Peristiwa
Sehari di Parade Sastra JBS
September 22, 2025
Seperti yang sudah-sudah, perjumpaan di Kedai JBS (Jual Buku Sastra) selalu melibatkan hamparan rerumputan, bising jangkrik, dan riuh kodok. Di atas rumput, tikar dihamparkan.
Sejak sore, Jumat (19/9/2025) di Kedai JBS telah riuh oleh hadirin. Mereka, yang kebanyakan berusia muda, barangkali dipicu oleh bertenggernya poster-poster merah-biru beberapa hari sebelumnya di media-media sosial.
Termasuk saya.
Terik berubah menjadi teduh perlahan-lahan sekitar pukul setengah empat sore. Pelantang berdentam mengumumkan bahwa Parade Sastra JBS pada hari pertama itu akan dimulai.
Acara pertama adalah diskusi dua buah buku Politik & Poetik dalam Sastra dan Film dan Naratologi Klasik: Teori dan Aplikasi. Ni Made Purnamasari memandu diskusi ini sebagai moderator, sementara Profesor Faruk dan Dr. Ramayda Akmal menjadi pembicara.
Narasi poster tentang acara diskusi itu di media sosial membentuk kesan acara yang formal. Kenyataannya tidak demikian. Ini memang bukan seminar di gedung-gedung besar dengan deretan kursi sejajar. Hadirin duduk lesehan. Antara moderator, pembicara, dan hadirin seolah hilang batas—serba akrab, serba dekat, dan sama-sama merasakan gelitikan rerumputan.
Teori-teori dalam kedua buku itu masih terlalu tinggi, bahkan untuk mahasiswa sastra semester tiga.
***
Udara kian menusuk setelah diskusi buku itu selesai. Saya pandang kelam yang merapat ke sisi kami dan lampu-lampu sorot yang mulai berpendar. Gigil memaksa saya untuk saling mendekat, tanpa ada kemungkinan-kemungkinan berdekap, dengan teman-teman.
Pukul setengah tujuh malam, Selvi Agnesia selaku moderator memandu diskusi selanjutnya, yaitu “Diskusi Buku Prosa”. Ada tiga buku yang dibicarakan langsung oleh penulisnya masing-masing, yaitu Cerobong Tua Terus Mendera karya Raudal Tanjung Banua, Bek karya Mahfud Ikhwan, dan Pada Sebuah Radio Dangdut karya Asef Saeful Anwar.
Diskusi mengalir dalam iringan akapela para penghuni rerumputan. Mikrofon hilir-mudik dari moderator ke narasumber dan seterusnya. Kemudian, moderator mulai menjembatani percakapan dengan mengajukan pertanyaan perihal proses kreatif dari masing-masing narasumber.
Mas Asef memulai dengan perlahan-lahan melucuti perihal “kedangdutan”. Ia memulai dengan ucapan santai, “Saya menyukai Elvy Sukaesih, lalu melanjutkan dengan rentetan nama-nama penyanyi dangdut. Tipis-tipis ia mendengungkan beberapa lirik maupun alunan musik dangdut.
Dari pembicaraannya tentang dangdut yang pekat di Cirebon, tampak jelas bahwa musik dangdut adalah makanan sehari-hari Mas Asef. Lantas, sejauh mana upayanya mengadopsi “dangdutisme” ini?
Sekuntum Mawar Merah karya Elvy Sukaesih adalah salah satu lagu yang direkonstruksinya menjadi bentuk prosa. Berfondasikan lirik-lirik lagu dangdut semacam itu, Mas Asef membikin penokohan yang sekiranya tetap menjaga warna dan genre lagu maupun pesan tersiratnya, tanpa mengupayakan bahasa yang puitis.
Mahfud Ikhwan melanjutkan perbincangan dengan membahas Bek. Ingatan langsung melayang ke nomor 4, angka ikonik milik Sergio Ramos dan defender-defender hebat lainnya. Teh Selvi, yang juga istri Cak Mahfud, menyodorkan mikrofon, namun disambar dengan dingin oleh sang novelis, seakan hendak menjunjung tinggi profesionalitas layaknya seorang bek.
