Lewati ke konten

Peristiwa

Sapardi dan Rubaiyat dalam Koper

August 25, 2025

Sapardi dan Rubaiyat dalam Koper.

Ketika Rubaiyat Den Sastro tiba di Yogya, tiga orang duduk di hadapan Ringin Gampingan. Masing-masing memiliki jarak emosional yang berbeda dengan Sapardi Djoko Damono.

Iwan Effendi, biasa dipanggil Papeyo, adalah pelukis sampul dan ilustrasi Rubaiyat Den Sastro. Berikutnya, Reda Gaudiamo adalah musisi yang suaranya pernah mengantarkan puisi Sapardi ke banyak telinga muda. Terakhir, Sonya Indriati Sondakh adalah orang terdekat Sapardi yang menulis testimoni dalam buku Akhirnya, Rubaiyat Den Sastro Tiba.

Lantas, seperti apa bunyi rubaiyat Den Sastro? Sejujurnya, saya tidak yakin pernah mendengarnya walaupun saya terka Jemi Batin Tikal membacakan salah satu sajak dari rubaiyat itu.

“Di ujung jalan sana itu rumahku,” katamu. Habis gerimis, jalanan becek, cipratan beberapa mobil lewat dan kita di trotoar. “Lurus saja, di ujung sana.”

Tetes air yang jatuh dari pohon itu memang tak ingin bertanya apakah cinta ada di ujungnya, tak ingin bertanya apakah aku percaya pada yang kau ucapkan itu. “Sungguh, rumahku di ujung jalan itu.” Di ujung jalan itu hanya ada aku.

Hingga ujung malam Kamis, 7 Agustus 2025 di Ringin Gampingan itu, Jemi berlaku sebagai moderator yang, sependek pengamatan saya, menyimpan banyak hasil perenungannya terhadap mendiang Sapardi. Semisal saya yang menjadi moderator, mungkin saya akan banyak menyampaikannya sebagaimana yang saya lakukan pada tulisan ini.

Saya akan memulainya dengan Reda yang ceritanya meniupkan hening di sela-sela bangku hadirin. Sejak 2005, Reda menyimpan naskah Rubaiyat Den Sastro atas permintaan Sapardi. Naskah itu tidur di sebuah koper bersama dokumen-dokumen penting keluarga. Dua puluh tahun ia tidak bersuara.

Sapardi hanya berkata, Simpan dulu. Sampai nanti.”

Naskah itu menunggu lampu hijau dari waktu. Ia memuat misteri tentang mengapa seorang penyair besar menunda karyanya begitu lama. Ada sesuatu yang ingin dijaga dari tindakan terburu-buru dan gegabah. Sapardi mungkin ingin memberi jarak agar karyanya tidak sekadar menjadi komoditas cepat saji seperti kutipan-kutipan puisinya yang beredar di Instagram.

Setelah Sapardi tiada, puisi-puisi itu bersijingkat menemui pembaca yang membacanya dalam bentuk yang sudah jadi. Tetapi, para pembaca itu tidak pernah mendengar percakapan-percakapan yang mengikat janji antara Reda dan Sapardi ketika koper itu berpindah tangan.

Kini, bersama sajak-sajak itu, sejumlah kisah juga dihadirkan Indonesia Tera. Kumpulan kisah itu dijuduli Akhirnya, Rubaiyat Den Sastro Tiba. Itu kisah-kisah yang ditulis oleh keluarga, sahabat, editor, penyair muda yang belajar, hingga mahasiswa Sapardi. Mereka seakan meminjamkan lubang intip lain untuk mengenal sosok penyair besar Indonesia itu sebagai manusia sehari-hari. Salah satunya adalah Sonya.

Sonya bercerita tentang Sapardi yang disiplin. Tidak ada ritual aneh sebelum menulis. Tidak ada mabuk-mabukan seperti mitos penyair pada umumnya. Sapardi hanya suka membuat kopi berkali-kali sampai kadang lupa meminumnya.

Dalam benak saya, gambaran itu memunculkan sosok penyair tua di sebuah ruang sunyi yang duduk dan menulis sambil mendengar suara hujan. Banyak pembaca yang mengenalnya lewat bait-bait manis tentang cinta dan gerimis.

Tetapi, Sapardi juga pernah menjadi suara yang marah ketika ketidakadilan terjadi. Ia menulis tentang Marsinah sebagai luka sosial yang tidak pernah sembuh. Generasi muda jarang mengenal Sapardi yang ini. Mereka lebih akrab dengan larik “aku ingin mencintaimu dengan sederhana”. Ini potongan yang viral dan sering dijadikan ucapan ulang tahun atau diubah menjadi caption Instagram. 

Cerita paling ironis malam itu memang datang dari larik sajak Aku Ingin. Konon, kata Sonya, Aku Ingin, yang lariknya sering menghiasi undangan pernikahan, pernah dikira sebagai karya Kahlil Gibran. Bahkan, ada pasangan pengantin yang berdebat dengan pastor mereka yang kebetulan merupakan teman Sapardi. Tetap saja, sejoli itu keukeuh: “Mana ada orang Indonesia yang bisa menulis seindah ini!”

Alih Wahana: Saat Puisi Berjalan Sendiri

Seingat Sonya, Sapardi memilih tertawa. Sapardi legawa bahkan ketika puisinya direbut oleh figur dunia.

