Lewati ke konten

Peristiwa

Susur Galur IV: Rupa Sastra-Sinema-Rupa

August 8, 2025

Kredit: FSY 2025.

Sastra tidak berhenti pada teks, tetapi bisa melintas ke karya lain semisal film dan seni rupa. Begitu pula sebaliknya, karya lain juga dapat berubah medium menjadi karya sastra. Kita lumrah menyebutnya “alih wahana”. Namun, dalam diskusi Susur Galur IV: Komunitas Melintas (Senin, 03/08/2025), alih wahana tidak sebatas perubahan wujud sebuah karya, tetapi juga hal-hal teknis yang tak kalah penting.

Di panggung sastra, ada Verry Handayani (Moderator/forumaktor_yk), Ismail Basbeth (Bosan Berisik Lab), dan Yustina Neni (Kedai Kebun Forum) yang membaca kembali frasa “alih wahana”. Diskusi berlangsung sekitar dua jam, dimulai dengan menelusuri seputar film oleh Ismail Basbeth.

Basbeth seperti hendak merangkum bagaimana sejarah dan tradisi di dunia film yang membentuk cara pandang kita hari ini. Mula-mula, film berangkat dari cara konvensional. Kalau bukan naskah pertunjukan, paling jauhnya berasal dari cerita-cerita rakyat. Sastra baru belakangan dijadikan sumber ide atau dialihkan menjadi film.

“Itu pun yang paling awal adalah novel,” kata Basbeth.

Dengan gaya yang jenaka dan misuhan, Basbeth memaparkan kepada hadirin tentang pembabakan garis waktu pada film, yaitu sebelum perang dunia dan pasca perang dunia kedua. Industri film sebelum perang dunia kedua belum memiliki bentuk bisnis yang konkret dan hanya semata hiburan. Bahkan, menjelang perang dunia kedua pun, fungsi film cukup sebatas sebagai alat propaganda paling tokcer bagi negara-negara yang berperang. Hitler, misalnya, membuat film-film nasional Jerman guna membakar semangat.

Barulah pasca perang dunia kedua, industri film mulai menemukan bentuknya berupa dua aliran yang paling dominan, yaitu gaya Eropa dan Amerika. Gaya Eropa amat dipengaruhi oleh tradisi literatur dan logika kolonial. Sineas Eropa tak segan menggelontorkan dana kepada negara kecil atau negara bekas jajahan yang butuh didukung dan seolah membutuhkan pencerahan.

Gaya Amerika berfokus pada peningkatan kapital. Kendati begitu, sineas Amerika tidak semata menghasilkan karya bermutu rendah atau ecek-ecek, tetapi juga meminjam bentuk hiburan populer seperti Reality Show. Dengan kata lain, mereka tidak menolak pengaruh dari bentuk seni kontemporer.

Perbedaan gaya Eropa dan Amerika ini juga memengaruhi cara seorang sineas sintas di dunia film. Kritikus film Eropa lebih menyukai sutradara yang konsisten dengan tema yang digarap sejak awal. Jika sejak awal menggarap film komedi, seterusnya mesti komedi. Bagi Basbeth, hal ini menguntungkan sekaligus menjadi tantangan tersendiri kalau seseorang ingin berkarier di perfilman Eropa.

Tradisi perfilman tidak hanya menarik di Eropa dan Amerika, tetapi juga di Asia. Sinema Taiwan dan Hongkong, misalnya, turut memengaruhi tradisi sinema di bagian Asia lainnya seperti Jepang dan Korea. Selain karena ada hubungan politik, juga karena negara-negara itu sering melakukan pertukaran pelajar yang fokus pada film. Sementara itu, di Indonesia, film meminjam lebih banyak gaya bercerita dari India, khususnya melodrama.

Cara meminjam gaya penceritaan pada film amat lumrah berlangsung. Banyak sineas yang berkarier di negeri asal, tetapi cara mereka bercerita sangat merepresentasikan bentuk penceritaan film dari negara lain.

“Seperti saya dari Wonosobo, tetapi karena besarnya di Jogja, ya berkesenian dengan gaya Jogja,” kata Basbeth.

Menyutradarai sebuah film tidak hanya menjadi seorang pencerita, tetapi juga menjadi intelektual. Hal inilah yang menurut Basbeth sangat dibutuhkan oleh dunia film hari ini.

Aspek penting lain dari alih wahana adalah perihal hak milik intelektual. Ini begitu penting karena di Indonesia sendiri masih menjadi persoalan. Ada kaitannya juga dengan cara kita bercerita hari ini. Dahulu, orang mesti melalui publisher dulu sebelum diapresiasi. Sekarang, orang bisa menulis di media sosial, lalu diapresiasi oleh publik, dan barulah dicetak atau dialihwahanakan menjadi film.

Basbeth melihat ini sebagai sebuah peluang keterbukaan dan inklusivitas dalam dunia film. Cerita-cerita yang berangkat dari karya sastra bisa dialihwahanakan dengan cepat asalkan memiliki regulasi keagenan. Karena di Indonesia belum ada logika keagenan, Basbeth menawarkan agar penerbit menjadi agen antara penulis dengan produser film. Tujuannya untuk memproteksi cerita asli dan hak intelektual si penulis. “Inilah model alih wahana dalam konteks bisnis,” tutup Basbeth.

Yustina Neni memulai dengan menimang-nimang buku Kuntowijoyo, Kereta Api Yang Berangkat Pagi Hari, yang sedari tadi dipegangnya.

“Jujur saja, cover-nya tidak menarik di era visual yang instagramable,” ujar Mbak Neni. Namun, ia punya alasan terkait hal itu. Membaca teks dengan membaca gambar atau visual jelas berbeda. Membaca teks dilakukan dari kata per kata dan imajinasi muncul setelahnya, tetapi membaca gambar berlangsung secara simultan. “Buku ini secara cover tidak menarik, tetapi penerbit percaya bahwa Kuntowijoyo tidak perlu embel-embel,” lanjut Mbak Neni.

Problem alih wahana menurut Yustina adalah apakah ilustrasi–digital atau manual–dapat menggambarkan rencana utuh si pencipta teks? Sering kali, penciptaan ilustrasi dilakukan terpisah dari isi teks karya sastra. Strategi semacam ini dapat berhasil, tetapi tidak selalu. Alih-alih karya sastra menyatu dengan cover-nya, bisa juga si ilustrator menciptakan karya yang berbeda dari isi karya sastra. Namun, bagi Mbak Neni, hal itu tetap menggugah karena si ilustrator punya daya imaji yang berbeda dengan si penulis. Kendati demikian, ia percaya bahwa alih wahana seharusnya tetaplah melalui proses pembacaan terlebih dahulu dari karya asal.

Pada akhirnya, alih wahana bukanlah kerja-kerja sekadar perubahan atau pergantian medium suatu karya, melainkan juga keterlibatan proses-proses di luar pengkaryaan. Dari Basbeth, kita belajar bahwa sejarah, industri, dan keterpengaruhan si pencipta karya menentukan arah perpindahan itu. Sementara itu, dari Mbak Neni, kita tahu bahwa tidak semua perpindahan melalui proses imajinasi yang sama.

Barangkali, alih wahana justru menjadi medan terbuka bagi tafsir-tafsir baru untuk menguji kekuatan dan batas sebuah karya.***

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.