Lewati ke konten

Sekilan Tanah Bekas Terompah Sulaiman

October 29, 2024 · Arif Billah

Ilustrasi cerpen "Sekilan Tanah Bekas Terompah Sulaiman" karya Arif Billah./Ilustrasi: Haiku Suluh Wangsa.

Subuh belum tiba untuk dikumandangkan kedatangannya ketika enam orang mendobrak pintu kamar Mubarak. Kilap parang lebih benderang dari bulan yang mulai redup di ambang pintu dan tertutup bayang kepala orang-orang itu. Sembari merapal khizib barqi tiga kali, dari dalam sarung Mubarak menyingkap udara beraroma liur linsang, siap menghadapi parang yang akan bergantian berayun seperti bambu yang diamuk angin pinggir kali.

*

Satu tahun lalu, saat pesta rakyat di alun-alun, seorang bupati berkata, “Kabupaten Batang akan jadi daerah industri, diawali dengan pendirian PLTU di tepi pantai.” Dan suara bupati itu kini menjelma menjadi suara dentuman dari alas yang tumbang. Pohon-pohon tidak jatuh begitu saja ke tanah, tetapi runtuh dengan perlahan, seolah-olah sedang menyerahkan diri kepada bumi yang selama ini mereka pijak.

Kerumunan warga Jungnegoro menatap alas dengan mata tidak berkedip walau grajen1 beterbangan menyesaki udara. Mereka mendengar raungan chainsaw yang menderu-deru seperti lolongan anjing kampung kelaparan di malam sepi. Setiap kali sebatang pohon roboh terasa seperti satu kehidupan hilang. Tanah alas itu seperti menjadi penuh debu yang melayang di udara seakan ada bledug2 truk pantura terkirim ke sana. Dalam keheningan yang tersisa, mereka tahu, bukan hanya pohon-pohon yang hari itu mati.

Pemilik jati dan lahan bertani dapat dipastikan masih bisa haha-hihi karena kayu atau lahannya telah dibeli. Tapi, buruh tani dan nelayan cantrang pinggir pantai kebingungan setengah mati. Tanah yang diganti rugi tak akan menghidupi buruh tani dan tepi pantai yang dipagari membuat nelayan bingung mencari tempat untuk menambat perahu.

Setiap kali Mubarak membaca kitab dan doa yang ia rapal menebal pada lidah, aroma harum akan menguar dari tubuhnya, lalu kembang turi perlahan memunculkan kuncup yang bergelantungan pada setiap jengkal dinding kamar.

Falas adalah salah satu petani yang mengalami dilema lantaran gempuran pembangunan. Seperti banyak warga lain, ia tak setuju dengan proyek PLTU yang merambah makin jauh ke tanah milik warga. Di sisi lain, pemilik lahan seperti Falas sangat ingin tanahnya dibeli agar bisa membeli tanah lain di daerah perbukitan yang jauh dari pantura dengan harga murah untuk membangun usaha baru, seperti jadi juragan sayur atau ternak sapi perah. Namun, di sana juga masih banyak pemilik tanah yang kasihan melihat tetangganya tidak menggarap apa pun. Apalagi rata-rata warga sana tak punya ijazah apa-apa, dari yang tua sampai remaja sekalipun. Pabrik tekstil memang selalu buka lapangan kerja, tapi syarat minimalnya agar bisa diterima bekerja di sana adalah ijazah SMA.

Bagaimana caranya agar Falas bisa menjual tanahnya tanpa dicurigai? Dia berpikir hingga kepalanya seperti proyek aspal jalan provinsi yang baru jadi namun dibongkar lagi oleh pegawai PDAM untuk mengecek saluran pipa air. Dalam kebingungannya, pikiran Falas makin ke mana-mana, seakan ada timbangan kodok dengan beban moral dan harta berderit-derit di kepalanya.

Selain bertani di lahan bapaknya sendiri, sebagai pemuda, Falas sedari kecil betah mendengarkan pengajian di desanya dan karib dengan teman-teman masjid. Hingga sekarang pun, Falas masih sering membantu tetangga sekitar, ikut nyinom jika ada pernikahan, membersamai anak-anak khitan ke mantri di daerah kabupaten dengan menggunakan pick-up, hingga ziarah makam wali serta mengunjungi perhelatan selawat di Pekalongan. Dengan demikian, Falas memiliki banyak teman seperguruan dalam menimba ilmu dan dia pun bergabung ke ormas keagamaan serta ormas kepemudaan keamanan. Hal tersebut membuatnya memiliki sedikit perasaan tak tega untuk menjual tanah orang tuanya.

