Peristiwa
Seratus Tahun Sastra: Sehari yang Tak Berkesudahan
February 8, 2025
“Kapan ya acara sastra enggak ngaret?”
Ups! Seharusnya aku awas dengan keluhan seorang panitia ini. Di ruang Apresiasi Sastra 2025, waktu menjadi sesuatu yang cair, mengalir ke arah yang tak dapat ditebak.
***
Hari pertama Februari dibuka dengan sebuah perayaan: Merayakan Seabad Pramoedya Ananta Toer, Sitor Situmorang, A.A. Navis, dan Franz Kafka. Itu nama-nama besar yang telah menorehkan jejak di halaman sejarah sastra, baik di Indonesia maupun dunia.
Apa yang menyatukan Kafka, Pram, Navis, dan Sitor?
Aku segera menemukan jawabannya dalam booklet acara, di sebuah paragraf yang nyaris terlewat oleh mata-mata lelah:
“Kafka hilang dari dunia ini pada 1924, tetapi nalurinya untuk merdeka seakan-akan bereinkarnasi di Hindia Belanda, menitis pada diri Sitor, Pram, dan Navis. Ketiga penulis itu pun menderita—dalam bentuk masing-masing—lantaran naluri mereka akan kemerdekaan membawa mereka ke jalan yang kerap berbeda dari jalan orang kebanyakan.”
Seabad silam, di Austria, Kafka mengembuskan napas terakhirnya, meninggalkan dunia yang ia gambarkan penuh absurditas dan kegelisahan. Sementara itu, di tanah yang jauh, di bumi Nusantara, lahirlah Navis, Sitor, dan Pram. Momentum ini dirasa tak boleh berlalu begitu saja. Maka, Radio Buku bersama kelompok Apresiasi Sastra, grup milis yang sudah dua puluh tahun umurnya dan telah menjadi komunitas offline yang longgar, serta para pegiat literasi Yogyakarta menghelat perayaan ini—sebuah ajang bagi pembaca untuk kembali bertemu dengan sastra.
Buku-buku akan dihidupkan kembali dalam diskusi yang hangat. Ada sesi puisi, tempat kata-kata menjelma kegelisahan; sesi kumcer, yang merekam kepingan-kepingan kehidupan; sesi puisi, novel, yang merentang sejarah manusia; sesi terjemahan, yang membuka jendela dunia; dan sesi buku esai, yang mempertajam pemikiran. Dan oh, tentu saja sesi makan gratis!
Sesi Puisi

Sesi Puisi dimulai tanpa kehadiran Saut Situmorang. Namanya tercantum dalam jadwal dan disebut-sebut di atas panggung, tetapi kursinya kosong. Hanya Hasta Indriyana yang hadir, duduk di samping moderator, Marissa Santi Dewi. Hasta bicara tentang puisi, tentang bagaimana memahami puisi tidak melulu soal makna, tetapi juga imaji, juga bunyi. Kata-kata bisa didengar, bisa diraba, bisa dibiarkan mengendap tanpa harus dipahami secara mutlak.
Sumpah Kabut Kota, buku puisi A. Junianto, dibedah dengan saksama. Kata-kata Junianto liris dan jernih, tetapi di balik kelembutan itu ada sesuatu yang keras. Ada gedung-gedung mencakar langit, ada jadwal yang menjebak, ada tubuh yang rebah di huma kata-kata, ada ingatan yang terpenggal. Seorang audiens bertanya kenapa penyair Balai Pustaka dan Pujangga Baru tidak menulis tentang kota seperti A. Junianto. Jawaban Hasta Indriyana sederhana: kota belum terbentuk.
Sesi Terjemahan

Selepas Sesi Puisi, dimulailah Sesi Terjemahan. Di panggung, Ipang Pamungkas dan Tiya Hapitiawati duduk berdampingan, dengan Arman Dhani sebagai moderator. Mereka bicara tentang dua buku: Conversations with Friends karya Sally Rooney dan Minyak Anjing, kumpulan cerpen hasil penerjemahan kolektif dari berbagai bahasa.