Semua orang tertawa mendengarnya. Namun, yang saya lihat adalah pantulan cermin yang pahit: puisi Sapardi dianggap mustahil lahir dari tanah Indonesia. Ketidakpercayaan terhadap kualitas penyair dalam negeri menjadi luka yang menganga di ruang susastra Indonesia.

Kebetulan, bincang malam itu juga menyinggung fenomena alih wahana. Hujan Bulan Juni menjelma menjadi novel, lalu film dengan formula romantik yang ramah pasar. Novel dan puisi tidak lagi dipercaya bisa bersaing di tengah gempuran budaya visual. Walaupun demikian, kata Sonya, Sapardi nyaris tidak pernah membicarakan fenomena paradoks sastra di Indonesia itu.

“Tiba-tiba saja puisinya muncul dalam bentuk cerpen, lalu novel. Dia itu nggak pernah bilang mau berbuat apa,” ujar Sonya.

Sapardi tidak protes ketika orang mengagungkan puisi sebagai puncak kesusastraan. Tetapi, barulah ketika puisi menjelma menjadi film, orang berbondong-bondong menonton, memotret tiket, atau mengunggahnya di media sosial.

Saya berharap malam itu seseorang menyatakan bahwa fenomena film Hujan Bulan Juni bukan sekadar alih wahana, melainkan upaya penyelamatan pasar. 

Mungkin harapan saya yang urung terwujud itu bukan persoalan besar bagi Sapardi. Sebab, hingga akhir hayatnya, Sapardi tetap konsisten dengan gagasan yang ia tulis di Alih Wahana, yakni percaya pada prinsip keterlepasan karya.

“Kalau sudah diikhlaskan untuk bentuk lain, jangan ikut campur,” Sonya mengulang ucapan mendiang Sapardi.

Puisi, bagi Sapardi, lahir untuk berjalan sendiri. Ia tidak menuntut kontrol ketika tafsir liar bermunculan, bahkan ketika makna awal yang lirih dan subtil perlahan larut di tangan pembaca, sineas, atau bahkan perupa seperti Papeyo.

Sebagai ilustrator kedua buku yang dirayakan malam itu, Papeyo sengaja memilih media yang agak melawan arus, yakni pensil hitam dan kertas putih. Ia ingin gambar-gambar itu menjadi bayangan yang menemani, bukan menutupi puisi. Salah satu ilustrasi tampak seperti tubuh yang menguap, seperti ingin hilang tetapi tetap ada.

Pilihan ini membawa saya dan, barangkali, hadirin kembali ke estetika buku puisi era 70-an. Di tengah gempuran desain penuh warna dan gincu visual hari ini, kehadiran ilustrasi hitam putih terasa seperti perlawanan kecil terhadap komersialisasi sastra. Ia menolak tunduk pada tuntutan estetika media sosial.

Simpan Dulu, Sampai Nanti

Ketika Sonya bercerita tentang mBoel, tak jauh dari beringin, seorang barista menekan tuas mesin espresso, menghasilkan desis uap yang berpadu dengan tawa pelan. Wangi kopi menghambur dari tenant di seberang. Hadirin silih berganti.

Saya tengok akun media sosial Indonesia Tera sudah dipenuhi unggahan dari hadirin, bahkan sebelum acara selesai. Latar suasana itu membuat saya mengamini bahwa memang pembahasan tentang alih wahana dan kritik estetika tidak perlu diperdalam.

Boleh jadi, moderator Jemi juga sepaham dengan saya, dan pemahaman itulah yang mendorong Jemi menutup sesi pemaparan dengan kisah mBoel Sonya.

mBoel sendiri berisi 80 puisi yang disusun untuk ulang tahun Sapardi yang ke-80. Buku itu awalnya direncanakan sebagai perayaan panjang umur. Namun, pandemi mengubah segalanya.

“Dia tetap menulis meski harus transfusi darah tiap bulan. Bahkan ketika tubuhnya lemah, tangannya masih mengetik,” tutur Sonya.

Tubuh yang rapuh melahirkan kata yang abadi. Keabadian itu menuntut kesabaran, bukan sekadar daya pikat yang viral.

Saya membayangkan Sapardi duduk di sudut beringin, menatap orang-orang yang sibuk merekam, mengetik, dan mengunggah. Ia mencondongkan tubuh, lalu dengan suara yang pelan, tapi tegas, berkata, “Simpan dulu. Sampai nanti.

Dua dekade Den Sastro menunggu dalam koper. Ia seolah menahan diri agar rubaiyatnya tidak jatuh menjadi komoditas cepat saji. Sementara itu, di luar koper, puisi-puisi Sapardi dipetik seenaknya, dikemas jadi takarir Instagram, ditempel di undangan pernikahan—menjadi estetika instan tanpa jeda renung.

Agaknya Sapardi tahu, kata yang lahir tanpa waktu akan mati di permukaan. Ia memilih menunggu dan melawan logika industri yang mengukur nilai sastra dari seberapa cepat ia dijual atau seberapa sering ia dikutip.

Kini, ketika tubuhnya sudah tiada, kita membacakan puisinya dengan khidmat. Tapi, apakah kita sungguh-sungguh mendengar? Atau sekadar mengulang nama besar yang aman untuk disukai?***

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.