Ilustrasi cerpen "Sekilan Tanah Bekas Terompah Sulaiman" karya Arif Billah./Ilustrasi: Haiku Suluh Wangsa.

Lalu, suatu ketika ada demo besar di depan Samsat. Banyak warga desa Jungnegoro ikut ke sana juga. Pantura diblokade hingga macet mengular dan menjadi berita nasional. Falas hadir di sana dalam barisan ormas keagamaannya. Jika dilihat dari langit, Samsat seperti lumbung padi terbakar yang dikelilingi emprit yang berkitar-kitar untuk menyambar biji-biji di antara sekam berapi. Asap menggumpal mendaki langit hanya untuk menaburkan abu. Tuntutan diorasikan dengan isian macam-macam, mulai pembelaan buruh tani, pendangkalan laut, dan limbah yang menyulitkan nelayan hingga protes para pemerhati lingkungan perihal abrasi yang semakin memakan daratan, bahkan penolakan pemuka agama karena proyek PLTU dirasa lancang akan menjadi bangunan tinggi di sekitar Petilasan Syekh Maulana Maghribi.

Pendemo pun pulang meninggalkan jalan pantura dan kantor Samsat yang porak-poranda seperti lumbung padi tentara mataram yang dibakar pasukan Belanda ketika hendak melakukan perjalanan menuju Batavia. Di Jungnegoro, orang-orang yang tadi ikut berdemonstrasi tak segera mengistirahatkan diri dengan menjerang teh atau menonton TV bersama di poskamling. Mereka berkumpul di balai desa dan merapatkan ketidaksetujuan.

Falas hadir dengan kebingungan. Proses penjualan tanahnya makin jauh. Sebenarnya, ketika dia sedang mengunjungi sebuah haul di makam wali, Falas ditawari lagi oleh orang yang mengurus pembebasan tanah proyek PLTU untuk menjual tanahnya kepada mereka. Bisa dikatakan “lagi” karena mereka tak hanya bertemu sekali. Pertama kali Falas berbincang dengan orang itu adalah saat ada sosialisasi pertama untuk pembebasan tanah setelah pesta rakyat di alun-alun kabupaten dan pengumuman heboh sang bupati. Di malam ketika para warga mengatur siasat untuk tetap berdiri di atas kaki sendiri, kemanusiaan Falas terasa makin diuji.

*

Falas berdiri di depan jalan masuk Jungnegoro bersama seorang wali yang telah membaiatnya, seakan sedang menunggu nubuat dari Jibril. Jauh sebelumnya, Falas menjalankan laku tarekat tersembunyi di tepi pantai dekat Petilasan Syekh Maulana Maghribi, di mana angin dan ombak ikut merapalkan doa-doanya yang panjang. Saat Falas terhanyut di gelombang yang deras, Khidir datang dengan wajah samar-samar dan mengutus gerombolan ikan untuk menyelamatkannya. Warga desa yang nantinya mendengar cerita itu yakin kisah tersebut adalah kenyataan yang harus diterima tanpa tanya.

Setelah berdiri lama di sana, Falas menyusuri jalan desa. Tidak ada tanda kebesaran, tidak ada kilauan emas atau tongkat yang bersinar. Namun, semua orang berbondong-bondong keluar rumah dan mengikuti jejak-jejak kakinya yang menyala dan meninggalkan bara. Ketika beliau menginjakkan kaki di atas tanah di kebun bambu di belakang rumahnya, semua orang ikut berhenti, lalu mengelilinginya.

“Gali di sini,” kata Falas penuh wibawa. Tanpa keraguan dan tanpa perlu perintah kedua, seorang pemuda beraroma kembang turi bernama Mubarak berlari menembus kerumunan warga, mengambil cangkul dari rumahnya, dan sebentar kemudian cangkul pemuda itu menghantam tanah, seolah-olah sedang menggali sesuatu yang lebih dari sekadar sumur, yaitu kehidupannya yang lama terkubur.

Buliran pertama air yang muncul bukanlah semburan yang keras, melainkan rembesan lembut, seperti ompol pertama bayi laki-laki di hangat pelukan ibunya. Tanah itu membuka diri dengan perlahan, seperti menjawab panggilan Falas yang menggumamkan tahlil, tampak seperti kelopak wijayakusuma mekar di bulan purnama. Warga menyaksikan kelahiran sebuah keajaiban. Air ini lebih dari sekadar air. Ini adalah berkah yang telah lama tertidur di perut bumi, menunggu untuk dibangunkan oleh suara yang tepat, laik telaga kautsar di tengah panas gurun.

