Lewati ke konten

Siasat Pendidikan Spesial untuk Anakku yang Spesial

September 28, 2026 · Winda Saydina Octavia Junaedi

Aku berdiri di persimpangan jalan yang asing, menggendong tubuh mungilmu dan mendekap erat jemari kecilmu. Pikiranku bagai badai yang tak tahu di mana akan mereda. Aku sangat bingung mencari sekolah untukmu yang masih butuh banyak dampingan dalam menjalani aktivitas. Padahal banyak sekolah yang berpapan Sekolah Luar Biasa, tapi ternyata belum benar-benar bisa menerima segala kondisi unik setiap anak penyandang disabilitas. 

Ini pertama kalinya aku mencari sekolah untuk anak pertamaku yang bernama Malika Ghaziya Hafiza Yatmoko yang terdiagnosis Cerebral Palsy GMFCS 4, ASD, Gangguan Intelektual, Speech Delay, dan beberapa diagnosis lainnya, yang 4 tahun lalu berusia 5 tahun 6 bulan. SLB yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari rumahku ini aku kira akan menjadi ruang baru yang nyaman untuk melakukan aktivitas belajar dan bermain bersama guru dan teman-teman berkebutuhan khusus lainnya, yang akan menyambutnya dengan pelukan hangat dan menerima keunikannya dengan penuh cinta.

Namun, bagai disambar petir, harapan itu seketika terbakar dan abunya terbawa angin. Dengan seribu satu alasan yang kudengar, ini semua sangat mematahkan semangat dan harapanku. Ada kekosongan yang menyesakkan dada. Padahal aku ingin kau berlari bersama dunia dan tidak takut dunia memaksamu untuk berjalan di jalur yang tidak diciptakan untuk kakimu, kau melewati hari-hari dengan penuh tawa ceria bersama teman-teman seperjuangan. 

Pupus sudah harapanku di sekolah pertama yang coba aku datangi. Rasanya aku takut mencoba lagi untuk mencari di mana sekolah yang bisa menerimamu. Aku takut rasanya menerima penolakan karena kondisimu yang belum mandiri. 

Jika sekolah berlabel “Sekolah Berkebutuhan Khusus” saja masih mencari murid yang sudah mandiri, untuk apa sekolah itu ada? Bukankah sekolah itu seharusnya menjadi tempat di mana harus menerima keterbatasan ABK dan menstimulasi kemampuan untuk bisa berkembang dengan maksimal? Kenapa masih harus ada alasan “tidak ada SDM dan fasilitas yang memadai” di SLB? Kenapa?

Ini pertama kalinya aku mencari sekolah untuk anakku, tapi ini juga pertama kalinya hatiku dipatahkan oleh ekspektasiku. Bukankah dunia pendidikan sudah semakin maju dan inklusif? Tapi, kenapa masih ada penolakan dengan alasan yang sesederhana itu untuk diucapkan? “Tidak ada sumber daya manusia dan alat yang mendukung kondisi disabilitas anakku.” Apakah inklusif hanya sebatas kata-kata tanpa realita? Mengapa? Apakah karena tubuh kecil anakku terkunci oleh Cerebral Palsy?

Hampir 2 tahun berlalu. Aku harus dihadapkan kembali dengan situasi yang sama, yaitu mencari sekolah tingkat lanjutan untuk anak keduaku yang bernama Ceisya Ghaada Hifza Yatmoko yang terdiagnosa ASD (Autism Spectrum Disorder) level 2, ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), dan Speech Delay yang akan lulus dari tingkat PAUD. Saat itu usia anakku sudah 6 tahun. 

Langkahku mendadak berat setiap kali harus mencari jawaban dari setiap pintu sekolah yang kuketuk. Beberapa sekolah umum kutanyakan apakah bisa menerima keunikanmu? Apakah ada SDM dan kurikulum yang sesuai dengan kondisimu? Hampir setiap sekolah menyarankan kamu untuk didampingi shadow teacher. Bukannya aku tidak mau, tapi membayar shadow teacher + SPP itu rasanya berat bagiku. Belum putus asa, aku masih mencari sekolah yang inklusi atau sekolah khusus anak ASD. Beberapa informasi yang kudapat. Sekolah khusus ASD jaraknya begitu sulit kutempuh untuk setiap harinya, membutuhkan waktu yang perlu dipenuhi dan biaya yang tidak sedikit. Ya Allah, rasanya ini membuatku rapuh kembali. Aku belum menemukan titik terang dari permasalahan ini. 