Arman bertanya kenapa Sally Rooney perlu diterjemahkan. Kukira Ipang bakal menyinggung eksplorasi tema identitas dan seksualitas dalam novel yang diterjemahkannya. Namun, jawaban yang datang datar: karena menarik, dan membuktikan bahwa tema-tema kecil bisa dijadikan cerita yang bagus. Titik.
Minyak Anjing, di sisi lain, merupakan upaya bersama 19 anak muda yang menerjemahkan cerpen klasik lintas benua. Tiya menjelaskan bahwa proses penerjemahan berlangsung organik, tidak mengikuti sistem akademik. Mereka belajar dari pengalaman Eka Kurniawan, Roni Agustinus, dan lainnya. Tidak ada kurikulum. Hanya ada proses yang mengalir seperti arus sungai yang tahu sendiri ke mana harus bermuara.
Lalu datang sesi tanya jawab. Seorang audiens bertanya tentang kerja penerjemahan di era Balai Pustaka hingga Orde Baru, yang lebih sering digunakan sebagai alat propaganda. Jika dulu penerjemahan membangun jembatan lintas budaya, ke mana jembatan itu sekarang hendak menuju? Dengan keyakinan yang hampir bisa memindahkan gunung, Tiya menjawab bahwa iklim penerbitan sudah berubah. Sekarang sudah banyak penerbit yang menerbitkan buku-buku progresif. Namun, apakah jembatan itu benar-benar mengarah ke tempat yang lebih baik? Itu pertanyaan yang masih menggantung.
Isu lain yang mencuat adalah tentang sikap penerbit terhadap Palestina. Mooi Pustaka pernah diterpa kontroversi karena menerbitkan buku seorang penulis yang dianggap pro-Israel. Tiya menjawab tegas: buku itu sudah ditarik dari peredaran. Shira lebih hati-hati dan belum pernah blunder dalam isu ini. Namun, tetap saja, kerja-kerja penerjemahan menuntut kewaspadaan. Pernah ada niat menerjemahkan Yuval Noah Harari, tetapi kemudian disadari bahwa hal itu bisa memancing amarah massa perbukuan Indonesia yang cenderung pro-Palestina.
Pertanyaan terakhir datang dari seseorang yang suaranya penuh keresahan: apakah seorang penerjemah bisa hidup layak? Tiya menghela napas. Ini bukan hanya masalah di Indonesia, tetapi di seluruh dunia. Hanya saja di Indonesia lebih buruk. Ipang menambahkan, “Penerjemah bisa hidup layak, tetapi jangan terjemahin sastra.”
Prolog Apresiasi Sastra
Kun! Setelah isya, Jejak Imaji menyela pembicaraan tentang sastra dengan pertunjukan musik yang menyegarkan.

Lalu, sebuah sesi yang lahir tanpa pertimbangan, tanpa rencana, terlahir begitu saja dari benak sang punggawa Apresiasi Sastra, Sigit Susanto. Sesi yang menggempur, menjarah, dan mengacak-acak rundown yang telah disusun rapi oleh panitia—sebuah pengingat akan ketidakpastian yang selalu mengiringi perjalanan sastra. Di ruang itu, waktu menjadi sesuatu yang cair, mengalir ke arah yang tak dapat ditebak.
Para pemateri, satu per satu, menyeret langkah menuju kursinya masing-masing, kebingungan menghadapi sesi yang merasuk tanpa aba-aba. Namun, Saut Situmorang tak terpengaruh. Ia melenggang ke panggung, seolah-olah peralihan waktu tak lebih dari sekadar langkah kaki yang tak perlu dipikirkan. Seolah kealpaannya di sesi siang hanyalah bisikan angin yang tak layak diperhitungkan.