Ketika air mulai menggenang dan orang berkumpul untuk menimba karomah dari perintah Falas, wali itu menceritakan alasan kenapa tanah desa itu bisa dijadikan petilasan. Menurut beliau, mimpi Falas adalah petualangan spiritual yang hanya bisa didapat seorang wali. Di mimpi itu, dikisahkan Falas dituntun oleh Khidir untuk berjalan menuju kebun miliknya dan dari sana mereka menyaksikan Nabi Sulaiman yang berkendara permadani dan disangga angin melompat menjelma menjadi petir untuk menjejakkan terompahnya di tempat di mana sekarang air sudah muncul sehabis digali.

Warga berbisik-bisik tak henti. Mereka yakin sekali lagi bahwa hanya wali yang bisa tahu karomah wali lain. Walau Falas tak mengaku wali, tapi ada wali lain yang mengakui.

Dari situlah Falas mulai melaksanakan pembangunan. Setiap tanah yang akan dibangun dan pernah dijejaki Falas akan selalu berwarna merah merekah dan meninggalkan bekas lava mengering. Pembangunan begitu cepat dilakukan. Berbagai ormas kenalan Falas ikut membantu pengorganisasian pembagian wilayah berjualan, parkir, dan jalur menuju petilasan. Warga yang menjual tanah kepada Falas pun tidak didiamkan begitu saja. Mereka diberi lahan berdagang dan pekerjaan untuk mengurus petilasan.

Beberapa anak di desa disekolahkan di SMK Yayasan Terompah Sulaiman, bahkan yang yatim dan piatu. Mubarak adalah salah satu murid Falas yang dirawat dan disekolahkan. Ibunya bekerja di Malaysia dan bapaknya menjadi korban dalam demo Samsat beberapa waktu lalu. Rumah dan tanahnya telah dijual oleh ibunya kepada Falas untuk biaya ke Malaysia sepeninggalan bapaknya. SMK itu sekaligus memiliki pondok pesantren kecil-kecilan. Mubarak tinggal di kamar dekat dengan taman bunga di kompleks rumah Falas. Dengan begitu, setidaknya Mubarak bisa lebih dekat dengan kyainya.

Pada awalnya, memang Falas jarang meladeni Mubarak atau murid lain yang ingin berguru langsung kepadanya. Mubarak sendiri menganggap bahwa dirinya memang masih belum pantas mendapat ilmu dari seorang wali. Di pesantrennya, Mubarak belajar banyak kitab. Bukan hanya nahwu shorof, melainkan juga kitab tentang pernikahan dalam qurrotul uyun hingga akhirnya dia bisa membaca kitab majmu’atul ad’iyah milik bapaknya. Setiap kali Mubarak membaca kitab dan doa yang ia rapal menebal pada lidah, aroma harum akan menguar dari tubuhnya, lalu kembang turi perlahan memunculkan kuncup yang bergelantungan pada setiap jengkal dinding kamar. Dan semua itu belum ada apa-apanya, belum bisa memenuhi syarat untuk berguru kepada Falas yang setiap bekas jejak kakinya meninggalkan rekah merah di atas tanah. Dia harus terus memburu ilmu seperti burung hantu yang lapar memburu tikus sawah.

*

Pembangunan petilasan bisa dikatakan sudah hampir selesai, namun jejak api kaki Falas masih menjalar ke mana-mana. Warga menganggap wajar belaka ketika seorang kyai mengelilingi Petilasan Terompah Sulaiman demi keselamatan dan perlindungan wilayah sekitar. Pun dengan adanya petilasan, warga tak lagi khawatir harus mencari kerja apa walau sudah tak ada tanah garapan. Mereka bisa berjualan, menjaga parkir, membersihkan toilet, bahkan bisa juga menjualkan air dari sendang untuk para peziarah yang jumlahnya tak kalah dari jamaah umrah. Namun, pembangunan PLTU tetap tak berhenti. Sekilan demi sekilan, tanah berjejak merah di sekeliling Petilasan Terompah Sulaiman dipagari.

*

Mubarak telah selesai mengaji dan membaca kitab peninggalan bapaknya ketika langit segelap tinta sotong. Kembang turi berguguran dari jendela kamar. Di antara gempuran syukur dan rindu, Mubarak tak bisa tidur. Dia teringat pada bapaknya, buruh cantrang yang ditinggal istri ke Malaysia dan mendemo pembangunan demi bisa menyekolahkan anaknya. Bapaknya itu meninggalkan perahu cantrang yang kini terombang-ambing diikat tambang tanpa pernah ada yang membawa berlayar lagi. Dia ingat dulu pernah diajak bapaknya mencari ikan di laut tak bertuan.

