Lewati ke konten

Peristiwa

Tiga Tragedi dan Sebuah Lagu pada Satu Malam

August 27, 2026 · Muhamad Samsul Hadi

Bienial Sastra Indonesia Modern x Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026 masih bergulir. Jika kemarin malam ada pertunjukan pembacaan cerpen dan sketsa, malam ini (26/08/2026), tidak jauh berbeda, ada Monolog dan Dramatic Reading. Suasana malam ini juga tidak jauh berbeda dengan malam-malam sebelumnya, langit yang beberapa malam ini hanya berteman rembulan tanpa bintang. Di depan panggung para pengunjung asyik ngobrol, menyeruput kopi, mengepulkan asap rokok, sambil menikmati jajanan dari UMKM. Sebagian lainnya tampak lalu-lalang mencari buku-buku di pasar buku.

Pertunjukan dimulai sekitar pukul 19.50. Dan seperti biasa, aku duduk di bagian paling depan. Aku tak ingin melewatkan satu hal pun. Pertunjukan malam ini akan merajut berbagai cerita kehidupan, dimulai dari Tempat Istirahat (Resting Place) karya David Campton, lalu melintasi lorong waktu menuju kisah pemberontakan berdarah Ki Ageng Mangir, dibanting ke dalam amukan duka bencana ekologis lewat monolog “Mereka Menebang Kita Tenggelam”, dan ditutup manis oleh petikan gitar Amanda Citra.

Dan dimulailah pertunjukan pertama, Tempat Istirahat oleh Feri Ludiyanto dan Nunung Deni Puspita Sari. Keduanya yang berpenampilan seperti kakek dan nenek naik ke atas panggung dan menempati sebuah bangku panjang yang telah disediakan di situ. Keduanya memegang lembaran naskah di tangan, mempertegas bahwa di sini imajinasi penonton akan dihidupkan melalui gestur, postur tubuh, dan dinamika vokal.

Sebelum pembacaan dimulai, keduanya menyapa penonton, berbincang santai selayaknya tuan rumah yang menyambut tamu, menjelaskan sedikit mengenai naskah yang akan dibawakan. Keduanya kemudian menanyakan apakah di antara para penonton ada yang sudah memiliki pasangan atau keluarga. Beberapa di antara penonton mengangkat tangan, tapi hanya beberapa. Mungkin mereka malu, atau mungkin yang penonton tangkap adalah pasangan yang sudah menikah. Atau bisa jadi, penonton malam ini adalah orang-orang kesepian yang melarikan diri ke FSY untuk mencoba mencari penghiburan. Untuk golongan terakhir ini, aku do’akan semoga terhibur sepenuhnya.

Apa pun itu, tidak jadi masalah, yang penting adalah perihal pasangan di depan itu sendiri. Karena beberapa saat kemudian, penonton akan segera sadar bahwa dua orang yang duduk di bangku panjang itu ternyata pasangan suami istri yang telah menua bersama dan kini tengah mendekati ajal. Dan bangku panjang itu ternyata adalah bangku taman di depan sebuah pemakaman umum.

Namun, percakapan pasangan lanjut usia itu jauh dari kesan khusyuk. Alih-alih merenungkan misteri transendensi kehidupan setelah mati, mereka justru berdebat tentang hal-hal paling duniawi. Mulai dari gengsi bentuk nisan batu, angan-angan menjadi kaya raya, hingga rasa lapar yang tiba-tiba menyerang di tengah perenungan eksistensial mereka.

Di sinilah dahsyatnya drama ini, ironi tajam yang menyindir kealpaan manusia. Campton dengan cerdik menunjukkan bagaimana manusia terjebak dalam ego, materi, dan rutinitas remeh bahkan ketika mereka sudah berada di ujung garis hidupnya. Puncaknya adalah ketika si kakek tiba-tiba lapar dan pembicaraan beralih ke pindang bandeng. Pergeseran ke urusan perut ini menunjukkan bahwa hidup, apa pun itu, pada akhirnya adalah soal hal-hal sesederhana pindang bandeng untuk makan malam. Kita boleh saja bergagah-gagahan bicara filosofis atau hal-hal abstrak, tapi pada ujungnya kita tak berdaya melawan perut yang sudah minta makan.

Belum usai sisa senyum dari naskah David Campton, panggung festival ditarik mundur jauh ke masa lalu, menyusuri lorong sejarah tanah Jawa. Di sudut panggung, berdiri anak kelas 5 SD, Naura Quinta. Badannya yang mungil dibalut busana tradisional, blangkon di kepala, baju lurik merah bermotif garis, lilitan kain batik di pinggang, dan tangannya yang mantap menggenggam sebuah tombak. Ia akan membawakan kisah Ki Ageng Mangir.