Bahkan, rasanya di kepalaku berjejer angka-angka yang harus kugapai di luar kemampuanku. Aku sadar dengan kemampuan kondisi keuangan keluargaku. Apakah harus semahal ini ya sekolah untuk anak berkebutuhan khusus? Tidakkah ada sekolah yang ramah dalam pembiayaannya? Setidaknya, setiap kecamatan memiliki satu SLB atau sekolah inklusi yang sudah lengkap SDM dan fasilitasnya, untuk setiap anak berkebutuhan khusus yang sangat beragam keunikannya. Atau mungkin ada gebrakan baru, yaitu program sekolah untuk anak berkebutuhan khusus di mana pemerintah bisa menyiapkan guru yang akan home visit ke rumah anak berkebutuhan khusus yang mobilitasnya sangat terbatas. Agar mereka bisa mendapatkan haknya dalam pendidikan sama seperti anak tipikal. Dan juga kami, para orang tua anak berkebutuhan khusus ini, tidak bingung dan merasa bersalah karena tidak bisa memberikan hak pendidikan kepada anak kami.

Mungkin itulah kenapa anak-anak berkebutuhan khusus sering dipanggil “Anak Spesial”. Ternyata, sespesial ini kita menempuh perjalanan hidup menemani anak-anak ini. Sespesial ini kita berjuang untuk kehidupan mereka. Dan sespesial ini hati, jiwa bahkan raga yang harus kita jaga untuk bisa tetap kuat dan sabar membersamainya. Tidak hanya dalam hal itu, tapi  juga dalam segi pembiayaan pun kebutuhan anak berkebutuhan khusus yang berat itu sangat tinggi, mulai dari kebutuhan primernya untuk memenuhi nutrisinya hingga kebutuhan sekundernya yang banyak sesuai dengan kondisi masing-masing ABK. 

Kutarik napas panjang, kutahan sebentar dan kuembuskan perlahan dengan lembut. Kuulangi ini beberapa kali, agar hati dan pikiranku bisa tetap tenang. 

Dan di dalam pikiran dan hatiku berkata, “Akankah aku mengambil keputusan yang sama untuk kedua kalinya? Seperti keputusan yang kuambil untuk anak pertamaku yang belajar dan bermain di rumah dengan kurikulum sendiri sesuai kondisi dan kebutuhannya. Bukankah belajar bisa di mana saja? Tidak harus ditempat formal.” Hari demi hari terlewati.  Detik demi detik kujalani.

Bagai mendapat setetes air di tengah gurun ketika aku berpasrah dan tidak tahu harus bagaimana, kudapatkan informasi tentang sekolah khusus yang mungkin masih bisa aku jangkau jaraknya karena hanya 20 menit dari rumahku. “Ah, itu tidak terlalu jauh, kok,” batinku. Sebelum berkunjung ke sekolah itu, aku menghubungi lebih dulu kepala sekolahnya untuk bisa  menanyakan beberapa hal. Setelah menghubungi lewat pesan singkat, aku pun membuat janji untuk bisa survei ke sekolah itu. 

Hari yang kutunggu pun tiba. Aku menggerakkan tubuhku dengan penuh harap dan semangat. Aku, suamiku, dan Ceisya bergegas menuju ke sekolah itu. Tak lupa di dalam perjalanan aku selalu berdoa semoga sekolah ini bisa menjadi tempat ternyaman dan tempat yang bisa menerima anakku ini dengan ramah. 

Sampailah kami di sekolah yang dituju. Kami pun disambut dengan baik oleh guru-guru yang sangat ramah, kepala sekolah yang begitu humble, dan anak-anak yang terlihat sangat bahagia dan bersemangat bermain bersama teman-temannya dan semua guru. 