Cak Mahfud mengunjungi sepasang sepatu bolanya di gudang ingatan. Ia menelisik tiap jengkal jejak masa silam.
“Saya suka bola karena ayah saya seorang pendengar ulung RRI bila ada siaran bola,” tuturnya sambil mengusap-usap jenggot.
Baginya, peran seorang bek cukuplah urgent. Seorang bek berada di area paling akhir sebuah pertahanan dan tak banyak bergerak secara leluasa, namun tak lupa akan kesetiaan. Serupa bola, mikrofon lantas diumpankan ke pembicara berikutnya oleh sang penulis Bek setelah moderator memperingatkan.
Raudal Tanjung Banua, penyair cum cerpenis cum esais, duduk bersila kaki dengan santai dalam dingin. Semacam syal atau selendang bermotif membungkus lehernya.
Cerpen-cerpen Bang Raudal dalam buku itu memantulkan raut wajah wong cilik. Mereka ditulis bukan untuk mengetengahkan pertentangan di antara kelas-kelas sosial, tetapi sekadar untuk memotret kesenjangan-kesenjangan dalam tubuh masyarakat.
Selalu seperti sebelumnya, Bang Raudal berusaha untuk mendekatkan konteks pada teks. Berdasarkan pengalaman yang tak jelas titimangsanya, ia mengatakan: “Di Minang ada kecenderungan, di mana tiap tempat duduk depan pada angkot hanya bisa diduduki oleh wanita-wanita cantik. Dan untuk yang tidak cantik, dengan lantang akan ditolak oleh sopir.”
Tampak bagaimana Bang Raudal menyanggupi segala hal yang remeh atau dekat sebagai preferensi atau ide pokok. Detail-detail kecil dapat bertransformasi menjadi konflik dalam cerpen.
***
Parade Sastra hari itu ditutup dengan penampilan Kedung Darma Romansha. Ia membacakan beberapa penggalan dari bukunya, Tarling Dangdut Diva Pantura. Tarling sebenarnya adalah kesenian tradisional paduan antara musik dan drama dari wilayah Indramayu dan Cirebon.
Malam itu, Bang Kedung tampil dengan iringan musik tarling. Ia juga menjelaskan bahwa puisi-puisinya dalam buku itu adalah prosesnya dalam memotret dan mengendapkan tulisan-tulisan di belakang bak truk.
Dengan begitu, agaknya sastra menjadi terasa sangat dekat.
“Rasmini!” Bang Kedung mendendangkan larik pertama sebuah puisi. Panggung tak lagi berlaku karena sang penyair berkeliling ke hamparan dan menyapa para hadirin seperti seorang biduan.
Ia mendapatkan saweran, yaitu gerimis yang perlahan rinai. Namun, hadirin tak peduli. Mereka masih terus kepulkan asap putih sementara sang penyair terduduk mandi peluh.
“Sekali lagi!” seru hadirin meminta dihibur.
Maka sang penyair bangkit lagi, lalu berseru:
“Jem, Warjem …!”
***
Ketika malam kian larut, kata-kata belum jua berhenti berkelabat. Akapela dan instrumen-instrumen rerumputan seolah hening sejenak, berganti dengan bisik-bisik hadirin.
Gelas saya sudah kosong. Saya hendak beranjak mengisinya lagi, namun seorang sahabat mengadang dan mendaratkan satu tamparan di hidung. Saya sontak kaget, namun sahabat itu hanya menunjukkan telapak tangannya yang terbuka: seekor nyamuk tewas bersimbah darah di sana.
“Sial! Padahal, hanya di depan hidung,” kata saya.
Esok hari masih akan ada lagi Parade Sastra JBS. Mungkin orang lain yang akan mencatatnya. Atau mungkin juga verba volent: terucap dan berlalu begitu saja bersama angin.***