ada kendala ketika mempelajari kritik estetik karena Marisa sendiri mengaku sering lupa bahwa kritik seharusnya diawali kritik estetik terlebih dahulu, baru kemudian diikuti kritik sosial atau kritik ideologi.

Marisa juga mengungkapkan bahwa ia terkesan dengan masukan dari Pak Yoseph Yapi Taum. Ia ingat Pak Yapi mengatakan, “Ketika kita mengkritisi karya sastra, kita harus tergetar. Itu yang menjadi titik awal mengapa kita mengkritisi karya sastra.” Pak Yapi juga lebih praktis dalam melihat draf kritik dengan memberikan saran perspektif yang tepat untuk digunakan.

Marisa Santi Dewi, perwakilan dari kelas kritik./Foto: Arif Billah

Marisa terkesan dengan Muhammad Qadhafi, yang banyak berperan selama asistensi dengan Suku Sastra. Ia mengaku terharu karena, misalnya, drafnya yang sepanjang dua ribu kata dipangkas menjadi seribu lima ratus kata.

Bangkit mengaku sebagai pemula dalam sastra. Latar belakang pendidikannya memang bukan sastra, melainkan pendidikan. Ia merasa berdiri di depan pintu gerbang sastra, tak tahu apa-apa tentang teori-teori sastra. Namun, ia justru dibina, bukan dibinasakan, oleh narasumber, yaitu Bang Raudal Tanjung Banua dan Mbak Ramayda Akmal serta asistensi dari Suku Sastra yang sering diwakili oleh An Ismanto.

Bertemu dan berdiskusi dengan Bang Raudal adalah pengalaman luar biasa, kata Bangkit. Awalnya, Bangkit tidak begitu mengerti dunia cerpen, tetapi setelah mengikuti kegiatan, ia merasakan sulitnya mengolah dan menemukan kata-kata yang estetik dan enak dibaca. Ketika membaca draf awal yang dikumpulkan sebagai syarat pendaftaran kegiatan, lalu dibandingkan dengan cerpen definitif, ia merasa malu. Kini, ia merasa bahwa penulis cerpen harus sangat dihargai.

Marisa memandang masalah dalam kritik sastra Indonesia saat ini adalah kecenderungan dalam karya kritik sastra, terutama yang beredar di jurnal akademik, untuk melompat langsung ke kritik sosial. Tidak banyak yang melihat sisi estetika, struktur bahasa, tokoh-tokoh, alur, latar dan lain-lain. Kritik akademik memang sudah banyak, tetapi kritik sastra yang disajikan mirip esai dan tetap memakai perspektif, mati suri.

Dalam kegiatan Suku Sastra, Marisa “dipaksa” menulis dengan model esai, tetapi tetap memasukkan teori walaupun sulit. Namun, para peserta berhasil melakukannya. Ia mencontohkan tulisan M. Naufal Aliyuddin yang berisi teori, tetapi tetap terasa ringan ketika dibaca. Suku Sastra sudah melakukan yang terbaik untuk menghadirkan kritik yang menggunakan perspektif, tapi ringan dibaca.

Bangkit Adi Saputra dan Kanya Kiarra./Foto: Arif Billah

Setelah mengobrolkan pengalaman menulis sastra bersama para sastrawan yang sangat sabar membimbingnya, Bangkit mengaku belajar banyak hal tentang sastra. Ia juga ingin terus melanjutkan menulis cerpen walaupun tentu saja tetap menulis sesuai bidang akademiknya.

Tentang karya kritiknya, Marisa menjelaskan sekilas bahwa ia meneliti cerpen AA Navis yang berjudul “Datangnya dan Perginya” yang merupakan hipogram dari novel Kemarau. Dalam Kemarau, Navis adalah orang yang agamis, sedangkan dalam “Datangnya dan Perginya”, dia humanis.

Menggunakan teori tentang subjek radikal cetusan Slavoj Žižek, Marisa ingin menonjolkan bahwa Navis berusaha bertindak secara radikal dalam karyanya. Namun, Navis gagal karena selalu masuk pada simbolik-simbolik yang lain.

Bangkit memandang proses menulis cerpen sebagai wujud manifestasi jati diri penulis masing-masing. Ada karakteristik dari penulis yang tersirat dalam karyanya. Ada yang misteri, agak ekstrem, ada yang bersahabat dengan anak-anak. Tolok ukur tergantung sisi pembaca. Ia berusaha bermanuver, memunculkan sesuatu yang belum diketahui banyak orang.

Kiarra juga mengundang para peserta lain untuk memberikan kesaksian. Lintang Zulfikar, peserta kelas cerpen, menceritakan bahwa draf awalnya dianggap belum cukup eksperimental. Lalu, ia mengikuti saran Bang Raudal yang menekankan bahwa orang yang baru menulis cerita berarti bereksperimen secara kecil-kecil.

Ruli Andriansah, peserta kelas kritik, yang berlatar pendidikan antropologi, mengaku pada awalnya ingin menautkan antropologi dengan sastra. Namun, ternyata sulit sehingga ia mengubah objek kritik ke cerpen.

Pertemuan-pertemuan dengan narasumber dan asistensi Suku Sastra membuka mata Ruli tentang kritik estetik yang sangat penting untuk dilakukan terlebih dahulu dalam kritik sastra sebelum melanjutkan dengan kritik sosial. Kelas kritik membuatnya juga mampu menulis kritik sastra secara efektif.

Perwakilan asistensi dari Suku Sastra, An Ismanto, mengaku kagum dengan capaian para peserta. Ia melihat perkembangan draf dari awal hingga menjadi naskah akhir yang rapi, baik di kelas cerpen maupun kelas kritik. Ia berharap para peserta terus menulis, terutama kritik sastra, dengan format yang dipelajari selama kegiatan sehingga bisa menjangkau pembaca lebih luas.

Perwakilan asistensi lainnya, yaitu Muhammad Qadhafi, mengaku terharu karena melihat proses sejak awal hingga akhir yang membuahkan hasil luar biasa. Penilaian para peserta dalam kritik sastra mereka didasarkan pada argumen yang dapat dipertanggungjawabkan. Ia berharap para peserta bisa mengisi ruang kosong dalam kritik sastra karena tidak banyak orang yang berani melakukan penilaian sampai menyelesaikan tulisannya.

Bang Raudal mengucapkan selamat kepada para yang menyelesaikan buku yang menjadi catatan sejarah sastra di Jogja. Ia kembali menekankan bahwa soal eksperimental adalah persoalan keberanian. Ia mencontohkan, pada tahun 2000-an, Jogja pernah diramaikan musikalisasi puisi, tapi Pak Untung menyebutnya lagu puisi, musik puisi, dam akhirnya Mas Hilman mengadakan festival musik puisi.

Bagi Bang Raudal, intinya adalah keberanian tanpa memandang istilah apa yang dipakai. Pernyataan keberanian itu sudah sekaligus menyatakan pertanggungjawaban terhadap apa yang kita kemukakan. Cerpen eksperimental adalah sebuah keberanian mengikrarkan dan diniatkan. Namun, eksperimen lebih pada etos selama proses.

Kiarra menutup diskusi Kesaksian Sastra sekitar pukul 17.30 WIB dan mengingatkan hadirin bahwa masih ada rangkaian acara lain dalam Tumplak Wajik Suku Sastra selepas magrib.***

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.