Mubarak berjingkat menaruh peci dan melilitkan sarung ke badan. Dia ingin berjalan-jalan keluar dan menjernihkan pikiran dan perasaan. Dia mengambil senter dan sebungkus ketan sisa tadi siang untuk dimakan dalam perjalanan. Siapa tahu perjalanan dan perenungannya akan sampai pagi.

Bintang-bintang di langit bersinar pucat, seakan-akan mereka adalah mata yang kalah dalam memandang cahaya buatan manusia di atas tanah. Mubarak berjalan menembus alas sunyi, melawan segala gigil yang dia jumpai. Di kejauhan, suara dengung samar terdengar, seperti suara lebah dalam kegelapan, atau laron-laron mencari cahaya dalam kebutaan.

Dari celah pepohonan, Mubarak melihat mereka—para pekerja proyek PLTU–menggali dan memagari tanah yang di atasnya merekah jejak-jejak merah. Di bawah cahaya lampu kuning yang dingin, mereka bergerak seperti bayangan dari makhluk alam lain, melahap tanah tanpa suara, seolah-olah sedang melakukan perjamuan sunyi. Tanah yang seharusnya menjadi tempat suci, di mana jejak terompah Nabi Sulaiman diyakini pernah hadir, kini menjadi menu santapan banteng besi.

Mubarak berhenti sejenak. Tubuhnya kaku. Dalam keheningan malam itu, dia merasa tanah di bawahnya bergetar seakan-akan marah. Di dalam hatinya, terdengar bisikan lirih dari angin yang menyapu pepohonan. Dia tahu ini bukan malam biasa. Ini adalah malam yang penuh kemunafikan. Dia mematikan senter dan membiarkan dirinya larut dalam kegelapan. Dia buka bungkus ketan yang dibawanya dan mengepal-ngepalkan butir ketan itu satu per satu. Tujuh butir, seperti yang diajarkan oleh bapaknya dulu, setiap kali mereka berlayar di laut. Sambil menelan ketan itu satu per satu, Mubarak merasakan hawa dingin di sekelilingnya berubah menjadi lebih berat seolah menahan napasnya. Di bawah lidahnya, mantra-mantra mengalir tanpa dia sadari, menyeruak aroma wangi kembang turi, “tengko kayu werti witali wasili sak sejaku”. Setelah menutup mantra dengan al-qadr tiga kali, Mubarak mengendap ke arah orang-orang yang sedang memasang pagar dan menguruk tanah.

Mubarak bergerak dengan ringan dan mengendap-endap mendekati para pekerja. Setiap langkahnya tidak menimbulkan suara. Dia menjadi bayangan yang menyelinap di antara pepohonan. Di belakang mereka, dia seakan melihat arwah bapaknya di antara peralatan proyek, tampak rapuh seperti kastil dari pasir yang menunggu dihantam ombak.

Hati Mubarak meledak dengan meninggalkan kaldera besar. Lahar mengaliri nadinya. Kerinduannya yang ingin berlayar bersama angin sepoi dengan bapaknya menjadi kecamuk badai. Falas, Falas, Falas. Nama Falas bersiul-siul menyayat telinga Mubarak. Dia sempat ingin menghabisi semua pekerja, namun urung melakukannya. Mereka hanya pekerja, bukan sasaran utama. Dan demi menghargai arwah bapaknya yang seolah mengingatkan dia bahwa bahaya sesungguhnya bukan berada di sana, Mubarak menjelma menjadi kelopak turi yang berembus menembus alas hingga sampai di pinggir pantai.

Asin angin laut menyapu wajahnya dengan lembut seolah-olah membawa pesan dari jauh. Di sana, di bawah bayangan rembulan, dia melihat perahu cantrang bapaknya yang terombang-ambing, diam seperti hewan tanpa majikan yang kelelahan, menunggu seseorang untuk membawanya kembali ke laut. Dia membisikkan doa yang diwarisi dari bapaknya–doa yang sudah sering didengarnya ketika masih kecil setiap kali mereka berlayar.

Mubarak melepaskan perahu dari tambatan. Perahu melaju ke tengah laut seakan didayung oleh arwah bapaknya. Perahu terus melaju hingga rapal doa Mubarak makin mengental. Petir berkilat, merambat perlahan dari langit, mengular di telapak tangan. Rapalan khizib barqi menumbuhkan kembang turi di telapak tangan.