Aku kaget. Bagaimana tidak, anak seusia itu membawakan monolog dengan lakon sejarah yang begitu pekat. Kisah Ki Ageng Mangir bukanlah narasi yang ringan. Ini adalah cerita tentang pemberontakan wilayah perdikan Mangir kepada Kerajaan Mataram yang berakhir pada kematian tragis. Tapi biarlah itu menjadi pertanyaan yang kusimpan dulu, sekarang aku ingin menikmati penampilan Naura.

Ketika Naura mulai bersuara, usia seakan lebur. Intonasi suaranya lantang, penuh energi, dan artikulasinya tajam menembus udara malam. Ia tidak sedang bermain-main membawakan drama sekolah, tapi sungguh-sungguh menjelma menjadi monolog ulung. Lebih dari itu, di tengah pertunjukan, Naura juga memperkaya penampilannya dengan memainkan alat musik tradisional dan melantunkan tembang ketika adegan tokoh Pembayun menyamar sebagai penari dan penyanyi untuk mendekati Ki Ageng Mangir.

Kisah ini menempatkan Mangir sebagai pihak yang berdaulat, hero lokal yang mempertahankan otonominya, sementara Mataram diposisikan di seberangnya. Naura membawa kembali spirit perlawanan terhadap apa pun yang mengganggu kedaulatan dan harga diri. Mangir menolak tunduk demi mempertahankan harkat dan martabatnya, meskipun pada akhirnya berujung kematian tragis.

Dari masa lalu yang berbalut sejarah, panggung beralih ke masa kini, sebuah monolog berjudul “Mereka Menebang, Kita Tenggelam” dibawakan oleh Nayla Sakhi. Pementasan ini mengangkat isu ekologis. Sebuah tanah yang subur dan kaya raya, namun hancur ditelan banjir akibat perusakan lingkungan dan alih fungsi lahan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab. Dalam bencana besar itu, tokoh utama, si Ibu, kehilangan bayinya dalam terjangan air bah, sementara ia sendiri selamat dari maut.

Nayla membawakan monolog ini dengan energi yang meledak di depanku. Ia berjingkrak, menghentakkan kaki, hingga berguling di atas panggung tanpa kenal lelah. Totalitas geraknya begitu beringas hingga sempat terdengar celetukan dari bangku penonton di belakangku, ”Seperti kesurupan.”

Menurutku, celetukan itu justru menegaskan keberhasilan sang aktor. Dalam menghadapi tragedi sebesar kerusakan alam, kata-kata saja tidak pernah cukup. Nayla menggunakan seluruh tubuhnya untuk mewakili kepanikan, rasa tidak berdaya, dan amukan amarah para korban bencana. Gerakan yang liar dan beringas itu adalah terjemahan visual dari jeritan jiwa-jiwa yang tenggelam oleh keserakahan manusia yang seolah merasuk ke panggung pertunjukan malam ini.

Setelah diguncang ironi kematian, membuka kembali sejarah Mangir, dan diteror oleh kemarahan duka ekologis, pertunjukan malam ini ditutup dengan penampilan Amanda Citra dengan gitar akustiknya. Amanda membuka penampilannya dengan membawakan lagu “Alamak” milik Rizky Febian & Adrian Khalif, kemudian lagu-lagu karyanya sendiri, “Beri Waktu”, “Sun in Your Winter”, dan ditutup dengan “Thankful”.

Penampilan solo akustik ini menjadi katarsis bagi penonton. Suasana yang tadinya penuh ketegangan, amarah, dan beban sejarah, perlahan-lahan dicairkan. Vokal Amanda yang lembut bertaut petikan gitar akustik tak ubahnya tirai panggung teater yang menyadarkan penonton kembali ke dunia nyata, kembali hidup, berjuang, kembali beromansa.

Cause I know your smile is my energy. When the world feels not alright, Babe you keep me in your arms,” suara lembut Amanda mengantar penonton pulang.

 

Tentang Penulis

Muhamad Samsul Hadi

Lahir: Lombok, 12 Maret 1990

Lahir di Lombok, 12 Maret 1990. Saat ini tinggal di Yogyakarta. Menyelesaikan S1 Pendidikan Fisika di Universitas Hamzanwadi dan S2 Ilmu Sastra di UGM. Ia suka membaca buku-buku filsafat, novel, lari, dan nonton film. Komentar-komentarnya mengenai ragam hal bisa ditemukan di medium @Hadi Muhamad.

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.