Raudal Tanjung Banua membuka dengan cerita tentang AA Navis, sosok yang dikenalnya dengan intim pada masa muda. Kata-katanya mengalir tentang sang sastrawan yang, meski sinis dalam pandangan, adalah seseorang yang memantik api kritik dalam diri para penulis muda. Sinisme Navis adalah sebuah tangan yang mendorong, sebuah pemicu untuk tidak berdiam diri, untuk bertanya tentang dunia di luar sana. Namun, meski tajam lidahnya, Navis tak pernah menghindar dari meja makan yang sama. Ia makan bersama mereka, berbicara dengan mereka, mendampingi mereka. Karyanya yang terus menderas, tak mengenal jarak antara daerah dan ibu kota. Seperti Ali Sadikin di DKI, ia memfasilitasi para seniman yang ada di Sumatra Barat dengan tangan yang tak terlihat oleh kebanyakan orang. Ketika berdekatan dengan Widodo A.S., banyak kegiatan sastra yang menjalar di tanah Minang, memberikan ruang bagi para penulis untuk bernapas dan bertumbuh.

Kemudian, giliran Saut Situmorang. Kali ini ia bicara tentang sesama penyair Batak, Sitor Situmorang. Di mata publik, puisi-puisi Sitor selalu mendapat perhatian besar, namun di sisi lain, identitasnya sebagai seorang prosais selalu terkubur dalam bayang-bayang, diabaikan, seolah tak layak dipandang. Persaingan dengan yang dianggap “kanon” memaksa identitas itu untuk hilang. Saut, dengan penuh keyakinan, menyatakan bahwa posisi Sitor sebagai cerpenis harus mulai dibicarakan dengan serius. Kritik sastra akademik, menurutnya, harus mampu melampaui diskusi yang hanya berputar pada eksotisme lokal yang lebih mementingkan pencitraan budaya ketimbang substansi estetika itu sendiri.
Seorang audiens tiba-tiba berteriak, “Tidak memuaskan!” Sebuah teriakan yang memenuhi ruang, menciptakan ketegangan sejenak. Saut hanya nyengir dan menjawab, “Itulah kehidupan.”
Saat jam menunjukkan pukul sepuluh malam, An. Ismanto tiba dengan penjelasannya tentang sangkar besi birokrasi yang mengekang, mengutip Franz Kafka. Beberapa audiens mulai gelisah, seolah bertanya dalam hati, “Diskusi sastra macam apa ini, di tengah malam?” Sialnya, yang disampaikan oleh Ismanto bukanlah penjelasan yang mereka harapkan, melainkan sebuah dekapan atas buku-buku kecil yang dibagikan. Mungkin, seperti Kafka, ia merespons absurditas dengan absurditas yang lebih dalam lagi. Kepuasan, bagi Kafka dan bagi An.Ismanto, barangkali bukan sekadar hal yang tak mungkin dicapai, tetapi memang tak pernah ada dalam kesepakatan hidup.
Lalu, giliran mikrofon berpindah kepada Muhidin M. Dahlan, yang lebih akrab dipanggil Gus Muh. Ia mengurai rivalitas antara Pramoedya Ananta Toer dan Hamka, yang bukan karena soal agama, melainkan terkait dengan pencalonan Indonesia sebagai ibu kota sastra Asia-Afrika. Inilah yang menjadi benang merah dari semua yang disampaikan Gus Muh—sampah-sampah sastra, seperti Hamka, yang tak menghargai hak penerjemahan, yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi ketimbang keberagaman sastra. Dan, Gus Muh menutupnya dengan janji akan mengungkapkan sebuah kebenaran yang lebih kelam tentang kejahatan Angkatan Darat pada sesi pamungkas. Sebuah janji yang membiarkan kami menunggu, dalam gelap, menanti untuk disadarkan akan sesuatu yang lebih nyata daripada sekadar kata-kata yang menggantung di udara.
Sesi Novel dan Cerpen
Ketika para pemateri prolog apresiasi sastra menuruni panggung, aku menoleh pada jam di tanganku. Ternyata, berkat kreativitas Mas Sigit, acara telah mundur satu setengah jam. Seperti yang telah diumumkan panitia melalui media sosial, sesi novel dalam Apresiasi Sastra 2025 menjadi salah satu yang paling dinantikan. Dua novel—Laot dan Dock V—akan mengisi percakapan malam itu.

Kedua novel ini, Laot dan Dock V, akan dibahas dalam sesi ini bersama dua pembahas, Faiz Ahsoul dan Gilang Andretti, yang akan mengupas lebih dalam tentang setiap detail dari karya-karya tersebut. Sementara itu, Erika Rizqi akan memimpin sebagai moderator, menggiring diskusi agar tetap tajam dan berbobot.