*

Saat itu, ketika pengajian akbar, Falas sedang memimpin jamaah dengan khotbahnya. Di hadapan banyak orang, Mubarak berdiri dan tiba-tiba berteriak lantang, “Kyai, bagaimana mungkin Sulaiman meninggalkan jejak terompahnya kalau beliau saja bisa berhijrah ke mana-mana menunggang permadani sutra selebar satu farsakh yang terbang dipikul angin? Apalagi di tanah Jawa seperti ini? Bukannya itu jadi mustahil kalau dipikir-pikir?”

Falas masygul dengan pertanyaan itu. Serasa tawon mengerubungi perutnya tiba-tiba. Merasa terhina, Falas membalas sambil menatap tajam pada Mubarak dari atas mimbar, “Apa kalian menghinakan mukjizat Sulaiman? Jangan sembarangan. Apa tidak kamu lihat bahwa jejakku adalah jejaknya?”

Di antara jamaah, Mubarak membalas tatapan Falas. Tatapan mereka yang saling beradu terasa lebih tajam dari bilah damaskus milik Salahuddin Al Ayubi. Mimbar terbakar akibat api di jejak kaki Falas makin besar. Melihatnya, Mubarak yakin bahwa dia dapat meruntuhkan malakut milik Falas.

Falas menutup pengajian dan segera meninggalkan keramaian diikuti beberapa ajudannya dalam kegelapan. Jejaknya masih terlihat membara. Mubarak juga beringsut pergi, menyelinap di antara para jamaah, dan menjadi kelopak-kelopak turi, lalu menghilang di antara keramaian.

Mengikuti jejak yang membara, Mubarak menyaksikan Falas mengumpulkan enam linsang dalam ruangan dan mengarahkan mereka untuk memangsa ayam pada dini hari di kamar dekat taman bunga. Aroma turi menyeruak. Mereka tak sadar Mubarak sedang berlenggang sesukanya di antara mereka sambil mengumpulkan bukti berupa akta dan nota dari brankas-brankas Falas.

*

Orang-orang berkumpul di balai desa. Setiap dari mereka membawa kembang turi di genggaman tangan tanpa tahu apa sebenarnya yang sedang terjadi. Mereka hanya tidur, lalu berjalan mengikuti arah terbang kembang yang tiba-tiba datang. Dan di balai desa, Mubarak telah menunggu. Dia memimpin orang-orang itu untuk melihat sendiri wajah Falas yang akan sekusut mori saat kebohongannya terungkap pada subuh nanti. Malam itu, di balai desa, Mubarak telah menyerahkan segala bukti. Dia meninggalkan orang-orang untuk menyelesaikan takdirnya sebagai mangsa agar tak ada ayam lain yang tercabik dagingnya. Angin meng-embuskan bisikan. Setiap kembang turi di genggaman tangan mengantarkan masing-masing orang kembali ke kediaman untuk menunggu azan yang akan segera membangunkan kebenaran.

*

Enam orang sudah datang dengan membawa parang. Khizib barqi membuat orang-orang itu buta dan tuli. Musuh-musuh Mubarak tumbang, hancur jadi kelopak kembang.

Azan subuh berkumandang. Falas datang ke masjid untuk jadi imam. Dia tidak terkejut saat masjid sudah ramai orang karena memang biasanya masjid diisi oleh warga dan peziarah dari luar kota. Di mihrab, kembang-kembang turi bertaburan di atas sajadah. Subuh kali ini berbeda. Setelah salat usai, Mubarak tiba-tiba telah berada di sebelah Falas. Falas dibimbing untuk berdiri tanpa perlawanan sama sekali seperti sapi betina yang dicuri dari pemiliknya yang terkena sirep. Orang-orang mengikuti tanpa bersuara ketika Mubarak membimbing Falas keluar. Di depan kijing Petilasan Terompah Sulaiman, Falas ditundukkan. Dalam keheningan, orang-orang mengikat Falas dengan tambang di sebuah pancang. Peziarah yang bingung datang merubung. Para pemuda mengatur mereka agar mengelilingi Falas. Kembang turi mulai berjatuhan dari atas langit subuh.

Semua orang menyaksikan seluruh area petilasan terbakar karena penuh jejak api yang menjalar hingga tepi pantai. Dan di luaran sana, jengkal-jengkal tanah makin menyala. PLTU juga seperti dilahap kobaran api.***

Bantul, 30/09/2024 — 04/10/2024

Catatan

1 Tahi Gergaji

2 Debu

A
Tentang Penulis

Arif Billah

Arif Billah adalah lulusan Ilmu Komunikasi UMY yang bekerja sebagai editor video. Selain menulis skenario, ia juga menulis naskah lakon, puisi, cerpen, dan esai.

Baca Biografi Selengkapnya →
Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.