Sekolah ini mungkin terlihat tidak seperti sekolah pada umumnya. Sekolah ini terbentuk dari sebuah rumah yang dialihfungsikan untuk menjadi tempat di mana anak-anak berkebutuhan khusus ini bisa bermain dan belajar bersama dengan aman. Namanya “Homeschooling”. Sekolah ini berbeda dengan sekolah formal, tempatnya bisa disesuaikan, waktunya fleksibel, metode belajar bisa disesuaikan dengan kebutuhan anak, dan perhatian yang lebih ekstra diberikan kepada anak didik yang berkebutuhan khusus. 

Ternyata anak yang bersekolah di sana beraneka ragam kondisinya, mulai dari ASD, ADHD, speech delay, Cerebral Palsy, Down Syndrome, dan lainnya. Aku pun bertanya kurikulum seperti apa yang dipakai di sini, apa saja fasilitas yang didapat, bagaimana dengan jam kegiatan belajar mengajarnya, program apa yang ada untuk orang tua dan anak, dan yang pasti administrasinya. 

Untuk aku pribadi, tempat ini akan nyaman untuk anakku, apalagi untuk anakku yang ASD dan ADHD, karena banyak kegiatan outdoor-nya di sini. Dan yang pasti di sini menerima anak berkebutuhan khusus dengan segala kondisinya.

Sesampainya di rumah, aku langsung berdiskusi dengan suamiku, keputusan apa yang akan kami ambil setelah tadi kami bertanya untuk administrasinya. “Huuuufftt…” Kuhela napas panjang. Lagi-lagi aku dihadapkan pilihan yang sulit. Rasanya ingin sekali aku menyekolahkan Malika dan Ceisya di sana, tapi kupikir-pikir lagi apa saja yang harus aku siapkan: mulai dari keuangan, akomodasi, waktu, dan bahkan tenaga jika aku menyekolahkan keduanya di sana. 

Karena rumahku ke sekolah itu butuh waktu 20 menit, itu waktu yang lumayan untuk perjalanan anak berkebutuhan khusus. Belum lagi Malika yang mobilitasnya masih menggunakan kursi roda, jadi harus selalu membawanya. Tapi, jika setiap hari kita harus menggunakan transportasi online untuk pulang-pergi, itu sangat membuat besar pengeluaran. 

Tetiba saja aku punya harapan, “Andai saja pemerintah bisa menyiapkan transportasi umum yang ramah disabilitas dan menjangkau sampai ke dalam desa, atau membuat transportasi free khusus disabilitas yang mobilitasnya terbatas, itu pasti akan sangat mudah untuk anak-anak seperti Malika”. Ah, tapi itu hanya anganku yang terlalu tinggi untuk negeri ini di era ini. 

Selain akomodasi yang susah untuk Malika, aku dan suami juga mempertimbangkan biaya tahunan dan bulanan sekolah yang sangat besar untuk sekolah khusus ini. Kami sadar kemampuan kami sampai di mana. Karena sekolah inklusi memang tidak murah. Sangat melebihi, bahkan berkali-kali lipat dari sekolah umum. Ya, kembali lagi karena anak berkebutuhan khusus itu sangat spesial, jadi semua kebutuhannya pasti spesial juga. 

Lagi-lagi, aku berangan-angan, “Andai saja di negeri ini para pemilik kebijakan bisa membuka mata terhadap pendidikan inklusi dan benar-benar memikirkan hak anak-anak berkebutuhan khusus untuk bisa bersekolah dengan biaya yang ramah di kantong, pasti aku, suami, dan orang tua ABK lainnya tidak mempertimbangkan biaya yang mahal ini. Dan semua anak, termasuk ABK bisa mendapatkan haknya untuk bisa sekolah.” 

Setelah banyak pertimbangan, akhirnya dengan berat hati aku dan suami memutuskan untuk hanya menyekolahkan satu orang anakku yang mobilitasnya lebih mudah karena dia sudah bisa berdiri sendiri di atas kakinya. Jadi, kami bisa berangkat ke sekolah menggunakan kendaraan pribadi yang kami miliki, yaitu motor. 

Beberapa hari berlalu.