“Makin malam, makin bersemangat,” kata panitia melalui media sosial. Kalimat itu menandakan bahwa setelah sesi novel, akan ada sesi lain yang tak kalah menarik: Sesi Kumcer (Kumpulan Cerpen). Dalam sesi ini, dua kumcer akan menjadi bahan pembicaraan.
Kumcer pertama, Tentang Harimau Suamiku, akan dibedah oleh Raudal Tanjung Banua. Karya ini adalah kumpulan cerpen pemenang lomba menulis cerpen yang digelar untuk memperingati 100 Tahun AA Navis, sebuah penghargaan terhadap karya sastra yang lahir dari Sumatera Barat.
Kumcer kedua, Kuwalik, karya Hasta Indriyana, mengangkat bahasa Jawa sebagai medium narasi. Sugito Sosrosasmito akan mengulas dengan cermat karya ini, menjelaskan kedalaman makna yang terpendam dalam setiap kata yang disusun. Sesi ini akan dimoderatori oleh Endah SR, seorang penulis perempuan. Ternyata, Ki Lurah Sugito digantikan oleh Cak Kandar karena terpaksa pulang lebih dahulu.
Seperti apakah dinamika diskusinya? Aku tak tahu pasti. Satu-satunya yang aku tahu adalah bahwa aku tertidur sepanjang dua sesi ini, terlelap dalam dunia yang terus berkembang, sementara sastra berbicara dengan suaranya yang tak pernah padam.
Sesi Pamungkas
Seperti Kafka yang menurut An. Ismanto tak bisa menemukan jalan keluar dari penjara psikologis birokrasi, aku pun memaksa diriku untuk bangun dari kantuk yang menimpa demi meliput sesi terakhir dalam Apresiasi Sastra 2025—sebuah sesi yang kusebut sesi pamungkas.

Sesi Esai, yang mengakhiri rangkaian diskusi malam itu, seharusnya menjadi puncak dari semua perbincangan yang ada. Sesi ini, diharapkan, akan mengulas karya-karya Pramoedya Ananta Toer dan buku bertajuk Seratus Tahun Kafka: Kumpulan Esai. Pram dan Kafka adalah para pengarang besar yang berdiri tegak dalam sejarah sastra Indonesia dan dunia, kukuh mengangkat tema-tema yang terus menggugah, bahkan dalam keterbatasan waktu dan ruang.
Muhidin M. Dahlan, yang dikenal sebagai Pramis sejati, diundang untuk mengulas karya-karya panutannya itu. Sementara itu, kesempatan untuk menyelami kompleksitas pemikiran Kafka jatuh kepada An. Ismanto. Prima Sulistya, yang menjadi moderator sesi terakhir ini, mencoba menjaga ketegangan yang semakin menggulung di udara.
Mengapa aku menyebutnya sesi pamungkas? Karena Gus Muh, dalam pembahasannya, lebih banyak menitikberatkan pada isu-isu besar yang melingkupi karya Pram, serta relevansi karya tersebut terhadap permasalahan kontroversial yang masih hangat hingga hari ini. Inilah yang ditunggu-tunggu audiens! Berdasarkan obrolanku dengan beberapa penonton, selain demi makan malam gratis, mereka rela terjaga hingga larut malam hanya untuk mendengar Gus Muh menuding-nuding negara—sebuah perbincangan yang sarat dengan beban sejarah dan kebenaran yang sering kali ditutup-tutupi.
Namun, sebelum itu, An. Ismanto, memulai sesi dengan kecurigaannya terhadap karya Kafka yang diterjemahkan. Ia mempertanyakan, apakah yang kita baca benar-benar karya Kafka, ataukah sebuah bayangan dari idealisme Max Brod, sang editor? Setelah tujuh menit, An. Ismanto menuruni panggung dan menuju barisan audiens, meninggalkan Prima Sulistya yang kelimpungan mencoba mengendalikan suasana. “Kayaknya saya enggak perlu jadi moderator deh!” ujarnya, setengah bercanda, setengah serius, karena dari barisan audiens, An. Ismanto malah mengarahkan diskusi pada isu Pram dan Soekarno. Kenapa Pram tidak pernah menulis tentang Soekarno?
