Lewati ke konten

Peristiwa

Romansa Hujan di JBS

October 24, 2025

Romansa Hujan di JBS. Kredit: Agusta Mario.

Setelah Parade Sastra yang ramai pada bulan sebelumnya, Jual Buku Sastra sejenak menepi dan mengatur napas. Lalu, ruang mengobrol dan menyastra di toko buku, penerbit, sekaligus komunitas tersebut berlanjut lagi pada Jumat (17/10/2025). Perhelatannya waktu itu adalah Ngobrol Romansa STOVIA dan Panggung Sastra.

Sasmita Musik dari KMSI mendendangkan musikalisasi puisi Derai-derai Cemara untuk membuka acara. Personelnya adalah Ardi dan Daffa sebagai pemain gitar, Alvin penabuh cajon, dan Agusta dan Elvira sebagai vokalis. Mereka memberikan warna berbeda pada puisi tersebut. Sepasang vokalis saling berbagi suara. Ardi dan Daffa memindahkan nada ke minor pada bait yang dijadikan refrain.

Fathurrohman selaku pembawa acara kemudian mengundang moderator diskusi Feninda Rahmadia, penulis Romansa STOVIA Sania Rasyid, dan putra literasi Sulawesi Utara Bonny N. Mewengkang.

Feninda mengawali diskusi dengan menanyakan kepada Sania tentang STOVIA. Sang penulis menerangkan bahwa kata STOVIA adalah singkatan dari School tot opleiding van Indische Artsen yang merupakan sekolah kedokteran pertama di Hindia Belanda. Sekolah ini bertujuan untuk mendidik tenaga medis dari kalangan pribumi.

Sania mengakui, sebenarnya ada banyak latar belakang yang menarik untuk novel yang ditulisnya itu. Namun, ia menambahkan bahwa ia hanya ingin menyoroti lika-liku hidup para siswa STOVIA dan semua hal di balik itu.

Secara garis besar, novel itu mengisahkan para pelajar dari beberapa suku yang berbeda, yakni Jawa, Sunda, Minahasa, dan Ambon. Kisah mereka menyinggung percintaan, pendidikan, dan harapan yang berkelindan di STOVIA.

Ketika Feninda menyinggung proses kreatif, Sania dengan bersemangat membagikan pengalamannya dalam menyusun novel itu. Hal yang tergolong baru adalah saat Sania berusaha menghidupkan tokoh-tokohnya. Ia benar-benar mencari sosok yang cocok dengan kriteria fiksinya secara visual. Ia menyusuri beragam daerah dan berjumpa dengan Bonny.

“Secara kepribadian, tokoh Jansen dalam novel sangat mirip dengan saya walaupun ada satu ciri yang miss, yakni blasteran Belanda,” ujar Bonny.

***

Diskusi berjalan lancar dengan tawa yang terselip di antara tiap jawaban dan pertanyaan. Namun, cuaca kian mendung dan tak lama kemudian rintik-rintik kecil mengecup ubun-ubun. Lalu angin dan hujan menjadi lebih lebat. Kami pun beranjak masuk ke dalam rumah panggung—toko buku JBS itu.

Fathurrohman mengarahkan hadirin untuk menyiasati ruang yang berada di tengah-tengah tumpukan buku sedemikian rupa agar semua bisa masuk dan merasa nyaman dan acara bisa dilanjutkan kembali.

Di dalam ruangan yang menjadi terasa lebih intim, Bonny membacakan satu potongan fragmen Romansa STOVIA. Ia berdiri, menghadap ke penonton, lantas membacakan bagian novel yang memuat beberapa kalimat percakapan tokoh Jansen. Logat Minahasa yang begitu kental memenuhi seisi ruangan. Begitu asing di telinga kami yang terbiasa dengan aksen Jawa. Kata “Ngana”, yang dalam bahasa Minahasa berarti saya, begitu sering terdengar. Kami menerka-nerka bahwa bagian novel yang dibacakan itu berisi konflik.

Hujan di luar masih mengguyur deras ketika Fathurrohman mengajak kembali melanjutkan diskusi. Feninda mempersilakan hadirin untuk bertanya atau menanggapi. Maka bersahut-sahutanlah pertanyaan: ada yang mengulik lebih lanjut soal sejarah STOVIA, ada yang resah akan kisah cinta Jansen dalam novel, ada pula yang ingin menggali kiat-kiat menulis. Sania meladeni pertanyaan-pertanyaan itu satu per satu hingga sesi tanya jawab berakhir.

Lalu Fathurrohman mengumumkan: “Selanjutnya kita sambut Tova Watson!”

Acara memang sudah hampir di penghujung dan Stand Up Comedy dari Tova menghantarkan tawa kepada kami. Sang komika langsung saja mengambil mikrofon dan membuka dengan ajakan: “Ayo tepuk JBS!” Selama beberapa menit, Tova mengambil alih panggung seorang diri. Gelak tawa seakan mengguncang rak-rak buku. Mimik wajah dan gerak tubuhnya yang padu menambah kelucuan. Perut kami terus dikocok oleh cerita-ceritanya.

Tak terasa, jarum jam sudah menunjuk angka delapan. Hujan telah berangsur menjadi pelan. Sasmita Musik menyanyikan Sebuah Buku Harian tepat setelah tawa benar-benar reda. Ricik-ricik hujan di atap dan tanah mengiringi suara vokalis yang mendayu. Juga ketika Aku didendangkan.

Meski di luar dingin masih mengepung, kita tetap meradang, menerjang. Dan kita akan lebih tidak peduli, kita mau dengar seribu lagu lagi.***

Mau kirim karya? Yuk baca ketentuan redaksi.