Pagi itu sangat bersahabat. 

Matahari bersinar begitu cerahnya. 

Suara burung bersahutan dan terbang ke sana-kemari sambil menari. 

Udara yang kuhirup sangat segar sampai menembus ke dalam tubuhku. 

Kusiapkan segala persyaratan untuk mendaftarkan Ceisya sekolah. Kulangkahkan kakiku dengan penuh bahagia dan semangat. Begini ya rasanya menjadi seorang ibu dari ABK ketika telah menemukan sekolah yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan anaknya. Padahal, kemarin aku sempat putus asa dan merasa tidak adil dengan anakku karena sempat terpikir untuk tidak melanjutkan sekolahnya. Tapi, Tuhan memberiku jalan, mengantarkanku menemukan sekolah itu. 

Teruntuk ketiga anak berkebutuhan khususku, definisi adil bukan harus sama rata, tapi memberikan sesuai kebutuhannya. Dan semua sesuai kemampuan orang tua masing-masing. Untuk Malika anak pertamaku dan anak ketigaku yang bernama Aleeya Ghazala Haniyah Yatmoko yang juga menyandang label ABK, yaitu Cerebral Palsy GMFCS 4, yang dua bulan lagi genap berusia 6 tahun, di mana usia itu harusnya juga sudah memasuki usia anak bisa bersekolah, tapi karena keterbatasan mobilitas dan kemandirian. 

Dengan berat hati kami sebagai orang tua kalian memutuskan untuk memfokuskan kalian fisioterapi, terapi wicara, terapi okupasi, dan terapi perilaku agar kalian bisa memaksimalkan perkembangan kalian. Dan kita belajar di rumah dengan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan kalian berdua. 

Dan pada akhirnya, aku sadar walau dunia pendidikan masih dingin membeku untuk anak penyandang disabilitas berat, seorang ibu hatinya akan tetap utuh walau berkali-kali harus menerima situasi yang mematahkan semangat dan harapan. Dengan segala daya dan upaya aku berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya. Sebagai ibu dari 3 anak berkebutuhan khusus, aku belajar bahwa “sekolah” tidak selalu tentang gedung dan bangku. 

Terkadang ia tentang pintu-pintu yang tertutup, biaya yang tak terjangkau, dan air mata yang ditahan. Terkadang ia juga tentang harapan kecil, keterbatasan dan rumah yang disulap jadi tempat menimba ilmu agar hak pendidikan untuk setiap anak tetap bisa terlaksana walau tanpa instansi formal.

Terima kasih Malika, Ceisya, dan Aleeya, kalian bukan ujian untukku, tapi kalian adalah anugerah yang sangat luar biasa yang telah mengajarkanku banyak hal tentang kehidupan, terutama tentang sebuah keinginan yang tidak semuanya selalu akan berjalan sesuai apa yang direncanakan. Kalian mengajarkanku untuk terus berusaha dan belajar banyak hal baru serta menerima segala hal di luar kendali.

Dan mencintai kalian tanpa syarat. 

 

W
Tentang Penulis

Winda Saydina Octavia Junaedi

Lahir: Denpasar, 14 Oktober 1993

Winda Saydina Octavia Junaedi, S.Pd. lahir dan besar di Denpasar pada 14 Oktober 1993.  Menetap di Yogyakarta sejak akhir Februari 2017. Sudah 6 tahun terakhir, ia fokus menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga dan melepas karirnya. Ia dengan penuh kasih sayang dan harapan mendampingi tumbuh kembang 3 orang anak berkebutuhan khususnya. Perjalanan ini membentuk pribadinya menjadi sosok yang sabar, kuat, dan penuh empati. Di sela kesibukan merawat ketiga anaknya, semangatnya tidak pernah padam untuk bermanfaat bagi orang banyak. Ia aktif dalam kegiatan lingkungan bersama ibu-ibu PKK serta terlibat di beberapa komunitas. Baginya, menjadi seorang ibu adalah amanah terbesar, apalagi amanahnya begitu spesial dan mengabdi untuk sesama adalah cara untuk terus belajar dan bertumbuh bersama.

Baca Biografi Selengkapnya →
Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.