Gus Muh pun menjawab, dengan senyum tertahan. Konon, menurutnya, hal itu disebabkan oleh perilaku Soekarno yang pernah cupika cupiki Bu Maimunah saat kunjungan mereka ke Istana Negara. Perangai Soekarno terhadap perempuan itu, menurut Gus Muh, membuat Pram merasa tersinggung. Dan lebih jauh lagi, dokumen tentang kejadian tersebut ada, tetapi sengaja disembunyikan.
Tidak hanya An. Ismanto yang memprovokasi, Sunlie pun tak mau kalah. Ia ikut melemparkan pertanyaan panas kepada Gus Muh tentang esai Pram, Hoakiau di Indonesia, dan relevansinya dengan konteks Indonesia masa kini. Esai tersebut, yang mengkritik PP 10/1959—peraturan yang menurut Pram merupakan bentuk diskriminasi sosial terhadap orang Tionghoa—membawa kita pada pemahaman yang lebih dalam tentang gejolak sosial dan politik di Indonesia.
Pram menulis Hoakiau di Indonesia sebagai respons terhadap kebijakan yang memaksa orang-orang Tionghoa menutup usaha mereka dan dilarang tinggal di wilayah Indonesia. Yang bertahan harus pindah dari perkampungan ke perkotaan, terbatas ruang geraknya, dalam suasana penuh rasa rasisme. Atas kritik tajam ini, Pram harus menerima “hadiah” penjara Cipinang.
Menurut Gus Muh, esai Hoakiau di Indonesia akan selalu relevan. “Penumbalan” peranakan Tionghoa, terutama kelas menengah ke bawah, dalam politik Indonesia, kata Gus Muh, akan terus terjadi. Isu rasial di Indonesia seperti tungku bawah tanah yang terus dipanaskan, dan suatu saat akan meledak.
Mendengar penjelasan Gus Muh, Prima Sulistya, yang merupakan peranakan Tionghoa, mengakui bahwa mimpi buruk itu, meskipun ia hidup di zaman yang lebih anti-rasisme, tetap menghantui. Pernah suatu malam, ia bermimpi kerusuhan mencekam terjadi di sekitar rumahnya. Terbangun dengan detak jantung yang berpacu dan keringat deras, ia menyadari betapa hidup dalam bayang-bayang sejarah tak pernah mudah. Audiens pun ikut tegang, merasakan beratnya suasana.
Gus Muh, dengan penuh kewaspadaan, mengingatkan audiens untuk terus membangun narasi positif tentang peranakan Tionghoa di Indonesia, agar ledakan yang diramalkan itu tak terjadi dalam waktu dekat. Pesan itu yang mengingatkan kita bahwa sastra, lebih dari sekadar kata-kata, adalah alat untuk membangun kesadaran, untuk menggali luka sejarah yang tak pernah sembuh, dan untuk terus menciptakan ruang bagi masa depan yang lebih adil.
Makan Siang Malam Gratis
Makan malam akhirnya tiba, terlambat seperti halnya seluruh waktu di acara ini—mengalir tanpa kepastian, menolak tunduk pada aturan yang kaku. Di Balai Karangkitri, Panggungharjo, Sewon, Bantul itu, orang-orang berkumpul, suara mereka masih sarat dengan sisa-sisa perdebatan dari sesi sebelumnya. Sendok dan garpu berdenting pelan, sesekali disela tawa yang samar, entah karena lelah atau karena kehangatan yang tiba-tiba terasa akrab. Beberapa masih berbicara tentang Pram, Kafka, Navis, dan Sitor, sementara yang lain hanya sibuk mengunyah, memilih membiarkan diskusi mengendap di kepala.
Di balai, seorang peserta menggulung rokoknya dengan tenang, lalu mencolek panitia. “Tahun depan gas lagi?” tanyanya. Tak ada jawaban segera. Hanya piring yang kosong perlahan, dan malam yang terus menguap.